Seorang gadis sedang berlari kencang ke arah tempat yang ditujunya. “Dikit lagi, Pit!” ucapnya meyakinkan diri lalu menambah kecepatan larinya, ia berlari seperti sednag di kejar penagih hutang jaman jigeum. “Woy, minggir!” teriaknya kencang pada seorang gadis yang tengah berjalan lambat. Namun sayang, belum sempat gadis itu pindah ia menabraknya. Mereka berdua pun jatuh bersama. “Aduhh,” gadis itu meringis kesakitan. “Sorry, gue buru-buru.” Gadis itu lalu berlari lagi meninggalkan orang yang ia tabrak yang sedang menatapnya hingga menghilang di balik tembok. Di lorong-lorong kelas yang agak sepi, gadis yang berlari kencang tadi melambatkan larinya bahkan sekarang ia berdiri diam seperti sedang memikirkan sesuatu. “Cewek itu siapa, yah? Belum pernah lihat kuliah di sini, deh.” Gumamnya sambil memiringkan kepalanya. “DORRRR!!!” “HUUAAAA!!” Teriakan dua orang di belakangnya mengagetkan gadis itu, ia lalu berbalik dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan kesal. “Kak Dani! Kak Ken! Kalau negur orang itu yang sopan dikit!” kesalnya. Sementara dua orang yang mengagetkannya hanya tertawa puas sudah berhasil mengerjai sahabat mereka. “Halo Pipit ku yang tercintah terkasih ter ter ter semuanya, gimana keadaan hari ini? Sehat? Tugas-tugas negara udah di kerjai semua? Udah sarapan belon?” kata sahabatnya yang bernama Dani dengan memasang wajah konyol. Pipit membuat mimik wajah seolah-olah akan muntah saat mendengar kata-kata konyol yang di lontarkan Dani, sementara teman mereka satunya lagi hanya tertawa melihat kedua orang di depannya. Mereka bertiga lalu berjalan bersamaan menuju suatu tempat. Pipit, Dani, dan Keken merupakan beberapa dari sekian banyak mahasiswa di Universitas Anugerah tempat mereka mengenyam pendidikan. Mereka bertiga juga bersahabat dan dikenal seluruh penjuru kampus ini sebagai geng bobrok karena sifat mereka yang sangat di luar nalar manusia normal pada umumnya, sebenarnya anggota mereka ada 8 orang dari jurusan-jurusan yang berbeda. Pipit berada di Fakultas Ekonomi bersama dengan Dani, hanya beda kelas. Mereka berdua juga anak rantau dan berasal dari kampung yang sama bahkan sudah mengenal dari lama. Sementara Keken berada di Fakultas Kedokteran bersama dengan teman mereka yang bernama Ghege dan Fatim, ada lagi yang bernama Awan dari Fakultas Teknik, Jeje dari Fakultas Hukum, dan Gwen yang berada di Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris. “Jadi lo nabrak orang dan cuma bilang maaf, setelah itu langsung nyelonong pergi?” tanya Keken setelah mereka bertiga tiba di kantin fakultas dan bergabung dengan lima teman mereka yang lain. “Masalahnya gue harus ngumpulin tugas dari Pak Mahmud, eh giliran udah sampai si bapak malah gak masuk, kan edan.” Curhat Pipit sambil menyambar jus alpukat milik Gwen hingga tandas, sementara pemilik jus hanya menarik nafas sabar melihat kelakuan temannya. “Harusnya selain minta maaf, berhenti dulu tolong kek gimana kek jangan langsung bilang maaf terus pergi. Dia jatuh, loh.” Kali ini Fatim yang menimpali. “Ye, Kak Fatim. Kakak pikir pas aku tabrak langsung anaknya pincang, gak bisa jalan atau kejang-kejang, gitu?” “Bukan gitu juga konsepnya, Mariam!” “Itu orang kakinya masih lengkap, gak ada cacat jadi pasti bisa bangun sendiri. Dia bukan anak kecil yang pas jatoh langsung nangis-nangis.” “Hah, terserah deh yah terserah. Emang susah kalau ngomong sama bocil, ngelak terus.” Awan memijat pelipisnya kesal karena Pipit yang terus menerus membela diri. Di antara mereka berdelapan, hanya Gwen dan Pipit yang umurnya paling muda namun mereka semua berada di tahun ke 3 perkuliahan karena masuk kuliah di saat yang bersamaan. Pipit mengedarkan pandangannya keseluruh kantin, “Tumben kantin sepi, lagi kanker kali yah?” celetuknya. “Kanker?” Jeje yang tak mengerti menatap Pipit. “Bukan anak gaul anda, kanker itu singkatan dari kantong kering kak. Gak ada uang.” “Mana ada!” “Ada, buktinya kantin sepi. Biasanya kek kerumunan ikan julung-julung yang nyari makanan.” “Bukan berarti lagi gak ada uang, beberapa kelas angkatan kita lagi ada ulangan harian.” “Oh” Setelahnya Pipit mengedarkan pandangannya ke samping kanan dan berhenti pada satu objek yang menarik perhatiannya, Ghege dan Jeje yang melihat temannya hanya diam sambil menatap salah satu mahasiswa lantas bertanya. “Lo kenal Hanif, Pit?” “Hah? Siapa?” “Itu, cewek itu namanya Hanif.” Jeje menunjuk orang yang tadi di lihat Pipit yang sedang memesan minuman. “Kak Jeje kenal?” “Siapa yang gak kenal dia?” “Dia anak baru, yah? Pintar, yah? Kok Kak Jeje kenal?” “Lah? Hanif anak lama, kali. Satu angkatan sama kita cuma beda fakultas ajah, Hanif di Fakultas Teknik Sipil. Emang kenapa?” “Dia yang tadi aku tabrak.” “What the—“ “Lo gak di maki-maki?” “Hah? Ya kagak lah, cuma nabrak doang.” “Hanif itu terkenal judes di fakultasnya, gak pinter-pinter amat sih cuma sifatnya yang gak baik. Kadang suka marah-marah, kadang judes, kadang bisa cosplay jadi si bisu, juga jarang senyum.” “Ssst, orangnya ke sini.” Kedelapan remaja itu terkejut saat Hanif berjalan ke arah Pipit sambil tersenyum, tidak seperti biasanya. Pipit pun sama kagetnya saat Hanif berjalan ke arahnya. Rupanya Hanif berjalan melewati Pipit dan memeluk seorang Dosen yang mereka kenal. “Pak Harun?” gumam Pipit pelan. “Tadi gue bilang si Hanif jarang senyum kan? Gue lupa bilang kalau dia hanya akan tersenyum sama satu orang, Pak Harun yang notabene kakaknya.” Ujar Ghege. Pipit memperhatikan lamat-lamat wajah Hanif sampai gadis itu dan Pak Harun pergi meninggalkan kantin fakultas. ‘Kayak pernah kenal lama, tapi dimana?’
bagus dan sangat menarik
06/04
0oke
27/10
0seruuu
28/09
0View All