Kedua mertuaku itu saling berpandangan saat aku menanyakan perihal obat yang dikonsumsi Yuri malam itu. Sependek pengetahuanku obat-obatan untuk pasien dengan gangguan jiwa adalah termasuk obat keras dan terlarang. Sehingga tidak diperjualbelikan dengan bebas dan harus menggunakan resep dokter. "Sehari sebelum pernikahan kalian, Dokter Aini–––dokter yang menangani Yuri dulu–––sempat datang kemari. Beliau masih saudara jauh ibu, ibu sempat menelponnya untuk mengabarkan kalau Yuri akan menikah. Kemudian beliau datang dan memberikan obat itu. Beliau takut kalau Yuri akan relaps nanti, karena Yuri pasti akan teringat kejadian itu jika kalian bercampur nanti. Ternyata apa yang ditakutkannya memang terjadi," terang Bu Dina. Aku mengangguk paham. "Ayok kita temui Yuri." Pak Suryono berdiri dan berjalan menuju kamar Yuri di lantai atas. Aku sempat melihat ke arah Amanda untuk menghilangkan keraguanku. Amanda mengangguk dan menggengam tanganku erat memberikan semangat. Kami pun mengikuti langkah Pak Suryono. Pintu kamar Yuri terbuka lebar. Kulihat dia sedang duduk di kursi sambil melihat ke arah luar jendela, mengenakan celana panjang dan kaos tangan panjang dangan rambut panjangnya yang tergerai sedikit basah. Tampaknya baru selesai mandi. Sejenak aku berdiri di depan pintu mengamatinya dari belakang "Assalamualaikum ...." Aku menyapanya pelan, takut jika dia terkejut dan relaps lagi. Sepertinya sekarang aku yang trauma denga kejadian kemarin malam. "Waalaikumusalam … M-mas Gi-lang?" jawabnya sedikit terkejut dan langsung mengenakan hijabnya. "Boleh Mas masuk, Dek?" tanyaku pelan masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Dia bergerak dengan gelisah. Kepalanya menunduk sambil menggigit bibirnya dan meremas-remas ujung hijab yang dikenakannya. "Kita masih sah, kok, Dek. Jangan takut, di depan sini juga ada Ayah, Ibu, dan Amanda." Aku mengerti kebingungannya. Apakah mungkin dia pikir aku sudah mentalaknya? Akhirnya Yuri mengangguk sambil menundukkan kepalanya dan duduk di tepi ranjang. Tangannya masih saja memainkan ujung hijabnya. Sedikit pun ia tak memandangku. Entah merasa takut ata merasa bersalah. Aku melangkah masuk, membiarkan pintu terbuka dan duduk di kursi yang digunakannya tadi. Sejenak kami terdiam. Aku menarik napas dalam, menahannya seebentar kemudian mengembuskannya pelan. "Dek Yuri, Maafkan Mas, ya." Aku memulai percakapan sambil menatap puncak kepalanya karena dari tadi ia hanya menunduk. Dia menggelengkan kepala. Tangannya terangkat dan menyeka sudut matanya. "Seharusnya Y-yuri yang minta maaf, Mas. Yu-yuri sudah tidak jujur sama Mas Gilang," jawabnya dengan terbata dan sesekali terisak pelan. Aku mengangguk pelan. Mencoba memahami perasaannya. “Apa yang kamu rasakan saat ini?” tanyaku sambil membungkukan badan bertumpu di atas kedua lengan ini. Kuperhatikan seraut wajah yang ada dihadapanku ini. “Insya Allah Yuri siap dengan apapun keputusan yang Mas Gilang berikan,” ucapnya dan lagi-lagi mengusap sudut matanya. Aku kembali mengeakkan badan ini. Menghela napas berat, “Memangnya keputusan apa yang kamu inginkan?” tanyaku sedikit sarkas sambil membuang pandanganku ke arah jendela. Aku tahu mungkin ini akan menyakitinya, tapi hati ini ingin mengetahui keinginannya. Untuk apa diriku mempertahankan pernikahan ini jika dia saja tidak menginginkannya. Yuri menggelengkan kepalanya pelan dan merapatkan bibirnya. Isakannya semakin jelas terdengar. “Yuri juga ingin normal seperti perempuan lainnya, Mas. Semua ini di luar kendali Yuri. Sedikit pun Yuri tak ingin ini terjadi,” ucapnya dengan suara serak. Ia kembali diam dan sibuk mengusap wajahnya yang sudah dibanjiri air mata, “Yuri berniat menceritakan semuanya malam itu, tapi belum sempat dan …,” isaknya semakin keras. Aku terperanjat mendengar isakan tangisnya. Jariku menepuk paha ini, jujur ada rasa takut jika ia kembali histeris seperti kemarin. Mata ini melirik keluar, berharap bantuan, tapi yang terlihat mereka asik berbincang. Aku menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. "Mas paham. Mas tidak menyalahkan kamu sepenuhnya. Mas juga sudah berjanji untuk menerima semua kekurangan dan masa lalumu.” Aku memejamkan mata sejenak mengumpulkan kekuatan, “Untuk selanjutnya, maukah kita saling terbuka?" tanyaku pelan berusaha memahaminya walau terasa berat. "Maksudnya, Mas?" Yuri mengernyitkan dahi dan menatapku sekilas, lalu menunduk lagi. Tingkah lakunya membuat diri ini gemas, pun wajahnya yang cantik membuatku merasa iba dan ingin memeluknya. "Kita lanjutkan pernikahan ini. Namun, kita harus saling jujur. Saling terbuka tanpa ada yang disembunyikan lagi. Bukankah kunci keharmonisan suatu hubungan itu salah satunya harus ada kejujuran dan kepercayaan?" ajakku sambil menatap matanya yang masih saja menunduk. Yuri bergeming. Tangannya terus saja mempermainkan ujung hijabnya yang sedikit basah karena digunakan untuk menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir tak terkendali. "Kamu mau kan?" tanyaku lagi karena takada tanggapan darinya. Yuri masih diam. Matanya berkeliling seperti ada keraguan dalam dirinya. "Mas akan menunggu sampai kamu siap. Mas tidak akan memaksa. Kita perkenalan saja dulu. Kita jalani pelan-pelan. Anggap saja kita sedang masa pacaran yang halal," bisikku pelan berusaha meyakinkannya dan menjawab keraguannya. “Mas yakin?" tanyanya sambil menatapku menelisik jauh ke dalam retina ini. "Insya Allah Mas yakin. Asalkan ada kemauan dan tekad Dek Yuri untuk Pulih," jawabku meyakinkannya. Walau sejujurnya diri ini pun masih bimbang dengan keputusan ini. “Apa Mas nggak malu punya istri yang gi––,” ucapnya terputus. “Kamu nggak gila. Hanya hatimu saja yang sedang tidak baik,” potongku cepat. Setlah mendengar penjelasan Amanda tentang yang dialami Yuri, aku bisa menerima keadaannya yang memang sedang tidak baik, bukan gila. Yuri menghapus lagi air matanya yang terus turun. Sejenak kami kembali terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. "Dek Yuri mau ‘kan menjalani pengobatan lagi? Supaya kita bisa menjalani pernikahan ini dengan normal," tuturku halus agar ia tidak merasa tertekan. Yuri mengangguk sambil mengusap airmatanya kemudian tersenyum. Aku membalas senyumnya. Ada sesuatu yang menghangat di hati ini melihat senyumnya. Sungguh manis. Perlahan kuulurkan tangan ini menyentuh tangannya yang masih saling menggenggam. Aku tak ingin gegabah dengan langsung memeluknya seperti saat itu. Yuri hanya bergeming. Tak menolak pun membalasnya. Diangkatnya wajah cantik itu kemudian menatapku. Bibir mungilnya sedikit terangkat dan rona merah mengghiasi pipinya. Tak lama ia kembali menundukkan kepalanya. Walaupun masih terlihat takut, tapi ini sebuah kemajuan yang positif. Dan membuatku semakin yakin. "Kita bisa," ucapku sambil tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepalanya. "Terima kasih, ya, Mas. Mas Gilang mau menerima kekurangan Yuri." Yuri menatapku lembut. Mata hitam itu berbinar walau masih tertutup benngan Kristal yang menggantung. "Mas juga banyak kekurangannya, Dek. Mas harap kamu juga mau menerima segala kekurangan Mas," ucapku lembut sambil mengeratkan genggaman tangan ini. Kami terdiam sejenak. Menikmati kebersamaan ini. "Ayok kita keluar, Ayah dan Ibu juga Amanda menunggu di luar." Ajakku sambil menggandeng tangannya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (132)
Ne Ha
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0
MaryanaNini
masyaALLAH suka sekali novel nya .
terima kasih author,bukunya bagus sekali
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali
06/11
0alur ceritanya baguss saya sangat menyukai
13/08
0View All