logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Haruskah ini berakhir?

Aku menghela napas panjang. Mengingat kembali kejadian tadi malam. Di mana istriku beerteriak histeris saat kusentuh.
Pernyataan Pak Suryono yang mengungkapkan kenyataan pahit tentang keadaan istriku yang tidak baik membuat mentalku jatuh. Kenyataan yang mereka tutupi terbuka terang di malam pertama pernikahanku. Namun, mereka tetap membelanya. Begitu pun dengan orang terdekatku, adikku satu-satunya turut membelanya.
"Karena Manda perempuan, Mas. Manda bisa memahami perasaan Mbak Yuri," jawab Amanda seolah tahu apa yang aku pikirkan.
"Tapi, Dek. Apa kamu nggak malu punya kakak ipar gila?" Suaraku sedikit meninggi. Menegaskan kenyataan yang ada.
"Mbak Yuri nggak gila, Mas. Mbak Yuri hanya trauma dan itu bisa disembuhkan," jawab Amanda ikut meninggikan suaranya.
Sejenak kami terdiam. Terngiang lagi ucapan Pak Suryono yang mengatakan bahwa anak gadisnya itu adalah ODGJ. Orang dengan gangguan Jiwa. Apa lagi maksudnya jika bukan gila?
"Mbak Yuri hanya trauma, Mas. Hatinya terluka yang membuatnya selalu ketakutan. Mbak Yuri masih bisa sembuh dan hidup normal. Asalkan kita mau membantunya," lanjutnya kembali menrendahkan suaranya sambil menggenggam tangan ini. "Insya Allah Manda nggak malu punya kakak ipar seperti Mbak Yuri. Bahkan Manda juga mau membantu Mbak Yuri agar bisa menghilangkan traumanya."
Aku menatap lekat manik coklat pemberian ibu untuk adikku. Manik yang selalu menenangkanku kala merindu wanita yang telah melahirkanku. Manik yang selalu menatapku dengan lembut dan penuh kasih.
“ODGJ itu tidak selalu disebut gila, Mas. Ada banyak jenisnya. Orang yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi juga disebut ODGJ.” Amanda bangkit menuju ke jendela kamar yang belum sempat kututup.
“Dalam hal ini, Mbak Yuri termasuk yang mengalami stress karena peristiwa traumatis di masa lalunya. Saat memori tersebut muncul, penderita akan merasakan kesedihan, ketakutan, atau rasa asing dari orang-orang di sekitarnya.” Amanda menutup jendela itu dan kembali duduk di sampingku.
Aku hanya diam mendengarkan penjelasannya.
“Mas percaya ‘kan sama Manda?” tanyanya sambil menatap lembut dan menggenggam tanganku.
“Mas percaya. Kamu lebih paham masalah itu, tapi masalahnya tentang pernikahan kami. Sisa umur Mas akan selalu bersamanya. Dalam khutbah nikah kemarin disebutkan ‘Istri yang baik adalah wanita yang menggembirakan hatimu ketika dipandang’. Bagaimana Mas mau gembira jika disentuh saja dia histeris seperti itu,” sanggahku.
Amanda menghela napas kemudian tersenyum, “Mas, Mbak Yuri itu pernah mengalami trauma yang cukup parah. Mungkin saja saat itu dia teringat kembali dengan kejadian yang memilukan itu. Dia hanya butuh waktu untuk penyesuaian, Mas.”
“Tapi sampai kapan?” Aku kembali menyandarkan tubuh dengan kedua telapak tangan ini menjadi bantalnya.
“Kita usahakan secepatnya. Mbak Yuri sebenarnya sudah sembuh. Mas lihat sendiri ‘kan? Sebelumnya Mbak Yuri normal saja. Tidak menunjukkan gejala apapun. Itu artinya dia sudah pulih, hanya saja dia kembali sperti itu karena Mas mencoba menyentuhnya.”
“Apa Mas sanggup menunggunya?” Rasa ragu masih menghantuiku.
"Saat Om Irfan menawarkan perjodohan ini, Mas bilang mau salat istikarah dulu ‘kan? Mas bilang mau minta petunjuk dulu pada Allah, Iya ‘kan?” tanyanya mengingatkanku saat itu.
Aku mengangguk perlahan sambil menatap langit-langit kamar.
"Lantas Mas menerimanya. Berarti Mas sudah menerima petunjuk Allah, ya kan?” Kembali aku menganggukkan kepala sambil memejamkan mata. Terasa perih di dalam sana.
"Itu artinya, Allah juga mempercayakan Mbak Yuri pada Mas. Allah juga percaya sama Mas Gilang. Benar kan?" lanjutnya sambil menatap mataku meminta jawaban.
Aku membuka mata. Kembali bangkit perlahan. Ada angin yang berembus dan menyejukkan hatiku yang sedikit panas karena masalah ini.
"Tidak ada suatu kejadian yang kebetulan kecuali dengan iziin Allah, Mas." Amanda melanjutkan ucapannya.
"Mas dipertemukan dengan Mbak Yuri bukan hanya kebetulan, tapi ada rencana Allah dibalik itu. Mas bayangkan, betapa sedihnya Mbak Yuri jika Mas meninggalkannya. Tidak menutup kemungkinan Mbak Yuri akan semakin tertekan." Suara Amanda sedikit serak. Sebulir air bening mengalir dari pelupuk matanya.
"Jika Mas belum bisa mencintainnya, setidaknya kasihanilah dia. Bantulah dia seperti Mas selalu membantu teman-teman Mas yang butuh bantuan." Gadis berambut panjang itu mengusap pipinya yang basah karena buliran itu semain deras.
Amanda benar, dengan meninggalkan Yuri, maka akan membuatnya lebih parah. Mungkin memang Allah mempercayaiku untuk menolong Yuri.
Aku mengacak lembut rambut Manda kemudian mmemeluknya.
"Adik Mas udah hebat, bisa sangat bijaksana," ucapku sambil tersenyum haru dan mengecup lembut punak kepalanya. Entah sudah berapa lama aku tak sedekat ini dengannya.
"Iya dong, Mas. ‘Kan Mas Gilang yang ngajarin," balasnya manja.
"Makasih ya, Dek."
"Besok Manda anterin ke rumah Mbak Yuri ya, Mas," ucap Manda.
Aku Mengangguk.
***
Aku duduk di ruang tamu rumah ini. Rumah yang sempat kutinggalkan kemarin malam. Di ruangan ini juga Pak Suryono menjabat tanganku dan mengucap ijab, menyerahkan putrinya untuk bersanding denganku. Kemudian Aku menjawab qobul, yang berarti telah siap memikul tanggung jawab untuk menikahi perempuan tersebut. Itu juga berart menerima nikah dan kawinnya beserta segala kebaikan dan keburukan yang ada dalam diri perempuan itu.
Aura sacral itu masih terasa saat memasuki ruangan ini. Dekorasi pernikahan yang tertata rapi di dinding masih belum diturunkan. Aku menghela napas panjang dan menundukkan kepala mengingat peristiwa yang terjadi di ruangan ini dua hari yang lalu.
Pak Suryono–––sang pemilik rumah–––duduk di hadapanku. Lelaki yang masih tampak gagah di usianya yang sudah lebih setengah abad itu tersenyum hangat menyambut kedatangan kami. Amanda yang ikut mendampingiku pun duduk di sebelah kiri. Kami masih terdiam hingga Bu Dina keluar dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.
Jantung ini bertalu saat kedua mertuaku itu menatap lembut sembari tersenyum. "Ayah, boleh saya bertemu dengan Yuri?" Aku memulai percakapan.
"Tentu boleh, Nak. Kamu masih sah sebagai suaminya. Mana mungkin kami melarangmu," jawab Pak Suryono dengan hangat. Tak tampak aura kecewa ataupun marah di wajahnya karena aku meninggalkan putrinya di malam pertama pernikahan kami. Ia tetap hangat dan lembut.
"Maksud saya, apakah Yuri akan baik-baik saja bila bertemu dengan saya?"
"Ayah tidak bisa memastikannya. Kita coba saja."
"Saya hanya takut nanti Yuri relaps lagi dan tidak bias mengatasinya." Aku meremas jari-jari tangan yang terasa kaku.
"Ayah dan Ibu akan menunggu di depan kamar. Kamarnya jangan dikunci untuk jaga-jaga." Bu Dina menjawab dengan lembut mencoba meyakinkanku jika mereka mendukung keputusan ini.
"Sebentar ibu ambilkan obatnya dulu." Ibu mertuaku beranjak dari duduknya. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sesuatu di tangnnya.
"Apa selama ini Yuri masih minum obat, Bu?" tanyaku penasaran.
Aku hanya heran saja, kata Pak Suryono mereka sudah menghentikan pengobatannya, tapi kenapa Bu Dina masih menyimpan obat untuk Yuri.

Book Comment (132)

  • avatar
    Ne Ha

    sangat bagus sekali.. love it..

    21/02

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali

    06/11

      0
  • avatar
    LestariDeya

    alur ceritanya baguss saya sangat menyukai

    13/08

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters