Lamat kudengar suara Adzan subuh. Sedetik pun aku belum memejamkan mata. Pikiranku sangat kacau. Ah ... sebaiknya kuadukan saja masalah ini pada Robb-ku. Dari tadi malam bahkan diri ini sempat melupakan_Nya. Ampuni aku ya Robb. Bergegas diri ini beranjak ke belakang untuk mengambil wudhu dan menghadap Sang Pencipta. "Mas Gilang, bangun. Ayo, makan siang. Om Irfan juga mau pulang ke kota" Terdengar suara Amanda di balik pintu kamarku. Aku memicingkan mata, ternyata hari sudah siang. Rasanya enggan untuk beranjak dari kasur ini. Tubuh ini terasa lelah dan mengantuk karena baru saja tertidur. Namun, aku harus keluar. Selain karena lapar, juga ingin menanyakan masalah ini dengan Om Irfan sebelum ia pulang ke kota. Gegas kupaksa diri ini bangkit untuk membersihkan tubuh dan keluar menemui mereka. Tampak semua sudah berkumpul di meja makan. Ada Om Irfan, Tante Ani, Amanda, dan Sherly–––anak Om Irfan. Begitu melihatku datang, Om Irfan langsung diam dan menunduk. Ia nampak kikuk. Ciri khasnya jika ia merasa bersalah. AKu paham sifatnya karena salami ini dialah yang telah mengasuh kami walau dari jarak jauh. Itu artinya, cerita Pak Suryono itu benar. Om Irfan juga tahu dan terlibat dalam masalah ini. Kami mulai sarapan bersama. Aku memilih makan dalam diam. Begitu pun dengan yang lain. Sesekali mereka melirik ke arahku. Tante Ani yang sedari tadi ingin membuka suara, tapi selalu ditahan oleh suaminya. Selesai makan siang, Om Irfan meminta kami pindah ke ruang keluarga. Aku masih tetap diam. Semua yang ada di sana pun ikut diam. Tak perlu dijelaskan sepertinya mereka sudah tahu jika ada masalah dalam pernikahanku. "Gilang, Maafkan Om." Om Irfan memulai pembicaraan. "Loh, memangnya kenapa, Pa?" tanya Tante Ani kaget. Sepertinya Tante Ani memang belum tahu kadaan Yuri. "Kenapa Om tidak memberitahuku sebelumnya?" Aku menegakkan kepala menatap Om Irfan dengan tajam. Namun, segera kutundukkan kembali. Walau bagaimana pun, dia adalah penggati orang tuku yang harus tetap dihormati. "Om kasihan dengan Yuri. Dia anak satu-satunya. Sudah Om anggap seperti anak Om sendiri," jawab Om Irfan sambil tertunduk. "Kenapa dengan Yuri, Pa?" Kembali Tante Ani bertanya bingung. Begitu pun dengan Amanda dan Sherly yang hanya bias diam dalam kebingungan. Aku merasa terlalu banyak yang Om Irfan tutupi tentang masalah ini. Bahkan istrinya pun tak tahu dengan kenyataan ini. "Sebentar Papa jelaskan, Ma," balas Om Irfan kemudian mentapku dengan penuh rasa bersalah. “Pak Suryono tadi sudah menelepon Om dan menceritakan semuanya,” lanjutnya lagi. "Tapi kenapa harus aku, Om?" Aku masih tak terima dengan sikap dan idenya yang menjodohkanku dengan gadis itu. "Karena Om yakin, hanya kamu yang bisa menerima keadaan Yuri. Om percaya sama kamu. Kamu pasti bisa." "Aku tak sehebat itu, Om."Ku tengadahkan kepala. Sekuat tenaga menahan air mata ini agar tidak jatuh. “Hanya butuh waktu, Nak,” ucapnya lembut penuh permohonan. Aku menggeleng pelan, "Tolong kembalikan mobil Ayah Yuri, siapa tahu mereka butuh. Aku ingin istirahat." kuletakan kunci mobil sembari berdiri, dan meninggalkan mereka. Hati ini benar-benar kacau. Aku masih merasa kecewa dan marah. Pernikahan yang kuharapkan indah, tapi ternyata harus merasaan pahit di awal. "Apa?! Kenapa Papa gak bilang dari dulu?" Sayup Aku mendengar suara Tante Ani. Berarti Om Irfan baru menceritakan ini pada Tante Ani. Setelahnya tak lagi terdengar apa-apa. Entah apa yang merreka bicarakan diluar. Biarkan saja. *** "Mas Gilang, boleh Manda masuk?" terdengar suara Manda di balik pintu kamarku. "Masuk aja, Dek. Nggak dikunci," jawabku. Amanda membuka pintu dan masuk. Tampak ia membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di atas nakas kemudian duduk di kursi dekat tempat tidur. "Mas makan dulu. Sekarang udah malam. Dari tadi ditungguin, Masnya nggak keluar-keluar,” katanya sambil menyodorkan piring berisi nasi padaku. Seharian ini memang kuhabiskan waktuku di kamar. Rasanya enggan untuk keluar kamar. Apalagi keluar rumah. Aku malu jika nanti ada yang bertanya tenang pernikahanku. "Mas nggak laper, Dek." aku menolaknya. "Mas, kalau punya masalah itu selesaikan dengan pikiran dan hati yang tenang. Semua itu berwal dari badan yang sehat. Makanya harus makan, biar sehat. Begitukan mas menasehati Manda kalau lagi nangis dan punya masalah?" Aku meliriknya sambil tersenyum. Adikku sudah pintar menasehati kakaknya. Adik yang kubesarkan dengan tanganku sendiri. Setiap tangisnya adalah lukaku. Tak pernah kubiarkan ia menangis sendiri. Kini dia sudah beranjak dewasa, bahkan sudah bias menasehati kakaknya ini. Akhirnya aku mengalah dan menyantap makan malam yang dibawakan Amanda tadi. Walaupun terasa hambar dimulutku. Sementara Amanda sibuk merapikan kamarku yang berantakan. "Makasih ya, Dek." Amanda kembali mengambil posisi duduk di hadapanku. Ia menatapku lembut sambil tersenyum. “Om Irfan sudah pulang tadi sore. Beliau menitipkan salam buat Mas,” ucapnya sambil mengambil gelas kosong di tanganku. Aku hanya mengangguk malas dan menyandarkan tubuh ini ditumpukan bantal. “Mas, Manda sudah mendengar cerita tentang Mbak Yuri dari Om Irfan tadi. Manda tahu, Mas pasti merasa kecewa sekaligus sedih. Jadi, apa keputusan Mas sekarang?" tanyanya. "Entahlan, Dek. Rasanya sakit sekali. Baru pertama Mas mengenal perempuan, tapi saat itu juga dibohongi." Untuk pertama kalinya aku mencurahkan isi hatiku pada Amanda. “Bukan hanya dia, tapi juga keluarganya. Bahkan keluargaku juga,” lanjutku sambil menatap langit-langit rumah. Selama ini aku selalu menutupi masalahku darinya, selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Namun, untuk saat ini aku benar-benar rapuh. Sepertinya memang butuh tempat berbagi kesah yang telah menggunung ini. "Seandainya Manda yang berada diposisi Mbak Yuri, apa yang akan Mas lakukan? Apakah Mas rela jika Manda nggak dapet jodoh karena orang menganggap Manda gila?" Aku bangkit dan menatap lekat mata coklat adikku itu. Mata yang selalu mengingatkanku pada ibu itu balas menatapku dengan lembut. "Maksud kamu apa, Dek?" Sungguh pertanyaan Amanda berada diluar nalarku. "Mas, itulah yang dirasakan Orang tua Mbak Yuri. Mereka takut untuk menjodohkan Mbak Yuri dengan orang lain. Mereka takut jika orang itu bukannya melindungi Mbak Yuri, tapi malah menyakitnya. Namun, Om Irfan percaya sama Mas Gilang. Om Irfan lah yang meyakinkan mereka untuk percaya pada Mas Gilang bahwa Mas bisa menerima Mbak Yuri dan membimbingnya." Suara Manda lembut masuk ke gendang telingaku, bahkan sampai ke hati ini. Namun, hati ini tetap saja bertanya-tanya. Kenapa Amanda malah membela mereka? Bukankah seharusnya ia membelaku yang telah membesarkannya? Yang telah menggantikan peran orang tua baginya. Bukannya malah berandai-andai memposisikan dirinya sebagi Yuri. Sungguh aku tak paham dengan pikiran mereka semua.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (132)
Ne Ha
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0
MaryanaNini
masyaALLAH suka sekali novel nya .
terima kasih author,bukunya bagus sekali
sangat bagus sekali.. love it..
21/02
0masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali
06/11
0alur ceritanya baguss saya sangat menyukai
13/08
0View All