logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Maju atau Mundur?

"Lima Tahun sudah Yuri menjalani kehidupan normal dan kami merasa semua sudah baik-baik saja. Hingga akhirnya ayah bertemu dengan Irfan, pamanmu. Beliau menanyakan keadaan Yuri, karena memang Irfan pernah tahu keadaan Yuri sebelumnya. Setelah ayah ceritakan keadaan Yuri yang sekarang, Irfan menawarkan agar Yuri menikah denganmu,” jelas Pak Suryono lagi.
“Awalnya ayah ragu, tapi setelah Irfan meyakinkan semua akan baik-baik saja, maka ayah pun menerimanya. Namun, ternyata kami salah. Maafkan kami, Nak Gilang." Kembali airmata Pak Suryono mengalir tanpa bisa dibendung.
Aku kembali menghela napas mendengar pernyataan Pak Suryono. Sungguh diri ini tak menyangka Om Irfan pun ikut andil dalam masalah ini.
"Kamu tahukan, Irfan dan Ayah bersahabat dari masih sekolah dulu. Di kota, kami pun tinggal tak berjauhan. kami sering saling mengunjungi. Irfan pun sangat mengenal Yuri, begitupun sebaliknya," papar Pak Suryono.
Sungguh, aku benar-benar merasa kecewa, merasa dibohongi, Apalagi Om Irfan turut andil dalam masalah ini.
"Nak Gilang, kami tahu, pasti kamu merasa kecewa. Sungguh kami tidak berniat untuk membohongimu dalam masalah ini. Kami sangat-sangat menyesal. Kami mohon maafkan kami," lanjutnya.
Aku menyugar rambutku dengan kasar karena merasa frustasi saat ini. Ingin rasanya mencaci maki mereka. Namun, tak bisa kulakukan. Biar bagaimanapun mereka adalah mertuaku saat ini.
"Apakah ayah tahu, kalau saya bisa saja melakukan pembatalan pernikahan karena masalah ini" tanyaku spontan mengingat pernikahan kami masih hitungan jam dan aku pun belum menggaulinya sebagai istri.
Dalam hukum Islam (fiqh Islam) ada dua keadaan yang memungkinkan pasanganuntuk memutuskan pernikahan, yang pertama dengan cara cerai atau talak dan yang kedua dengan pasakh. Pasakh yaitu pembatalan ikatan pernikahan atara seorang suami dan istri setelah diketahui ada sebab-sebab tertentu.
Salah satu sebab yang diatur yaitu jika salah satu pasangan mengalami cacat, baik cacat fisik ataupun cacat mental yang mengakibatkan tidak dapat dipenuhinya kewajiban sebagai suami istri. Dalam hal ini salah satu pasangan berhak memutuskan akan tetap meneruskan perkawinan ini atau membatalkannya.
Aku rasa dalam kasus ini, Yuri masuk dalam sebab yang diatur dalam hukum Islam. Jika keadaannya terus seperti ini, maka kemungkinan besar ia tak akan bias memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Dengan demikian, aku berhak untuk memutuskan nasib pernikahan ini.
Penyesalan terpancar jelas di wajah Pak Suryono. Tampak Pak Suryono tengah berpikir. Suasana menjadi hening. Hanya sesekali terdengar suara isak tangis Bu Dina. Helaan napas beratnya entah yang keberapa terdengar di telinga ini. Kembali ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Iya, Ayah tahu. Kami pasrah, Nak Gilang. Kami serahkan keputusan ini padamu. Kami tak berharap lebih, juga tak akan menghalangimu jika ingin melepaskan Yuri. Karena kami mengakui, ini kesalahan terbesar kami." Pak Suryono menatapku dengan penuh penyesalan.
Sungguh aku tak dapat berkata apa-apa lagi. bahkan untuk berpikir pun mungkin sudah tidak sanggup lagi. Apa yang harus aku lakukan? Sanggupkah menjalani pernikahan ini? Sanggupkah diri ini bertanggung jawab akan dirinya? Apa kata orang nanti jika mereka tahu istriku adalah orang dengan gangguan jiwa. Haruskah aku mengakhiri pernikahan yang baru beberapa jam ini?
"Maaf, Yah. Saya belum bisa memutuskannya untuk saat ini. Izinkan saya pulang ke rumah untuk menenangkan diri dulu."
Ya... Bagiku pernikahan bukanlah suatu permainan, yang jika kita salah melangkah maka bisa diulang. Aku hanya ingin satu kali saja mengucap ijab kabul. Tapi kita tidak tahu rahasia Allah. Karena Jodoh adalah salah satu Rahasia Allah.
"Apa tidak menunggu besok pagi saja, Nak Gilang?" Bu Dina yang dari tadi hanya diam, sepertinya sudah mulai tenang. Mungkin beliau sudah mengikhlaskan keadaan ini.
"Maaf, Bu. takutnya nanti malah mengganggu istirahatnya Yuri. dan sayapun tidak bisa tenang disini." Jawabku.
"Baiklah, Nak Gilang. pakai saja mobil Ayah untuk pulang, karena mungkin diluar sudah tidak ada kendaraan umum lagi." Aku melirik jam di dinding, dan ternyata sudah menunjukan pukul setengah satu malam.
"Baiklah, Yah. Terimakasih."
"Tidak, nak. Kami yang harusnya berterimakasih, karena kamu sudah menyikapi masalah ini dengan bijak," jawab Pak Suryono.
Aku tidak sebijak itu, Yah,”' batinku. Aku hanya mencoba untuk tetap sopan saja. Seandainya kalian tahu, ingin rasanya aku melampiaskan kekecewaan ini dengan memaki, bahkan menghncurkan semua barang yang ada di ruangan ini.
***
"Loh, kamu kok pulang jam segini ,Lang? Ada apa?" tanya Om Irfan.
Om Irfan membukakan pintu setelah aku mengetuknya berulang-ulang. Om Irfan memang menginap di rumahku sejak tiga hari yang lalu, karena urusan pernikahanku.
'Istrimu mana, Lang?" Tante Ani, istri Om Irfan ikutan bertanya.
Aku tak menjawab pertanyaan mereka karena sudah terlalu lelah. Aku hanya ingin tidur sekarang.
"Biarkan dia istirahat dulu, Ma. Gilang pasti masih lelah." mMasih sempat kudengar Om Irfan bicara pada istrinya sesaat sebelum menutup pintu kamar.
Om Irfan adalah satu-satunya saudara dari ibuku. Sedangkan saudara dari ayah semuanya tinggal di pulau seberang. Setelah kehilanngan kedua orang tuaku untuk selamanya, Om Irfan lah yanng selalu setia mengurus kami. Aku dan Amanda, adikku.
Ya ... Aku yatim piatu. Ibu meninggal ketika melahirkan adikku. Saat itu umurku baru sebelas tahun. Dan ayah meninggal tiga tahun kemudian karena kecelakaan.
Setelah kepergian ayah, aku pun mengambil alih tanggung jawab mereka atas Amanda. Berusaha untuk memberikan kasih sayang dan juga memenuhi kebutuhannya. Karena itu sambil bersekolah, aku ikut terjun langsung mengurus toko material peninggalan ayah dibantu seorang kepercayaannya dan juga Om Irfan.
Aku dituntut untuk lebih cepat dewasa sekaligus menjadi orang tua bagi adikku. Disaat teman-temanku masih asik bermain dan menikmati masa muda, diri ini pun sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami.
Tak terasa Amanda kini telah lulus sekolah keperawatan. Adik yang berasa anak itu telah tumbuh dewasa di tanganku. Berkat kegigihanku walau juga tak lepas dari campur tangan Om Irfan. Gadis belia itu juga yang mengingatkan statusku yang masih sendiri di usia yang sekarang sudah menginjak 32 tahun, usia yang sangat pantas untuk menikah.
Namun, aku lupa akan hal itu, karena kesibukanku dan juga karena pekerjaan yang jarang bertemu dengan lawan jenis hingga membuatku tak sempat untuk mengenal mereka lebih dekat.
"Kalau Manda nikah duluan, nanti siapa yang akan mengurus Mas Gilang? Siapa yang mau ingetin Mas Gilang untuk makan? Mas Gilang kan paling susah makan. Lihat tuh, badannya kerempeng gitu." Itu alasan Amanda membujukku untuk menikah.
Amanda memang sudah memiliki seseorang yang telah siap untuk melamarnya. Namun, dia tak mau mendahuluiku.
"Ya ... kan kau bisa telpon Mas tiap hari. Tengokin mas juga," balasku pelan. Bukannya tak ingin menikah, aku hanya takut jika tak bisa lagi mengurus adik semata wayangku ini jika telah menikah kelak. Lagi pula, selama ini taka da satu pun perempuan yang dekat denganku.
"Idih ... kalau Manda nikah, ya Manda sibuk ngurus suami Manda dong, Mas. Mana sempat Manda mau nelpon Mas terus," kilahnya lagi saat membujukku untuk menikah.
"Jadi Mas harus gimana?"
"Ya Mas nikah juga dong. Biar ada yang ngurusin Mas. Jadi Manda juga tenang ninggalin Mas di sini," cecarnya.
Itulah salah satu alasanku menerima perjodohan ini. Aku pikir apa yang dikatakan Amanda memang benar. Walau bagaimana pun, suatu saat Amanda harus meninggalkanku dengan membangun sebuah keluarga. Apalagi saat ini ada seorang lelaki yang telah siap meminangnya.

Book Comment (132)

  • avatar
    Ne Ha

    sangat bagus sekali.. love it..

    21/02

      0
  • avatar
    MaryanaNini

    masyaALLAH suka sekali novel nya . terima kasih author,bukunya bagus sekali

    06/11

      0
  • avatar
    LestariDeya

    alur ceritanya baguss saya sangat menyukai

    13/08

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters