logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Episode 7

"Happy birthday, sayang!"
Suara itu mengejutkan seorang laki-laki yang baru saja membuka pintu rumahnya.
Pria itu tersenyum. Suara terompet dan letusan balon yang disengaja memenuhi rumahnya.
Pesta kejutan itu membuatnya teringat sebuah kenangan. Kenangan yang tidak pernah ia lupakan.
"Tiup! Tiup! Tiup!" Keik blackforest dengan satu lilin kecil yang menyala di atasnya. Pria itu dengan senyum kebahagiaan mengangguk bersedia meniup api kecil yang tergoyang pula karena suasana.
"Apakah di sana, kau bahagia?" Sekelebat pertanyaan itu datang dalam pikirannya. Ia membeku, namun ia harus mengambil sikap. Ia menarik nafas, meniup api lilin yang sebenarnya mudah sekali padam.
"Aku masih mengingatmu, San. Bagaimana keadaaanmu di sana?" Semakin lama, ingatan akan Sandra menguat.
Teman-teman dan kerabat yang datang dalam acara pesta kejutannya, kini sedang menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Sedangkan yang berulang tahun, ditarik menuju kamar oleh istrinya.
"Elsa, kita ninggalin mereka di sana?"
Tanyanya kepada sang istri.
"Hanya sebentar, Romeo sayang. Soalnya aku mau ngasih kamu kejutan."
Ia mengambil sebuah kotak dengan bentuk persegi panjang. Kotak itu berwarna ungu mengilap, warna yang disukai oleh Romeo. Tidak ada pita yang menghias, hanya kotak yang dapat dibuka dengan mudah.
"Ini apa?" tanya Romeo
"Buka lah! Kamu nggak akan tahu kalau nggak buka."
Romeo membuka kotak tersebut. Ia melihat alat uji kehamilan dengan satu garis yang terlihat jelas, dan satu garis terlihat samar.
"Apa maksudnya?" Romeo bertanya kembali. Ia tidak berani ambil prasangka dengan apa yang dilihatnya. Lebih tepatnya, ia tidak berani berharap.
"Aku hamil, Rom. Aku mau umumkan juga ke teman-teman." Binar mata Elsa berkilau bahagia.
Romeo ingin sekali melakukan itu. Namun, jika melihat ke belakang, ia tidak ingin terlalu berharap.
"Elsa, kamu pasti senang, ya? Tapi jangan umumkan dulu, ya. Kita umumkan setelah kita ke dokter."
"Kenapa? Ini kan berita bahagia. Kenapa harus ditunda?"
"Bukan gitu," belum selesai Romeo menjelaskan Elsa sudah menimpali,"memang dari awal yang pingin punya anak cuma aku kok. Ya kan?"
"Bukan gitu, Sa. Tolong dengerin aku dulu. Kan kita cuma nunda buat umumin kehamilanmu aja kan? Setelah kita ke dokter dan hasilnya bagus, ayo kita adakan syukuran." pinta Romeo agar Elsa tenang.
Elsa hanya diam. Di dalam hatinya, ia ingin sekali membuktikan bahwa ia tidak mandul. Terlebih, teman-teman yang menikah setelahnya sudah punya anak.
"Untuk sekarang, kita nikmati dulu ya pesta yang kamu buat. Makasih, ya." ucap Romeo sambil mengecup kening istrinya.
Romeo dan Elsa kembali kepada teman-temannya yang menunggu di ruang tamu. Walaupun Romeo menikmati pestanya, ia sedang memikirkan hal lain.
--
Dua pekan setelah pesta ulang tahun, Elsa dan Romeo membuat janji dengan salah satu dokter kandungan terdekat. Elsa merasa senang. Yang ia bayangkan adalah degup jantung anaknya akan terlihat, mungkin.
Elsa tidak sabar untuk segera pergi ke dokter kandungan. Menunggu Romeo pulang kerja terasa begitu lama untuk Elsa. Ia memilih untuk membayangkan janin yang ada di kandungannya sambil menunggu Romeo.
Suara mobil terdengar memasuki area rumah. Elsa sudah menebak bahwa itu adalah Romeo. Tentu saja demikian, mengingat di rumah itu hanya ada Elsa dan Romeo. Elsa segera membukakan pintu.
Yang ditebak kedatangannya ternyata salah. Dua orang pria yang tidak dikenal mendatangi rumah. Perawakan mereka seperti penagih hutang. Bagi Elsa, mereka cukup menyeramkan.
"Ini benar rumah dari Elsadewi Sugiyono?" tanya salah satu dari mereka. Suaranya yang berat membuat Elsa semakin merasa takut.
Secara tidak sadar, Elsa mengangguk.
"Kami ingin menagih hutang kepada saudari Eliasih Sugiyono. Ibu ini kakaknya kan?"
Kedua alis Elsa mengerut. "Kenapa saya dibawa-bawa? Saya tidak pernah meminjam uang dengan siapapun."
"Iya, saya tahu. Tapi adik anda pinjam uang kepada kami dan memberikan alamat ini sebagai jaminan."
Elsa berusaha untuk tenang. "Berapa hutangnya pak?"
"Dua ratus lima puluh juta."
Seperti disambar petir di penghujung sore, Elsa jatuh terkejut.
"Eliasih tidak bisa dihubungi ataupun dicari rimbanya. Apakah ibu mengetahui keberadaannya?"
Elsa menarik nafas kemudian berkata,"NGGAAK! SAYA NGGAK TAHU DIA DI MANA! SAYA BAHKAN TIDAK PERNAH BERHUBUNGAN DENGAN ANAK YANG SUKA CARI MASALAH MACAM DIA! KALIAN BERDUA PERGI SEKARANG JUGA!"
Nafas Elsa terdengar tidak teratur. Badannya terasa lemas. Para pria yang datang untuk menagih hutang adiknya itu tidak pergi, malah mendekati Elsa yang masih terduduk.
"Dengar ya bu! Ibu jangan bohong! Eliasih sudah beberapa kali mangkir dari membayar dan kabur. Eliasih bilang kalau kakaknya kaya raya. Dia juga bilang kalau kakaknya yang akan membayar semuanya."
Elsa semakin geram. Ia mengambil sapu dan hendak memukul salah satu pria itu. Tak disangka, tangannya ditahan oleh pria yang lainnya.
"Ada apa ini?" sergah Romeo yang baru datang. "Kalian apakan istri saya sampai ketakutan seperti itu?"
Dua pria itu mundur menjauhi Elsa yang masih gemetaran. Romeo segera turun dari mobil dan memeluk istrinya. "Apapun yang dilakukan istri saya, kalian tidak berhak memperlakukan dia sampai ketakutan seperti ini."
Romeo kesal karena dua pria itu hanya diam dengan tatapan yang tidak ramah.
"Kami hanya butuh uangnya jika kalian tidak ingin masalah lebih rumit."
"Uang apa? Kalian butuh berapa? Saya dan istri tidak pernah meminjam uang kepada siapapun!"
"Memang bukan istri anda, tapi adik ipar anda."
"Eli? Eliasih? tanya Romeo.
"Iya. Dan Eliasih bilang kakaknya yang akan membayarkan hutangnya."
"Berapa hutangnya?"
"Dua ratus lima puluh juta?"
Romeo terkejut. Untuk apa uang sebanyak itu buat Eli? Dia masih berumur delapan belas tahun!
Elsa menggeleng. "Jangan Rom, jangan berikan mereka apapun."
"Kita tidak ada urusan dengan Eli ya bapak-bapak! Segera keluar dari rumah kami atau kami panggil sekuriti kompleks!"
Dua pria itu mundur dan masuk ke dalam mobil mereka. Teriakan Romeo yang cukup keras membuat beberapa orang memerhatikan mereka dan penasaran apa yang terjadi. Bahkan, tetangga-tetangga terdekat pun ikut keluar dari rumah mereka.
Elsa masih gemetaran. Keringat dinginnya pun keluar. Romeo tidak melepaskan pelukannya. Ia membawa masuk Elsa dan mendudukkannya di atas sofa.
"Tenang, sayang. Mereka sudah pergi. Kuambilkan air dulu."
"Rom, maafkan aku." Tiba-tiba Elsa memegang tangan Romeo. "Aku benci dengan keluargaku. Maafkan aku." Romeo berhenti sejenak.
Tangis Elsa luruh perlahan. Harusnya, hari ini Elsa bahagia. Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Dalam beberapa menit, hari ini menjadi sangat buruk baginya.
Romeo memeluk Elsa. Ia memahami apa yang sedang dialami Elsa. Romeo meminta izin kepada Elsa untuk mengambil minuman.
Romeo membuka kulkas, mencari es batu. Ia membuatkan teh manis dingin, kesukaan Elsa. Kemudian ia memberikan kepadanya Elsa.
"Kok ini tawar, Rom?" tanya Elsa setelah meminum seteguk es teh buatan Romeo.
Romeo terkejut. "Aku lupa ngasih gula, bentar ya." Ia meraih gelas yang ada di tangan Elsa kembali menuju dapur.
Pikiran Romeo memang sudah tidak fokus sejak keluar dari kantor. Ia diberitahu bahwa ia akan dipindahkan ke luar kota, kota di mana seseorang yang sangat menyukai es teh tawar yang ia kenal.

Book Comment (120)

  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus hanya akhirnya Sandra belum selesai...

    29/11

      0
  • avatar
    RahmawatiFitria

    sangat lah bagus

    02/10

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters