logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 7

Lidia mondar mandir di dalam kamar hotel sendirian. Antara gelisah karena Aira tak kunjung kembali dan rasa tak nyaman yang sedang dia rasakan sekarang. Tubuhnya terasa panas tak nyaman hingga mengeluarkan keringat, dan dia merasa gelisah sendiri seperti ada sesuatu yang ingin keluar dalam tubuhnya. Namun, Lidia tidak mengetahui apa yang sedang dia rasakan saat ini. 
Pintu terbuka dari luar. Lidia segera berbalik berharap orang yang membuka pintu adalah Aira. Namun, sosok pria yang berdiri di ambang pintu membuatnya takut setengah mati. Pria itu melempar jas yang dia kenakan ke sembarang arah dan menatap pada Lidia dengan pandangan yang menakutkan. 
"K-kamu siapa?" ucap Lidia ketakutan. Akan tetapi, dia tidak bisa memungkiri kalau  pikirannya berkelana jauh meliat seorang pria melepas satu persatu pakaian yang dikenakannya dan berjalan mendekati Lidia. 
***
Aira tersenyum bahagia dalam pesta itu. Arkan duduk di sampingnya juga tak kalah senangnya dengan Aira.  Mereka berdua sama-sama telah merasa menang dan berhasil membuat saingan mereka masuk ke dalam lubang kehancuran. 
"Gue berharap banget cewek itu bakaan hamil," kata Arkan pada Aira. 
"Gue juga. Gue mau dia hancur sehancur-hancurnya. Kalau cuma ditiduri saja, tapi, dia gak hamil, bakalan sia-sia perjuangan gue bawa dia ke sini," balas Aira. 
"Hm, ya, lalu, setelah dia sadar kalau dirinya hamil, pasti dia akan mencari orang yang menghamilinya bukan? Nah, di situ, gue akan melihat teman terbaik gue juga akan hancur. Nama baiknya yang selama ini dipuja-puja dunia perbisnisan akan hancur dalam sekejap," kata Arkan membayangkan skenario yang sudah ia susun. 
"Hm, ya, kita sama-sama diuntungkan bukan? Gue suka bekerja sama dengan lo," kata Aira sambil mengangkat gelas minumannya. 
Arkan membalas ajakan sulang dari Aira, malam itu, mereka merasa dunia sedang berpihak dengan mereka. Di malam itu pula, Aira dan Arkan menikmati pesta dengan hati yang berbunga-bunga. 
"Kita hanya tinggal menunggu hasilnya, jangan lupa selalu memberi kabar terbaru tentang temen lo itu sama gue, Aira." 
"Tentu, gue akan memberikan informasi terbaru sama lo setiap waktu. Jangan khawatir, tapi, lo juga harus menjamin gue gak akan lo seret kalau suatu saat terjadi sesuatu." 
"Tenang saja, Ra, gue gak akan tega melibatkan wanita secantik lo. Lo harus tahu, gue bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan batu kerikil yang menghalangi jalan gue." 
Aira tersenyum senang. Temannya waktu itu mengenalkannya pada orang yang tepat. Mungkin kalau semuanya sudah selesai, Aira akan mempertimbangkan untuk berterima kasih pada temannya itu. 
***
Lidia terbangun dengan perasaan bingung. Dia tidak mengenakan apapun di atas tempat tidur, dan bagian bawah tubuhnya terasa sakit dan ngilu ketika dia bergerak. Mengingat-ingat kejadian semalam, seketika Lidia merasa dirinya kotor dan hanucr. Dia menoleh ke sampingnya, tapi, tak mendapati siapapun di sana. Pria yang semalam bersamanya sudah tak ada lagi di tempat, yang Lidia lihat justru bercak-bercak darah di beberapa tempat tidur.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus berakhir seperti ini?" ucap Lidia lirih dengan perasaannya yang campur aduk, air matanya terus mengalir membasahi pipinya. 
Lidia sama sekali tidak lupa dengan yang terjadi semalam. Dosa yang dia lakukan tanpa sengaja dengan pria tak dikenal itu terus menghantuinya. Lidia merasa sangat bersalah dan berdosa pada ibu panti yang selalu berpesan padanya  untuk menjaga diri. Akan tetapi, sekarang, dia telah merusak dirinya sendiri tanpa sengaja. 
"Maafkan Lidia , bu. Lidia gagal melakukan pesan ibu Hidup Lidia sudah hancur. Lalu Lidia harus bagaimana, bu? Apa yang harus Lidia lakukan?" ucap Lidia dalam tangisannya. 
*** 
Hari ini Lidia tidak masuk bekerja. Dia sudah meminta ijin pada Rio melalui pesan singkat dan mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan. Mental Lidia masih terguncang setelah kejadian semalam. Saat ini dia sedang mengurung diri di dalam kamar kosan sendirian. 
Pandangan orang-orang kosan yang melihatnya pulang pagi dengan pakaian seksi pemberian Aira semakin membuatnya stres. Pasti mereka telah berpikir yang tidak-tidak padanya. Pandangan orang yang selama ini menganggap dia wanita baik dan sopan akan hilang hanya dengan satu kesalahan yang dia perbuat. 
Seharian penuh menangis di dalam kamar kos membuat Lidia kehabisan banyak tenaga. Belum ada satu pun makanan yang masuk ke dalam perutnya sejak dia membuka mata tadi pagi. Yang di pikirkan Lidia saat ini, bagaimana kalau nanti dia hamil? Pasti dia akan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu bagaimana nasib anaknya nanti?
Ponsel yang sejak tadi pagi berkali-kali berdering sama sekali tidak dipedulikan Lidia. Dia sama sekali tidak ingin siapapun menghubunginya. Termasuk Evan yang sejak semalam merasa khawatir dengan keadaan Lidia. 
Saat ini Lidia masih menyesali kejadian semalam. Kalau saja dia tidak datang ke tempat itu bersama Aira, mungkin dia tidak akan mendapatkan musibah ini. Ah tidak, harusnya, waktu itu ia menolak ajakan Aira dan semua ini tidak akan terjadi. 
Ketukan di pintu kamar kosan  menarik pikiran Lidia kembali pada dunia nyata. Ketukan pintu itu tidak berhenti meski Lidia sengaja mengabaikannya. Akhirnya, dengan tubuh yang sempoyongan karena kepalanya pening hampir seharian menangis, Lidia berjalan menuju ke arah pintu. 
"Lidia, astaga! Lid, kamu sakit?" Evan, pria yang berdiri di depan pintu kamar kosnya. 
"Kak Evan, ada apa?" tanya Lidia mengabaikan pertanyaan Evan. Suara Lidia terdengar parau dan lemas. 
"Lid, kita ke dokter ya? Aku yang antar," ajak Evan. Memang tujuan Evan datang ke kosan Lidia untuk memastikan keadaan orang yang diam-diam dia cintai. Perasaan tak enak yang dia rasakan terus mengganggunya seharian ini hingga membuatnya tidak konsentrasi bekerja. 
"Aku gak papa, Kak," kata Lidia msaih saja membantah. 
Akan tetapi, melihat wajah sembab Lidia dan bibirnya yang pucat sudah dapat dipastikan kalau Lidia sedang sakit. Meski wanita itu menolak, Evan tetap memaksa Lidia untuk berobat. 
"Aku gak papa, Kak," ucap Lidia memaksakan diri. Akan tetapi, tubuhnya berkata lain. Dia tiba-tiba limbung nyaris terjatuh ke lantai kalau saja Evan tidak menangkap tubuhnya. 
Dibantu beberapa penghuni kos yang kebetulan melihat kejadian itu, Evan membawa Lidia ke sebuah klinik terdekat dengan kosan gadis itu. Sampai di ruang IGD Sarah segera mendapatkan perawatan dan pemeriksaan intensif. Evan menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas. 
Belum selesai pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak dokter, ponsel Evan berdering dengan nama Geraldi terpampang di layar ponselnya. Ingin sekali Evan mengabaikan panggilan itu hingga dokter selesai memeriksa Sarah, tapi, dia juga masih butuh pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. 
"Halo, pak Gerald ... saya masih di klinik, pak ... eee ... ini teman saya sakit, dan saya bawa dia ke klinik ... baik, pak, setelah dari klinik saya akan ke rumah bapak ... baik, pak." 
"Huh, untung gak langsung disuruh ke sana, setidaknya gue bisa nunggu sampai hasil pemeriksaan Lidia selesai. Kasian dia kalau ditinggal sendiri," guman Evan merasa lega.
Dokter yang menangani Lidia di ruang IGD keluar dan mencari keluarga pasien. Evan segera mengajukan diri dan mendengarkan penjelasan dari dokter itu tentang keadaan Lidia saat ini. 
"Kalau begitu, lakukan perawatan terbaik untuk dia, Dokter, kalau perlu saya akan memindahkannya ke rumah sakit besar." 
"Istirahat beberapa hari di sini tidak masalah, keadannya tidak terlalu mengkhawatirkan." 
"Baiklah, kalau begitu saya akan urus administrasinya. Ehm, Dokter, bisa saya minta tolong jaga dia sebentar, saya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, setelah urusan saya selesai saya akan segera kembali." 
"Baik." 
"Terima kasih." 
Evan segera pergi memenuhi panggilan bos besarnya setelah menyelesaikan semua adminstrasi yang dibutuhkan SarLidia ah. Meski hatinya tak rela untuk meninggalkan Lidia yang terbaring sakit tak berdaya. 
*** 

Book Comment (181)

  • avatar
    ZaZa

    kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭

    14/09

      1
  • avatar
    Nurul Huda

    temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa

    10/09

      0
  • avatar
    Ikbar

    mantap

    03/07/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters