Evan mengetuk ruang kerja eraldi . Setelah atasannya mengijinkan Evan masuk, baru pria itu masuk sambil membawa selembar undangan di tangannya. "Pak, ada undangan pesta dari pak Arkan." "Arkan?" "Betul, Pak, malam ini di ballrom hotel Airlangga." Evan meletakkan undangan itu di atas meja. "Apa undangan ini resmi?" "Sepertinya begitu, tadi, ada utusan dari kantor pak Evan yang mengantarkan undangan itu." "Ya sudah, pegilah," kata Geraldi hanya melirik undangan itu. Setelah Evan pergi, Geraldi baru melihat dengan seksama isi undangan itu. Pria itu tersenyum miring membaca tulisan pesta ulang tahun di sana. "Cih! Apa dia tidak ingat umur? Memalukan sekali," guman Geraldi dengan nada sinis. "Ah, tapi tetap saja dia temanku, aku harus datang dan memberikan ucapan selamat," guman Geraldi. Kemudian tangan Geraldi bergerak mengambil gagang telepon yang ada di atas meja. Menekan angka satu yang langsung terhubung dengan telepon di ruangan Evan. "Carikan kado yang bagus dan mahal untuk Arkan." Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya di telepon, Geraldi langsung menutu telepon itu. *** Aira yang hari itu mendapat jadwal masuk pagi terlihat begitu ramah pada pengunjung minimarket yang datang. Bahkan Rio sampai heran dengan keramahan Aira hari ini. Sungguh kejadian yang luar biasa bisa melihat Aria bekerja dengan semangat dan ramah menyambut pengujung. "Tumben banget dia semangat dan ramah gitu?" komentar salah satu teman kerja yang lain. "Jangan gitu, nanti kalau dia denger pasti menyakiti perasaannya," tegur Rio yang diajak bicara oleh orang itu. "Alesan, bilang aja lo suka sama dia, makanya dibela terus." "Gue udah punya pacar, gak mungkin lah gue suka cewek lain," bantah Rio lalu mendorong troli berisi kardus masuk ke dalam gudang. "Terima kasih sudah berbelanja, Kakak," ucap Aira setelah melayani pengunjung yang membayar belanjaannya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua siang, sebentar lagi, karywan yang menadapat jadwal masuk siang pasti akan segera datang. Ara tak sabar menunggu malam tiba. Apa yang sudah dia inginkan sudah menari-nari di depan matanya. "Lo dari tadi gue lihatin senyum-senyum gak jelas, lo salah makan?" "Sirik aja lo, lo sih emang gak suka lihat gue seneng kan," balas Aira melotot tajam pada pria bername-tag Bayu itu. "Memnding lo jauh-jauh dari gue. Lo tuh tukang rusuh yang selalu bikin mood bagus gue rusak seketika," geram Aira . Bayu justru dengan sengaja semakin menggoda Aira. Hingga membuat wanita itu naik pitam dan keluar dari meja kasir untuk mengejar Bayu. "Hei! ini bukan play ground!" teriak Rio dari balik rak. "Dia nih ganggu-ganggu gue mulu. Perasaan sensi banget sama gue," ucap Aira mengadukan kelakuan Bayu pada Rio. Perseteruan kecil itu berakhir begitu saja saat pintu minimareket kemali terbuka. Seorang pengunjung masuk mengalihkan semua untuk kembali ke pekerjaannya. Di belakang pengunjung itu ada Lidia yang baru datang. Wajah Aira kembali sumringah melihat teman kerjanya itu. "Lid, lo udah janji pokoknya nanti malem nemenin gue ya," kata Aira berjalan mengiringi Lidia menuju ruang karyawan. "Iya, Aira, gue gak lupa kok," jawab Lidia seperti biasa, dengan nada suaranya yang lembut. "Aaa, thank you pokoknya, gue udah gak sabar pengen dateng ke pesta itu," guman Aira sambil bertepuk tangan pelan menunjukan ekspresi senangnya. Lidia tersenyum tipis, lalu pamit pada Aira untuk masuk ke ruang karyawan. Sebenarnya, Lidia merasa sikap Aira hari ini agak berbeda. Akan tetapi, dia segera menghapus pikiran negatifnya pada gadis itu. Ia mensugesti pikirannya sendiri denga menganggap Aira ingin memulai pertemanan yang baik dengan dirinya mulai saat ini. Dengan begitu, bisa mengurangi pikiran negaif dalam dirinya. Lidia segera keluar dari ruang karyawan dan melakukan pergantian kasir dengan Aira karena sudah hampir jam tiga sore. Ia mulai bekerja serperti biasanya hingga nanti malam. *** Aira sedang bersiap di dalam kamar kosnya. memoles wajahnya dengan make up sebelum menjemput Lidia . Di atas tempat tidurnya sudah ada seuah gaun super seksi yang nanti akan dia berikan pada LIdia. Ia sendiri pun juga mengenakan pakaian seksi, hampir sama dengan yang akan ia berikan pada Lidia. "OKe, saatnya kita berangkat," gumannya antusias. Sebelum benar-benar berangkat, Aira memastikan semua barang bawaannya sudah masuk ke dalam paper bag yang ia bawa. Dengan memesan taksi online, Aira menuju minimarket. Sebelumnya, ia telah menghubungi Lidia dan meminta gadis itu untuk menunggu di tikungan sebelum minimarket. Mobil yang ditumpangi Aira sudah mulai memperlambat lajunya, dari dalam mobil, pandangan Aira terus menatap trotoar dan mencari keberadaan Lidia . "Di depan sana, Pak, ada perempuan berdiri, itu teman saya, Pak," kata Renata pada sang supir. "Beneran, Neng, itu temennya?" tanya sang supir ragu. "Bener, Pak, emang saya udah janjian sama dia di sini, tuh, dia pakai seragam mini market di yang di ujung tadi," jawab Aira meyakinkan. AIra membuka pintu mobil dan menyuruh Lidia segera masuk. ""Pak, berhenti di pom bensin terdekat ya," pinta Aira lagi. "Masih jam sembilan lebih dikit, cukup lah buat lo ganti baju sama dandan bentar," kata AIra setelah melihat jam digital di ponselnya. "Ra, apa gue juga harus dandan kayak lo gini? Pakaiannya juga?" tanya Lidia memandang ragu pada AIra. Meski di dalam mobil pencahayaannya redup, tapi terlihat jelas kalau Aira mengenakan make up tebal dan pakaian seksi. "Iya dong, harus, gue gak mau ya bawa temen yang penampilannya kampungan. Gue udah siapin semuanya, lo cuma terima beres," jawab Aira. *** Di tempat yang sudah disiapkan Arkan, satu persatu teman-teman yang mendapat undangan telah datang. Suasana di ballrom itu dibuat agak temaram layaknya di sebuah kelab malam. Berbagai makanan dan minuman tersedia di hampir setiap sisi. Disediakan pula tempat duduk tak jauh dari meja makanan. Di salah satu sudut, terdapat panggung kecil yang nantinya akan digunakan si empunya acara. Di sana juga ada sebuah kue tart susun di atas meja. Geraldi memasuki ruangan ballroom seorang diri. Di salah satu tangannya telah memegang paper bag berisi kado yang akan ia berikan pada teman baiknya. Ya, Geraldi menganggap Arkan adalah teman baiknya. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan mencari si punya acara. Setelah menemukan orangnya, langkah kaki jenjangnya tertuju pada orang itu. "Gue kira lo udah tua buat ngerayain ulang tahun," kata Geraldi setelah bertemu dengan sang empunya acara. "Memang, tapi, gue rasa sudah lama kita tidak berpesta, jadi, pesta ini gue buat untuk mengumpulkan kita semua," jawab Arkan tersenyum lebar. "Kalian semua terlalu sibuk sampai sulit diajak berpesta, jadi, mari kita berpesta di sini," ucap Lidia lagi. Geraldi tersenyum lebar, lalu ia ikut bergabung dengan mereka sambil menikmati hidangan yang tersedia. Tak lupa selalu ada miuman beralkohol di seleliling mereka. Arkan memang sengaja menyiapkannya, karena ia ingin membuat semua orang mabuk di pestanya. *** Aira dan Lidia telah sampai di hotel Arilangga, keduanya agak kesulitan mencari tempat pesta Arkan diadakan, karena keduanya sama-sama belum pernah masuk ke hotel itu. Untungnya ada satpam yang membantu dua wanita itu hingga akhirnya mereka sampai di ballrom hotel. Lidia tercengang dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Suasana yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di situ Ldiia merasa minder, tak percaya diri. "Ra, gue tunggu lo di depan aja ya," ucap Ldia hendak berbalik. "Eits! Jangan gitu dong! Lo kan udah janji mau nemenin gue." "Tapi, Ra, gue ngerasa gak cocok di tempat ini." "Siapa bilang? Lo cocok kok, pakaian yang lo pakai harganya hampir sama dengan yang mereka pakai, jadi, lo gak perlu minder, lo juga udah gue dandanin cantik banget. Ayo, kita cari temen gue dulu." Tanpa peduli dengan Lidia yang enggan memasuki tempat acara, AIra tetap memaksa wanita itu ikut dengannya. Ia tidak membiarkan Lidia lepas dari gandengan tangannya. Akhirnya Sarah hanya bisa pasrah dan ikut saja ke mana pun Renata menarik tangannya. "Arkan!" "Hai, Aira!" Beberapa orang yang sedang bersama Arkan ikut menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Aira bersama gadis lain tengah menuju lingkaran para pria itu. "Happy brithday, sorry gak bisa ngasih kado yang spesial," ucap Aira sambil mengulurkan sebuah peper bag dengan gambar logo butik ternama. "Thank you, lo datang aja udah jadi kado spesial buat gue, Aira," jawab Arkan tersenyum menggoda. "Ee, sorry, gue ke sini bawa temen, gak papa kan?" ucap Aira memberi kode kalau ia datang bersama targetnya. "Oh, gak masalah dong, kan gue emang suruh lo bawa temen." "By the way, kenalin, dia Lidia, Lid, ini temen gue yang ulang tahun, namanya Arkan." Arkan dan Lidia saling berjabat tangan walau jelas terlihat Lidia merasa canggung dan tak nyaman. Namun, demi menghormati orang yang telah baik menerimanya sebagai tamu, Lidia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Beberap teman pria Arkan pun mulai mencari perhatian dua wanita itu. Jika Aira bisa menanggapi mereka dengan ejoy dan ramah, berbeda dengan Lidia yang kaku dan risih. Meski ia sudah berusaha menyembunyikan rasa itu, tapi, tetap saja dari mimik wajahnya bisa terbaca. Dari beberapa pria itu, hanya Geraldi yang sama sekali tidak tertarik dengan dua wanita itu. Ia tetap dengan kesibukannya menikmati segelas minuman di tangannya. Hanya sekilas ia melirik dua wanita itu lalu kembali memalingkan wajahnya. Baik Geraldi maupun Lidia sama-sama tidak sadar jika mereka pernah bertemu sebelumnya dalam insiden kecelakaan beberapa waktu yang lalu. "Dari pada lo gabut karena gak kenal sama orang-orang di sini, gimana kalau lo gabung sama kita aja," tawar Arkan. "Seriusan boleh?" tanya Aira terlihat antusias. "Lid, lo gak papa kan kalau kita gabung? Mereka baik-baik kok," ucap Aira. Akan tetapi, belum sampai Lidia memberikan jawab, Aira sudah lebih dulu menarik tangan Lidia dan mendudukkannya tepat di kursi kosong di samping Geraldi. "Maaf," ucap Lidia karena takut melihat tatapan tajam Geraldi. Mereka mengobrol santai layaknya teman lama. Aira dengan mudah berbaur dengan mereka semua, tapi, Lidia hanya diam tak begitu tertarik dengan bahasan mereka. Ia hanya sesekali tersenyum canggung saat salah satu dari mereka memandangnya. Sama halnya dengan Geraldi, pria itu juga tak banyak bicara. Hanya sesekali ketika dimintai pendapat. Semakin malam, suasana semakin seru. Arkan juga mengundang DJ untuk memeriahkan pestanya. Aira yang suka sekali menari di atas lantai disko tak bisa menahan diri saat irama musik mengentak diputar sang DJ. "Sar, lo tunggu di sini bentar ya, gue pengen banget joget," ucap Aira lalu meninggalkan Lidia begitu saja. "Ra!" Namun, panggilan Lidia sama sekali tidak dihiraukan oleh Aira . Alhasil ia hanya duduk di sana tanpa tahu harus melakukan apa. Arkan mendekati Aira yang sedang asik menari. Pria itu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Aira. Lalu keduanya sama-sama tersenyum setelah Arkan usai berbicara. Beberapa saat kemudian, Aira mengehentikan aksinya. Ia mengambil minuman yang tempatnya jauh dari Lidia, di situ ia memasukkan sesuatu ke dalam salah satu gelas, dan kemudian membawanya menuju Lidia menunggunya. "Huh, rasanya plong, gue sampai haus, nih buat lo. Gue yakin lo gak akan minum atau makan kalau gak gue bawain," ucap AIra sambil mengulurkan segelas minuman yang telah ia campur dengan sesuatu itu. Tanpa berpikir apapun, Lidia segera meneguk minuman itu hingga hampir tandas. Aira tersenyum penuh kemenangan dari balik gelas yang hampir menutup wajanya sambil melihat Lidia yang kembali meneguk minumannya. ***
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 39 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (181)
ZaZa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1
Nurul Huda
temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
kok cuma sampe bab 32 aku belum puas please pengen liat couple Lidia dan Gerald berlayar😭😭
14/09
1temannya sungguh keji.. lidia harus bertahan walau bingung dan tidak tahu harus apa
10/09
0mantap
03/07/2025
0View All