Seorang gadis berusia 15 tahun, berambut bob, dengan bentuk wajah imut, bola mata hitam membola, lengkap dengan pipi chubby-nya, tengah berdiri di balkon kamarnya menatapi indahnya langit malam berhiaskan bintang-bintang bersama bulannya sembari tersenyum tipis ke arah bulan purnama terang yang menghias langit malam kala itu. Bulan terang seperti mengingatkan pada seseorang yang amat berpengaruh dalam hidupnya beberapa tahun silam, bahkan hingga saat ini. Ingatannya seolah ditarik ke masa-masa silam di saat dirinya mengenal sosok yang kerap dipanggilnya dengan sebutan "Pangeran Bulan" Iya, sosoknya memang teramat bersinar bak bulan purnama di kala langit temaram bagi seorang Talia Nahdhi Romusha. Beberapa tahun silam… Seorang anak perempuan berusia 6 tahunan tengah termenung di bawah terang bulan. Bersama sebuah buku di tangan mungilnya, saat ia tenggelam dalam bacaannya tiba-tiba fokusnya terganggu akan satu hal ketika ia mendengar suara gemerisik dari sesuatu di balik semak yang tak terlalu jauh darinya. "Apa tuh?" Tanyanya dengan nada polos tanpa berpikir hal-hal negatif tentang sesuatu di balik semak belukar, dengan sedikit keberaniannya Talia mendekati semak itu. Saat Talia menyibakkan beberapa ranting yang menghalangi penglihatannya, tiba-tiba… "AAAAAA!" bukan, bukan Talia yang menjerit. Tapi, sesuatu yang ada di balik semak itulah yang menjerit. Saat Talia mulai menyadari apa yang tengah dilihatnya, dia malah ikut-ikutan menjerit. "AAAAA! A-aliennn! Bibik, ada alien!" pekik Talia ketakutan. Saat kakinya hendak bergerak berlari menjauhi tempat itu, dengan cepat lengannya dicekal oleh makhluk yang diduga Talia adalah makhluk luar angkasa. "Aaa! A-ampun, Alien! A-aku gak nakal," pekiknya semakin histeris, Talia terus-terusan memberontak tanpa berani menatap Sang Alien. Hingga akhirnya Talia terlepas dan berlari sekencang-kencangnya ke arah rumah, "Huhft! Selamet, deh! U-untung Talia larinya kenceng," gumamnya dengan nafas tersengal-sengal. "Ya Allah, Lia. Bibik cariin sampe muter-muter loh. Bibik kira udah tidur, kamu darimana?" tanya si Bibik saat melihat Talia yang sedari tadi dicarinya. "Itu, Bik. Tadi, Lia tengok alien! Ihhh takut!" adu Talia dengan raut polosnya sembari menggenggam jari telunjuk si Bibik yang terulur. "Mana ada alien di zaman sekarang, Lia. Makanya kamu tuh jangan keseringan main di belakang rumah, semak-semak semua di sana. Main di halaman samping aja, 'kan udah di rapihin Mang Timan rumput-rumputnya." peringatnya. Talia spontan menjewer sendiri kedua telinganya sembari berkata, "Maafin Lia ya, Bik." ucapnya menunjukkan ekspresi memelas yang siapapun pasti akan luluh ketika melihatnya. "Ya udah, Bibik maafin. Tapi jangan diulang lagi ya, Sayang. Sekarang pergi ke kamar, cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi, minum susu di mejanya, abis itu bobo, Cantiknya Bibik." perintah si Bibik. "Syiap, Bibik-ku cerewet!" ujar Talia sembari berlari menaiki tangga menghindari amukan. "Ehhh, anak ini ya… Bilang apa tadi?" tanya Sang Bibik berpura-pura ingin mengamuk. "Bibik cerewet, hahahaha," tawa Talia lepas sembari terus berlari menghindari amukan Bibik-nya itu. Saat tiba di kamarnya Talia mengingat sesuatu, kecerobohan yang jika terjadi membuat Talia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Talia pun segera membuka perlahan pintu kamarnya, saat dipastikannya situasi aman, Talia segera kembali ke halaman belakang tempat tadi dirinya melihat alien. Ya… Bagi Talia halaman belakang adalah tempat bermain dikala malam yang sangat menentramkan. Tapi, mungkin itu tidak akan lagi, setelah kejadian dia melihat alien tadi… Talia rasa mulai malam besok dia akan main di halaman samping saja. Dengan mengendap-endap Talia mencari buku peninggalan Almarhum Ayahnya itu, buku tersebut berupa tulisan kumpulan alat-alat canggih yang pernah dibuatnya, sekaligus rancangan-rancangan baru yang belum sempat beliau buat di sisa waktunya. Buku itu sangat teramat berharga bagi Talia, dari situ Talia bisa mengetahui sosok Ayahnya, mulai dari hobby, pekerjaan, bahkan hal-hal apa saja yang biasa beliau lakukan ketika senggang. Talia ditinggalkan oleh Sang Ayah ketika usianya baru menginjak 8 bulan, wajar saja jika dia tidak begitu mengenali sosok ayahnya sendiri. Saat Talia hampir putus asa mencari bukunya, dia pun merutuki alien yang tadi dilihatnya. "Hiks, ini semua gara-gara alien jelek, nakal, jahattt, tadiii!" rengeknya mengamuk tak karuan. "Huaaa, Papaaa!" Talia ingin meraung sekencang-kencangnya, tapi tiba-tiba dia merasakan ada yang menepuk pundak belakangnya. Hal itu sontak membuatnya terdiam ketakutan, "Cari ini?" terdengar suara seorang anak laki-laki dari arah belakang. Talia pun memberanikan diri menoleh ke belakang secara perlahan, "HUAAA! ALIEN!" pekiknya histeris. Pukh! "Adoyyy!" rintih Talia saat makhluk itu malah melemparkan bukunya yang cukup tebal itu tepat mengenai dahi Talia. "Aku bukan alien!" amuknya balik. Saat itu juga Talia tersadar jika apa yang dilihatnya di depan mata saat ini bukanlah sesosok alien berwajah aneh dan mengerikan, melainkan seorang anak laki-laki yang tengah mengenakan pakaian astronot. Segera Talia mengambil buku kesayangannya itu, lalu dikelilinginya tubuh anak laki-laki itu untuk memastikan jika memang dia adalah manusia. "Wuah, kayak bajunya Sandy di kartun Spongebob! Bagus banget, bajunya beli dimana?" tanya Talia dengan polosnya. "Dibuatin, Bunda," jawabnya tak kalah polos sembari mengumbar senyum manisnya di balik kaca yang menutupi bagian wajah hingga kepalanya. "Boleh pinjem gak?" tanya Talia bernada memohon. "Eum… Boleh deh, tapi sebentar aja ya," tawarnya. "Iya iya! Janji sebentar," Talia sangat antusias, selama ini dirinya hanya melihat pakaian yang tengah dikenakan anak laki-laki itu di dalam sebuah gambar atau televisi. Dilihatnya anak laki-laki itu mulai melepaskan pakaian tebal yang entah terbuat dari apa saja, yang jelas Talia merasa aneh dan sedikit kasihan melihat anak itu melepaskan satu persatu kancing baju astronot yang terlihat keras, rumit, dan membingungkan itu hanya demi meminjamkannya. "Susah ya bukanya?" tanya Talia. "Lumayan," jawabnya yang terlihat kesulitan. "Ya udah deh, gak jadi pinjem." putus Talia yang tak ingin merepotkan anak laki-laki yang baru dikenalnya. Akhirnya anak laki-laki itu pun memasang kembali kancing bajunya, "Kamu ngapain pake baju kek gitu? Emangnya gak panas? Emangnya nyaman pake baju kek gitu?" tanya Talia dengan pertanyaannya yang menodong. "Ya gimana, kalo gak dipake nanti bisa-bisa aku kebakar matahari. Ya panas sih, tapi udah terbiasa. Aku punya tiga baju, tapi kek gini semua, keren 'kan?" ucapnya bangga. "Iya sih keren, tapi kenapa kamu kebakar? Kenapa bajumu kek gini semua? Emangnya gak ada baju yang kek gini?" tanya Talia sembari menunjuk piyama yang tengah ia kenakan. Talia semakin tidak paham arah jawaban yang diberikan anak laki-laki itu. "Punya, tapi setelah pake baju kek gitu, harus dilapisin baju ini juga kalo siang." jawabnya. "Kalo siang? Kamu kebakar kalo gak pake baju itu?" Talia semakin bingung. "Iya, aku enggak bisa kena sinar matahari. Kata Bunda aku ini istimewa. Cuma aku yang punya baju kek gini hehehe," cengirnya dibalik kaca pada bajunya yang tampak seperti helm. "Terus kenapa kamu masih pake bajunya? Kan ini udah malem," tanya Talia semakin gemas ingin tahu banyak hal tentang anak laki-laki itu. "Aku gak bisa buka sendiri, harus dibantuin Bunda," ujarnya dan Talia hanya bisa tersenyum tipis dengan sedikit kebingungan. "Lia… Astaghfirullah anak ini, kemana kamu?" terdengar suara Bibik yang tengah mencari-cari keberadaan Talia. Talia yang mendengar pun langsung panik dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya, "Eh… Kamu! B-besok kita jumpa lagi ya, aku udah dipanggil Bibik. Papayyy," ucap Talia sembari melambai-lambaikan tangan kanannya ke arah anak laki-laki itu. Setelah hari itu, Talia dan anak laki-laki itu pun semakin sering bertemu. Entah di siang hari atau pun di malam hari, di malam-malam berikutnya anak laki-laki itu tak lagi menggunakan pakaian ala astronot buatan Bunda-nya, dia hanya memakainya di setiap siang hingga sore hari. Talia yang memiliki kepribadian tertutup pun kini merasa mempunyai seorang teman dalam hidupnya selain Bibik-nya, kini dia mempunyai teman sebaya yang sangat pengertian, ramah, humoris, dan dapat mengerti keadaannya. Sejak hari itu mereka sering membicarakan perihal apapun yang berkaitan dengan keluarga, hobby, makanan kesukaan, hingga hal-hal konyol sering mereka lalukan bersama-sama. Seperti mencium aroma kotoran sapi, setelah itu mereka akan mendeskripsikan aroma apa saja yang mereka rasakan di indra penciuman masing-masing. Yeah… Hal itu mereka lakukan hanya untuk membuktikan jika kotoran sapi memang tidak sebau kotoran-kotoran hewan lainnya. Suatu hari… "Duh, dia kemana ya? Kok lama? Panas pula," gumam anak laki-laki itu mulai bosan menunggu Talia yang tak kunjung datang. "Eh ada Alien! Hahaha Alien!" tiba-tiba datangnya segerombolan anak-anak komplek yang terkenal jahil dan sering membuat ulah di sekitaran komplek. "Aku bukan Alien!" sanggah anak laki-laki itu tegas. "Is Alien jelek! Sini lepas baju ini! Lu makin jelek pake baju ini!" ucap salah seorang anak laki-laki dari gerombolan itu sembari mencoba merusak baju astronot milik si anak laki-laki teman Talia. Talia yang baru saja tiba di sana pun langsung terkejut melihat situasi itu. "Woy! Kalian apain temenku?!" amuk Talia yang ingin mencabik-cabik wajah anak laki-laki yang berani mengganggu temannya. "Oh ini cewek cantik yang sering main sama lo itu 'kan ya? Hahaha banci, mainnya sama cewek!" ledek salah satunya lagi dan yang lain hanya ikut-ikutan tertawa. "Hey! Itu rumahku, Papa aku polisi! Kalo kalian gangguin temenku lagi… Aku bakal aduin Papa-ku! Biar kalian semuaaa ... masuk penjara! PAPAAA! PAPAAA! LIAT ANAK-ANAK INI GANGGUIN TEMEN AKUUU!" cerocos Talia berteriak-teriak untuk menakuti gerombolan anak-anak nakal itu. Seketika mereka yang takut pun langsung berlari entah kemana. Setelah mereka pergi pun Talia hanya bisa tertunduk, tanpa berani menatap temannya, sedangkan teman laki-lakinya itu hanya bisa memasang raut bingungnya. "Emangnya… Papa kamu Polisi? Bukannya kata kamu, Papa-mu udah-" "Syuttt! I-iya, maaf" Talia pun spontan menjewer kedua telinganya lalu memasang wajah memelas di hadapan temannya itu sembari berkata, "Maaf ya, tadi aku bohong, biar mereka pergi." "Ahahahaha! Kamu lucu! Tapi, makasih ya…," ucapnya lalu mengusap beberapa kali puncak kepala Talia. Talia pun kembali tersenyum lebar, "Hehe…, sama-sama! Oh iya, aku mau tunjukin gambaran aku di sekolah tadi loh. Kata Bu Guru, bagus!" Talia heboh, sambil menunjukkan sebuah gambaran yang di dalamnya terdapat gambaran sesosok anak perempuan dengan seorang anak laki-laki yang memakai seragam astronot. "Yang ini aku dan yang ini kamu! Hahaha, kamunya jelek," ucap Talia menertawakan gambarannya sendiri. "Nama kamu siapa sih? Kita main bareng-bareng terus tapi aku enggak tahu namamu," tanya si anak laki-laki. "Nama kamu siapa?" Talia malah balik bertanya. "Ih 'kan aku yang tanya duluan," ujar si anak laki-laki. "Aku panggil kamu Pangeran Bulan aja deh, karena kamu lebih sering dateng ke sini malem-malem. Kalo siang kamu pake baju orang bulan, hihihi. Emangnya gak panas ya pake pakaian kek gitu terus?" tanya Talia kecil sembari terkekeh menertawakan pakaian yang tampak dirancang sedemikian rupa agar dapat melindungi si pemilik dari ancaman sinar matahari yang dapat membahayakan keselamatannya. Anak laki-laki itu malah tersenyum lebar "Kalo aku ini Pangeran Bulan-mu, berarti kamu itu Mentari-ku. Walaupun aku gak akan pernah bisa ngerasain sinar matahari, seenggaknya sinarmu bisa buat aku tetap hidup." cetusnya begitu saja. "Bersinar? Hey, Eek sapi! Emangnya aku ini matahari? Kalo aku matahari berarti aku ini bahaya dong buat kamu!" dengus Talia yang tidak suka disamakan dengan matahari yang panas. "Bukan, maksudku… Kamu itu kayak matahari pengganti yang gak berbahaya, hehehe," cengirnya mencairkan suasana. "Mulai sekarang aku panggil kamu Mentari! Titik." putusnya mutlak. "Ok! Mulai sekarang aku panggil kamu, Pangeran Bulan! Titik, hahaha." ucap Talia yang mengikuti nada bicara Pangeran Bulannya itu yang diiringi tawa renyah. "Cita-cita kamu apa sih?" tanya Pangeran Bulan. "Cita-cita? Eum…," Talia tampak menimbang-nimbang, "Kata Mama, aku harus jadi dokter hebat kalo besar nanti." "Berarti nanti kamu bisa dong sembuhin aku?" ujar Pangeran Bulan tampak seperti sebuah pertanyaan. "Kamu sakit apa?" tanya Talia. "Aku… Aku pengen kayak kamu, aku pengen kayak kalian semuanya. Gak perlu kemana-mana pake baju ini, ini aneh!" keluhnya yang mulai berani mengutarakan isi hatinya hingga mampu membuat Talia kecil terdiam mencerna kalimatnya barusan. "Mentari…," panggilannya. "Iya?" Talia tampak menunggu kalimat lanjutan dari Pangeran Bulan-nya. "Aku enggak bahagia selama ini-" ucapnya yang terpotong oleh Talia. "Bukannya kamu seneng? Kan kamu istimewa," ujar Talia mencoba tersenyum. "Aku gak mau, aku mau kayak anak-anak lainnya aja. Hiks… Aku dikatain alien terus, aku 'kan bukan alien," tuturnya sembari menangis mengeluhkan segala rasa sakit dengan harapan Mentari-nya dapat mengerti perasaannya. Talia tersenyum tipis, kemudian mengusap bagian kepala berupa helm yang melindungi kepala Pangeran Bulan dari sinar matahari. "Nanti kita cari obatnya sama-sama!" ucap Talia menyemangati. Keesokan harinya, setelah Talia pulang sekolah, dia langsung meminta diantarkan ke minimarket untuk mencari berbagai jenis benda yang dapat melindungi kulit dari sinar matahari. Berbagai jenis dan merk sunscreen Talia beli menggunakan semua uang tabungannya sendiri, akhirnya Talia membawa pulang sekitar 25 jenis sunscreen. Setelah sampai di rumah, dengan bersemangatnya Talia menceritakan tentang Pangeran Bulan kepada Si Bibik sembari Bibik menyuapkan makan siang Talia. Setelah itu Talia bergegas menemui Pangeran Bulannya di halaman belakang rumah seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Pangeran Bulan tertawa ketika melihat Talia membawa tas besar yang di dalamnya berisi berbagai jenis sunscreen, tapi dia pun merasa bahagia mempunyai teman sebaik Talia yang rela membongkar tabungannya hanya untuk membelikan berbagai jenis sunscreen yang cocok untuknya. Hari itu mereka sibuk mencobai jenis-jenis sunscreen ke kulit Pangeran Bulan. Hingga keesokan harinya saat Talia menunggu cukup lama Pangeran Bulan yang tak kunjung datang ke tempat bermain mereka, Talia pun memberanikan diri untuk datang ke rumah Pangeran Bulan. Saat tiba di depan gerbangnya, tiba-tiba gerbang terbuka dengan sendirinya bersama sebuah mobil yang tampak terburu-buru keluar dari pekarangan rumah itu, Talia pun merasa sedikit keheranan. Saat sampai di sana Talia langsung menanyakan perihal Pangeran Bulan-nya, sayangnya dia mendapat kabar dari salah seorang pembantu rumah itu bahwa Pangeran Bulan-nya baru saja diboyong ke rumah sakit oleh Bunda-nya lantaran penyakitnya kambuh. Talia pun menyalahkan dirinya sendiri, dia menduga bahwa Pangeran Bulan-nya kambuh lantaran sembarangan mencoba berbagai produk sunscreen yang telah dibelinya kemarin. Talia pun segera pulang dan bersedih, tujuannya hanyalah satu tempat, yaitu… gudang penyimpanan barang-barang berharga peninggalan Almarhum Ayahnya. Di sana Talia dapat menghibur dirinya sendiri dengan melihat berbagai jenis dan bentuk alat-alat canggih yang pernah mendiang Ayahnya ciptakan dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kalung yang liontinnya tampak begitu berkilauan, Talia langsung mendekati benda berharga yang disimpan di dalam sebuah lemari kaca minimalis bersama buku kecil di bawahnya. Talia pun membaca buku kecil itu, "Blue Crystal. Kelebihan, dapat melindungi penggunanya dari berbagai macam jenis sinar, terutama sinar matahari, UV, dan lain sebagainya. Membuat si pengguna tidak akan merasakan panas dimanapun ia berada, sebab pancaran dari sinar yang mendatanginya akan segera terhalang oleh pelindung tranparan yang membentuk lekung melindungi si pengguna dengan jarak 5 meter ke atas dari arah liontin diletakkan." Habis satu paragraf Talia membaca buku itu, dia langsung tersenyum lebar meski tak sepenuhnya dia paham maksud dari bacaannya barusan. Menurut Talia, kata-kata yang dirangkai begitu rumit untuk anak kelas 1 SD sepertinya. "Kekurangan, dapat menimbulkan suhu udara yang panas berlebih bagi lingkuran sekitar ketika liontin beroperasi. Hal itu disebabkan pantulan sinar yang datang ke arah Blue Crystal akan segera membias ke lingkungan sekitar dan membuat lingkungan menjadi lebih panas dari biasanya." Talia mengernyit membaca kalimat lanjutan itu, dia bingung. Apa maksud dari kalimat membias? Dia bahkan tidak paham. "Cara menghentikan oprasi Blue Crystal hanyalah dengan menyimpannya di dalam sebuah kaca yang di setiap sisinya berlapis kaca bening, setelah itu otomatis Blue Crystal akan berhenti beroperasi dengan sendirinya." Baiklah, Talia paham, meski dia tidak terlalu memahami kekurangan dari benda itu. Dengan hati-hati dibawanya Blue Crystal beserta lemari kaca minimalis-nya ke dalam kamarnya. "Cobain dulu ah…," gumam Talia yang merasa penasaran, jauh di lubuk hatinya dia sangat senang hingga ingin menangis. Akhirnya dia menemukan benda yang dapat melindungi Pangeran Bulannya dari sinar matahari tanpa membuatnya merasa geraknya terbatas. Talia memakai liontin itu dengan sangat hati-hati, setelah itu dia mencoba membandingkan dengan kedaan sebelumnya, tidak banyak perubahan yang dirasakan Talia, dia hanya merasakan kesejukan ketika menggunakan Blue Crystal. Talia pun mencoba mencari Bibik-nya, "Bibik! Coba tengok Lia! Cantik gak?" tanya Talia ketika mendapati Sang Bibik tengah bergelut dengan piring-piring kotor di wastafel. Si Bibik pun sejenak menghentikan aktivitasnya, "Adududuh, cantiknya kesayangan Bibik ini loh. Kalung siapa itu?" tanya Si Bibik sembari mengunyel-unyel pipi buntal Talia. "Yaaa, tangan Bibik basah. Pipi Lia ikutan basah nih," Talia pun manyun lalu berlari ke arah kamarnya. Sembari berteriak, "Bibik, malem nanti Lia mau main sama Pangeran Bulan ya!" jeritnya. "Iya, tapi buat dulu PR-nya sekarang, nanti lupa! Ntar malem aja mainnya, di luar pasti panas banget, nanti Lia jadi ikan asin kalo main sekarang!" "Siap, Bik!" Pukul 19.03 Talia sudah berdiri di depan gerbang rumah Pangeran Bulan-nya, dengan sedikit perasaan bersalah bercampur rasa takut. Akhirnya Talia memutuskan untuk memanggil salah seorang penjaga rumah. "Permisi…," ucap Talia dengan suaranya yang cukup nyaring. "Eh, Neng Cantik. Cari siapa?" tanya penjaga rumah tersebut. "L-lia cari… Pangeran Bulan," ucapnya sungguh-sungguh sambil memeluk erat kotak kaca berisi Blue Crystal. "Ha? Di sini gak ada yang namanya Pangeran Bulan, Eneng Cantik." tutur Si Bapak satpam. "Ada loh … yang suka pake baju astronot," ucap Talia yang baru dapat dimengerti oleh Sang Penjaga. "Temennya Tuan Muda ya? Aduh, Neng Cantik. Ini udah malem, besok aja ya mainnya," tutur Si Penjaga rumah. "Tapi Lia maunya sekarang, sebentarrr aja ya, Pak. Lia mohonnn," Talia pun memulai jurus andalan, yaitu mengeluarkan puppy eyes-nya. "Aduh, sebenernya Tuan Muda baru pulang dari rumah sakit sore tadi, Neng. Tapi ... ya udah, yuk Bapak anterin ke dalem," akhirnya Talia diperbolehkan masuk dan digiring untuk bertemu dengan Sang pemilik rumah. Saat setelah sang satpam menekan bel, tak lama berselang munculah sosok perempuan anggun berusia kisaran 30 tahunan yang membukakan pintu. "Eh, Nyonya. Ini, anu … ada temennya Tuan Muda ini loh, gak tahu mau ngapain malem-malem ke sini katanya mau ketemu sama Tuan Muda." tutur Si Penjaga. Wanita anggun yang Talia duga adalah Bunda dari Pangeran Bulan-nya itu pun tersenyum ke arahnya, "Kamu Mentari ya?" Talia pun mengangguk kecil, "Ayo sini masuk," ajaknya agar Talia kecil ikut masuk ke dalam rumah megah miliknya. Talia sempat terkejut ketika melihat sosok Pangeran Bulan-nya tengah berbaring di sebuah sofa lebar, sambil menonton televisi. Sayangnya yang membuat Talia terkejut adalah … kulit wajah, kulit leher, hingga ujung kaki Pangeran Bulan-nya itu seperti terbakar api. Pangeran Bulan yang melihat kehadiran Talia pun langsung terduduk, "Mentari?" Senyumnya pun mulai terbit dengan sendirinya. Talia segera meletakkan kotak kaca itu di atas sebuah meja, lalu menjewer sendiri kedua telinganya sambil berkata, "Maafin aku ya, aku gak tahu kalo habis pake lotion kemaren itu kulit kamu bakal jadi kayak gini, hiks…," Talia benar-benar menangis. Bunda pun menenangkan Talia kecil yang menurutnya sudah sangat mengenali putra semata wayangnya itu. "Mentari…, Pangeran Bulan gak kenapa-napa kok, dia udah biasa kayak gitu. Kamu jangan ngerasa bersalah ya," ujarnya yang mampu membuat Talia tenang seketika. Pangeran Bulan yang mendengar Bundanya malah ikut-ikutan memanggilnya dengan sebutan Pangeran Bulan pun jadi malu sendiri. "Sini duduk, kita nonton Spongebobb!" ajak Pangeran Bulan. Talia pun duduk menyusul Bunda yang sudah lebih dulu duduk di samping putra semata wayangnya. "Itu sakit gak?" tanya Talia memberanikan diri. "Enggak, tapi kalo kena air ... perih," jawab Pangeran Bulan. "Bunda mau gosok bajunya Pangeran Bulan dulu ya, soalnya besok guru privatnya dateng. Kalian main dulu ya, jangan berantem," Bunda pun langsung meninggalkan mereka yang tengah asik menonton kartun kesukaan keduanya. Melihat situasi aman, Talia pun memulai percakapan seriusnya. "Pangeran Bulan, aku punya ini," Talia menyerahkan kotak kaca yang berisi Blue Crystal. "Kalung? Buat aku?" tanya Pangeran Bulan dan Talia mengangguk mantap. "Gak mau ah, pasti mahal." tolaknya. "Ini bukan kalung biasa, ini salah satu benda buatan Papa aku. Dia bisa bikin matahari gak bakar kulit kamu! Jadi sejuk kalo pake kalung ini loh, cobain deh." ujar Talia. Dengan ragu, akhirnya Pangeran Bulan mencoba memakai kalung itu. Benar, dia merasakan sejuk, tapi dia kembali ragu… apakah benar sebuah kalung bisa melindunginya dari sinar jahat matahari di siang hari? "Kalo gak percaya, besok kita coba! Besok abis pulang sekolah, aku tunggu di halaman belakang rumah aku ya," usul Talia yang sangat yakin dengan benda buatan Papa-nya itu. "Tapi kalo aku kebakar gimana?" tanyanya yang masih ragu dan khawatir. "Percaya sama aku 'kan? Nah, aku juga percaya sama Papa-ku," Talia tersenyum lebar. Talia senang berada di tengah-tengah mereka, mengenal Bunda membuat Talia benar-benar merasakan tulusnya kasih sayang seorang ibu untuk anaknya. Talia berjanji, suatu hari dia akan menjadi ibu seperti Bunda-nya Pangeran Bulan. Di pagi harinya Talia dikejutkan ketika yang membangunkannya bukanlah Si Bibik, melainkan Mamanya. "Lia, ayo cepetan bangun, kita bakal berangkat jam 8 nanti, baju kamu udah Mama packing. Pake baju yang udah Mama siapin di atas meja belajar itu." perintahnya yang tampak terburu-buru. "Kita mau kemana, Ma?" tanya Talia kebingungan. "Kita bakal pindah ke Jakarta, Mama pindah tugas ke sana. Ayo cepetan," jelas Mama-nya. "Pindah?! Lia gak mau pindah, Ma!" sempat terjadi penolakan keras dari Talia, dia bahkan menangis sejadinya, dia baru saja mempunyai seorang teman di sini. Mengingat mereka pun baru pindah ke tempat ini. Namun, akhirnya Talia hanya bisa pasrah setelah beberapa kali dibujuk oleh Bibik-nya. "Nyonya, saya ikut 'kan?" tanya Si Bibik. "Ya iyalah, Bik. Kamu pasti ikut kemana pun kami pergi, kalo Bibik gak ikut ya siapa yang bakal jagain Lia." ucapnya. Sekitar dua Minggu mereka tinggal di Jakarta, akhirnya Bibik meninggal saat hendak pergi ke pasar, Bibik terserempet mobil hingga kepalanya membentur kendaraan lain. Hal itu semakin membuat Talia merasa tidak mempunyai seorang teman pun, Mama-nya pun kewalahan mencarikan pembantu baru sekaligus baby sitter untuk Talia. Akhirnya Talia berkata bahwa dia tidak lagi membutuhkan seorang baby sitter. Dia merasa sudah bisa mengurus dirinya sendiri, itu semua berkat didikan yang diberikan Almarhumah Bibik-nya. Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata Talia ketika mengingat setiap kenangan-kenangan yang dulu dijalaninya bersama Si Bibik dan juga Pangeran Bulan-nya. Di saat tenggelam dalam kesedihannya, tiba-tiba… Tarrr… Bunyi kaca pecah yang begitu memekakkan telinga membuat Talia memejamkan matanya sejenak. To be continued...
bagus banget
13/11/2024
0Baguss
03/08/2024
0Ih keren critanya😳😳😳🥺
26/08/2022
0View All