"Namanya Naura, Sayang," sergah Hafiz. "Iya, Naura. Dia adalah menantu idaman keluarga besar Abang." "Azizah juga menantu idaman keluarga Abang. Insya Allah, pada saatnya." Hanya itu yang bisa dia katakan untuk menghibur sang istri. Getir sekali. Ya, mengingat semua perlakuan keluarganya selama ini yang tidak menganggap keberadaan Azizah sebagai istri pilihannya. Hal yang wajar memang kalau Azizah merasa cemas. Dia pasti tidak mau kalau kembali menjadi bahan perbandingan oleh keluarga besar suaminya, seperti yang pernah di alaminya saat dia masih terikat pernikahan dengan Yasmin. "Adek itu wanita salehah, cantik, cerdas, penghafal Al-Qur'an dan penuh kasih sayang." "Adek ingat nggak sebuah hadist, yang isinya menerangkan keutamaan orang yang menghafal Al-Qur'an?" Azizah menganggukkan kepala. "Azizah tahu, Bang. Orang-orang yang ahli Qur'an adalah Ahlullah," jawabnya. "Tu, Adek tahu," kata Hafiz sembari mencubit hidung Azizah yang terhalang kain tipis. "Allah mengakui orang-orang yang ahli Qur'an sebagai ahli-Nya, keluarga-Nya. Kenapa Adek harus takut tidak di anggap oleh keluarga Abang, sementara Allah sudah menganggap Adek sebagai keluarga-Nya?" Bibirnya mengurai senyuman. Azizah menepuk jidatnya. "Abang benar. Terima kasih sudah mengingatkan Adek." Dia meraih tangan kokoh itu dan menciumnya. Hafiz menghela nafas lega. Sebenarnya tidak susah menghadapi Azizah. Hanya saja memang perlu waktu dan kepekaan rasa. Wanita itu memiliki perasaan yang sangat halus. Fikri sendiri tidak bisa berlaku keras terhadapnya. Sekali saja berlaku keras, maka dia akan merajuk hingga berhari-hari. Hafiz memilih memberi dukungan dan motivasi agar perempuan yang sebenarnya rapuh itu bisa kuat dalam menghadapi badai di dalam rumah tangga mereka. ***** Malam sudah semakin larut. Dengan gerakan perlahan, Hafiz melepaskan diri dari pelukan Azizah dan mengganti tubuhnya dengan boneka beruang kesayangannya. Laki-laki itu bergerak menjauh dari ranjang setelah memastikan tak ada sesuatu pun yang membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Sejenak dia terpaku, menatap wanita yang tengah tertidur pulas itu. "Azizah," gumamnya. Hafiz membuka pintu kamar dengan hati-hati. Tujuannya sekarang adalah teras depan yang hanya di hiasi oleh cahaya lampu dengan kekuatan beberapa watt. Suasana begitu temaram. Bahkan pepohonan yang tumbuh di halaman rumah membentuk bayangan hitam yang sepintas terlihat mengerikan. Hafiz duduk begitu saja di lantai setelah sebelumnya mengambil ponsel dari saku celananya. [Naura, ini Abang] Perlu waktu beberapa menit sampai gadis itu membalas pesannya. Hafiz memperhatikan di layar, dia tengah mengetik pesan balasan. [Iya, Bang. Ada apa?] [Dek, jangan terlalu berharap dengan Abang ya. Abang tidak bisa janji untuk menikahi kamu] [Apa kendalanya, Bang? Kalau soal istri Abang, katakan kepadanya, Naura hanyalah gadis cacat yang tak mungkin bisa menggeser perhatian dan cinta Abang kepadanya] [Abang tahu itu, Dek. Hanya saja, Abang belum siap untuk mengatakan apapun kepada Azizah. Abang tak mau menyakiti hatinya. Persepsi di antara wanita dalam menyikapi soal poligami boleh jadi akan berbeda. Azizah itu tidak punya siapa-siapa kecuali Abang] [Kehadiranmu bertepatan pada situasi yang tak tepat. Saat ini Azizah sedang menunggu waktu untuk melahirkan dan butuh perhatian lebih dari Abang. Abang tak bisa memberi jawaban apapun. Kamu yang sabar ya] [Adek bisa mengerti, Abang. Bolehkah Adek berteman dengan kak Azizah?] Hafiz memijit kepalanya. Ya, Allah, gadis ini benar-benar keras kepala. [Nanti akan Abang kasih kabar kalau Azizah bersedia berteman dengan Adek] Hafiz menatap nanar layar ponsel. Tak ada balasan lagi dari Naura. Entah apa yang ada di dalam hatinya saat ini. Naura Allysia Salsabila. Hafiz mengeja nama itu dalam hati. Meresapi keindahan yang terpancar dari sana, tanpa tahu bagaimana sosok seorang gadis yang tengah menawarkan dirinya itu. "Apa yang kamu dan abahmu cari dari diriku? Aku cuma laki-laki biasa yang sudah punya istri.." ***** Tarik ulur. Itulah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan yang tengah ia jalani dengan Naura saat ini. Di satu sisi dia harus menjaga perasaan Azizah, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa menolak Naura serta-merta mengingat kedudukan gadis itu. Hafiz tahu, satu-satunya jalan untuk menggagalkan perjodohan itu adalah membujuk Naura agar ia berubah pikiran. Akan tetapi, meluluhkan hati gadis keras kepala itu tidaklah mudah. Di sisi hatinya yang lain, sebenarnya Hafiz merasa iba dengan gadis itu. Seorang gadis yang katanya cacat di kakinya dan menjadi alasan mundurnya beberapa laki-laki yang pernah ingin mengkhitbahnya. Ah, kenapa harus ada laki-laki seperti itu? Padahal kalau di nilai, betapa banyak kelebihan yang di miliki gadis itu, terutama dari sisi agamanya. Sebagai putri dari pengasuh pondok pesantren yang cukup besar, bahkan lebih besar dari pesantren Al Istiqomah, pastinya sejak kecil Naura mendapat pendidikan agama yang sangat ketat dari abahnya, kiai Nawawi. Sudah kodratnya laki-laki menyukai perempuan cantik secara fisik. Namun, hanya laki-laki beriman yang mau memandang perempuan dengan hatinya. Hanya hati laki-laki yang tulus yang bisa mengenali hakekat kecantikan seorang wanita. "Ah, ada apa denganku? Kenapa sejak tadi aku terus memikirkan gadis itu?" keluh Hafiz seraya mengucap istighfar berkali-kali. Hafiz bangkit dari tempat duduk dan bergegas menuju kamar mandi. Dia melihat sekilas wajah istrinya yang tertidur lelap sebelum memutuskan menutup pintunya. Sekembalinya dari kamar mandi, wajahnya terasa lebih segar. Hafiz mengganti pakaian dengan baju koko dengan sarung sebagai bawahannya. Tak lupa memasangkan kopiah di kepala. Hafiz menggelar sajadah dengan hati yang masih berkecamuk. Ushollii sunnatal istikhooroti rok'ataini lillaahi ta'aalaa. Aku berniat melaksanakan shalat istikharah dua rakaat karena Allah ta'ala. Allahu Akbar .... "Ya Allah sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu dengan kemahakuasaanMu, aku mohon kepadamu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha agung. Sesungguhnya Engkau maha kuasa, sedang aku tidak kuasa. Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah maha mengetahui hal yang gaib." "Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik dalam agamaku dan akibatnya terhadap diriku, sukseskanlah untukku, memudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut dan jauhkan aku dari padanya. Takdirkan kebahagiaan untukku dimana saja kebaikan itu berada. Kemudian berilah kerelaanMu kepadaku." "Amin ...." Hafiz mengusap kedua telapak tangan ke wajahnya. "Alhamdulillah, semoga apapun yang terjadi adalah yang terbaik untukku dan juga seluruh keluarga besarku," gumam Hafiz. Hafiz merasa sedikit lebih tenang sekarang. Dia kembali memandangi istrinya yang masih saja tertidur lelap. Wajah cantik itu tampak begitu layu. Hafiz tahu, belakangan ini Azizah terlalu banyak pikiran diakibatkan dengan persoalan tawaran kiai Nawawi yang dialamatkan kepada suaminya. Hafiz melipat sajadah dan meletakkan kembali di tempatnya. Dia melepas kopiah dan baju koko serta sarung yang tadi digunakan untuk shalat istikharah. Dia menggantinya dengan baju kaos lengan pendek dengan celana selutut. Dengan langkah lebar, laki-laki itu mendekati pembaringan tempat istrinya yang tengah tertidur. Sejenak dia mengamati wajah teduh itu. Ada perasaan iba yang tiba-tiba menyeruak. Ya Allah, kenapa mereka harus mengalami masa sulit ini? Hafiz merebahkan dirinya di sisi Azizah dengan merentangkan kedua tangan untuk memeluknya. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening mulus milik Azizah. Sampai saat ini, perasaannya masih saja diliputi oleh kebimbangan. Terkadang Hafiz merasa lelah dengan kehidupannya. Akan tetapi, sebuah kepercayaan senantiasa menjadi kekuatan yang membuatnya bisa bertahan. Setiap manusia memiliki kapasitas yang berbeda, sehingga cobaan yang datang pun sudah sesuai dengan batas penerimaan kita. Laki-laki itu menghela nafas. Betapa sekarang dia merasakan sosok Azizah sangat berarti bagi hidupnya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 26 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (137)
SolehahUmmu
Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.
Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.
14/08/2022
0sangat bagus
15/07
0bagus dan keren ceritanya
06/06/2025
0View All