Naura Allysia Salsabila. Nama yang sangat cantik. Entah seperti apa rupanya. Benarkah ia cacat, menderita lumpuh? Ah, Hafiz menjadi semakin bingung. Hafiz mengakui dirinya sangat minim informasi mengenai gadis itu. Hafiz tidak dekat dengan keluarganya, meskipun Abah dan kiai Nawawi saling kenal baik. Selama ini dia lebih fokus mengurusi pesantren dan untuk urusan luar seperti silaturahmi antar pesantren masih di tangani Abah yang merupakan ulama sepuh. Kecamuk rasa bingung membawanya kembali ke rumah orangtuanya. "Ada apa, Nak?" tanya Abah. "Apa benar yang di katakan oleh Naura, kalau dia menderita lumpuh, Abah?" "Benar. Apakah Naura yang memberi tahu kamu?" Abah memandangnya serius. "Iya, Abah." Hafiz mengangguk. "Abah tidak memaksamu untuk menerima putri bungsu kiai Nawawi. Abah hanya menyuruhmu untuk berpikir," ralat Abah. "Kalau Hafiz menikahi Naura, bagaimana dengan Azizah?" Kali ini Hafiz berusaha melunak di hadapan Abahnya. "Istrimu itu perempuan baik-baik. Dia pasti bisa menerima Naura. Lha dulu, dengan Yasmin yang sehat wal afiat saja dia bisa menerima madunya, apalagi Naura?" "Hafiz masih bingung, Abah. Hafiz tidak mau menyakiti Azizah lagi." "Kemarin kami sempat adu mulut, setelah tahu kalau kiai Nawawi menawarkan putrinya." Hafiz mulai menceritakan peristiwa kemarin. "Itu wajar, Nak. Semua wanita juga begitu. Sabar ya." "Abah memberi nama Hafiz kepadamu bukan tanpa alasan. Abah ingin kau bisa menjadi penjaga yang baik buat orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu, terutama keluargamu." "Hafiz memerlukan istikharah dulu, Abah," ucapnya. Akhirnya Hafiz mengalah. "Tentu. Istikharah itu perlu." ***** Meskipun dalam keadaan marah, Azizah masih setia melayaninya. Wanita itu tetap menyediakan keperluan makan, minum, pakaian, bahkan melayani di tempat tidur. Sejak peristiwa itu, Hafiz tidak berani lagi mengungkit-ungkit soal putri bungsu kiai Nawawi. Biarkanlah dia diam. Mungkin dia masih memerlukan waktu untuk sendiri. Bukannya dia tidak mengerti akan perasaan istrinya. Namun, alangkah bijak, sebagai seorang manusia kita tidak perlu 100% memperturutkan perasaan. Hidup ini memerlukan logika dan kita tidak boleh larut dalam rasa yang memperdaya. Hafiz mengecup perut besar istrinya usai menuntaskan ibadah malam mereka. "Terima kasih ya, Sayang," bisiknya. Perempuan itu mengangguk. Dia masih menenggelamkan dirinya di dalam selimut. "Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan? Ke taman, mall, ke tempat yang Adek suka?" tawarnya kemudian setelah terjadi keheningan beberapa lama di antara mereka. "Memangnya bisa? Biasanya Abang selalu sibuk dengan pekerjaan di pondok." Azizah menatap Hafiz dengan serius. "Bisa, Sayang. Apa sih yang nggak bisa buat istriku yang tersayang?" "Halah, gombal." "Abang tidak pandai menggombal," bantahnya. Hafiz mencium pipi wanitanya dengan gemas. "Abang sangat menyayangi Adek. Buat Abang, Adek adalah segalanya. Cinta Abang 100% untuk Adek." Azizah terdiam. Dia tak lagi meladeni ucapan suaminya. Perempuan itu mulai memejamkan mata. Hafiz menatap wajahnya dengan rasa iba. Ah, andai saja masalah seperti ini tidak mengguncang rumah tangga mereka. Tak cukup sekali. Ini kali kedua dia menghantamkan palu ke dalam perasaan istrinya. Tak ada sedikitpun di hati ini keinginan untuk menyakiti Azizah. Tak ada niat di hati untuk menduakannya. Entahlah, kenapa takdir seakan berpihak dan memberi peluang padanya untuk memiliki istri lebih dari satu? Dia benar-benar tak mengerti. Hafiz tahu, ini tak adil buat Azizah. Namun, jangan di kira hatinya tak sakit. Dia pun sakit. Jauh lebih sakit melihat Azizah terluka, sementara dia sendiri tak berdaya untuk menolak permintaan orang-orang yang sangat dia hormati. "Kita sama-sama sakit, Sayang. Kamu tidak sendiri. Ada Abang yang juga merasakan hal yang sama meski dari sudut pandang yang berbeda," gumam Hafiz sembari membelai rambut istrinya yang sudah tertidur lelap. "Kita hadapi semua ini sama-sama ya." ***** "Wah, ini cantik sekali, Sayang. Coba deh kamu pakai." Hafiz menunjuk sebuah gelang cantik di etalase. Seorang pelayan toko mengambilkan gelang yang di maksudnya. Hafiz memasangkan gelang itu ke lengan kiri Azizah. "Cantik, Sayang. Cocok sekali dengan ukuran tangan Adek. Sepertinya memang jodoh." Hafiz mengecup punggung tangan Azizah tanpa peduli dengan tatapan aneh pelayan toko yang berdiri di hadapan mereka. "Cantik juga harganya, Bang," bisik Azizah. Dia menggelengkan kepala. "Lebih cantik wanita yang memakainya. Adek jangan khawatir. Abang masih sanggup bayar." Laki-laki itu mengambil dompet dan mengeluarkan kartu saktinya yang lantas diberikannya kepada pelayan toko. "Mau langsung dipakai atau disimpan dulu, Dek?" tawarnya. "Langsung di pakai saja, Bang. Adek suka," sahutnya dengan dengan mata yang terlihat berbinar. Hafiz kembali menggandeng tangan itu setelah menerima kembali kartu saktinya dan transaksi pembayaran selesai. Hari ini dia sengaja menghabiskan waktu untuk Azizah. Semua pekerjaan di pondok dilimpahkan kepada ustadz lain, demikian juga dengan jadwal mengajar dan pengajian. Hafiz menikmati waktu seharian dengan menemani wanita yang akan segera melahirkan buah hatinya ini. Setelah berbelanja keperluan bayi, makan siang serta shalat zuhur, Hafiz membawa Azizah duduk di taman kota. Sepanjang mata memandang hanyalah pokok-pokok bunga dan gerombolan tanaman kecil yang tertata rapi. Hafiz menghela napas panjang. Memandang keindahan dan hijau tanaman sedikitnya membuat otaknya kembali fresh. Mereka duduk bersisian, begitu intim. Azizah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dengan mata yang masih tertuju kepada lengan kirinya. Bibirnya terlukis senyum saat melihat gelang cantik yang melingkar di pergelangan tangannya. "Adek menyukainya?" cicit Hafiz. Tangannya bergerak membelai kepala sang istri. "Suka sekali, Abang. Makasih ya." Azizah masih terus mengembangkan senyumnya. "Terima kasih untuk waktu Abang. Adek tahu, Abang sudah mengcancel semua kegiatan Abang hari ini hanya demi menemani Adek." Ucapannya terdengar begitu tulus. "Tidak apa-apa, Sayang. Semuanya masih aman terkendali. Buat Abang, yang penting hari ini bidadari Abang yang cantik ini senang." "Bidadari?" "Adek adalah bidadari Abang di dunia dan akhirat." Hafiz mendaratkan kecupan singkat di keningnya. Azizah tersipu. "Bukannya Azizah adalah bidadari yang tersisih?" Hafiz tersentak kaget. "Siapa bilang? Abang tidak pernah menyisihkan Adek." Hafiz membantah keras, sontak menatap sang istri dengan serius. "Kalau nanti sudah ada putrinya kiai Nawawi, pasti Adek akan tersisih." Azizah menenggelamkan wajahnya semakin dalam di dada laki-laki itu. Hafiz memeluk Azizah erat-erat. "Tak ada yang bisa menyisihkan kamu dari hati Abang. Meskipun ada perempuan lain yang hadir, nyatanya Azizah sudah memenjara hati Abang dengan sejuta pesona dan kesederhanaanmu. Adek tidak usah khawatir." "Bagaimana dengan putri bungsu kiai Nawawi itu?" Azizah tak melanjutkan ucapannya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (137)
SolehahUmmu
Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.
Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.
14/08/2022
0sangat bagus
15/07
0bagus dan keren ceritanya
06/06/2025
0View All