logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 3 Kedatangan Kiai Nawawi

Sementara Hafiz yang baru saja keluar dari mobil, seketika mengurungkan langkahnya ketika matanya menangkap pemandangan sebuah mobil lain yang juga terparkir di sana. Dia sangat mengenali mobil itu. Mobil itu adalah mobil yang seringkali digunakan oleh kiai Nawawi saat ada kegiatan di luar pesantrennya.
"Astaga ... mengapa secepat ini aku harus berurusan dengan beliau?" keluhnya dalam hati. Hafiz meneruskan langkahnya menuju pintu utama kantor dewan guru.
"Ustadz Hafiz," panggil seorang laki-laki yang juga mengenakan pakaian yang sama sepertinya. Atasan baju koko dan sarung bermotif kotak-kotak sebagai bawahan, serta kopiah putih dan sorban yang melingkar di leher.
"Ustadz Maliki," sahutnya. Laki-laki itu menatap Hafiz dengan sangat serius.
"Ada kiai Nawawi di dalam, Ustadz. Mohon maaf, tadi beliau bilang ada yang ingin disampaikan kepada Ustadz Hafiz. Beliau sudah lama menunggu di sini."
Hafiz melirik arloji di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Astaga, sepagi ini beliau sudah ada di kantor dewan guru pondok pesantren Al Istiqomah?
Hafiz masuk ke ruangan guru dengan perasaan tak menentu. Benar, di dalam sudah menunggu kiai Nawawi. Laki-laki tua itu duduk dengan santai di sofa sembari membaca sebuah kitab. Hafiz sendiri tak jelas melihat kitab apa yang tengah beliau baca. Laki-laki muda itu bergegas menghampiri, lalu mengucapkan salam.
"Apa kabar, Nak Hafiz?"
"Alhamdulillah, kabar baik, Kiai. Bagaimana kabarnya dengan Kiai?" sahutnya berbasa-basi
"Panggil Abah, Nak. Anggap saja aku sebagai abahmu."
"Iya, Abah." Hariz tertunduk.
"Hafiz mohon maaf karena membuat Abah lama menunggu di sini. Adakah gerangan yang bisa Hafiz bantu?" tawarnya.
"Abah minta tolong kepada Nak Hafiz untuk menerima Naura, putri bungsu Abah. Abah sudah dengar cerita dari Abahmu, kiai Rahman dan Abah tidak masalah kalau Naura harus menjadi istrimu yang ketiga," paparnya.
"Apa alasannya, Bah? Naura, putri bungsu Abah adalah wanita mulia yang tidak mungkin tidak diingini oleh kaum laki-laki. Kenapa Abah malah memilih menantu seperti Hafiz, seorang laki-laki yang sudah beristri dan sekarang tinggal menunggu kelahiran anak pertama kami? tanyanya penasaran.
"Tentunya ada alasannya, Nak, walaupun Abah belum bisa menjawabnya sekarang. Akan tetapi, apakah tidak lebih baik kalau kamu mencoba berkenalan dengan Naura? Siapa tahu kalian ada kesesuaian. Abah pikir kamu tidak perlu terburu-buru menerima Naura. Waktu masih panjang dan biarkanlah Naura di beri kesempatan untuk mengenalmu dan juga Azizah, istrimu. Siapa tahu Naura bisa menjadi teman yang baik untuk Azizah."
Ini adalah pilihan yang sulit. Dia tidak mungkin menolak pendekatan yang dilakukan oleh kiai Nawawi kepadanya. Laki-laki itu cukup bijaksana. Lagi pula, tak ada salahnya untuk mencoba, kan? Laki-laki itu mencoba untuk realistis.
Setidaknya ini akan mengulur waktu dan memberikan kesempatan untuk menjelaskan kepada gadis itu bagaimana kondisi rumah tangga mereka yang sebenarnya.
"Baiklah, Abah. Hafiz akan menerima saran Abah. Namun, untuk hasil akhirnya Allah jualah yang berkehendak. Karena jodoh ada dalam kuasaNya. Abah mengerti, bukan?"
"Abah lebih darimu dalam memahami persoalan jodoh, Nak," ucap laki-laki tua itu. "Coba, Abah pinjam ponselmu."
Hafiz menyerahkan ponsel kepada laki-laki tua itu setelah sebelumnya membuka password-nya. Lelaki tua itu mengutak-atik ponsel Hafiz sebentar, kemudian mengembalikan kepada pemiliknya.
"Ini adalah nomor kontak Naura, putri bungsu Abah. Silakan kalian berkenalan, ngobrol dan saling menyesuaikan satu sama lain. Kalau boleh, izinkan dia berteman dengan istrimu, Azizah. Sebagai sesama wanita, mungkin dia memerlukan teman bicara." Laki-laki tua itu menghela napas.

"Terima kasih ya, Bah. Mohon maaf, apakah Naura sudah tahu sebelumnya dengan apa yang Abah bicarakan hari ini dengan Hafiz?"
"Tentu saja, Nak. Sebelumnya Abah sudah bicara dengan Naura. Naura pun sudah tahu kalau dia akan dijodohkan denganmu dan dia menyetujui perjodohan ini."
*****
Hafiz mengamati layar ponsel dengan perasaan tak menentu. Sebuah nama indah tertera. Naura Allysia Salsabila. Sangat cantik, tetapi entah seperti apa orangnya. Secara khusus, dia memang belum terlalu mengenal putri bungsu kiai Nawawi itu. Terakhir bertemu dengannya sepuluh tahun yang lalu di saat walimatul ursy kakak laki-lakinya yang tertua. Saat itu, usianya masih delapan tahun dan sudah mengenakan cadar. Jelas, dia tidak tahu seperti apa rupanya.
Meskipun hatinya masih di liputi oleh keraguan, Hafiz tetap mengklik aplikasi hijau bergambar telepon itu.
[Assalamu alaikum, Naura. Ini aku, Hafiz]
Hafiz menahan nafas saat centang pesannya berubah menjadi biru. Lalu terlihat Naura yang tengah mengetik.
[Wa alaikum salam. Ini Abang Muhammad Abidzar Al Hafiz?]
[Iya, Naura. Abah sudah cerita tentang Naura. Kalau boleh Abang tahu, apa alasan Naura mau menikah dengan Abang?]
[Bang, mendapatkan status bukan sebagai istri pertama, apakah itu aib?]
[Tidak. Apa maksudmu?]
[Apakah Adek harus punya alasan agar bisa di nikahi oleh Abang?]
[Abang hanya ingin tahu, Naura. Kamu itu cantik, muda, pintar, dan keturunan mulia pula. Tak sulit bagimu untuk mendapatkan suami yang sekufu. Kenapa malah memilih Abang yang jelas-jelas suami orang?]
[Abang terlalu berlebihan dalam menyanjung Adek. Ini tidak seperti yang Abang pikirkan]
Hafiz menata nafasnya saat membaca pesan Naura. Ah, berat rasanya melakoni ini. Sejenak dia menatap istrinya yang tengah tertidur lelap di ranjang.
"Azizah, maafkan Abang ya." Hafiz menarik tangan yang semula terulur ingin menyentuh wajah itu. Dia takut wanita itu terbangun.
[Apakah Abang ingin tahu kekurangan Adek?]
Hafiz tersentak kaget saat ponselnya kembali bergetar.
[Kenapa, Naura? Setiap manusia pasti memiliki banyak kekurangan]
[Kekurangan inilah yang membuat semua laki-laki mengurungkan niatnya untuk meminang Adek. Abang mau tahu apa kekurangan Adek? Adek ini cacat. Sepasang kaki Adek lumpuh, tidak bisa di ajak berjalan]
"Astagfirullah ... Jadi inikah alasan kiai Nawawi menjodohkan putri bungsunya denganku?" Hafiz mengusap kasar wajahnya.

Book Comment (137)

  • avatar
    SolehahUmmu

    Cerita yang bagus mengenai kehidupan pesantren dan sisi lain tentang poligami.

    14/08/2022

      0
  • avatar
    AlzenaaPutrii

    sangat bagus

    15/07

      0
  • avatar
    ArumFatin

    bagus dan keren ceritanya

    06/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters