logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 7

Rio dan Diana jalan berdampingan
Langkah keduanya sama-sama berat—bukan karena capek mindahin sampah, tapi karena sama-sama males jalan bareng menuju ke kelas.
Diana nyeletuk duluan, nada penuh kebencian yang terang-terangan ditunjukkan ke orang nya.
“Ini kedua kalinya, tiap ketemu lo gue sial mulu! Kemarin soto, sekarang sampah! Besok apalagi? Gue jatuh ke selokan? Hah?”
Rio menoleh setengah, alisnya naik.
“Lo kenapa sih? Kayak tiap hari PMS. Serius, curiga lo sepanjang tahun gitu.”
Diana langsung berhenti jalan, menatap Rio dengan tatapan “lo mau mati?”
“Ngomongin PMS segala. Emang lo pikir gue yang bawaannya emosi terus? Cowok-cowok tuh rata-rata menyebalkan!”
Rio membalas dengan santai tapi pedes.
“Kalau semua cowok menyebalkan, berarti masalahnya bukan cowoknya… tapi lo.”
Diana melotot. “Serius lo ngomong gitu?”
Rio ngangkat bahu. “Eh, fakta nggak selalu manis didenger.”
Diana maju setengah langkah, matanya melotot dan hampir mau ngomong, tapi akhirnya wanita tidak jadi  ngomong.
Rio malah nyuruh Diana ngomong, karena tahu Diana akan ngomong tadi.
"Mau ngomong apa sih Kunti bogel! Ngomong saja! Nggak usah sampai  nggak jadi ngomong segala! ngomong kok pakai di-cancel cancel segala! Idih!"
“Lo ya… cowok aneh, cowok bawa sial ,  cowok menyebalkan! Gue sumpahin lo kesandung waktu di jam istirahat! Mampus kalau kejadian!"
"Itu yang pengen gue omongkan ke lo! Calon jadi pocong!"
Rio mendengus.
“Kenapa harus kesandung? Gue nggak akan ya! Jangan pernah berharap itu terjadi! Nggak ada scene begitu di jam istirahat! Lo aja yang kesandung! Mampus kalau lo sampai seperti itu! Dan pasti nya lo nangis nangis!"
Diana mau bales, api dia urungkan niatnya untuk membalas perkataannya Si Rio.
Dan pada akhirnya Diana cuma mendengus panjang—yang jelas-jelas sengaja.
Rio melirik. “Tuh kan… nafas kesel lagi.”
“DIAM LO! Ini gue niat banget menghembuskan nafas kesal ke lo! Biar lo tahu gue ini kesal ! Kesal banget! Kekesalan gue bener bener level 3000! Dan lo Rio! Lo nggak boleh duduk disamping gue lagi! Pindah! Pindah!"teriak Diana.
Rio senyum tipis, bukan senyum manis… tapi senyum meledek. "Lo aja yang pindah! Gue tetap mau duduk disitu! Gue udah nyaman duduk di kursi itu!"
"Gue yang nggak nyaman! Gue!" teriak Diana.
Dan pada akhirnya sampai di depan kelas mereka, mereka berdua masuk kelas barengan dan satu kelas langsung ngeh, mereka habis cek cok, aura mereka jelasin  bahwa mereka  seperti musuhan.
Dan beberapa detik kemudian, guru menoleh.
“Kalian berdua… baru aja  masuk. Kalian kompakan gitu nggak mengucapkan salam dan juga kesiangan."
Rio lémpeng melangkah.
Diana? Masuknya kayak jalan seperti seleb yang ketangkep narkoboy, penuh malu dan tidak mau tertangkap kamera.
“Berdiri di depan,” perintah guru, nada tegas.
"Siap, Bu!"
Rio kemudian berdiri santai, tangan di belakang.
Diana tanpa berbicara, kemudian berdiri disampingnya Rio, dia menahan napas, berusaha menahan rasa malu dan nggak nyaman disamping nya Rio dan dihukum bareng pula.
Dari bangkunya, Robby langsung nyeletuk pelan tapi jelas.
“Gila… dilihat-lihat cocok juga ya kalian.”
Mulutnya nyengir kayak baru nemu gosip gratis.
Erik ngipasin komentar, tapi sambil bisik-bisik, “Cocok… cocok jadi lawan tinju. Kalo pasangan mah, kayaknya nggak bisa.”
Robby cekikikan.
Diana melotot ke arah mereka, tapi dia nggak bisa ngomong karena guru masih di depan.
Tapi matanya udah ngescan Robby kayak “lo lewat depan rumah gue—abis lo.”
Sementara Dion, bukannya ikut bercanda, malah mandangin Diana dengan tatapan agak dendam.
Diana jadi nggak nyaman dan akhirnya menunduk.
Di sebelahnya, Rio condong sedikit, nge-bisikin:
“Ngomong-ngomong, lo kan bilang nggak mau duduk bareng gue… tapi sekarang nih, kita dihukum bareng. Kayaknya Tuhan ada rencana spesial buat kita berdua, lihat saja, kita selalu ketemu terus.”
Diana memejamkan mata sejenak.
Dia bahkan nggak punya energi buat  balas omongannya Si Rio—terlalu malu, terlalu capek, terlalu menyebalkan juga hari ini.
Rio cuma senyum smirk. Kejadian kecil kayak gini baginya hiburan, tapi buat Diana… ini hari yang seharusnya nggak dilewati olehnya.
Amara dan Tiara di bangku tengah saling lirik.
Amara bisik, “Udah sabar… jangan kepancing. Ntar meledak lo.”
Tiara manggut-manggut, “Iya, Din. Tahan dulu, nanti aja lo bantai pas istirahat.”
Diana akhirnya ngebatin, terus ngangkat dagu sedikit, menatap lurus ke depan kelas…
Dan sambil tetap menatap lurus, dia ngegeram pelan ke arah Robby:
“Lo. Tunggu. Waktu. Istirahat.”
Robby langsung memasang wajah tidak diduga reaksi Diana benar-benar seperti mau makan dia, “Eh kok gue! Gue mau diapakan di waktu istirahat.”
Erik cekikikan.
Rio menahan tawa.
Dion tidak tertawa, tapi dia memandangi Diana.
Kemudian Rio pun menyadari tatapannya Dion ke Diana, akhirnya Rio pun berkata dalam hatinya. "Dion menatap Diana? Kenapa? Kenapa menatap nya tidak biasa!"
Sementara Geng Tina menatap Rio dengan tatapan terpesona, padahal Rio itu saat ini nggak lagi tampil keren.
"Tatapan itu.... Tatapan yang benar-benar bikin gue nggak nyaman,"ucapannya Diana dalam hatinya.

Book Comment (0)

    View All

Related Chapters

Latest Chapters