"Wow hebat," puji Pak Gani pada Robby. Diana melirik ke arah Rio," kayaknya dia bakal menjadi saingan gue untuk mendapatkan rangking 1," batin Diana. Rio melihat dari sudut matanya bahwa ada yang memperhatikan lalu melirik ke arah Diana. Kedua bola mata mereka saling bertemu bahkan jantung keduanya berdetak sangat hebat. "Apaan sih lihat lihat," tanya Rio dengan menopang dagu nya diatas meja. "Gue ganteng banget, ya." ucapnya penuh percaya diri. "Kepedean banget," timpal Diana. "Emang begitu kenyataannya," timpal Rio. "Nanti kita makan ke kantin yuk!" seru Rio. "Sama lelaki lagi dong, masa sama cewe," sahut Diana ketus. "Aku pengen makan bareng sama kamu," bisik nya. "Gue nggak mau makan bareng di kantin sama lo, mending lo ajak ke yang lain pasti dengan senang hati menemani lo. Karena mereka demen sama lo," sinis Diana. "Daritadi gue perhatiin lo itu kesiapa saja jutek mulu. Apa benar kata Robby lagi PMS," celetuk Rio. Semua orang menahan tawanya, Rio tidak tahu jika Diana itu bukan karena PMS. Tapi memang karakter nya begitu jutek, gampang sewot, nggak suka di ganggu, dingin ke semua pria. "Nggak, siapa juga yang PMS," sahut Diana dengan nada tinggi. Tak terasa jam pelajaran matematika sudah hampir habis hanya tersisa satu menit lagi, bel sekolah terdengar begitu nyaring pertanda jam istirahat. "Ayuk kita ke kantin," seru Robby menarik Erik yang membawa buku tulis untuk dikumpulkan ke Ibu Mawar. "Ke kantin, matamu! Kumpulin buku ke Ibu Mawar juga belum,"timpal Erik sedangkan Robby terkekeh bodoh. "Rio, ayuk ke kantin bareng," ajak Robby sambil berdiri di samping Erik. "Kalian duluan saja," balas Rio. "Hey Bro, tungguin gue dong!" henti Dion dengan setengah berlari menyusul Robby dan Erik yang berjalan keluar dari kelasnya. Ketiga nya sudah pergi ke kantin, sedangkan Tina dengan ketiga temannya berkaca dahulu sebelum pergi ke kantin. Setelah memastikan penampilan nya sudah terlihat sempurna, keempatnya lantas pergi ke kantin. "Mara, anterin gue ke toilet yuk!" ajak Tiara pada Amara. "Terus Diana, gimana?" tanya Amara tapi Tiara malah menarik nya pergi ke toilet. "Yah malah ditinggalkan," keluh Diana. "Yaudah mending ke kantin bareng sama gue saja," tawar Rio dengan menaik turunkan alisnya. "Ogah," tolak Diana sambil berjalan meninggalkan Rio seorang diri. "Kenapa tuh wanita nggak terpesona dengan ketampanan gue," Rio heran. "Malah ditinggalin," kesalnya. "Mana gue nggak tahu lagi menuju ke kantin nya," rutuk Rio. "Perut gue keroncongan lagi." batinnya sambil berjalan memegang perut nya yang terasa perih. "Dek," panggil Rio ke adek kelas. "Tolong anterin saya ke kantin dong!" titahnya pada adek kelas yang wajahnya cantik. "Baik, Kak," sahutnya. Rio bersama adek kelas berjalan ke kantin," Diana, rese banget sih lo pakai acara nolak makan bareng sama gue,"rutuk Rio dalam hatinya. Kini tiba di kantin," saya permisi dulu yah kak," pamitnya pada Rio. "Thankyou, Dedek Cantik," ujar Rio lalu matanya menyapu seluruh isi ruangan mencari Robby dkk. "Akhirnya ketemu juga,"katanya dalam hati. Rio berjalan tapi dia sesekali arah matanya tertuju ke arah Robby, tidak memperhatikan jalan nya hingga tak sengaja menabrak Diana yang baru saja membawa soto pesanan nya hingga terjatuh ke lantai. "Rio, dasar anjng! Pakai nabrak gue segala!" Diana mengamuk dengan menatap garang. "Punya mata itu dipake dong! Jangan dijadikan pajangan aja!" teriak Diana sambil dadanya naik turun. "Eh buset, ini cewe garang amat," batin Rio sambil meneguk ludahnya kasar, jujur Rio seumur umur tak pernah dibentak-bentak sama seseorang. "Gara gara lo, Rio, soto gue jadi tumpah kan! Dasar anjng lo itu!" Diana menyalahkan Rio dengan murka. "Maaf, gue nggak sengaja, Din,"ucap Rio kemudian. "Lo kira lo minta maaf bikin gue kenyang," Diana mendengus. "Kagak, anjng!" "Yaudah gue pesankan lagi soto nya,"timpal Rio dengan lembut. Diana hanya memberikan tatapan tajam yang di layangkan pada Rio," yaudah, cepetan dong pesankan!"teriak Diana sambil menatap Rio dengan garang. Sedangkan Rio terdiam, sambil memasang wajah yang memelas. Beberapa menit kemudian, Tiara dan Amara baru datang, keduanya melihat Diana yang terlihat sedang marah, keduanya pun lantas menghampiri Diana. "Lo kenapa,Dina?" tanya Amara. "Si Anak baru bikin ulah," adunya pada kedua temannya, sambil menunjuk Rio. "Nabrak gue sampe soto yang gue bawa terjatuh," lanjut Diana. "Gue-"ucapan Rio terpotong. "Jangan ngomong lo!"sentak Diana sedangkan Rio menundukkan kepalanya. "Oh, jadi gitu yah,"ucap Amara yang sekarang tahu akar permasalahannya. "Yaudah, Din, lo jangan ngamuk-ngamuk, masalah soto, gue yang pesankan lagi soto nya buat lo,Din," balas Tiara sedangkan Diana tak menjawab perkataan nya Tiara. "Sekalian gue ya, Ti," timpal Amara. Oke," balas Tiara sembari melangkah pergi. "Yok, kita duduk," ucap Amara sambil menuntun Diana, membawanya menjauh dari Rio. Kini Amara dan Diana duduk di kursi yang di sediakan kantin yang paling pojok. Sedangkan Rio berjalan ke depan untuk memesankan soto buat Diana. Sekarang Diana sedang duduk, seraya mengatur emosinya yang bergejolak dihatinya. "Tuh si Rio datang," tunjuk Amara saat melihat kedatangan Rio pada Diana. "Tatapannya sangat tajam banget," batin Rio sambil membawa nampan berisi soto menghampiri Diana dan Amara. "Ternyata dia seram banget yah kalau sedang marah," batin Rio. Kini Rio berada didepan Diana dan Amara," nih, soto nya," ucap Rio sambil meletakkan di atas meja. "Sekali lagi gue minta maaf yah," ucap Rio kemudian berbalik badan berjalan meninggalkan Diana dan Amara. "Lo minta di gantiin?" tanya Amara. "Yaiyalah, dia kan salah telah menabrak gue," sembur Diana. Diana pun mengaduk kuah sotonya kemudian menyantap soto nya dengan keadaan masih marah. Nggak kebayang kan kalau makan sambil marah itu nggak merasakan kenikmatan makanannya. "Rio, lo baru masuk bikin mood Dina rusak aja," batin Amara. Tiara membawa 3 mangkuk soto," kok Dina udah makan soto nya?" tanya Tiara sembari meletakkan mangkuk di atas meja. "Itu dari Rio," jawab Amara dengan pelan. "Terus ini satu mangkuknya buat siapa dong?" tanya Tiara reflek karena takut makanan yang dia pesan mubazir. "Lo aja yang makan," cengir Amara sambil menunjuk Tiara, detik berikutnya menyantap soto miliknya dengan lahap. Diana telah menghabiskan soto dari Rio. Namun Diana seperti nya merasa belum kenyang jadi mau makan soto dari Tiara. "Masih muat tuh perut menampungnya?" tanya Tiara. "Lo tahu sendiri perut Dina itu kaya karet," timpal nya Amara. "Berisik!" Keduanya kompak nggak mengoceh lagi takut ditelan hidup hidup sama Diana. Berbeda dengan Rio yang sedang mencari Robby dkk. Kini Rio tengah berdiri mematung matanya menyapu seisi ruangan kantin tapi tak kunjung menemukan Robby dkk lagi.
View All