logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

BAB 2

"Diana, kamu angkat tangan dong. Rio kan nggak tau nama Diana itu yang mana," titah Ibu Mawar.
"Tiara, angkat tangan kamu," bisik Diana menyuruh Tiara mengangkat tangan nya.
"Amara, lo sini cepetan pindah ke bangku sebelah gue," titah Diana pada Amara yang duduk bersebelahan dengan Tiara.
"Nggak boleh pindah," larang Tiara pada Amara yang hendak mengangkat tubuhnya bersiap pindah duduk bersebelahan dengan Diana.
"Biarkan Si Diana bareng Rio," bisik nya dengan menyengir.
Amara tercengir lalu mengurung niatnya berpindah duduk bersebelahan dengan Diana yang tidak mau duduk bersebelahan sama Rio.
"Ayo Diana, angkat tangan kamu! " teriak Tiara.
"Dasar sahabat lucknut," umpat Diana dalam hati kemudian mengangkat tangannya.
Rio berjalan ke bangku nya yang bersebelahan dengan Diana,"hai, Diana," sapa Rio sambil mengulurkan tangannya.
"Diana," jawabnya ketus lalu bersalaman dengan Rio.
"Yaudah anak-anak kita mulai belajar nya, kalian bisa berkenalan lebih dekat di waktu istirahat," ucap Ibu Mawar.
"Iya, Ibu," jawabnya serempak.
"Buka halaman 19 yah," titahnya.
Semua siswa serempak mengeluarkan buku pelajaran yang dibawa ditas sekolah nya. Semua orang membuka halaman 19, saat Diana fokus membalikkan halaman dari 1 sampai 19. Rio malah mencuri pandang wanita yang disebelah dengan tatapan kagum.
"Cantik tapi sombong," gumam Rio dalam hati.
Ibu Mawar sedang mengajar dan semua siswa mendengarkan penjelasannya, tapi tidak untuk Robby yang fokus memandang kecantikan wajah guru nya, bukan fokus mendengarkan semua materi yang dijelaskan oleh gurunya tapi malah tertuju ke dadanya.
"Buah dada nya kok gede amat,"bisik Robby.
"Ibu Mawar istri idaman gue banget," desah Pelan Robby.
"Udah beranak juga kelihatan masih kaya ABG,"bisik Robby dengan berdecak kagum.
"Lihat tuh bodynya bak gitar Spanyol," desah nya sambil memandang lekuk tubuh Ibu Mawar.
Memang Ibu Mawar itu sangat cantik dan dikagumi oleh semua siswa di sekolah Galaxa.
"Ah, kalau seumuran sudah gue kejar kejar tuh, Ibu Mawar," desah Robby dengan suara pelan.
"Emang kalau seumuran sudah pasti gitu, Ibu Mawar bakalan tertarik sama muka lo yang kaya bebek," ejek Erik.
"Sembarangan gue dibilang kaya bebek,"sembur Robby.
"Daripada lo kaya beruk," balas Robby mengejek Erik.
"Ssssttt,"desis Amara kepada Robby dan Erik.
"Berisik amat sih," decih Diana pada Robby dan Erik.
"Sensi amat lo! lagi PMS dia."
"Bisa diam nggak sih!" sentak Diana pada Robby sedangkan Erik terkekeh pelan.
"Jangan ganggu gue dong yang sedang mendengarkan materi yang dibahas oleh guru."
"Gue kagak konsen dengan omongan lo pada."
Diana tipe siswi yang paling rajin mendengarkan penjelasan guru. Yang lain nya hanya mendengarkan dengan malas apalagi suara Ibu Mawar saat menerangkan penjelasan suara nya kecil banget.
Terkadang Tina pengen ngasih Toa ke Ibu Mawar biar bisa kedengaran suaranya dengan keras dan jelas.
"Gue jadi mengantuk kalau pelajaran ini," bisiknya pada Marina.
"Sekarang kalian isi nomor 15 pilihan ganda nya, lalu isi essai," titah Ibu Mawar pada semua murid nya.
"Diana, bagikan contekan dong," bisik Dion pada Diana.
"Enak saja, kerjain saja tugasnya sendiri," sentak Diana.
"Lo kan punya otak,"kesal Diana pada Dion yang minta contekan.
"Nggak guna banget sih lo, seharusnya lo tuh pintar bagi bagi contekan ke kita," sentak Erik.
"Nggak usah maksa yang nggak mau ngasih contekan," decih Rio.
"Kalian mau contekan, sini ke gue saja," ujar Rio.
"Gue kasih gratis ke kalian, asalkan jadiin gue ketua dari geng kalian," decih Rio.
Kini tersisa jam pelajaran hanya 15 menit," cepat kerjakan sekarang!" titah Ibu Mawar menyuruh murid nya segera menyelesaikan tugas yang dia berikan.
"Sisa waktu tinggal 5 menit lagi, cepat selesaikan tugasnya!"
Semua murid berbondong bondong mencontek ke Rio, sedangkan Diana beranjak dari duduknya.
Kini Diana melangkahkan kakinya ke depan sembari membawa buku tulis.
"Lihat Diana, sudah mengumpulkan tugasnya," ucap Ibu Mawar saat Diana memberikan buku tulis.
"Yang lain mana?" tanya Ibu Mawar.
"Waktu tinggal 2 menit lagi," ucap Ibu Mawar saat melihat jam yang melingkar di lengannya.
"kalian yang belum mengumpulkan tugas, bisa kumpulkan ke ruangan guru.
"Siap, Bu," sahut para murid yang belum mengumpulkan buku, dengan kompak menyahut perkataan Ibu Mawar.
Ibu Mawar segera melenggang keluar dari kelas, sedangkan yang lain masih mengerjakan tugas yang diberikan Ibu Mawar yang belum di selesaikan.
"Lebih enak mandangin bokong Ibu Mawar dibandingkan mengerjakan tugasnya," celoteh Robby.
"Robby! Omes banget sih!" teriak Tina yang kesal.
"Eh, Tina emang body nya Ibu Mawar itu bagus, emangnya loh lurus banget mana kurus lagi," hina Robby.
Dion dan Erik tertawa melecehkan sambil tertuju ke Tina.
"Apasih, kok malah body shaming," teriaknya semakin menjadi kesal.
"Suara lo super cempreng!" cibir Tiara dengan suara yang keras.
"Sudah! ada guru yang akan memasuki kelas," ucap Diana kepada Tiara dan Tina yang bakalan debat.
"Siang semua nya," sapa Pak Gani dengan tegas.
"Baru saja selesaikan tugas dari Ibu Mawar, sekarang otak harus dipake buat matematika," ucap Robby dengan memegang kepala nya.
"Obat Paramex ada?" tanya nya pada Erik.
"Hah?"
"Kayaknya gue butuh nih soalnya nanti bakalan pusing mengerjakan matematika," bisik Robby dan Erik tertawa dengan tertahan.
"Eh, Kucrut kalian jangan ngomong mulu!" sentak Pak Gani.
"Nggak akan," jawab Robby dengan suara keras.
Kini semua murid memperhatikan papan tulis saat Pak Gani memberikan contoh untuk mengerjakan soal matematika.
"Percuma pak, memberikan contoh di papan tulis, otak gue nggak nyampe," gumam Robby.
"Makannya kalau sekolah tuh menyimak bukan kebanyakan mengobrol," sindir Diana yang mendengar omongan Robby.
"Apasih, Din?"
"Sewot mulu?"
"Benar kata orang kalau lagi PMS itu bawaannya sensi mulu," ucapnya dengan suara yang lumayan keras hingga kedengeran sama Pak Gani.
"Robby."
"Kamu sudah paham?" tanya Pak Gani.
"Sudah, Pak," jawabnya berbohong.
"Oke, jika kamu sudah paham maka kamu kerjakan ini ya di papan tulis," ujar Pak Gani.
"Rik."
"Sana, ke depan! " ucap Erik menarik Robby supaya berdiri.
"Robby, cepetan isi katanya kamu sudah paham," ujar Pak Gani dengan tangan mengulurkan spidol ke arah Robby.
"Mampus, tamatlah riwayat gue," batinnya.
"Jangankan matematika mengerjakan soal Fisika juga udah bikin kepala gue puyeng," batinnya.
"Sssssuuttt," desis Rio.
Rio pun memberitahu jawaban nya pada Robby, hingga Robby tinggal menulis di papan tulis.

Book Comment (0)

    View All

Related Chapters

Latest Chapters