logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Tentang Santri

Akhirnya mengaji di hari pertamanya selesai juga dan sangat mengesankan meskipun guru kedua sedikit menjengkelkan bagi Alya, tetapi dia lebih baik bersikap bodo amat saja.

***
Keesokan harinya tepat pada waktu subuh, seperti biasanya seluruh santri melakukan salat berjamaah di mesjid dan dilanjutkan dengan mengaji bersama. Tidak ada yang dibedakan saat pengajian ba’da subuh, kecuali pengajian dari jam 07.08 WIB bagi yang masih sekolah dan kelas persiapan, kemudian dari jam 08.30 bagi santri yang takhasus, bagi yang takhasus ini pun tidak memandang siapa murid baru atau bukan. Semuanya di sini sama, kecuali pengajian malam.
Udara dingin nan sejuk menyapa seluruh tubuh Alya, dia sangat kedinginan, tetapi dia akan menahan rasa es batu itu demi ilmu dan memperbaiki dirinya. Perempuan asrama cahaya yang satu ini sangat-sangat semangat dalam menuntut ilmu, terlebih lagi karena dia merasa bersalah kepada orang tuanya atas sikapnya dulu meskipun sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa kecuali bermain musik dengan temannya.
Sesaat akan memulai pengajian, suara gemuruh para santriah memuji-muji murid baru yang bernama Alya, selain dia cantik dia juga lemah lembut nan pintar. Pujian-pujian itu sampai dan terdengar oleh telinga Ara langsung di hadapannya.
Wajah Ara langsung memasang kesal dan benci, dia tidak suka jika nanti ada orang yang menyaingi dirinya.
“Apa-apaan, sih, so puji-puji anak baru segala. Wajarlah dia paham ngaji semalam, wong itu baru permulaan, coba kalau ditempati di kelas gue, mana bisa dia!” celoteh Ara menggerutu merendahkan gadis itu.
Makin lama pujian itu makin panas sampai-sampai dia dipuji bahwa dia adalah orang tercantik sepesantren Nurul Qalbi. Saat itu, dada Ara semakin panas, tangannya dilipat dan mulutnya mulai sigap untuk berbicara.
“Apa-apaan, sih. Cewek di mana-mana juga cantik, kali! Tapi harus diingat juga, cantik itu relatif tergantung orang yang memandangnya!” terang Ara pada semua orang yang membuat orang lain keheranan.
Perkataan Ara tersebut ternyata terdengar juga oleh Alya yang duduk paling depan. Gadis itu tidak menanggapi meski hatinya memang sudah gereget ingin melayaninya bicara. Namun, karena dia masih murid baru dan sudah ngaji dengan kata lain bisa dibilang santri maka dia pun harus bisa mengontrol emosi amarahnya dan harus bisa bersabar.
Gadis itu menoleh ke belakang di mana Ara duduk, dia tersenyum seakan tidak tahu apa-apa, tetapi perempuan yang mengaku penggemar Cep Adnan itu malah membalasnya dengan delikan matanya yang sinis.
Lima menit lagi pengajian dimulai, waktu tadi yang kosong adalah waktu untuk menghafal materi sebelumnya, tetapi kebanyakan dari mereka bukan menghafal atau membaca melainkan mengobrol bersama, jangankan anak kecil yang susah diatur, orang dewasa pun sangat sulit untuk diarahkan. Apalagi jika menghadapi orang yang keras kepala dan merasa dirinya paling benar.

***
Pengajian selesai, semua santri bergegas keluar untuk menuju kelasnya masing-masing. Ketika Alya baru saja melangkahkan kakinya dari tempat pengajian kelas umum tersebut. Ara memanggilnya dari belakang.
“Anak baru, tunggu!” pekiknya.
Alya pun menoleh.
“Lo, Alya ‘kan yang anak baru itu?” tanya Ara dengan judes.
“Iya,” jawab Alya simpel.
“Oh, iya. Gue cuman mau peringati, ya, sama kamu. Jangan mentang-mentang kamu murid baru di sini jadi bisa caper seenaknya,” ujar Ara sambil membentak Alya.
Gadis yang bertingkah lugu di sini hanya menggelengkan kepala, dan tersenyum masam sambil mengernyitkan dahinya.
Alya pun melengos sambil berjalan untuk beranjak ke kelas.

***
Satu-dua kitab sudah dia tulis dan sudah ada rencana untuk pergi berbelanja, untuk saat ini dirinya hanya bisa mengikuti kelas tanpa kitab melainkan hanya buku tulis kosong yang selalu dia bawa. Namun, dia tidak malu atau pun gengsi selagi ada buku untuk menulis dan selama ada ilmu untuk ditulis, mengapa harus dilewatkan? Karena sejatinya ilmu itu harus diikat agar tidak lupa.
Alya menyusuri jalan menuju kelas dengan penuh lamunan, dia ingin membeli kitab yang ingin dia kaji dengan orang tuanya, tetapi jangankan bermanja-manja, menghubunginya saja tidak bisa. Sempat pikirannya ingin membawa mobil ke pesantren, tetapi untuk apa dia ngaji jika barang-barangnya serba dibawa. Dia mondok di pesantren agar bisa belajar untuk qana’ah, lebih bisa menghargai diri sendiri, orang lain, dan yang paling penting adalah menghormati orang tua.
***
Pembelajaran kelas persiapan pertama, sukses dia selesaikan dengan banyak hafalan bermodalkan meminjam kitab jurumiyah milik teman. Namun, meskipun masih hasil meminjam gadis itu adalah orang yang paling lancar hafalannya, tidak ada kata yang salah, hanya saja dia sempat berpikir pada bait-bait terakhirnya.
Selesai pembelajaran pertama, semua santri diberi waktu istirahat tiga puluh menit untuk takhasus dan pengajian selesai untuk santri yang masih sekolah, sehingga santri takhasus setelah istirahat untuk makan, mereka harus kembali mengaji. Sedangkan untuk yang masih sekolah, pengajian akan dilanjutkan lagi nanti setelah pulang sekolah atau menjelang asar.
Tidak ada yang susah, rumit, pusing, atau pun depresi karena banyaknya tugas sekolah dan pesantren, karena waktu mereka tertata rapi, kecuali orang yang malas dan tidak menghargai waktu. Soal pemikiran, anak santri jauh lebih pintar dibandingkan dengan anak-anak yang hanya memilih sekolah saja dengan alasan jika menjadi santri tidak ada waktu menghafal, padahal di dunia santri itu waktu akan terasa lebih luas, sehingga orang cerdas akan memanfaatkannya sedangkan yang malas hanya akan diam dan semakin ketinggalan.
Waktu yang dipakai mengaji adalah khusus untuk mengaji dan waktu belajar khusus untuk belajar, lantas kapan bisa menghafal? Ada waktu malam sebelum tidur dan sehabis salat tahajud sampai mereka meneruskannya ke acara pengajian kitab.
***
Waktu istirahat habis, gadis bernama Alya mulai bergegas mempersiapkan bukunya lagi untuk mengikuti pengajian pagi ini. Namun, tidak disangka saat Alya sudah sampai di depan pintu, Ara mendorong gadis itu sampai terjatuh ke lantai.
“Ups, sorry. Gue gak sengaja,” kilah Ara.
‘Sabar, Alya. Sabar,’ batin Alya menguatkan.

Untuk saat ini, Alya masih bisa menahan emosinya untuk marah di hadapan semua orang yang bahkan belum dia kenal karena dirinya adalah anak kemarin yang baru mengaji di pondok pesantren ini.
Wanita berkerudung biru muda itu terbangun dengan susah payah karena lututnya terbentur keras pada ubin.
“Iya, gakpapa, kok,” jawabnya tersenyum.
Namun, hal itu bukan membuat Ara malu melainkan malah semakin ingin mengerjainya terus sampai dia tidak betah dan akhirnya pulang ke rumah, sebab yang ditakutkan Ara adalah dia takut nanti Cep Adnan menyukai Alya dengan kecantikan dan kepintarannya. Ya, dia akui bahwa Alya itu cantik dan pintar, tetapi dia gengsi jika harus mengatakannya di hadapan banyak orang.
Mereka semua duduk dengan tertib sambil menunggu sang guru datang dan yups guru pengajar pagi kali ini adalah Cep Adnan, orang yang tidak Alya suka karena bicaranya yang suka ceplas-ceplos.
Cep Adnan masuk dengan jubah putihnya dan senyumnya yang khas ketika masuk ke pintu ruangan putra, dia mulai memosisikan tubuhnya duduk di kursi dengan nyaman, setelah itu barulah dia membuka kitabnya dan menyuruh semua santri untuk membaca doa terlebih dahulu, meski sebelumnya pun sudah membaca dengan cara bersama-sama, tetapi saat akan membaca kitab lagi Cep Adnan selalu menyuruh santrinya untuk berdoa lagi.
Selesai berdoa, mata Cep Adnan tertuju lagi pada gadis yang berkerudung biru muda itu, dia hanya ingin berbicara padanya, tetapi cara yang ini justru membuat Alya akan menjauh.
“Alya, kitabnya mana?” tanya Cep Adnan lagi.
Alya menghela napasnya dalam-dalam dengan kesal dan mulai berbicara.
“Saya tidak tahu jadwal, Ustaz. Maka saya belum membeli kitabnya, besok atau nanti saya akan membelinya,” ujar Alya menunduk dan menahan rasa kesalnya.
“Halah, ngomong aja kamu gak niat untuk ngaji! Iya gak, man teman?” timpal Ara sambil tertawa, tidak lama semua orang yang di sana pun ikut menertawakannya.
Muak, Alya sudah muak dengan semua ini, dia merasa tidak dihargai di sini apalagi saat mengaji yang digurui oleh Cep Adnan. Dirinya seakan-akan selalu dipermalukan di hadapan semua orang. Ara dan teman-temannya hanya mengira bahwa Alya itu adalah anak yang serba terbatas tetapi manja terhadap orang tuanya karena dia adalah anak satu-satunya.
Mata Alya berkaca-kaca dan Cep Adnan terus memperhatikan gadis itu. Alya berdiri dan memalingkan muka pada gurunya tersebut kemudian pergi. Ada rasa bersalah dalam hati Adnan karena dari semalam yang dia tanya adalah kitabnya, tetapi maksud dia adalah supaya gadis itu berbicara dan welcome dengannya. Namun, ternyata cara Adnan ini salah dan malah membuat Alya sakit hati olehnya.
Gadis itu pergi dengan tangisannya, dia berlari ke taman depan pesantren yang jauh dari kelasnya dan berada di belakang masjid lama pesantrennya, agak sedikit jauh dan orang lain pun jarang yang lewat ke sana kecuali jika akan beres-beres di sana.

Book Comment (98)

  • avatar
    BahiahSiti

    not bad

    25/02

      0
  • avatar
    AuliaCindy

    bgus

    23/12

      0
  • avatar
    Putri D Ayundasari

    keren baru baca 3bab

    10/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters