logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Empat

Hanna meletakkan tasnya di sofa tanpa sempat menyalakan lampu. Kegelapan ruang tamu seolah menyatu dengan kekosongan hatinya. Hanya cahaya pucat dari layar ponsel yang menerangi wajah letihnya. Sembilan puluh menit terjebak dalam kemacetan Jakarta yang gila membuat tubuhnya terasa remuk, namun rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan batinnya yang carut marut karena sikap suaminya dan cinta pertamanya. 
​Malam yang seharusnya menjadi perayaan cinta dan kabar bahagia, justru berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang ingin segera di akhiri.
Bayangan wajah Tasya yang tersenyum mengejek dari balik kaca mobil Bimo terus menghantui, dan berputar berulang kali di benaknya.
​Dengan tangan gemetar, Hanna meraih ponselnya. Sebuah notifikasi dari aplikasi berwarna ungu menghentikan napasnya sejenak. Akun Tasya berada di urutan teratas daftar pembaruan.
​@tasyalovestory just posted a photo.
​Jantung Hanna seolah diremas tangan tak kasat mata saat melihat foto pertama. Bimo berdiri di pintu kedatangan bandara, wajahnya cerah dengan senyum lepas yang tidak pernah ia tunjukkan selama tiga tahun pernikahan mereka. Ia memeluk Tasya seolah dunia hanya milik mereka berdua. Hanna menelan ludah, tenggorokannya terasa terbakar. Ia mengusap layar ke kanan.
​Foto berikutnya: Tasya dan Bimo duduk di sebuah restoran mewah,  Mereka tertawa di depan piring-piring kosong.
Caption-nya tertulis: “First night back, with my favorite person. Ternyata kamu masih excited ketemu aku, Nyet.”
​Jari Hanna kini gemetar hebat. Napasnya mulai pendek, terasa sesak di ulu hati. Ia mengusap lagi. Foto ketiga membuat matanya membelalak. Tasya bersandar di sofa apartemen, masih dengan baju yang sama. Namun di foto selanjutnya, segalanya berubah menjadi lebih intim. Tasya sudah berganti pakaian tidur berbahan satin tanpa lengan yang memamerkan kulitnya. Di sebelahnya, Bimo duduk tak berjarak, tangan suaminya itu menggenggam erat tangan Tasya di atas meja yang dihiasi botol wine dan lilin-lilin kecil.
​“Some things never change. Dan yang paling penting, masih nyaman kayak dulu #Happybirthday,” tulis Tasya, lengkap dengan emotikon kilauan bintang.
​Layar ponsel itu terasa membakar telapak tangan Hanna. Ia meletakkannya pelan di meja, lalu menatap kosong ke dinding rumah yang gelap dan bisu.
Tangisnya pecah tanpa suara, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Inikah akhir dari pengorbanan karier dan harga dirinya? Menjadi bahan tertawaan di hari ulang tahun suaminya sendiri?
​“Awww… sakit…” Hanna merintih tiba-tiba.
​Rasa nyeri yang luar biasa menyergap bagian bawah perutnya. Tangannya mencengkeram perut yang mulai kram hebat, rasa sakit itu menembus hingga ke sumsum tulang belakang. Hanna berusaha bangkit, ingin mencari bantuan, namun tubuhnya lunglai.
​“Ya Tuhan…” Isaknya semakin keras saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan kental mengalir di antara kedua kakinya. Harapan yang ia simpan di dalam tas selempangnya, dua garis merah itu seolah sedang merosot pergi darinya.
​Dalam kepanikan yang menggulung, Hanna mencoba menekan kontak suaminya. Ia hanya butuh Bimo sekarang. Hanya Bimo.
“Haloo… Mas Bimo… tolong, Mas…” rintihnya saat sambungan tersambung.
​Namun, tak ada suara balasan dari Bimo. Yang terdengar justru suara manja dan lembut yang sangat familiar di seberang sana.
​“Kamu nggak apa-apa nemenin aku di sini, Nyet?” tanya suara Tasya.
Hanna terdiam, detak jantungnya seolah berhenti.
​“Nggak apa-apa,” jawab suara Bimo, begitu enteng, begitu tenang.
​“Terus… gimana istri kamu di rumah? Apa dia nggak marah?”
​Hanna mendengar tawa Bimo yang meremehkan. “Hahaha... mana berani Hanna marah sama aku? Dia itu cinta mati sama aku. Jadi apa pun yang aku lakuin, pasti bisa ditolerir sama dia.”
​“Hahaha, itu sih bukan cinta mati, tapi lebih ke bloon, ya,” sahut Tasya diiringi tawa renyah yang meledak di kedua sisi telepon.
​Dunia Hanna runtuh. Hatinya seperti dirajam ribuan anak panah. Mereka tidak tahu Hanna sedang mendengarkan, atau mungkin... mereka memang sengaja membiarkannya mendengar? Hanna buru-buru menutup panggilan itu. Ia tak sanggup lagi mendengar bagaimana suaminya sendiri menertawakan ketulusannya.
​Dengan pandangan yang mulai mengabur karena air mata dan rasa sakit, ia menggulir daftar kontak. Nama "Mama" sempat ia tatap, namun ia urungkan. Ia tak sanggup menghadapi kekecewaan orang tuanya yang dulu menentang hubungan ini. Hingga jemarinya berhenti di satu nama yang sudah lama ia lupakan, Dewa.
​Hanna menekan tombol panggil. Hanya satu nada dering, dan suara itu langsung menjawab.
“Halo, Hanna?” suara itu penuh kewaspadaan.
​“Kak… hiks… hiks… tolong… Kak Dewa…”
​“Hanna, kamu kenapa?” Suara Dewa seketika berubah panik.
​“Sakit… tolong…”
​Itu adalah kalimat terakhir Hanna sebelum kegelapan merenggut kesadarannya. Ponsel terlepas dari genggamannya, menghantam lantai marmer. Di layar yang masih menyala, nama Dewa berkedip sebagai saksi bisu.
​Di seberang sana, di sebuah ruang rapat yang dingin di gedung pencakar langit, Dewa bangkit berdiri dengan wajah pucat. Para staf dan direksi yang sedang berdebat soal strategi perusahaan terdiam melihat bos mereka yang biasanya tenang, kini tampak gemetar.
​“Maaf, saya harus pergi Urgent. Tolong jadwalkan ulang rapatnya,” ucap Dewa tegas sembari menyambar jasnya. Tanpa menunggu jawaban, ia berlari keluar, meninggalkan hasil kerja berjam-jam demi satu suara yang sangat jelas sedang terluka memanggil nya. 
​Dewa menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, membelah kesunyian malam dengan kecepatan tinggi. Pikirannya hanya tertuju pada Hanna. Suara lemah wanita itu terus terngiang, mengirimkan rasa sakit dan takut yang luar biasa. 
​Begitu sampai di rumah Hanna, Dewa tak menunggu lama. Ia mengetuk pintu berkali-kali namun nihil. Saat ia mencoba mendorong handle pintu, hatinya mencelos menyadari pintu itu tidak terkunci.
​Dewa melangkah masuk dan pemandangan di depannya hampir membuat jantungnya copot. Hanna tergeletak tak berdaya di lantai ruang tengah dengan genangan merah di sekitarnya.
​“Hanna! Bangun, Han!” Dewa jatuh berlutut, mencoba membangunkannya, namun Hanna tetap diam dengan wajah sepucat kertas.
​Tanpa pikir panjang, Dewa mengangkat tubuh mungil Hanna ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli kemeja mahalnya ternoda darah. Di dalam mobil, ia terus menggenggam tangan Hanna yang dingin sambil terus memacu kendaraannya menuju rumah sakit.
​“Bertahanlah, Han. Kumohon, bertahanlah…” bisiknya lirih, berpacu dengan waktu yang seolah ingin merenggut wanita yang selama ini ia cintai dalam diam itu.

Book Comment (0)

    View All

Related Chapters

Latest Chapters