logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 5. Hikmah

“Menangislah, Dik! Menangislah agar hatimu terasa plong. Setelah itu kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ya.” Ceu Kokom membiarkan gadis malang yang sebatang kara di perantauan itu menangis di dalam pelukannya, tangannya mendekap erat tubuh Kirana. Sementara Leni membelai lembut bagian kepala Kirana yang tertutup dengan jilbab. Sembari mengagumi keistiqamahan gadis dusun itu di dalam hal menutup aurat,

Setelah melampiaskan tangis, menumpahkan rasa sesak di dalam dada yang berusaha ditahan, Kirana merasa beban di dadanya menjadi lebih ringan. Ketulusan kedua wanita yang baru dikenalnya itu membuat dirinya merasa tidak sendiri lagi. Setelah Ceu Kokom merenggangkan pelukan, Kirana lalu menceritakan awal pertemuannya dengan Nino sampai kejadian yang hampir merenggut kesuciannya tadi malam, tanpa ada yang terlewati.
“Dari awal aku dah curiga, tapi bingung nak buat apo?” Yuk Leni memberi komentar setelah Kirana menuturkan pengalamannya.
“Itulah, Dik. Kita teh jangan mudah percaya seratus persen sama orang yang baru dikenal. Apalagi lawan jenis. Walaupun saya teh tahu betul kang Nino teh bukan orang jahat, da saya teh udah lama juga kenal sama dia. Cuma yah ... namanya juga laki-laki, bisa tertarik untuk berbuat gak senonoh. Apalagi jauh dari istri. ‘Kan kata Allah juga kalau kita berdua-duaan dalam satu ruangan dengan orang yang bukan mahram, pasti yang ketiganya itu syetan.
“Apalagi samo cewek secantik kau ini,” goda Leni sambil mencubit pipi Kirana yang halus dan kemerahan.
“Sudahlah, untuk sementara nanti kamu tinggal sama Ceuceu saja, yah. Bahaya kalau di sini.”
“Mokasih, Ceu Kokom, Yuk Leni. Aku nak cari rumah kawan aku bae,” tolak Kirana halus. Bagaimanapun ia tidak mau merepotkan orang-orang yang baru dikenalnya. Ia ingin segera kerja dan mandiri, tanpa membebani kehidupan orang lain di sekitarnya.
“Kamu teh masih baru, hanya berbekal alamat, sedangkan kamu masih asing di sini. Di sini mah rawan kejahatan. Jadi kamu teh kudu hati-hati.”
Kirana tertegun, ia merenungi setiap nasihat yang diterimanya. Ia tahu semua itu benar adanya. Namun Kirana tidak memiliki pilihan lain selain segera pergi dari tempat ini. Kepalanya mendongak memandangi langit-langit bedeng. Kemudian menahan napas beberapa detik, menekan rasa pilu yang tidak terkatakan.
Beberapa lembar uang yang Nino siapkan untuknya, tidak sudi Kirana mengambilnya. Kirana tidak mau , kalau uangnya diambil Nino akan menganggap Kirana memaafkan perbuatannya.
Namun, tidak bisa dipungkiri, ia juga memerlukan uang untuk mencari alamat temannya. Namun, dari pada mengambil uang pemberian orang yang dibencinya, lebih baik terus terang pinjam pada Yuk Leni. Barang kali wanita itu memilki simpanan. Berat rasa Kirana, ketika bibir telah merangkai kata untuk diucapkan di hadapan para ibu ini.
“Cek! Yuk! Kalau percaya samo aku ... emm ... boleh dak aku nak minjam duit? Buat ongkos.” Sambil memberanikan diri memandang wajah kedua wanita yang ada di hadapannya. Kirana tidak yakin dengan jawabannya, karena ia menyadari dirinya adalah orang yang baru dikenal dan akan pergi ke tempat yang belum tentu juga diketahui oleh kedua wanita itu.
Bisa dipahami kalau seandainya tidak dipercayai oleh kedua wanita dewasa keduanya. Namun, ia memohon pada Allah untuk mengetuk pintu hati wanita-wanita ini sampai hati mereka yang paling dalam dan membuat mereka mempercayainya.
Beberapa saat hening, ketiga kepala yang berada berdekatan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Nanti lah, ya.Yuk Leni sibuk menghitung-hitung berapa pengeluaran yang harus dia persiapkan untuk si sulung Ferina, tanggal berapa ia harus setor ke Bank. Belum lagi harus menghitung modal untuk membayar beberapa kilo gram ikan untuk bahan pempek, gandum sebagainya. Tiba-tiba kepalanya terasa cenat-cenut. Akan tetapi bisa lah ia membantunya memberi makan gratis agar gadis ini tidak kelaparan.
Begitu juga dengan Ceu Kokom yang mengira-ngira berapa harus menyisihkan uang pemberian sang suami untuk dikirimkan kepada dua anaknya yang ada di Jawa, berapa harus mengisi celengan untuk pembangunan rumahnya yang belum selesai, berapa pula ia harus menyiapkan bahan masakan untuk esok hari. Kalau pun memberi gadis ini, ia akan mengambilnya sedikit dari uang belanjanya pagi ini.
Hingga sebuah suara yang tidak asing memecah keheningan mereka. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” Jawab mereka bertiga serempak. Semua mata tertuju ke arah pintu. Sesosok tubuh atletis berdiri di depan pintu, mengulas senyum teramat manis.
“Aeh, ada Kak Adnan ternyata.” Wanita asal Garut Jawa Barat yang ramah itu mengangguk menyambut kedatangan Adnan. Sekilas ia melihat ada noda seperti percikan darah di paha depan celana cargonya yang berwarna krem.2
“Ado apo, Kak?.” Leni berbasa-basi. Walaupun sebenarnya ia bisa menebak tujuan Ahdan, karena tadi malam pelanggan warung kopinya itu sudah sempat membicarakan niatnya. Sisi lain di dalam hatinya mengkhawatirkan sesuatu. Namun, di satu sisi lagi ia mendo’akan kebaikan bagi gadis yang telah membuatnya jatuh iba itu. Entah kenapa, ia seperti sedang mendo’akan anaknya sendiri.
“Begini, Yuk. Aku dengar-dengar, katonyo Adik ini nak cari gawe, iyo?”Adnan menoleh ke arah Kirana. Mata Elang itu menatap netra indah Kirana yang tersipu malu. Sesaat mereka saling pandang, hingga Ceu Kokom menyikut tangan Kirana sambil berdehem.
“I-iyo, Kak.” Kirana menjalan pelan, nyaris tidak terdengar. Ia menundukkan wajahnya dengan mengulum senyum. Entah mengapa dadanya tiba-tiba dag dig dug tidak karuan setiap bersitatap dengan lelaki ini.
“Nak gawe di mano?”
“Di PJTKI.”
“Oh, Adik nak gawe di luar negeri, yo? Nak kemano? Nak ke Arab, yo?” cecarnya.
Kirana menggeleng, senyum manis menghiasi wajahnya nan anggun.
‘Aih ... manis sekali,’ batin Adnan semakin terpikat. Ia menautkan alis, membuat alis tebalnya yang memang tersambung, tampak seperti sebuah alis yang memanjang dari kiri sampai ke kanan, juga diiringi senyum dari bibirnya yang dihiasi kumis tipis yang indah.
“Apo nak ke Malaysia? Atau ke Hong----“ Adnan merasa gemas ingin menggodanya.
“Bukan,” potong Kirana cepat. “Aku nak begawe di kantornyo.” Akhirnya Kirana mendapatkan keberanian berbicara. Rasa malunya sedikit demi sedikit mencair. Begawe artinya kerja dalam bahasa Palembang.
“Kakak bisa bantu,nggak?” Ceu Kokom menimpali.” Ceu Kokom menyela dengan logat Sundanya yang masih kental.
“Dari mano Adik tahu ado lowongan di situ?”
“Dari kawan aku yang begawe disitu.”
“Siapo namo kawannyo?”
“Trisni, Kak.”
“Namo PTnyo?
“Kirana mengeluarkan secarik kertas dari saku tas travel berwarna merah, lalu menyerahkan pada Adnan, “Ini, Kak.”
“Oh, iyo, iyo. Aku tahu tempatnyo.” Adnan manggut-manggut. “Begini. Karena PJTKI itu banyak bejejer di alamat yang samo dengan PJTKI yang Adik tuju ini. Kebetulan aku ado kenal jugo dengan salah satu stap di PJTKI di daerah situ. Cak mano kalu aku antar?” Adnan menawarkan diri.
“Iya, Kak. Kasihan.” Ceu Kokom menyambut saran Adnan dengan antusias. “Tuh Dik Kirana, ternyata mudah kita teh kalau cerita, mah”
Sementara Leni sibuk berdoa memohon perlindungan bagi Kirana. Wanita yang tidak mengenakan hijab, dan sehari-hari hanya mengenakan T-shirt dan celana pendek itu memiliki hati yang lembut dan penyayang.
Setelah mengemasi barang pribadinya, Kirana menyetujui untuk ikut dengan Adnan.
Tidak lupa cipika-cipiki dengan keduanya. Hanya dengan dua wanita itu. Kirana tidak pamit dengan yang lain, karena semua penghuni bedeng ini telah pergi mengais rezeki sejak pagi-pagi sekali.
Kirana tidak bisa menahan haru kala menerima salam tempel dari Kokom, dan sekantong plastik makanan dari Leni. Ia tidak menyangka di tempat asing ini, ia bertemu dengan orang-orang baik. Ia semakin yakin bahwa ternyata memang selalu ada jalan apabila kita berusaha. Meski untuk mendapat jalan itu ia harus melewati kejadian yang menegangkan. Ternyata memang benar, di setiap musibah pasti ada hikmah di baliknya. Kirana menggigit bibir. Cairan bening merembes di kedua kelopak netra indahnya. Haru.
‘Alhamdulillah ala kullihal ( Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu),’ gumamnya sambil melangkahkan kaki, disaksikan oleh Ceu Kokom yang melambaikan tangan dengan ceria, dan Leni yang terisak menahan sesak di dalam dadanya.

Book Comment (21)

  • avatar
    AmeliaIkhsani

    terbaik

    21d

      0
  • avatar
    HasimHasim

    keren

    03/06/2025

      0
  • avatar
    athirahshafa

    BAGUS KAKK

    27/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters