logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 4. Bertekad Pergi

“Apa itu, Kang?” Terdengar suara dari kamar sebelah
“Kang Nino! Aya naon?” susulnya lagi.
Nino berpura-pura tidak mendengar suara Kang Medi dan Ceu Kokom yang bersahutan mempertanyakan yang terjadi, dibalik dinding triplek penyekat kamar mereka.
Tok ... tok ... tok.
Terdengar suara ketukan di pintu depan.
‘Aduh gawat. Siapa pula itu? Kok ada warga lain juga. Jangan-jangan ... benar aku akan diarak. Tamat sudah riwayatku. Ampun Gusti. Aku tobat. Kesampaian juga enggak niatku itu, tapi akibatnya begini amat. Kasihanlah hamba-Mu ini, ya Allah.’ Monolog Nino. Dalam keadaan terdesak, baru dia ingat pada Allah. Seluruh tubuh Nino bergetar hebat, tetapi tubuh itu tiba-tiba lunglai, kala mendengar teriakan beberapa orang di pintu depan. Degup jantung lelaki itu semakin bertalu-talu. Kalau ada ilmu menghilang, ingin rasanya dia mengedipkan mata lalu menghilang dalam sekejap mata.
“Argh!” pikirannya buntu. Tiba-tiba otaknya seolah-olah tidak berfungsi.
“Nino! Buka!”
Nino menghela napas panjang, dan mengembuskannya sekaligus. Ia terpaksa beranjak untuk membuka pintu, di dalam hatinya ia berharap agar masalahnya segera selesai setelah ia menghadapi mereka.
Perlahan lelaki bertubuh kurus dengan rambut sedikit gondrong itu menarik daun pintu dengan perasaan sangat takut. Takut di dobrak dari luar, dan ia terpental ke belakang, seperti yang dilakukan gadis lugu tadi. Apalagi yang ada di depannya ini laki-laki.
Begitu pintu dibuka, tampak lah dua kepala menyembul. Nino mengenali seorang di antaranya yang merupakan ketua RT di tempat itu, dan satu orang lagi tidak dikenalnya. Seandainya saat ini siang hari, orang-orang yang sedang berdiri di hadapannya itu tentu bisa melihat perubahan wajah Nino yang mendadak jadi pucat paci. Jantungnya seakan berhenti, dan darah di seluruh tubuhnya seakan berhenti mengalir.
“Ado apo, Pak Cek?” Gemetar suara Nino mengucapkan sepenggal kalimat pendek yang begitu berat terlontar dari bibirnya.
“Tadi kami dapat laporan ada suara gedebak-gedebuk di kamar Kau. Ado apa?” Wajah Pak RT bertubuh gempal dengan kulit putih itu celingak-celinguk ke bagian belakang bahu Nino, seperti mencari seseorang.
“Oh, Idak Pak Cek. Cuma masalah keluargo bae.” Tiba-tiba sebuah ide bahwa itu hanya masalah keluarga saja, muncul begitu saja di kepalanya yang sedang terasa pusing. Dalam pikirannya, kalau masalah keluarga biasanya orang jarang yang mau ikut campur lebih dalam. Dengan begitu ia berharap bisa lolos dari kemungkinan di hakimi masa.
“Oh, bebala sama bini?” Pak RT menyimpulkan kalau Nino bertengkar dengan istrinya. “Kapan bini Kau datang?”
“Oh, bukan. Bukan. Ponakan, Pak Cek.”
“Oh, Ponakan? Bukan bini? Ponakan Kau di sini, yo? Ngapo Kau belum laporan, kalau Kau bawa ponakan?
“Belum sempat, Pak Cek. Aku sibuk terus. Nanti lah aku laporan, Pak Cek”
“Okey, segera, yo. Sekalian bawa poto kopi KTP samo Kartu Keluarganyo, yo.” Pak RT mengingatkan sebelum berlalu dan berpamitan dari hadapannya.
“Satu lagi. Jangan bebala malam-malam, yo. Itu mengganggu ketenangan warga.”
“Iyo. Idak lagi, Pak Cek. Janji.”
“Kami balek dulu, yo. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Hhh ... selameeet. Nino mengusap dadanya. Lega. Setelah kejadian yang membuatnya hampir melakukan kesalahan fatal itu, ia merasa perlu menenangkan diri. Ia yakin sudah tidak akan bisa memejamkan mata lagi setelah ini. Satu saset kopi dan sebatang rokok menjadi pilihan untuk menemaninya menunggu pagi.
Sambil mengembuskan asap rokoknya perlahan-lahan, ia merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa melakukan perbuatan yang berisiko menghancurkan masa depan rumah tangga dan juga kehidupan ekonominya.
‘Maafkan Akang, Euis. Akang hampir saja mengkhianatimu.’ Bisiknya lirih.
Setelah Adzan subuh berkumandang, Nino beranjak keluar setelah memastikan belum ada orang lain yang bangun di bedeng itu. Ia ingin menghindari bertemu orang lain hari ini. Akibat dari kejadian tadi, ia merasa malu pada diri sendiri dan pada para tetangga yang telah bertahun-tahun dikenalnya.
Pagi ini ia berencana berangkat berjualan lebih pagi, bahkan kalau bisa sebelum orang-orang di sekitar sini terbangun. Ia ingin segera menyeberang ke ilir agar sedikit dingin pikirannya, sambil memikirkan jalan selanjutnya yang akan ditempuh.
Sambil menenteng seember air, ia berjalan menuju WC umum untuk buang hajat, karena tiba-tiba ia merasakan sakit perut. Mungkin akibat masuk angin sebab malam ini ia sama sekali tidak sempat terlelap walau hanya beberapa detik. Mungkin juga akibat dari tendangan yang dilakukan gadis itu pada aset pribadinya.
Namun, apa boleh buat, setelah menuntaskan hajatnya, ternyata seseorang telah berdiri di dekat bak pemandian.
“Akang! Tadi malam teh ada apa ribut-ribut?” Wanita super kepo itu ternyata sudah bangun. Sepertinya ratu gosip seperti dia memang tidak akan pernah mengenal lelah mencari sumber berita sebelum berhasil mendapatkan bahan gosip paling gres.
“Masalah keluarga, Ceu,” tukasnya singkat. Bak seorang artis yang diburu paparazi, Nino melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa melewati wanita itu. Nino membatalkan niatnya untuk mandi. Baginya, lebih baik menghindari obrolan dengannya, karena wanita itu selalu punya stok pertanyaan yang tidak pernah habis, karena setelah itu, tentu lah tidak akan tinggal diam setelah mendapat berita baru, dan akan kasak-kusuk menceritakannya pada siapa saja.
Tepat di depan pintu, ia berpapasan dengan Kirana yang hendak mengambil air wudlu. Mata mereka berserobok. Mata Kirana masih memancarkan kebencian. Beberapa saat saling pandang, hanya beberapa saat. Akan tetapi, adegan itu sempat tertangkap oleh seseorang di pintu seberang bedeng.
Kirana yang mengenakan basahan (kain sarung yang khusus digunakan untuk menutupi tubuh saat mandi di pemandian umum) merasa jijik untuk sekedar melihat mukanya, kemudian membuang muka ke arah lain, segera melintasinya, menuju pemandian.
“Dik.” Ceu Kokom yang sedang mencuci beras, mencolek bahunya.
“Oi, terkejut aku. Apo Cek?” Kirana menoleh karena terkejut. Sedangkan Ceu Kokom memandanginya dengan saksama.
“Tadi malam itu ada apa? Kok ribut? Rupanya Ceu Kokom penasaran dan tidak mempercayai jawaban Nino yang terasa janggal. Dinding pemisah antara kamar Nino dan Ceu Kokom terlalu tipis, untuk menyembunyikan suara-suara gedebak-gedebuk mencurigakan. Bahkan percakapan mereka pun samar-samar terdengar sebagian. Otaknya menyimpulkan bahwa kejadian tadi malam, bukan lah sesuatu yang biasa.
Kirana memandangi wajah Ceu Kokom yang hanya tersorot lampu redup dari penerangan lampu pijar lima watt. Tidak mudah menemukan jawaban, apakah wanita di hadapannya bertanya karena simpati dan mengkhawatirkannya? atau kah hanya memenuhi keingintahuan saja? Akan tetapi, dirinya yang kini jauh dari orang tua, jauh dari sanak saudara. Ia membutuhkan tempat berkeluh kesah, membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan isi hatinya, atau sekedar tempat menumpahkan tangis. Walau mungkin tidak memberi solusi. Setidaknya meringankan beban yang ada di hatinya.
“Nanti, Cek. Kalu dia dah pergi, aku cerita.”
“Okey. Okey, siap.” Seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru oleh ibunya, wanita berwajah bulat itu berbinar.
Setelah mandi, Kirana mendapati kamar bedeng Nino telah kosong. Setelah melaksanakan salat Subuh, netra indah Kirana tertumbuk pada secarik kertas dan beberapa lembar uang di atas kasur.
“Dik, Mamang minta maaf beribu-ribu maaf atas kesalahan Mamang. Tapi perlu Adik tahu, Mamang menampung Adik murni karena ingin menolong, bukan karena berencana jelek. Kejadian tadi malam itu benar-benar khilap.
Ini ada sedikit uang yang sengaja Mamang sisihkan untuk makan dan ongkos mencari rumah teman Adik.
Sekali lagi, Mamang minta maaf.”
Nino.
Bulir-bulir bening membasahi kelopak mata Kirana, berbagai rasa berkecamuk di dalam dadanya. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya, seakan ingin mengembuskan kesusahan hati yang sedang bersarang di dadanya. Kemudian Kirana bangkit, ia bertekad untuk keluar dari tempat ini. Tas bajunya telah ia siapkan di dekat pintu.
“Dik Kirana!” Terdengar seseorang memanggilnya berbarengan dengan pintu yang terbuka. Kokom dan Leni, dua orang wanita yang baru di kenalnya dua hari ini, dengan wajah cemas, keduanya seakan berlomba, menghambur ke dalam rumah. Entah kenapa, Kirana tiba-tiba merasa ingin menangis. Kirana menghambur ke dalam pelukan Ceu Kokom.
“Menangislah, Dik! Menangislah agar hatimu terasa plong. Setelah itu kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ya.” Ceu Kokom membiarkan Kirana menangis dalam pelukannya, tangannya mendekap erat tubuh Kirana. Sementara Leni membelai lembut kepalanya.

Book Comment (21)

  • avatar
    AmeliaIkhsani

    terbaik

    21d

      0
  • avatar
    HasimHasim

    keren

    03/06/2025

      0
  • avatar
    athirahshafa

    BAGUS KAKK

    27/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters