“Kuras selingkuh dio itu, Yuk.” Lelaki itu berujar. Leni, pemilik warung nasi yang berjualan di ujung bedeng itu memang sependapat dengan lelaki yang tengah menikmati kopi panas di warungnya, pagi itu. Leni juga tidak percaya kalau gadis anggun yang dibawa Nino ke bedeng itu adalah ponakannya, seperti pengakuan Nino. Akan tetapi ia tidak sampai berpikiran sekotor itu. Kalau dikatakan selingkuh, berarti gadis itu gadis nakal? Nurani Leni menolak sangkaan itu. Gadis itu tampaknya masih polos. Ia tidak seperti gadis nakal yang bersembunyi di balik hijab. Mendengar niat lelaki itu, Leni tidak menyetujui, tapi tentu saja hal itu hanya sebatas di dalam hati. Dirinya tidak punya cukup nyali untuk menyanggahnya. Siapa pula yang berani menentang keinginan orang yang tengah duduk di seberang mejanya. Kalau tidak ingin warungnya di obrak-abrik. Leni yang juga punya anak perempuan, bisa membayangkan posisi Kirana saat ini. Ia merasa kasihan dan berniat menceritakannya pada sang suami yang bekerja sebagai tukang servis elektronik rumahan itu, nanti setelah lelaki itu pergi. Namun, apa reaksinya saat dia mengungkapkannya pada sang suami? “Tak usahlah kito ikut campur urusan mereka, Dik. Bisa-bisa kita kena masalah. Urus keluarga kita saja.” Suaminya mengingatkan sembari mengemasi peralatan dan menyudahi pekerjaannya. Pembicaraan istrinya barusan, sedikit mengganggu pikiran dan membuatnya tidak bisa fokus lagi pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian itu. “Tapi, Kak. Aku—“ “Sudahlah! Dak usah dibahas lagi.” Suaminya memotong, ia tidak mau berurusan dengan orang yang kabarnya pernah berurusan dengan polisi. Leni mengembuskan napas panjang mendengar bentakan sang suami. Memang, di balik kerasnya karakter lelaki gagah yang menjadi ayah dari anak-anaknya ini, ia adalah sosok lelaki penuh tanggung jawab pada keluarga. Dalam hal apa pun, keluarga selalu menjadi prioritas utama bagi lelaki keturnan Palembang-Sunda ini. Leni juga paham, kalau sudah membentak, itu artinya ia tidak ingin dibantah lagi. Sementara di warung lain yang tidak jauh dari warung Leni, Nino menyugar rambutnya dengan kasar. Pikirannya kalut. Ia yakin Adnan tentu hanya akan mempermainkan gadis itu, seperti yang lain. Menyesap manisnya, lalu mencampakkannya begitu saja tanpa rasa belas kasihan. Seperti memakai jas plastik murahan, yang dicari saat dibutuhkan, lalu ditinggalkan begitu saja setelah tidak dibutuhkan lagi. “Ah, sial. Kenapa waktu itu aku terpikir menolong dan membawanya pulang ke kontrakan. Kalau aku tahu akan begini jadinya. Lebih baik aku tinggalkan saja gadis itu, dan aku fokus saja berjualan seperti pedagang-pedagang yang lainnya. Malam telah larut, orang-orang di sekitar, satu persatu telah memasuki rumah dan naik ke peraduannya masing-masing, menghilangkan segala penat, kemudian larut dalam buaian mimpi. Kini tinggal lah ia seorang diri yang masih duduk menyesap kopi hitam di warung kopi, memainkan asap rokok yang diembuskan dari mulutnya, meliuk-liuk indah, seperti sebuah gitar. Ah .... Tiba-tiba saja ia teringat pada istrinya yang jauh di kampungnya di Jawa sana. Telah sekian purnama ia menahan desiran-desiran halus yang acap kali hadir menggodanya di kala mengingat desah manja yang menggelorakan. Ia meneguk sisa kopinya, lalu memanggil pemilik warung. Setelah membayar minumannya, ia segera beranjak untuk pulang. Setelah setengah jam berlalu, Nino gelisah di pembaringannya. Jarum jam berdetak terasa sangat lambat bagi dirinya yang sedang berusaha keras mengusir kupu-kupu berwarna-warni indah yang berseliweran di dalam benaknya. Ia berniat keluar lagi mencari warung yang masih buka. Barang kali dengan nongkrong, ia bisa mengalihkan pikirannya. Namun, malam telah semakin larut. Kota ini bukanlah kota dua puluh empat jam seperti Jakarta. Setelah melewati pertengahan malam, hanya segelintir orang yang masih menjalani aktivitas. “Argh!" Nino menggelengkan kepala. Entah kenapa, ucapan Adnan tadi pagi sedikit menggelitik angannya, memancing gairah yang selama ini terjaga. Nino bangkit, melangkah mengendap-endap di depan kamarnya. Mengintip celah di antara pintu dan kusen yang kurang rapat. Sapu lidi yang tergeletak di bawah kakinya, yang biasa digunakan untuk membersihkan kasur usangnya, seakan melambai-lambai mengundang niat isengnya. Satu batang lidi berhasil ia gunakan untuk mencongkel selot pintu yang terbuat dari kayu. Dengan mudah ia memasukkan lidi ke celah itu, lalu dengan satu kali hentakan ke atas, pintu terbuka tanpa menghasilkan suara. Setelah memejamkan mata beberapa saat, ia bisa sedikit melihat yang ditujunya dalam keremangan. Disergapnya tubuh sintal yang selalu tersembunyi di balik baju muslimah yang longgar itu dengan napas memburu. Pemilik tubuh yang wangi itu sedang terlelap dibuai mimpi. Desiran-desiran itu semakin menjadi. Tangannya menggerayangi sesosok tubuh di keremangan. Bisikan syetan telah menguasai seluruh indra, membuatnya terlena ... hingga sebuah tendangan telak, bersarang di selangkangannya. “Augh!” Seketika tubuh Nino terjengkang ke belakang, membentur dinding tripleks yang menjadi pembatas antara kamarnya dan kamar tetangga, di bedeng itu. Nino meringis memegangi miliknya yang terasa sakit. Kepalanya pusing, dan tiba-tiba terasa ingin muntah. Keringat dingin mengucur di dahinya. Netranya nanar menatap ke arah gadis itu dengan tatapan tidak percaya. Di atas kasur, Kirana meraba-raba stop kontak yang terpasang di dekat kepala ranjang, dan ... klik! Kirana memasang kuda-kuda. Netra beningnya nyalang ke arah lelaki yang disangkanya baik, ia tidak menyangka kalau orang yang telah menolongnya, hampir saja merenggut sesuatu yang berharga baginya. “Dak sangko. Mamang nak kurang ajar samo aku, yo? Dasar lanang gilo, Kau!” Kirana mengumpat dalam bahasa daerahnya, ia menyebut Nino lelaki gila, sambil menyepak dan melangkahi tubuh Nino yang menghalangi pintu. Nino yang khawatir terjadi keributan, sambil menahan rasa mual dan pusing yang masih bercokol, Nino berusaha menahan betis Kirana, hingga membuat gadis itu hilang keseimbangan, dan ... Brukkk Tubuh Kurana limbung, lalu jatuh menimpa tubuh Nino. Ibarat kata pepatah, ‘sudah jatuh tertimpa tangga’, Nino merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Dalam kesempitan, Nino masih terpikir untuk mengambil kesempatan. Secepat kilat sebelah tangannya membekap mulut Kirana. “Maafkan Mamang! Maafkan Mamang! Mamang khilap. Tolong jangan keluar! Nanti gempar. Nanti kito bakal malu. Mamang janji dak ngulang lagi. Tolonglah!” Nino berbisik, memohon dengan sangat memelas. Kirana menimbang-nimbang, yang tadinya berniat lari keluar dan berteriak, tercenung sejenak. Ia tidak ingin suasana menjadi gempar. Ia hanya ingin menyelamatkan diri dan keluar dari tempat terkutuk itu, akan tetapi, ini masih terlalu malam. Masih beberapa jam lagi untuk sampai ke waktu pagi. Karena keluar malam juga bukan pilihan yang tepat. ‘Bisa-bisa nanti aku malah menghadapi masalah baru di luar sana,” pikirnya. Nino bernapas lega dan melepaskan bekapan, kala Kirana menganggukkan kepalanya. “Mamang janji dak akan ngulang lagi.” Nino menunduk dan menautkan kedua tangannya di atas hidung, sebagai isyarat permohonan maaf. “Awas, Kau! Kalau berani cak itu lagi.” Kirana mengepalkan tinju di depan wajah Nino. Ia bangkit, lalu secepat kilat menyambar pisau dapur yang terselip di antara sendok dan garpu di atas rak piring, yang terletak di dekat pintu kamar. Melihat gerakan Kirana, Nino yang masih merasakan sakit, bangkit dengan terhuyung-huyung. “Kamu nak apa, Dik?” Bukannya menjawab, Kirana malah mengacungkan pisau ke wajah lelaki yang masih meringis di hadapannya. “Keluar!” perintahnya. Ia lalu mundur dengan menghadap ke tubuh Nino yang mendekat ke arahnya. Setelah Nino berada di luar kamar, Kirana melesat lari ke dalam kamar dengan tetap mengawasi gerakan Nino dengan waspada. Setelah berhasil masuk ke kamar dan langsung menyelotnya, Kirana mengempaskan bibitnya di pembaringan, dengan pisau diletakkan di samping, untuk berjaga-jaga. “Ya Allah. Lindungi hamba ya, Allah. Jangan sampai aku jadi pembunuh. Mak! Bak! Aku dalam bahaya.” Kirana membatin. Ia terisak, menyesali keinginan kerasnya untuk bekerja di kota, karena tergiur mengikuti jejak sahabatnya yang bekerja di sebuah perusahaan yang menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri. Ternyata begini akhirnya. Tujuan belum lagi tercapai, pulang pun tidak bisa. Bahkan untuk sekedar memberi kabar tentang keberadaannya pun ia tidak bisa. Ia berada di tempat asing, dengan orang-orang yang asing pula. Di keramaian kota yang padat, ia merasa sebatang kara di dunia ini. “Maafkan aku, Mak! Bak!” gadis itu membaringkan tubuhnya sambil menangis sesenggukan mengingat kedua orang tuanya. Sementara Nino, setelah kejadian yang membuatnya sport jantung barusan, Ia mulai tersadar kalau tetangga sebelah pasti mendengar keributan yang terjadi. Ia pun memilih berpura-pura tidak mendengar ketika Kang Medi dan Ceu Kokom memanggil-manggilnya dan menanyakan apa yang terjadi, di balik dinding yang memisahkan ruangan keduanya.
terbaik
22d
0keren
03/06/2025
0BAGUS KAKK
27/05/2025
0View All