Terdengar suara seorang perempuan dengan logat Sunda kental di depan teras. “Tadi dia bawa cewek,” timpal suara yang lain. Kirana terbangun oleh suara berisik yang terdengar di luar. Ia mencoba bangkit, lalu beranjak mendekati pintu. Ceklek. Tampaklah olehnya dua orang ibu berusia sekitar lima atau enam tahun di atas usianya, berdiri di jerambah depan pintu. “Kamu teh siapa, Dik?” sapa salah seorang ibu. Netranya mengamati Kirana penuh selidik. Netranya menatap tajam seakan penuh dengan rasa curiga. “A-aku, emm ...” Kirana gelagapan, bingung mau menjawab apa pada kedua wanita yang tampak memiliki tingkat kepo yang tinggi. “Saudaranya Mang Nino, ya?” sela wanita yang di sebelahnya sembari memandang Kirana dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Tapi kamu teh beda sama mang Nino.” Kirana masih mematung di hadapan kedua wanita itu. Rasa penasaran membuatnya ingin mendekati Kirana dan ingin menanyainya sendiri secara langsung. Ia sengaja menyempatkan diri mendatanginya setelah suami dari sahabatnya di kampung itu, pergi berjualan. Sejak awal memang ia menjadikan dirinya menjadi detektif sukarela bagi sahabatnya. “Kata Nino, Itu ponakan dia dari dusun yang mau mencari kerja.” Sebuah suara datang dari arah warung di ujung kontrakan, membuat Kirana menoleh mencari sumber suara. Tampak seorang wanita berambut ikal sebahu menghampiri dan menerangkan tentang dirinya. Sesaat Kirana merasa terselamatkan dari kesulitan menjawab pertanyaan dari para wanita super kepo itu. Namun, Kirana tidak mengerti kenapa wanita itu berkata begitu? “Ya, Allah. Kenapa wanita itu mengatakan kalau aku saudaranya Nino, sedangkan aku dengan wanita itu bahkan belum saling kenal.” batin Kirana heran. "Kenapa harus dengan cara berbohong dan mengarang cerita? Bukankah sebuah kebohongan akan diiringi kebohongan yang lain?" Kirana merasa yakin, Ini pasti ulah Nino. Mungkin Nino bercerita begitu pada wanita itu, sebelum berangkat untuk berjualan, tapi ... Kirana bingung. Apakah Nino melakukan ini untuk melindungi diriku atau melindungi dirinya sendiri dari fitnah? “Ampuni hamba, Ya Allah. Hamba tidak mengetahui apa tujuan mereka, yang penting kalimat itu tidak keluar dari mulut hamba. Ampuni hamba, yang hanya mampu diam dan tidak menyangkalnya. Usai berkenalan dengan para ibu tetangga kontrakan yang rata-rata adalah istri-istri tukang kredit yang mengontrak di tepian Sungai Musi. Mereka juga bercerita, bahwa mereka adalah para istri yang mengikuti suaminya yang mengais rezeki sebagai tukang kredit yang berasal dari beberapa kabupaten di daerah Jawa Barat. “Kami mudik hanya setahun sekali setiap menjelang bulan Ramadlan bisa berkumpul dengan keluarga. Nanti sebulan kemudian kami balik lagi ke Palembang.” Salah seorang dari mereka menuturkan. “Wah? Hebat” Kirana mengacungkan jempol. “Apanya yang hebat? Kami begini karena kebutuhan,” Kekehnya. ** Sekitar jam lima sore Nino pulang. Ditangannya menenteng satu kantung plastik berisi camilan ringan khas Palembang, yaitu kemplang. Kerupuk ikan yang dipanggang di atas bara, lalu dimakan setelah disiram dengan kuah cabai. Menjelang magrib, sekitar rumah kontrakan mulai ramai. Para suami sudah pada pulang disambut para permaisurinya yang telah bersolek dan wangi. Seperti halnya para istri tadi pagi, para suami juga melawati pintu kontrakan Nino dengan tatapan curiga, ada juga tatapan seperti melecehkan. Beberapa orang pria melewati dan menatap Kirana penuh tanya. Kirana merasakan tatapan penuh kecurigaan ditujukan pada dirinya. Nino, lagi-lagi berbohong tentang Kirana. Dan Kirana pun tak melihat ada pilihan, selain terpaksa tersenyum dan diam mendengar kebohongan lelaki yang pernah menolongnya. Nino mengajak Kirana untuk bercengkerama di warung ujung kontrakan. Ia sengaja ingin memperkenalkan Kirana pada beberapa orang yang tengah asyik nongkrong sambil menikmati kopi panas, ditemani pisang goreng khas warkop. Para tetangga yang tengah menikmati minuman panasnya, mengulurkan tangan pada Kirana. Namun Kirana hanya mengangguk menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Adnan, seorang lelaki tampan keturunan Arab memandangi gerak-gerik Kirana dari balik kacamatanya. Kirana menyadari kalau lelaki berwajah tampan itu mencuri-curi pandang kepadanya. Bukan sekali dua kali mata elang Adnan bertemu pandang dengan Kirana, melempar senyum, dan Kirana membalas senyum itu sembari membungkukkan badannya. Ia tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran lelaki tampan yang mencuri-curi pandang itu. Tepat jam 10 malam. Nino mengajak Kirana untuk beristirahat. “Kau tidurlah di kamarku. Biar Mamang di luar. Selot saja pintunya dari dalam.” Nino menawarkan Kamar satu-satunya pada sang tamu. “Ah dak enak lah, masa iya aku menyingkirkan tuan rumah.” Kirana setengah menolak. “Dak apa-apa. Biar lah. Tenang saja," tepis Nino meyakinkan. “Alhamdulillah ya, Allah. Engkau telah mempertemukan aku dengan orang sebaik Mang Nino. Padahal dia sama sekali belum mengenalku.” Kirana bergumam. Ia mengucap syukur di atas sajadah tipis yang selalu dia bawa ke mana pun dirinya pergi, karena di perjalanan ke mana pun gadis itu tidak pernah meninggalkan kewajiban salatnya. Usai mendirikan salat Isya, ia bersiap untuk istirahat. Namun, sebelum beranjak tidur, ia teringat kalau dirinya belum melihat Nino menjalankan salat. “Mamang belum salat?” Kirana memberanikan diri bertanya, atau lebih tepatnya mengingatkan salat. Ia sengaja mengingatkan salat sebagai bentuk perhatian dan rasa terima kasih karena Nino telah berbuat kebaikan padanya. Bukankah kebaikan harus dibalas dengan kebaikan lagi? Irana ingat pesan Ayahnya yang juga seorang ustadz di kampungnya. “Oh, ya. Nanti.” Nino kebingungan menjawabnya. Setelah membaca dua ayat suci, Kirana menutup Al-Qur’an mini yang selalu menjadi isi tasnya. Dilanjutkan membaca Falak-Binnas serta ayat kursi sebagai penjagaan diri di waktu tidur. ** Kumandang Adzan Subuh memecah keheningan di penghujung malam yang masih gelap gulita. Perlahan Kirana membuka mata, lalu menguceknya tiga kali. Ia melawan rasa malas sekaligus memerangi rasa dingin yang menggigit hingga ke tulang. Pagi itu ia mengawali hari dengan mendirikan kewajiban dua rakaatnya. Sementara di dapur yang juga berfungsi sebagai ruang tamu, Nino telah sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk menu sarapan pagi. “Masak apa, Mang?” “Masak nasi goreng, Dik,” jawabnya sembari tersenyum tanpa menoleh pada orang yang bertanya. “Maa syaa Allah, lihai nian Mamang masak,” puji Kirana tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. “ Macam koki yang demo masak di TV.” “Ah, Kau. Berlebihan.” Nino tersipu. Disodorkannya sepiring nasi goreng pada Kirana, dan satu piring lagi dia siapkan untuk dirinya sendiri. “Kalau hanya makanan simpel sepwrti ini sudah biasa, Dik.” “Kenapa tidak beli saja, Mang? Cuma buat sendiri, ‘kan?” “Oi, Mahal, Dik. Boros. Kalau boros-boros nanti Mamang tidak bisa mudik.” Kemudian Nino pun bercerita tentang Anak dan istrinya di kampung nun jauh di Pulau Jawa sana. Setelah membereskan peralatan dapur bekas memasak, Kirana mencoba mencicipi nasi goreng buatan tuan rumahnya. “Alamak! Sedap nian. Macam masakan Umakku.” Kirana berteriak kegirangan. Nino hanya menanggapinya dengan senyum. Pagi itu Nino menuntaskan sarapan pagi bersama Kirana, diselingi canda tawa lepas. Tanpa beban. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah menempelkan telinganya ke dinding, mendengarkan percakapan mereka. Usai sarapan, Nino meraih handuk yang tersangkut di paku di balik pintu kamar. Ia melangkah menuju pemandian umum yang letaknya hanya beberapa meter dari kamarnya. “Mandi di sini harus antre, Dik. Sebab kamar mandi Cuma ada tiga dari tujuh kamar yang ada,” terangnya sembari melangkah terburu-buru menuju kamar mandi yang terbuka pintunya, menandakan tidak ada orang di dalamnya. ** Jam enam pagi, jalanan yang terbuat dari jerambah kayu sudah mulai ramai lalu lalang para warganya yang mengais rezeki. Nino berjalan terburu-buru menuju Benteng Kuto Besak, di mana dia biasa berjualan. “Nino!” Seseorang menghentikan langkahnya di ujung tikungan. Nino membungkuk hormat pada lelaki tampan yang memanggilnya, bahkan terkesan seperti orang yang ketakutan. “Cewek itu bukan adikmu, ‘kan?” to the point. Deg. Jantung Nino seakan terhenti berdetak oleh kalimat pendek itu, walaupun kalimat itu diucapkan pelan saja. Nino memandangi lawan bicaranya dengan mulut terbuka. Tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu. Ia tak menemukan sebuah kata pun untuk menjawab pertanyaan itu. “Dak usah bingung. Tak kau jawab pun aku sudah tahu kalau cewek itu bukan lah ponakanmu.” Lelaki itu mencibir sinis. “Dari mana kakak tahu?” “Dak perlu kau tanya. Kau tahu ‘kan kalau itu hal mudah bagiku?” Lelaki blasteran Arab-Palembang itu menepis angin. “Kak Adnan mau apa? Mau melaporkan aku?” Nino pucat pasi. Terbayang olehnya bila hal itu terjadi. Bagaimana kalau dia digerebek, diarak lalu ... hancur lah rumah tangganya. Hancur lah semuanya. Oh, tidak! Ia tidak mau hal itu terjadi. Lelaki yang dipanggil Adnan itu menepuk bahu Nino. “Ha ha, tenang. Aku tak akan melakukan itu. Tapi—“ “Tapi Apa?” Debaran jantung Nino terasa semakin tidak menentu. “Serahkan cewek itu padaku!” Adnan berbisik di telinga Nino. Bibir Adnan melengkung membentuk senyuman tipis. Entah mengapa. Nino merasa senyum itu seperti sebuah ancaman. “Maaf, Kak. Aku tidak melakukan apa-apa. Sumpah, aku sama sekali tidak menyentuhnya. “Kubilang, serahkan cewek itu padaku!” Sontak Nino terperangah. Walaupun ia baru mengenal gadis itu, tapi tega kah ia menyerahkannya pada lelaki itu?
terbaik
23d
0keren
03/06/2025
0BAGUS KAKK
27/05/2025
0View All