logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bimbing Aku Taubat, Dik.

Bimbing Aku Taubat, Dik.

Ummi Zahra


Bab 1. Di kontrakan Nino

November 2002.
“Ngapo kau tekejot? Kau baru tau, ya?” Seorang ibu muda yang menuntun balita perempuan itu nyelonong masuk ke ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan. Ia bertanya dengan logat Palembangnya yang kental.
Kirana mengikuti dan mengempaskan tubuhnya di sofa berseberangan dengan tamunya. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tidak bertenaga. Lututnya gemetar seakano8 tidak bertulang.
Tampak cairan bening mulai merembes dari kedua sudut netra coklatnya. Sesekali ia mengelapnya dengan sudut jilbab hitam yang menjuntai sampai ke dada.
“Yang benar, Yuk. Kenapa Ummi juga dak ngomong, ya?” Ia mencari kepastian, diantara isak tangisnya. Kirana tidak habis pikir kenapa mertuanya pun seakan mendukung kebohongan Adnan.
Walau baru ketemu, tetapi dirinya merasa yakin dengan penuturan Artika, karena satu tahun menjalani rumah tangga dengan Adnan, sangat sedikit yang ia ketahui tentang suaminya. Karena Adnan tidak mengizinkan Kirana bergaul bebas dengan lingkungan sekitar rumah.
“Yo idak tau lah. Tapi menurut aku, mereka itu tak mau memberi tahu Kau karena takut Adnan meradang. Dulu Aďdnan suka main tangan. Karena itu aku memilih cerai dari dio.”
Wanita itu tiba-tiba menatapnya lurus, “Eh, Samo kau kasar apo idak?”
Antara ingin mengangguk atau menggeleng, Kirana merasa takut untuk menjawab pertanyaan mantan istri suaminya.
Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk menggeleng, walau lemah. Kirana mengambil langkah aman, salah-salah jawab bisa fatal akibatnya. Kemarahan Adnan pastilah akan meledak.
“Baguslah tuh. Kalau dia berubah. Tapi ke anak dio idak ingat-ingat. Kalau idak diminta, idak kirim duit.”
Kirana hanya mengangguk ketika wanita cantik yang cerewet itu berpamitan dan mengatakan kalau dia akan menitipkan putranya di rumah ibu mertua.
Sepeninggal Artika, Kirana termenung, merutuki nasibnya yang dipenuhi derita tak berkesudahan, sejak perkenalan singkatnya dengan Adnan di kontrakan Nino, setahun yang lalu ....
**
Desember 2001
Kirana datang dari sebuah dusun yang penduduknya kebanyakan berasal dari Pulau Jawa, sebagai transmigran, ke kota Palembang dengan menumpang Tongkang, yaitu sejenis kapal kecil yang mengangkut penumpang dan barang. Menyusuri sepanjang Sungai Musi.
Gadis muda berusia awal dua puluhan itu berniat mencari lowongan kerja, dengan bekal alamat seorang sahabat yang pindah mengikuti suaminya di daerah Plaju dan beberapa lembar uang puluhan ribu pemberian ibunya.
Pagi itu, setelah menempuh perjalanan satu malam, tongkang menepi di dermaga tepat jam setengah enam pagi. Ia mengeluarkan uang yang sengaja diselipkan di saku depan celana jeansnya, agar saat membayar pada petugas yang menarik ongkos, tidak perlu mengeluarkan dompet supaya tidak menarik perhatian orang jahat.
Namun, Kirana baru menyadari kebodohannya ketika ia hendak membeli pempek di salah seorang pedagang asongan yang berdatangan masuk ke dalam tongkang.
Tangannya berulang kali merogoh tas travel warna pink miliknya. Dirogohnya lembar demi lembar lipatan bajunya, tetapi yang dicari, tidak ada. Entah ke mana? Sadarlah Kirana bahwa dompetnya telah hilang.
“Nyari apo, Yuk?” Salah seorang pedagang asongan mendekat setelah memperhatikan gerak-gerik Kirana.
“Dompet aku, Mang,” sahut Kirana menahan tangis.
“Hilang?
“Iyo, Mang.”
“Alamak, dak katek duit dak usah beli. Icak-icak bae budak budak ini.” Mamang penjaja makanan khas Palembang itu beranjak pergi mendekati penumpang yang lain sambil mengomel panjang, menuduh Kirana berpura-pura kehilangan uang.
Air mata Kirana menetes. Bukan karena tuduhan si mamang pempek, tetapi dia tidak tahu akan pergi ke mana setelah ini, karena untuk pulang kembali ke rumahnya juga tidak mungkin.
“Tadi waktu sesudah bayar ongkos, dompetnya Adik tarok di mana? Coba ingat-ingat! Mungkin lupa narok.
“Idak, Mang. Dompet kutarok di dalam tas ini, kuselipkan dalam lipatan baju. Yang buat ongkos sengaja kupisah. Kata Umak biar idak menarik perhatian.”

“Wong tuo Adek tu dak salah, Tapi kenapa dompetnya Adek tarok di tas? Nah, waktu Adek salat kan bisa saja ada orang merogoh-rogoh tas adik.”
“Astaghfirullah. Iyo.” Kirana menepuk kening sendiri.
“Terus, sekarang Adik nak ke mano tujuan?”
“Mungkin nak cari Pos Polisi, nak buat laporan kehilangan,” sahutnya lemah. Wajahnya menunduk, dan kembali terisak, bingung.
“Memangnyo berapo duit isinyo? Nino menanyakan jumlah uang yang hilang.
“Banyak, Mang. Tigo ratus ribu.”
“Tapi untuk lapor Polisi, susah, Dik.”
“Susah bagaimana, Mang?” Gadis yang baru pertama kali ke kota itu memandangi Mamang asongan, dalam hatinya menebak-nebak apakah orang ini baik atau berniat jahat padanya.
‘Kenapa dia menghalangiku untuk lapor Polisi? Apa maksudnya? Tapi ... diantara pedagang dan penumpang yang lain, memang dia yang paling perhatian,’ batinnya bermonolog.
“Begini, Dik. Sekarang ‘kan penumpang sudah banyak yang keluar dari tongkang, sudah bercampur juga dengan pedagang-pedagang yang masuk. Bagaimana adik nak mencarinya? Yang ada juga waktumu malah tersita dengan mengurusi laporan ke Polisi. Sedangkan duit Adik belum tentu balik juga”
“Ai dah. Cak mano ni? Aku cuma ada kenalan satu orang. Itu pun aku idak tahu di mano tempatnyo.” Kirana mengeluh karena merasa hampir putus asa. Baru pertama menginjakkan kaki ke kota, harus mengalami hal seperti ini.
Lelaki berlogat Sunda kental yang telah fasih berbahasa Palembang yang mengenalkan dirinya bernama Nino itu berpikir keras. Sebagai seorang pendatang yang mengais rezeki di perantauan, ia memahami betul bagaimana susahnya menjalani hidup jauh dari sanak dan keluarga.
Matanya yang tampak cekung, menatap iba pada gadis itu, ia bermaksud menolong menampungnya di rumah kontrakan, barang sehari atau dua hari, sebelum gadis itu menemukan alamat temannya.
“Adek ikut ke kontrakan Mamang saja, ya.” Ia mencoba menawarkan bantuan.
“Di mano, Mang?” Kirana memandang ragu-ragu.
“Di lorong itu.” Tangan Nino menunjuk ke arah daratan yang berseberangan dengan tempat dirinya mereka sekarang berpijak.
“Tunggu di sini! Mamang nak menitipkan dulu dagangan ini di warung Cek Ning,” katanya sembari menunjuk kotak terbuat dari kayu yang berisi aneka minuman ringan, lalu ia berjalan menembus kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Kemudian memasuki salah satu warung yang berderet di bawah Jembatan Ampera.
Kirana tidak berkedip memandangi punggungnya menghilang di balik pintu salah satu warung yang berjajar di tepi Sungai Musi itu. Tidak lama kemudian, ia keluar dari warung itu, berjalan mendekat menghampiri. Kirana.
“Ayo!” Ia melambai, memberi isyarat agar Kirana mengikutinya
Seperti kerbau yang dicucuk hidung, Kirana membuntuti Nino yang berjalan ke satu tempat asing yang berkelak-kelok di antara kios-kios. Sesekali mereka harus meloncat menghindari lantai pasar yang becek.
Kirana pun terpaksa harus menutup hidung, karena bau amis menguar dari ikan-ikan segar hasil tangkapan para nelayan. Di kiri kanan tampak beberapa orang nelayan dan tengkulak yang sedang tawar menawar.
“Nyeberang?” Seseorang menunjuk pada mereka berdua.
“Iyo.” Nino menimpali.
Nino mengulurkan tangan. membantu Kirana naik ke perahu kecil bermesin. Penduduk setempat biasa menyebutnya Ketek. Entah kenapa diberi nama ketek. Bisa jadi karena suaranya yang memang berbunyi, ”ketek ... ketek ... ketek ... ketek.”
Setelah sampai di Seberang Ulu, Kirana kembali membuntuti Nino, tetapi kali ini yang mereka lewati bukan lah kios-kios seperti tadi, tetapi rumah-rumah kayu. Beberapa orang yang berpapasan, memandang mereka seakan memendam tanya. Kirana dihinggapi rasa risi oleh tatapan mereka.
Setelah melewati beberapa tikungan jerambah, yaitu jalan yang terbuat dari kayu yang lebarnya sekitar satu meter, Nino memasuki sebuah bangunan kayu bertingkat.
“Ini kontrakan Mamang. Masuklah!”
“Terima kasih banyak, Mang.”
Kirana mengedarkan pandangan. Tampak beberapa pasang mata dari ibu-ibu melirik ke arahnya. Kirana segera masuk, menghindari ke tidak-nyaman yang tiba-tiba menyelinap di hatinya.
“Kau istirahat lah, ya. Mamang nak Jualan lagi. Kalu nak makan, makanlah. Itu ado pindang patin di panci, ya. Jangan sungkan-sungkan. Anggap rumah sendiri.” Nino memberi pengarahan pada Kirana seperti kepada orang yang telah lama dikenalnya. Nino juga menyerahkan kunci kontrakan pada Kirana.
Sepeninggal Nino, Karena yang kurang tidur selama dalam perjalanan menggunakan tongkang Kirana terlelap di lantai papan yang dilapisi karpet plastik.
“Aya siapa ini teh, kok ada sendal perempuan di kamar kontrakan Kang Nino?” Suara seorang perempuan di depan pintu. Kirana menautkan kedua alis matanya.
Nah, lho. Ketahuan bagaimana selanjutnya?

Book Comment (21)

  • avatar
    AmeliaIkhsani

    terbaik

    27d

      0
  • avatar
    HasimHasim

    keren

    03/06/2025

      0
  • avatar
    athirahshafa

    BAGUS KAKK

    27/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters