"A girl with a headscarf covering her head, was seen in the vicinity of the bombing site, she seemed to be hiding behind a tree, observing the riots that occurred there." Pagi hari yang terlalu extrim bagi Alisya. Setelah kemarin malam berusaha mengenyahkan bayang-bayang kejadian tentang pengeboman. Hari ini, dengan mengejutkan ia malah disajikan berita besar. Sial. Di televisi digital berukuran 32 inch-yang terpajang di dinding kamar asrama-gambar dirinya terpampang sangat jelas dan nyata. Seorang penyiar berita menjelaskan jika gambar itu tak sengaja terambil oleh salah seorang wartawan yang sedang berada di tempat kejadian saat itu. Awalnya, memang tidak ada yang menyadari kehadiran Alisya. Namun, setelah diteliti lebih mendalam, mereka menemukan kejanggalan, berupa sosok gadis berkerudung yang berdiri di bawah pohon besar, sedang memperhatikan tempat kejadian. Penyiar itu juga mengatakan dan mengambil sebuah kesimpulan, bahwa bisa jadi gadis yang berada di foto itu memiliki sangkut paut dengan kejadian pengeboman sebuah gereja di dekat Harvard Market. Sebagai penutupan, penyiar itu memberi informasi, jika polisi akan segera bertindak dan mengusut tuntas, sekaligus mencari kebenaran terkait identitas gadis yang berada di dalam foto. Alisya bergetar mendengar hal tersebut. Tubuhnya panas dingin. Air mata sudah mengalir, membasahi pipi putih yang kian memucat. Giginya saling bergemelatuk, menahan rasa takut. "Ya Allah, apa lagi ini?" Ia kalut. Terlalu mengejutkan. Di luar akal sehat. Siapa yang menyangka, aksi untuk hanya melihat kondisi gereja yang dibom, mendatangkan malapetaka besar baginya? Alisya hanya penasaran. Penasaran dengan kondisi gereja yang dibom oleh orang biadab itu. Akan tetapi, kenapa? Kenapa pada akhirnya ia yang dijadikan sebagai tersangka utama, hanya karena kehadiran dirinya di sana? Terkekeh. Dunia terlalu kejam. Manusia hanya bisa menghakimi sesuai apa yang mereka lihat pertama kali. Hanya satu orang yang bersalah. Namun, satu umat yang dicurigai dan dijadikan objek terbesar untuk diwaspadai. Hanya karena apa? Karena si pelaku sebelumnya itu yang membawa identitas satu umat. Mau tidak mau, orang yang tidak bersalah juga akan terseret. Pintu kamar asramanya dikunci. Jendela-jendala pun tidak dibiarkan tebuka, meski sekadar dijadikan ventilasi. Gordennya ikut ditarik, menutup jalan masuknya cahaya matahari. Alisya kali ini bertekad untuk menutup dirinya dari publik sampai kondisi kembali tenang. Terlalu extrim, jika ia memaksakan diri untuk keluar. Biarkan saja, untuk beberapa saat gadis itu harus bersabar jika tidak mau mengalami masalah yang lebih besar. Syukurlah, studinya di Universitas Harvard belum dimulai. Ada sekitar dua minggu sebelum benar-benar dimulai. Alisya harap, waktu itu sudah cukup untuk bisa menenangkan masalah ini. Meski persentase kemungkinannya hanya sebesar 10%. Ia sadar, setelah kejadian ini, kehidupannya di Amerika Serikat tidak akan semudah kehidupan di Indonesia. Gadis dengan kerudung blousenya itu terduduk di atas lantai pualam. Matanya menelisik ke seluruh penjuru ruangan berukuran 4x4 meter. Kamarnya memang berubah menjadi lebih luas dan mewah. Namun, kehidupannya malah berbanding terbalik. Semakin rumit. "Bunda, sepertinya Alisya bikin salah sama bunda, ya. Kenapa hidup Alisya jadi sesulit ini?" Ia kembali teringat dengan masalahnya dengan sang bunda. Itu cukup membuat dirinya merasa semakin rapuh. Pandangan mata gadis itu jatuh ke arah ponsel jadul miliknya yang tergeletak di atas lantai pualam-tepat di sampingnya. Beberapa waktu lalu, ia memainkan ponsel itu, sekadar mengisi waktu luang dengan bermain game. Jari-jemarinya menggapai sang ponsel. Teringat sesuatu. Ponsel jadul keluaran 2012-tepat sembilan tahun yang lalu-yang merupakan pemberian sekaligus warisan terakhir dari sang ayah. Menyimpan berbagai kenangan yang sulit dilupakan. Termasuk salah satunya adalah janji Alisya untuk selalu istiqamah memakai kerudung dan patuh terhadap segala perintah Allah. Kenangan itu berupa video. Kenangan pertama kali saat gadis itu memantapkan diri untuk mengenakan kerudung. Jarinya memijat salah satu icon ber-title galeri. Membuka kembali video yang kini gambaran di dalamnya sudah sedikit rumek. Apa yang pertama kali dilihatnya? Sebuah senyum lebar seorang gadis berusia delapan tahun, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Gadis kecil itu tengah dipakaikan sebuah kain untuk menutupi kepalanya oleh sang bunda. Senyumnya terlampau lebar. Begitu pula dengan senyum sang bunda. "Hei, Alisya. Wah, anak ayah cantik sekali mengenakan kerudung." Suara berat itu milik ayahnya yang tengah merekam. Alisya menghapus jejak air mata di pipinya. Tanpa ia sadari, air mata itu mengalir begitu saja. "Ayah," cicitnya memanggil sang ayah. Hanya mendengar suara berat itu. Sebuah rindu yang membumbung semakin tumbuh subur. "Bunda, kata ayah, Alisya cantik pakai kerudung. Kalo kata bunda gimana?" Gadis itu bertanya dengan polos pada sang bunda yang tengah merapihkan kerudungnya. "Hm ...." Wanita berusia 30 tahun itu berdeham, mencari jawaban yang tepat. "Janji sesuatu dulu sama bunda. Nanti bunda jawab." Ia tersenyum, mencolek hidung mungil anaknya. "Janji apa?" "Janji kalo kamu bakal istiqomah untuk memakai kerudung, janji juga kalo kamu bakal patuh sama semua perintah Allah." Sang ayah menimpali. Gadis kecil itu mendongak, menatap ayahnya dengan kening berkerut. "Alisya janji," balasnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah kamera, tepatnya ke arah sang ayah. "Janjinya ayah pegang." Kedua jari kelingking yang berbeda ukuran itu saling bertautan. Pertanda janji yang saling terikat. "Alisya, dengar kata-kata bunda, jangan pernah lepas kerudung kamu selain di rumah, meski kamu dipaksa sekalipun, jangan pernah. Anggap saja, jika kerudung kamu adalah harga diri kamu sebagai islam, apa yang tidak boleh kamu lepas sampai kamu mati." Sang bunda merangkul bahu anaknya. Mengusap puncak kepalanya dengan sayang. "Jika ada seseorang yang memaksa, maka kamu harus melawan. Bela agamamu, bela kehormatanmu sebagai islam. Jangan diam saja, ya, Alisya. Meskipun kamu seorang perempuan, tapi kamu juga berhak untuk melawan siapa saja yang mengusik agamamu. Ayah tahu, kamu adalah gadis yang kedepannya mampu mengangkat derajat islam di mata dunia." Ayahnya menambahkan. Beberapa detik, video itu selesai. Menampilkan wajah tersenyum ia dan bundanya di layar. Alisya ikut tersenyum melihat scene terakhir. Mengusap air mata yang ternyata sudah membanjiri pipinya. "Terima kasih, Bun, Yah," lirihnya. Alisya menyimpan kembali ponsel jadul itu di atas lantai pualam. Ia terisak kuat, menenggelamkan kepalanya di atas lipatan tangan. Rapuh. Sungguh rapuh. Bagaimana mungkin masalah seberat ini langsung menyapanya saat pertama kali ia menginjakkan kaki di atas tanah negara Amerika Serikat. Seketika. Detik itu juga. Serentetan kata yang diucapkan ayah dan bundanya memang cukup membuat ia sedikit lebih tenang. Namun, hal itu tetap tak bisa menutupi perasaan rapuh dan sakit yang tengah dirasanya. Jujur, ia butuh bahu untuk bersandar, ia butuh dada untuk menumpahkan segala air mata, dan ia butuh punggung untuk dapat melindungi serta membantunya. Lantas, bagaimana mungkin semua itu akan didapatnya, jika saja ia hanya berada sendirian di negera asing ini. Berikutnya, apakah akan ada uluran tangan yang mampu membantunya melewati segala skenario buruk ini?
sangat asyik
13/11
0bagus
10/06/2025
0sangat suka
25/04/2025
0View All