logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Kacang Panjang

Pagi Harinya ...
"Ehh Lih! Nih bambu kuning sama daon kelornya jangan lupa di bawa," kata Emak sambil memberikan pesanan gua yang semalam.
Gua sempat terheran kenapa emak gua selalu bisa nyiapin barang yang selalu gua pinta secara dadakan.
Sesampainya gua di kelas banyak murid-murid yang sudah membawa daun kelor dan bambu kuning yang panjangnya bervariasi.
Mulai dari yang besar seukuran paha gua, adapula yang kecil seperti lidih, bahkan ada juga bocah yang membawa bambu biasa tetapi di cat warna kuning yang gua yakini itu bambu di cat sama bapaknya.
"Pagi anak-anak!" salam bu Yati yang baru masuk kelas.
"Pagi Bu!"
"Kalian sudah bawa yang ibu pinta kemarin, kan?" tanya bu Yati.
"Bawa ibu guru..." sorai kami.
"Ya sudah, kalau kalian sudah bawa ayo sekarang ikuti ibu, kita ke belakang sekolah." kami pun mengikuti bu Yati ke belakang sekolah sambil membawa bambu kuning dan daun kelor kami.
Belakang sekolah gua itu kebun banyak tanaman singkong dan kacang panjang yang tertanam di sana.
Sesampainya di belakang sekolah, kami sudah di sambut oleh pak Leman penjaga sekolah gua.
"Baik anak-anak, kasih bambu kuning kalian ke Pak Leman ya," perintah bu Yati.
Kami pun memberikan bambu kuning kami ke pak Leman, lalu pak Leman langsung membelah bambu-bambu itu menggunakan goloknya.
"Jadi anak-anak sekarang kita bakal belajar cara menanam kacang panjang. Di sini pak Leman akan mencontohkannya nanti baru kalian belajar menanamnya ya. Jadi perhatikan pak Leman ya," ucap bu Yati menjelaskan apa yang akan kami pelajari hari ini.
"Nah, ini bibit kacang panjangnya di masukkan ke dalam lubang tanah, jangan lupa masukan juga daun kelor kalian ke dalam tanah gunanya daun kelor itu sebagai pupuk alami. Setelah memasukan bibit sama daun kelornya, kalian kubur kembali bibit beserta daun kelornya," Bu Yati menjelaskan dengan pak Leman yang memperagakan ucapan bu Yati.
"Lalu jika bibitnya sudah di kubur, kalian tancapkan dua bambu kuning kalian yang sudah di belah ini, ke sekitar tempat bibit kacang yang kalian tanami tadi. Lalu ikat kedua ujung bambu nya biar menyatu. Ini di namakan ajir, gunanya ketika tanaman kacang kalian sudah tumbuh bisa langsung merambat ke ajir ini," lanjut bu Yati.
"Sekarang kalian coba tanam bibit kacang nya seperti yang di contohkan sama Pak Leman barusan," sambung bu Yati, sambil memberikan kami 2 butir bibit kacang panjang.
Kami pun langsung mencobanya di gundukan tanah yang sepertinya sudah di siapkan oleh pak Leman untuk pelajaran ini.
"Buset! ini mah gawean bapak gua kalau lagi di bulakan(kebun)," kata Jayadi, yang bapaknya seorang petani membuat Jayadi cukup mahir soal tanam-menanam.
"Enak elu! kalau laper tinggal metik doang," balas gua sambil terus mengubur bibit kacang panjang.
Ketika gua sedang mencoba menancapkan bambu, tiba-tiba bambu yang gua tancapkan itu terjatuh tepat mengenai jidat Ita yang sedang menanam di samping gua.
"Ehh! Ta maaf, elu engga apa-apa kan?" tanya gua, sambil menyentuh jidatnya yang kejatuhan bambu gua.
"Ahh ...iya engga apa-apa Jun," jawab Ita dengan muka memerahnya saat jidatnya gua sentuh.
"Cie-cie yang lagi pacaran," sorak para murid lain yang melihat gua dan Ita.
Sorakan itu membuat wajah Ita menambah memerah tapi entah mengapa gua juga merasa malu karena sorakan itu.
"Hus! masih kecil jangan main pacar-pacaran," ujar bu Yati menghentikan sorakan murid lain.
"Cie ...ayo dong ngadu bibir Jun," kata Jayadi yang telat sadar dengan kejadian yang gua alami.
"Ini lagi Jayadi! masih piyik sudah tahu-tahuan ngadu bibir!" sosor bu Yati sambil menjewer pelan kuping Jayadi.
Kami pun selesai dengan pelajaran menanam itu dan kembali masuk kelas untuk pelajaran selanjutnya.
Ketika di kelas gua masih kepikiran tentang sorakan murid lain ke gua dan Ita, karena sorakan itu sekarang gua jadi sering melirik ke arah Ita dan ternyata Ita juga suka melirik gua dari mejanya seketika itu juga gua langsung salah tingkah di buatnya.
Tet, tet...
Suara bel istirahat pun berbunyi, mengakhiri tekanan yang di berikan oleh tatapan Ita ke gua.
Gua langsung bergegas keluar kelas dan pergih untuk membeli jajanan di luar gerbang sekolah, seperti biasa gua pasti membeli chicken bakekok kesukaan gua, "Mpok Yul! biasa dua."
"Oh iye tong," jawab mpok Yuli.
Wajah mpok Yuli mengingatkan gua kembali dengan mimpi aneh gua yang semalam. Lalu muncul tonjolan panjang tepat di tengah seleting celana gua.
Agar mpok Yuli tidak melihat tonjolan yang ada di tengah-tengah celana gua ini, gua langsung memempetkan badan gua ke meja dagangan mpok Yuli.
"Nih tong sudah jadi. Ehh buset! mepet amat si lu tong, munduran apa dirinya nanti dagangan gua pada jatuh lagi," kata mpok Yuli dengan muka kagetnya.
"Oh iya Mpok, maaf" balas gua seraya memundurkan badan gua dari meja dagangan mpok Yuli.
"Lah, sekarang ngapain dah lu ngangkang begitu ngambil caos doangan juga?" mpok Yuli kembali keheranan melihat gua mengambil caus dengan melebarkan kedua kaki gua.
Gua melakukan ini supaya tonjolan di celana gua tidak kelihatan oleh mpok Yuli.
"Pegel mpok kaki saya," kilah gua.
Gua langsung bergegas pergih dari tempat mpok Yuli menuju kelas gua, dengan berjalan mengangkang supaya orang lain tidak melihat tonjolan yang ada di tengah-tengah celana gua.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Baik anak-anak jangan lupa like komennya ya,"
ujar bu Yati kepada para pembaca Pubertas.

Book Comment (95)

  • avatar
    SujanaAgus

    bagus

    14/04

      0
  • avatar
    Hari Purwoto

    seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma

    18/08

      0
  • avatar
    Pentingg happyyLoss

    bagus

    17/07/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters