logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 3 Mimpi Bakekok

Di sekolah gua ini tidak ada kantin jadi biasanya murid-murid di sini akan membeli makanan di tukang jajanan yang berjualan di depan gerbang sekolah.
Ketika istirahat gua pasti membeli makanan kesukaan gua yaitu chicken bakekok, makanan yang kebanyakan terigunya daripada daging ayamnya.
"Mpok Yul! Bakekoknya dua," ucap gua memesan.
"Iye tong tunggu ye, mau gua goreng dulu," balas mpok Yuli.
Yang gua tahu tentang mpok Yuli dia adalah janda muda tanpa anak, dia juga suka di godain sama bapak-bapak yang menjemput anaknya pulang sekolah.
Di saat gua menunggu mpok Yuli menggoreng chicken bakekok gua, mata gua bukan tertuju ke tangannya yang sedang menggoreng chicken bakekok gua, tetapi mata gua tertuju ke sesuatu yang menonjol dari dalam baju ketat yang di kenakan mpok Yuli yang bergerak kebawah keatas mengikuti irama gerakan tangan mpok Yuli yang sedang menggoreng.
Gua terus memperhatikan sesuatu yang menonjol di tubuh mpok Yuli, hingga gua membandingkan ukurannya dengan ukuran punya emak gua.
Tonjolan mpok Yuli jauh lebih besar daripada tonjolan milik emak gua, itu membuat gua keheranan mengapa cewek memiliki tonjolan di tubuhnya yang ukurannya pada berbeda semua.
Sedang asyik gua melihat sesuatu yang menonjol dari tubuh mpok Yuli tiba-tiba mpok Yuli menoleh ke arah gua.
"Ehh tong mata elu jelalatan banget, bintitan lu nanti. Nih bakekok lu udah jadi!" kata mpok Yuli yang tampak tahu gua memperhatikan tonjolan milik dia sedari tadi.
"Bintitan apaan mpok?" tanya gua, sambil mencausi bakekok gua.
"Di dalem mata elu nanti ada batunya, makannya jangan melongo liatin dada gua mulu ye tong," jawab mpok Yuli.
Gua baru tahu ternyata kalau gua melihat terus tonjolan cewek bisa membuat mata gua ada batunya.
Selesai mencausi bakekok gua, lantas gua langsung pergih dari tempat mpok Yuli menuju ke kelas untuk menyantap chicken bakekok gua di sana.
"Elu beli gituan mulu Jun," tanya Jayadi yang melihat gua tengah asyik makan.
"Orang enak."
"Ehh, si bo'ol ayam nanyain hapusannya noh."
Gua langsung teringat kalau gua belum membalikan hapusannya Ita yang gua pinjam tadi. Sontak gua langsung berdiri dan berjalan ke mejanya Ita dengan meneteng chicken bakekok gua.
Gua yang sedang berada di belakang Ita melihat dia sedang menulis Ita♡Enjun di buku tulisnya.
Gua yang penasaran pun langung menepuk pundaknya lalu bertanya kepadanya, "Kok, ada nama gua si Ta di situ?"
"Ehh ...kaga kok Jun, aku cuma iseng doang," jawab Ita sambil bergegas menutup bukunya.
"Oh alah ...Yaudah nih hapusan elu, makasih ya Ta."
"Iya Jun sama-sama."
Jam istirahat pun selasai bu Yati kembali masuk ke dalam kelas untuk mengajar kelas gua sampai jam pulang sekolah.
Di detik-detik terakhir jam sekolah ingin usai bu Yati kembali memberikan tugas lagi ke kami, "Oh iya anak-anak, besok jangan lupa bawa bambu kuning sama daun kelor ya."
Sekolah hari ini sudah usai lalu gua pulang berjalan kaki bersama Jayadi karena bapak gua tidak menjemput gua kalau pulang sekolah.
"Bused! daon kelor sama bambu kuning buat apaan ya Jun? " tanya Jayadi, sambil memainkan batang kayu yang baru dia temui di jalan.
"Buat nangkal kolor ijo kalih Jay." Jayadi hanya tertawa mendengar jawaban gua.
"Eh Jay tadi gua lihat Ita nulis nama gua sama nama dia, tetapi ada gambar bulet melengkung di tengah-tengah nama gua sama dia. Elu tahu enggak itu apaan, Jay?" tanya gua.
"Ohh itu mah, gambar lope namanya Jun," jawab Jayadi.
"Lope? ...maksud elu apaan Jay?" tanya kembali gua.
"Artinya ...si bo'ol ayam mau ngadu bibir sama elu," jawab Jayadi sambil tertawa.
Gua hanya bisa membayangkan jika bibir gua beradu dengan bibir Ita akan seperti apa.
"Aduhh sakit," kata gua yang tersandung batu menghentikan khayalan gua.
"Hahaha rasain elu Jun! lagian lagi jalan bengong terus."
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya gua sampai juga di rumah, "Assalamualaikum Enjun pulang."
Ketika gua masuk ke dalam rumah gua melihat emak gua sedang menyetrika baju hanya dengan mengenakan dasternya yang tipis membuat tonjolan emak gua sedikit kelihatan.
Lalu gua teringat kembali dengan ucapan mpok Yuli lantas gua berjalan melewati emak gua dengan menutup mata.
"Lahh ilah! nih bocah bukannya salim malah merem ngeliat gua!" ujar emak yang keheranan melihat tingkah gua.
Gua langsung bergegas berganti pakaian dan masuk ke dalam kamar untuk bermain ultramen-ultramenan.
Malam harinya gua selalu menonton acara tv bersama orang tua gua.
"Tidur sana elu Jun! udah malem," pinta emak.
"Iya Mak."
Lalu gua pergih menuju kamar gua tapi saat sudah berada di dalam kamar, gua kembali teringat dengan tugas dari bu Yati, lantas gua kembali lagi menemui emak.
"Emak! besok di suru bu guru buat bawa bambu kuning sama daon kelor."
"Ahh ...elu mah Jun! kebiasaan banget udah malem baru bebilang," balas Emak yang tampak sedikit kesal. "Yaudah lu tidur sono, biar gua cariin nanti," sambung Emak.
Malam ini gua tidur dan bermimpi telanjang tanpa busana di atas genting rumah gua, dengan mpok Yuli yang sedang menggoreng bakekoknya di samping gua .
"Jun bangun! mau sekolah engga elu?" teriakan emak membangunkan gua.
Ketika gua terbangun gua merasa celana dalam yang gua kenakan terasa seperti basah, gua yang berpikiran kalau gua ini sedang mengompol pun langsung mengadu ke emak, "Emak Enjun ngompol."
"Ya ilah lu Jun! udah gede juga masih aja ngompol. Udah sana elu mandi, telat aja elu nanti sekolanya," perintah emak.
Jangan lupa like komennye ye mpok/Abang. Biar kite juga semangat up to datenye 🤭

Book Comment (95)

  • avatar
    SujanaAgus

    bagus

    14/04

      0
  • avatar
    Hari Purwoto

    seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma

    18/08

      0
  • avatar
    Pentingg happyyLoss

    bagus

    17/07/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters