Gua hanya bisa terbaring tak berdaya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit ini, terlihat juga anak-cucu gua yang bersedih meratapi kondisi gua saat ini. Tapi entah mengapa, ketika melihat mereka bersedih karena mengkhawatirkan keadaan gua ini, membuat diri gua merasa bahagia dibuatnya. Gua tidak pernah menyangka di detik-detik terakhir kehidupan gua ini, gua dapat di kelilingi oleh orang-orang yang gua cintai. Gua kembali teringat ke masa-masa dahulu, masa dimana gua belum mengerti apa yang namanya cinta hingga akhirnya gua mengerti apa itu yang namanya cinta. Semua bermula saat masa pubertas gua di mulai, ketika itu gua masih berumur 11 tahun, kala itu gua masih menjadi bocah yang pendiam yang jarang keluar rumah untuk bermain dengan anak-anak sebaya gua. Gua lebih memilih berdiam diri di rumah untuk bermain sendirian di dalam kamar. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Ciat Watesuw tinong tinong." Gua yang sedang bermain ultramen-ultramenan yang gua beli kemarin saat pulang sekolah "Apaan yang watesuw-watesuwan, Jun?" tanya Bapak gua, yang melihat gua lagi asyik main ultramen-ultramenan. Gua yang mendengar suara Bapak lantas menghentikan permainan gua. "Keluar sana elu main! teman-teman elu noh lagi pada main bola di lapangan," sambung Bapak. "Males ah!" Gua yang enggan untuk ke luar rumah, karena menurut gua bermain dengan imajinasi gua lebih menyenangkan ketimbang bermain dengan anak-anak sebaya gua. "Lu ye, libur sekolah bukannya main di luar malah ngedekem terus di rumah! engga gerah emang elu, di rumah mulu?" satu tarikan nafas seribu kata, itu sudah pasti cerocosan Emak gua yang ikut serta mendesak gua untuk keluar dari singgasana gua. Gua yang melihat emak sedang memegang tongkat sakti Sun Wokongnya yaitu sapu ijuk lantas gua langsung bergegas pergi, karena gua tidak ingin merasakan panasnya pukulan dari tongkat saktinya itu yang acap kali emak gua gunakan untuk memukul gua agar gua menuruti perintahnya. Dengan ogah-ogahan gua pergi ke lapangan bola yang tidak jauh dari rumah gua. "Oi, Jun! pas banget elu dateng, kurang kiper ini kita," kata Jayadi, bocah yang badannya segede babon. "Paling males gua main bola sama elu! pasti gua mulu yang jadi kiper," keluh gua, karena setiap kali gua bermain bola bersama Jayadi, pasti gua yang di suruh untuk menjadi kiper, padahal di sini badan gua yang paling begeng di antara mereka semua. "Ya elah Jun, elu aja nedang bola masih cong-cong. Udah lah, elu itu bagusan jadi kiper emangnya, tenang aja gua pelan-pelan kok nendangnya," rayu Jayadi, sambil mengarahkan gua ke gawang yang terbuat dari sandal yang diberi jarak 5 langkah ke sandal satunya lagi. "Janji lu ye pelan-pelan," balas gua, yang percaya kata-kata Jayadi. Di sini gua melawan 6 orang yang di bagi 2 tim masing-masing 1 tim terdiri dari 3 orang, tim yang mengolkan gawang gua paling banyak dia yang menang. Sementara gua yang menjadi kiper mereka, gua tidak menang dan gua juga tidak kalah. Gua hanya mendapatkan tangan yang pada memerah karena tendangan keras mereka. "Jay! elu bilang katanya pelan nendangnya, ini mah gua cuma jadi bahan gebokan elu doang," keluh gua. "Engga sengaja Jun suer deh," kata Jayadi dengan tangan pissnya. "Udah lanjut lagi yuk! sekarang mah pelan-pelan kok gua nendangnya," sambung Jayadi. Permainan pun berlanjut dengan tendangan keras yang masih mengarah ke gua, omongan Jayadi emang tidak bisa di percaya. "Gol ..." teriak Riswan, yang menggolkan gawang gua dengan menyongkel bola ke atas kepala gua. "Wahh out itu, Enjun engga nyampe bola atas mah," kata Jayadi. "Udah ah gua mau pulang laper!" ucap gua beralasan agar bisa pulang ke rumah. "Ahh, ga seru lu Jun," balas Jayadi dengan nada sedikit kecewa. "Bodo!" kata gua. Gua langsung bergegas pulang dengan tangan memerah karena menahan tendangan keras Jayadi dan kawan-kawannya. Sesampainya gua di rumah, gua mendengar suara seperti tepuk tangan di balik pintu rumah gua yang terkunci. "Kok di konci? Emak ...Pak, Emaaaaak ..." Teriakan gua itu membuat suara tepuk tangan yang ada di balik pintu terhenti. Gua yang terus saja berteriak memanggil emak, bapak gua, hingga akhirnya bapak gua menjawab panggilan gua itu, "Iya sebentar!" Entah mengapa bapak membukakan gua pintu cukup lama, padahal gua mendengar suara dia tepat berada di belakang pintu. "Bused! cepet amat si elu Lih mainnya," kata bapak. Gua sempat tertegun melihat bapak yang hanya mengenakan sarung, di tambah tubuhnya yang di penuhi keringat padahal cuaca hari ini sangat sejuk. "Udah pada balik," kilah gua. Saat masuk ke dalam rumah, gua melihat bantal-bantal kecil yang ada di sofa ruang tamu pada berjatuhan, gua sempat berpikir pasti emak bapak gua habis berantem. Karena setiap kali emak, bapak gua berantem, pasti mereka berdua saling bermain lempar tangkap benda-benda yang ada di sekitar mereka. "Emak mana Pak?" tanya gua, ke bapak gua yang sedang mengipas-ngipas badannya yang berkeringat menggunakan buku yang ada di atas meja. "Ada noh! di kamar mandi," jawab Bapak. Setelah tahu keberadaan emak gua yang masih baik-baik saja, gua langsung bergegas masuk ke dalam kamar gua untuk melanjutkan bermain Ultramen-ultramenan kembali. Sedang asyik gua bermain ultramen-ultramenan, tiba-tiba ada yang meneriaki nama gua dari luar rumah, "Assalamualaikum, Enjun." Lantas gua bergegas keluar rumah untuk menemui orang itu, ternyata orang yang memanggil gua itu adalah Jayadi. "Kenapa Jay?" tanya gua. "Ini duit elu tadi jatoh pas main bola," jawab Jayadi, sambil memberikan uang receh gua yang sempat terjatuh. "Iya Jay, makasih ya." "Iya Jun, sama-sama. Oh iya, besok gua bareng ya ke sekolahnya," pinta Jayadi. "Samper aja Jay." Meski Jayadi tampak sering menjahili gua, tapi sebenarnya dia satu-satunya orang yang berteman dekat dengan gua, tak jarang juga dia main kerumah gua untuk bermain ultramen-ultramenan bersama bahkan di sekolah pun dia teman sebangku gua. Pagi Harinya... "Jun, bangun! Mau sekolah kaga elu?" alarm dari cocotan emak membangunkan gua yang terlelap. Dengan mata yang masih mengantuk, gua langsung beranjak dari tempat tidur untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Ketika sedang asyik gua menyantap sarapan, Jayadi sudah datang menyamper gua, "Assalamualaikum, Enjun." "Jun! Jayadi udah nyamper noh, cepetan sarapannya!" pinta Bapak. Gua dan Jayadi pun berangkat ke sekolah dengan gonceng tiga menggunakan motor Supra Fit kesayangan bapak gua.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (95)
SujanaAgus
bagus
14/04
0
Hari Purwoto
seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma
bagus
14/04
0seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma
18/08
0bagus
17/07/2025
0View All