logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Aku Ingin Bertahan Mas

Aku Ingin Bertahan Mas

Erie Sawn


Chapter 1 Akad Nikah kedua

Ibuku manusia tangguh. Bukan berarti tidak pernah rapuh atau terjatuh. Tapi dia begitu kukuh saat bangkit dari jatuh.
Bertahan dan terus berjuang. Hanya untuk aku, anak yang terbuang.
Ibu seakan menutup mata dengan kelakuan ayah. Ibu tak pernah minta cerai. Buat apa? Bukankah semuanya sudah terjadi. Jika ada yang salah toh bisa dimaafkan, bisa diperbaiki.
Begitulah alasan yang kudengar tatkala aku bertanya mengapa ibu masih bertahan dengan ketidaksetiaan ayah dengan janji pernikahannya dulu.
“Mungkin sudah taqdir Ibu, hanya bisa melahirkanmu. Sedangkan ayahmu menginginkan seorang anak laki-laki yang bisa meneruskan nasabnya. Dia butuh anak laki-laki untuk membantunya bertanam padi. Dia butuh tenaga laki-laki untuk menggantikannya kelak saat dirinya tua. Tidak mampu lagi mencangkul di sawah. ” Kata ibu dengan meneteskan air matanya
“Apakah ibu menerima kutukan sehingga tidak bisa hamil lagi?” Tanyaku parau. Aku menangisi dengan keputusan ibu bertahan dan diduakan oleh ayah.
“Ibu mengidap penyakit aneh. Suhu badan ibu tidak semakin hangat saat pembuahan. Itulah mengapa setiap janin akan layu. Kecuali kamu, anakku.” Kata ibu sambil memelukku erat
*******
Flash Back
POV Retno
“Mas, perutku nyeri. Rasanya begah. Nanti anter aku ke puskesmas ya?” Aku berkata lembut sambil mengelus perutku yang terasa sakit. Aku ingin memeriksakan diri ke bidan dulu. Barangkali aku hanya masuk angin saja. Meskipun aku tahu sudah telat datang bulan.
Mas Galih seakan tak mendengar permintaanku. Dia masih terus bercermin mematut diri. Dengan setelan jas baru warna abu-abu silvernya, dia makin tampan. Dipadukan dengan dasi kupu-kupu, menjadikan seperti seorang pangeran yang tampan dari negeri dongeng.
“Mas!” teriakku menjauhkan dirinya dari cermin besar berbentuk persegi di kamar.
“Maaf, Ret. Aku harus pergi. Tinggal satu jam harus sampai ke rumah Selly. Dari tadi mas sudah di-miscall terus. Ke puskesmasnya naik taksi aja ya? Ni ongkosnya. Sekalian nanti kamu beli makan untuk seminggu. Mungkin selama seminggu aku tidak pulang.” Jawabannya membuat hatiku sedih. Seakan dia sudah tidak peduli lagi denganku.
“Loh, bukannya tiga hari yang lalu baru acara lamaran?” Tanyaku dengan nada tinggi.
“Ibu minta akadnya diajukan hari ini.” jawabnya ketus.
“Kenapa aku nggak diberitahu?”
“Ngapain diberitahu?” Mata Mas Galih melotot padaku.
“Aku istri pertamamu! Aku juga berhak melihatmu mengucapkan akad yang sama saat Mas Galih menikahiku.”
Lelaki tegap itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga tak berjarak. Lalu ujung telunjuknya memencet hidungku.
Telunjuknya terus menuruni hidungku hingga ke dagu. Diangkatnya daguku. Tengadah aku memandang tubuhnya yang tinggi.
“Ret, dengarkan Mas! Ini kulakukan demi ibu, bukan buat Selly atau yang lain.” Ucapnya. Tangannya memegang kedua lenganku dengan keras.
“Tapi itu menyakitiku Mas!” Jawabku tak mau kalah.
“Aku lebih takut menyakiti ibu daripada menyakitimu.” Suara Mas Galih lebih tinggi lagi.
“Aku bisa terima itu Mas. Tapi, tolong Mas! Tahan dulu pernikahan ini, akan kubuktikan bahwa aku juga bisa hamil anakmu!”
“Sudah terlambat Ret. Andai kamu bisa hamil sebulan yang lalu, mungkin pernikahan ini tak akan pernah ada."
“Mas, momongan itu adalah pemberian dari Allah. Kita nggak mungkin maksa atau ngancam harus punya anak begitu saja.”
“Sudahlah, Ret. Kamu harus rela menerima ini semua. Suka atau Tidak suka, kecuali ...”
“Kecuali apa Mas?”
“Kamu minta cerai sekarang.” Kata Mas Galih sambil mengacungkan telunjuknya ke mukaku.
“Tidak, Mas! Jangan harap itu akan terjadi. Sampai mati pun aku akan mempertahankan pernikahan kita.”
“Kalo gitu ya udah. Nggak usah halangi aku nikah hari ini.”
“Aku hanya mengingatkan janji kita dulu.”
“Janji? Janji apa?”
“Janji bahwa tidak akan ada pernikahan kedua bila aku bisa memberimu keturunan.”
“Terus, mana buktinya kalo kamu bisa hamil?”
“Aku udah telat bulan, Mas.”
“Dah terlambat. Ibu nggak mungkin membatalkan pernikahan ini. Lagian, Itu bukan jaminan dirimu bisa positif hamil. Bukankah datang bulanmu sering tidak teratur?”
“Tapi kali ini beda Mas, aku juga merasa masuk angin dan terasa hangat badanku. Makanya nan-”
“Cukup, Ret! Aku nggak pernah melanggar janji kita. Hingga kini kamu belum bisa buktikan kalo kamu bisa hamil. Sudah tiga tahun lebih aku dan ibu menunggu. Itu sudah cukup. Jadi kamu nggak bisa begitu saja membatalkan pernikahan ini.”
“Baik, aku ngaku kalah, Mas. Tapi bagaimana seandainya aku bisa hamil?”
“Ok! Buktikan saja, Ret! Jika memang kamu bisa hamil, mas sendiri yang akan menceraikan Selly."
“Akan kupegang janjimu, Mas!”

Aku hanya bisa melepas Galih dengan mata berlinang. Di saat harapan memiliki anak semakin nyata, aku harus berbagi suami dengan perempuan pilihan ibu mertua.
Hari ini adalah hari pernikahan kedua Galih Sanjaya dengan Selly Juwita. Pernikahan kedua yang dari dulu ibu mertua harapkan karena aku kukuh tidak mau bercerai dengan Mas Galih.
Aku juga sadar diri aku ini siapa. Aku hanyalah mantan sekretaris Mas Galih. Teman kecilnya saat SD sebelum dirinya pindah ke kota besar.
Sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukanku dengan Mas Galih. Aku melamar kerja di perusahaan milik Mas Galih. Setahun kemudian, Mas Galih melamarku untuk menjadikan istrinya.
Aku tahu sejak pertama berkunjung ke rumahnya, ibu mertua tidak begitu menyukaiku. Itu terlihat dari cara menyambutku dan berbicara padaku.
Ibu mertua memandang sebelah mata karena aku hanyalah gadis dari kampung. Meski aku sarjana, namun keluargaku bukanlah dari golongan orang mampu.
Hubunganku dengan Mas Galih sempat putus nyambung. Dia begitu gigih ingin menjadikanku istrinya. Aku pun luluh dengan kegigihannya. Aku pun menerima kembali cintanya dengan satu syarat.
"Mas, aku akan menikah denganmu asal ibumu memberikan restunya untuk pernikahan kita. " Kataku tegas kepada Mas Galih.
"Baiklah Ret. Aku akan meminta restu ibuku. Beri waktu aku sebulan untuk mendapatkannya. " Mas Galih berjanji padaku. Dia kecup keningku dan memelukku erat.
Air mataku pun berlinang dengan kesungguhan Mas Galih ingin menikah denganku. Aku berdoa agar usahanya berhasil.
Satu bulan kemudian, dengan berbagai cara Mas Galih berusaha meyakinkan ibunya, akhirnya restu itu datang juga. Mas Galih menikahiku dengan satu syarat, aku harus secepatnya memberikan keturunan kepadanya. Jika tidak, Mas Galih khawatir ibunya akan semakin sulit menerimaku sebagai menantunya. Ibunya sudah ingin sekali menimang-nimang cucu. Sejak kematian suaminya sepuluh tahun yang lalu.
Pagi ini, sesuatu yang aku takutkan akan segera terjadi. Mas Galih akan melangsungkan akad nikahnya dengan Selly, anak pengusaha terkenal di kota ini.
Aku tidak diundang meski istri pertama dari Mas Galih. Mungkin ibu mertua malu di depan para koleganya yang berasal dari kalangan atas, sedangkan aku hanyalah anak seorang tukang jahit di pasar tradisional.

Book Comment (55)

  • avatar
    Sharga Sahla

    mantap

    01/05

      0
  • avatar
    KasaYulius

    mantap

    24/06/2025

      0
  • avatar
    DiinMawar

    aku sangat senang

    24/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters