logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 PINDAH RUMAH

Dua hari kemudian, Ryanti dan Nugi mulai menempati perumahan. Ada dua tukang bangunan yang menginap di sana karena belum selesai merenovasi halaman depan juga halaman belakang selama seminggu ini.
Halaman belakang masih belum dipasang lantai kayu, sedang halaman depan tinggal memasangkan teralis saja. Sugeng dan Budi, mereka adalah pekerjanya. Mereka tetangga Naro.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga enggak ada yang menggangguku," gumam Ryanti kala masuk rumah.
Sementara di belakang, Nugi, Naro, dan Ahmad sibuk menurunkan barang-barang dari mobil pickup dibantu oleh sang supir.
"Ti, sapunya kemarin di mana, ya?" tanya Wati usai meletakkan gerabah di dapur, "Ini lantainya kotor banget."
"Sebentar aku ambil." Ryanti gegas menuju ruang kamar belakang untuk mengambil sapu. Kemarin usai bersih-bersih ia letakkan sapu di sana.
"Ini, Bu." Ryanti menyodorkan sapu usai mengambilnya.
Ryanti kembali keluar untuk m mengambil barang-barang kembali, sedangkan Wati sibuk menyapu lantai dapur.
Saat menyapu, berkali-kali Wati bergidik. Sepertinya ada yang sedang mengawasi dari arah tangga belakang punggungnya. Namun, Wati sengaja tak menoleh ke arah sana dan berusaha tak mempedulikannya.
Di luar, Mak Oji justru hanya duduk di teras depan sambil melihat para lelaki sedang menurunkan barang-barang. Sesekali ia mengisap rokok racikannya.
Iya, meski usianya sudah senja, tetapi Mak Oji belum bisa lepas dari rokok. Itu ia lakukan semenjak masih muda. Katanya, lebih baik tak makan daripada tak merokok. Begitulah. Naro saja sampai kalah dengan sang istri.
Tepat pukul sepuluh, barang-barang sudah selesai dipindahkan dari mobil. Kini mereka beristirahat di teras depan. Ryanti dan Wati sibuk membuatkan minuman. Sementara Mak Oji menata jajanan.
***
Bakda asar, Wati dan Akhmad berpamitan pulang. Sementara Mak Oji dan Naro pulangnya menunggu jemputan Toto dan Sisu.
Tak berapa lama setelah orang tua Ryanti pulang, Sugeng dan Budi pun tiba.
"Bud! Sugeng! Woi!" teriak Naro seraya bertepuk tangan satu kali, lalu melambaikan tangan ke arah Sugeng dan Budi.
Mereka membalas lambaian tangan Naro. Sekitar dua puluh meter jarak mereka hingga tiba ke halaman rumah Nugi.
"Sekarang buat santai dulu, Pak. Kerjanya mulai besok saja," tukas Nugi seraya bersalaman setibanya mereka di halaman.
"Oke, deh," jawab Sugeng.
"Duduk dulu sini," ajak Naro.
"Iya, Pak," jawab Sugeng dan Budi bersamaan.
"Nginep, Pak?" tanya Budi usai duduk.
"Enggak, nunggu jemputan, he-he-he."
"Ooh."
Ryanti di dalam masih sibuk sendiri membereskan ini itu. Mak Oji sama sekali tak membantunya, tetapi tak masalah bagi Ryanti. Itu karena ia lebih suka mengerjakan apa-apa sendiri karena akan sesuai dengan keinginannya.
"Belum selesai, Ti?" tanya Mak Oji.
Ia berdiri di ambang pintu dapur, masih dengan rokok yang ada di ujung jari. Entah itu rokok yang keberapa.
"Belum, Mak. Lama ini, soalnya nanti juga masih mau di geser-geser lagi kalau mulai menggarap lantai atas, Mak. Pastinya akan banyak kotoran lagi," jawab Ryanti.
"Iya juga, ya."
"Mak nginep, kan?" Ryanti menoleh ke arah Mak Oji.
"Enggak, lah. Kalau nginep, siapa yang ngurusi kebun."
Mak Oji dan Naro memang tiap harinya pergi ke kebun. Banyak tanaman yang mereka tanam di sana. Mayoritas yang mereka tanam adalah buah.
Ada salak, kuweni, duku, rambutan, durian, kelapa, sirsak. Bisa dikatakan jika mereka adalah petani buah. Dari hasil bertani tersebut, mereka bisa menyekolahkan dua anak lelakinya hingga tamat sarjana.
Nugi, ia adalah sarjana S1 ekonomi, selain kemampuannya dibidang program software juga. Sama halnya Toto, ia pun S1 sarjana Ekonomi. Namun, mereka lebih memilih membuka usaha sendiri daripada bekerja pada orang lain. Tentunya berbekal modal dari orang tua yang tak sedikit.
"Oh iya, ding," ucap Ryanti
Tak berapa lama, terdengar deru mesin motor yang berhenti di depan rumah.
"Itu mungkin Toto sama Sisu," kata Mak Oji, lalu gegas menuju halaman depan.
Benar saja, Toto dan Sisu sudah tiba. Ryanti pun ikut menghampiri ke depan. Toto dan Sisu sedang bersalaman dengan Naro dan Nugi.
"To! Sudah sampai," sapa Ryanti, lalu bersalaman.
"Sudah, Mbak. Gimana rumahnya, Mbak. He-he-he," ucap Toto.
"Kayak yang kamu lihat, To. Paling pojok, bawah beringin, sebelah makam. Limited edition, To," tukas Ryanti sembari melirik ke arah Nugi.
Nugi pura-pura tak mendengar, ia palingkan pandangan ke arah lain.
"He-he-he," ujar Toto.
Mereka kemudian duduk di halaman sembari bercengkerama. Sementara Ryanti merapikan kamar sebelah yang nantinya untuk menginap Sugeng dan Budi. Kebetulan tadi siang semua dipan sudah dipasang oleh Ahmad dan Nugi.
Setelah rapi, tak lupa ia menyemprotkan pewangi ruangan. Sesaat Ryanti menghirup udara yang kini telah berubah jadi segar. Puas dengan penataannya, Ryanti kembali ke kamarnya untuk menata pakaian yang masih ada di dalam dus.
Sembari menata pakaian, pikiran Ryanti kembali berkelana. Ia memikirkan bagaimana jika nanti Nugi keluar kota untuk beberapa hari. Apa ia harus tetap tinggal di sini? Atau pulang ke orang tua selama Nugi tak di rumah?
Benar-benar kesal memikirkan hal ini, hingga ia melempar pakaian yang ada di genggamannya. Ryanti hempaskan tubuh ke kasur. Ia telentang menatap langit-langit.
Impiannya memiliki rumah sendiri akhirnya tercapai, tetapi kenapa harus di lokasi yang seperti ini? Allah, Ryanti mengusap wajah kasar. Kemudian duduk sejenak di tepi kasur. Ia kembali melamun, memikirkan yang bukan-bukan.
"Ti! Emak pulang dulu," kata Mak Oji mengagetkan lamunannya.
"Oh, eh, pulang, Mak?" Ryanti tergagap, lalu beranjak menghampiri Mak Oji.
"Iya, sudah jam lima ini. Nanti kemalaman sampai rumah." Mak Oji berjalan menuju luar diikuti Ryanti di belakangnya.
"Pulang sekarang, Pak?" tanya Ryanti basa-basi
"Iya, Ti. Kapan-kapan kalau pas sela aku ke sini lagi sama Emak." Ryanti bersalaman dengan Naro, lalu mencium punggung tangannya.
Kemudian berganti Toto dan Sisu bersalaman.
"Ada yang ketinggalan enggak, Mak?" tanya Nugi.
"Halah, ketinggalan bekasnya, he-he-he," tukas Mak Oji,
Semua yang mendengar pun terkekeh karena candaan dari Mak Oji. Selalu saja begitu. Bicara asal nyeletuk saja hingga membuat yang mendengar tertawa.
"Yuk! Sugeng, Budi, aku pulang dulu, ya. Santai saja di sini, anggap saja rumah sendiri. Butuh apa-apa tinggal ngomong saja sama Nugi apa Ryanti," pesan Mak Oji sembari mengenakan helm.
"Iya, Mak. Tenang saja," sahut Budi.
Toto dan Sisu menghidupkan motor masing-masing. Mak Oji lantas membonceng Toto, sedangkan Naro membonceng Sisu.
"Assalamualaikum," ucap Toto dan Sisu bersamaan sembari melajukan motor.
"Wa'alaikumsalam."
Nugi dan Ryanti kembali ke teras.
"Pak Sugeng, itu jajannya sama dimakan. Pak Budi. Silakan. Dibikin santai saja," kata Ryanti seraya masuk ke rumah.
"Iya, Mbak," jawab mereka bersamaan.
Nugi dan kedua pekerja lantas mengobrol. Ryanti melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.

Book Comment (69)

  • avatar
    Alfryan Rifai

    bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik

    12/08/2022

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget kak

    09/04

      0
  • avatar
    2Anesabela

    kereeen

    20/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters