Usai acara pengajian, Nugi dan keluarga tak lantas pulang, tetapi melihat-lihat sekitar perumahan karena memang baru kali ini mereka datang ke sini. "Oooh ... jadi ini yang paling pojok ya, Nug?" tanya Wati saat melihat-lihat sebelah rumah bersama dengan Ahmad dan kedua besannya. "Iya, Bu." Nugi hanya garuk-garuk kepala saja. Sementara sang mertua dan kedua orang tuanya masih sibuk menyisir seluruh lingkungan sekitar rumah Nugi. Riyanti yang sedang duduk di teras masih tampak kesal dan malas untuk ikut mereka melihat sebelah rumah. Dadanya masih bergemuruh menahan amarah yang ingin segera meluapkan jika nanti tiba di rumah. Ryanti benar-benar kesal dengan Nugi. "Belakang rumah kamu apa masih ada rumah lagi, Nug?" tanya Naro. "Enggak, Pak. Itu tanah kosong belakangnya." Naro tak membalas jawaban Nugi, ia justru menatap pohon beringin yang sangat rimbun di belakang rumah sang anak. Ahmad yang mendengar obrolan mereka hanya senyum-senyum saja. Ia hanya membatin, kenapa Nugi malah membeli rumah di area seperti ini. Ia tak bisa membayangkan jika Ryanti harus ketakutan setiap hari. Ia paham betul dengan putrinya yang satu ini. Sangat berbeda dengan adiknya yang pemberani. Riyanti sangatlah penakut sedari kecil. Bahkan hingga ia besar pun rasa jiwa penakutnya tak pernah hilang sama sekali. Ahmad hanya bisa berharap, semoga Ryanti akan baik-baik saja selama tinggal di rumah ini. "Ya sudah, kita pulang saja, yuk. Sudah selesai, kok," ajak Wati kepada lainnya. "Lagian nanti di rumah juga mau ada acara. Bapak mau ngisi pengajian di acara khitanan anak tetangga bakda asar. Takutnya malah nanti kesorean sampai rumah, jadi enggak ada persiapan. " "Iya, Bu, enggak apa-apa. Kita pulang sekarang saja, lagi pula pengajian sudah selesai dan rumah sudah diberesin," sahut Nugi. Tak berapa lama mereka pun pulang meninggalkan perumahan. "Ibu mau ke rumah dulu kan?" tanya Ryanti. "Enggaklah, Yan. Ibu cuma nganter kamu saja sampai rumah. Habis itu Ibu langsung pulang. Kasihan bapakmu kalau enggak ada persiapan buat ngisi pengajian nanti. Lagian bapakmu juga belum dapat materi yang nanti akan disampaikan," ujar Wati. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah kontrakan Nugi. Wati dan Ahmad berpamitan untuk segera melanjutkan perjalanan pulang. Sementara Mak Oji dan Naro bermalam di rumah Nugi untuk semalam, karena Nugi belum sempat Untuk mengantarkan pulang. Rencananya Nugi nanti akan menelepon kedua adiknya untuk segera menjemput orang tuanya besok. "Mas, itu kenapa kok bagian depan jadi kayak gitu? Kan, sudah kubilang yang depan itu dibikin ruang tamu! Kok, malah jadi kayak gitu, sih? Pantesan selama renovasi aku enggak pernah boleh ikut. Ternyata itu alasannya." Ryanti bersungut-sungut saat hendak beranjak tidur. Nugi pun lantas duduk di tepi kasur setelah menutup pintu kamar, "Biar adem, Dik." "Adem apanya, Mas? Itu depan rumah ada pohon bambu segitu banyak, aku tuh lihatnya saja sudah serem, Mas! Pikirku kalau halaman depan dibikin ruang tamu, kan, jadi ketutup, enggak bisa lihat ke pohon bambu itu. Tapi malah Mas sengaja dibikin ruang terbuka. Iya sih, aku percaya karena yang cari uang tuh Mas, jadi semua suka-suka Mas. Memang aku ini apa? Pantas saja pas aku minta dibikin ruang tamu, jawabannya 'gampang'." Ryanti terus menggerutu, matanya sedikit berkaca-kaca karena ia merasakan kekesalan terhadap sikap Nugi. Bukannya rumah itu akan ditinggali bersama? Tidak hanya Nugi sendiri? Namun, kenapa semua keinginan Nugi yang dituruti? Sementara keinginan Ryanti yang hanya menginginkan halaman depan dijadikan ruang tamu saja tidak digubris sama sekali. Ryanti merasa menjadi istri yang tak berguna. "Sudah ... enggak usah mikirin pohon bambu terus kenapa, sih, Dik? Nanti gampang nyuruh tukang buat tebang semua pohon bambu. Gampang, kan?" Nugi lantas beringsut naik ke kasur, kemudian menarik selimut. Ia mulai merebahkan badan di sebelah Ryanti. Saking kesalnya dengan jawaban Nugi, Ryanti sampai enggan membalas obrolan. Ia langsung beringsut memunggungi Nugi. Rasanya percuma juga bicara panjang lebar. Toh semua yang diinginkan Ryanti tak 'kan pernah diwujudkan oleh sang suami. Mentang-mentang cari duit sendiri, lalu mengabaikan perasaan istri. Air mata Ryanti sudah tak bisa lagi dibendung, ia pun tumpah, meleleh, hingga menggenang di bantal. Berkali-kali Ryanti tak habis pikir, kenapa suami pilihannya seperti ini sikapnya. Dari awal sudah membuat ia kecewa. Rumah yang dibeli ternyata tepat di bawah makam dan paling pojok. Itu pun Riyanti sudah berusaha menerima kenyataan karena nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Mau berbuat apa pun percuma karena sudah dibayar. Akan tetapi, kenapa keinginannya untuk menjadikan halaman depan menjadi ruang tamu saja tidak diwujudkan oleh Nugi? Dada Ryanti semakin sakit memikirkannya. Keesokannya, Ryanti masih enggan bertegur sapa dengan Nugi. Rasa kesal belum juga hilang sejak kemarin. Bahkan saat sarapan pun ia sengaja tak menawari Nugi untuk sarapan. Hanya Mak oci dan Naro saja yang diajak. Tepat pukul delapan, Toto dan Seno tiba di rumah untuk menjemput Mak Oji dan Naro. Mereka hanya duduk sebentar sekitar lima belas menit saja karena diburu oleh pekerjaan. Mereka pun segera meluncur setelah semua barang dikemas dan ditata rapi di motor masing-masing. Setelah mereka berempat pergi meninggalkan rumah kontrakan, Ryanti sibuk membereskan meja yang ada di ruang tengah. Bibirnya masih terlihat monyong saat membawa perkakas menuju wastafel. Ryanti mencucinya tanpa banyak bicara. Nugi yang melihat Ryanti masih saja cemberut semenjak kemarin tiba di perumahan, ia pun berinisiatif untuk meminta maaf. Nugi mendekati Ryanti yang sedang mencuci di wastafel. Kedua tangannya serta merta melingkar ke pinggang Ryanti, bibirnya mulai menjamah leher jenjang sang istri. Ryanti masih saja terdiam meski Nugi terus melancarkan aksinya. Mengetahui jika sang istri tak memberinya respon, kemudian Nugi mendorongkan pantatnya hingga Ryanti terpepet dengan dinding meja wastafel. Kali ini Nugi tak hanya mencium leher Ryanti, tetapi tangannya mulai meremas-remas bagian kenyal milik Ryanti. Tak ayal seketika Ryanti pun luluh seperti biasanya. Dasar Ryanti! Selalu saja luluh dengan cumbuan Nugi. Tak butuh waktu lama, Ryanti pun akhirnya hanyut dalam buaian sang suami. "Mas minta maaf, ya," bisik Nugi tepat di telinga Ryanti dengan tangan masih terus bergerilya. Ryanti tak menjawab, ia hanya mengangguk saja sembari terus menikmati tangan kekar yang terus meremas bagian kenyalnya hingga ia tak bisa menyelesaikan mencuci perkakas kotor. Bahkan, kini aksinya berpindah ke tempat lain karena Nugi menarik lengan dianti untuk untuk mengikutinya menuju kamar. Akhirnya amarah Ryanti luluh seiring dengan bulir keringat yang menyembul dari badan masing-masing. Nugi merasa lega, akhirnya Ryanti pun memaafkannya juga. Ia lantas mengecup lembut kening Ryanti penuh kemenangan.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (69)
Alfryan Rifai
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
12/08/2022
0bagus banget kak
09/04
0kereeen
20/06/2025
0View All