logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 MENAHAN EMOSI

Menyapu ruang yang nantinya akan digunakan untuk kamar bagian depan telah selesai. Kini giliran ruang untuk kamar yang belakang.
Saat membuka pintu, Ryanti merasakan udara yang sangat lembab. Selain itu, pencahayaan juga minum karena rimbunnya beringin makam menutupi sebagian halaman belakang.
Ryanti lantas masuk sembari bibir terus melafalkan doa. Baru saja masuk dua langkah, pintu kamar tertutup sendiri. Sontak saja Ryanti terkejut. Lantas pintu dibuka kembali.
Rupanya memang pintunya yang tak bisa terbuka lebar, butuh pengganjal untuk menahan bagian bawah pintu.
Ryanti keluar menuju halaman belakang untuk mencari sesuatu. Dapat, sebongkah batu yang tergeletak berhasil dipungut yang kemudian diletakkan Ryanti di bagian bawah pintu.
"Napa, sih, Dik?" tanya Nugi saat mengetahui Ryanti mengganjal pintu.
"Ini pintunya enggak mau ketutup, Mas. Engselnya mungkin, ya?" Ryanti kemudian menyapu lantai ruang tersebut.
Nugi memastikan ucapan Ryanti. Ia mengambil batu pengganjal tadi.
"Oh, iya. Ini bukan engselnya, Dik. Lantainya yang enggak rata," kata Nugi seraya membuka tutup pintu berulang-ulang.
Ryanti tak menyahut, hanya menoleh sekilas saja.
"Beresin halaman belakang dulu sana, Mas!" titah Ryanti.
"Sebentar. Mau lihat Pak To dulu di depan."
Nugi pun lantas meninggalkan Ryanti. Sepersekian detik setelah Nugi keluar, tiba-tiba saja bulu kuduk Ryanti meremang. Spontan ia menoleh ke arah belakang, lebih tepatnya jendela ruangan.
Sepertinya Ryanti merasakan ada yang sedang mengawasi aktifitasnya. Ryanti lalu percepat menyapu. Sesekali ia melirik ke arah jendela. Siapa tahu memang ada yang sedang berdiri di sana.
"Mas!"
Ryanti memanggil Nugi usai menyapu ruang tadi. Sengaja ia memanggil Nugi agar ada yang menemani di dalam rumah.
"Oi," sahut Nugi dari halaman depan.
Nugi kemudian menghampiri Ryanti. "Apa, Dik?"
"Apa! Apa! Lanjutin yang belakang!" tukas Ryanti kesal karena Nugi justru enak-enakan di depan.
Sementara Pak To di depan sudah hampir selesai membersihkan semua rumput liar. Pekerjaan Pak To memang sudah tak diragukan lagi. Sangat gesit dan rapi hasil kerjanya.
Bakda asar, pekerjaan pun selesai. Kaca jendela dan lantai rumah yang tadinya kusam berubah kinclong. Semua halaman sudah bersih. Tak ada lagi rumput liar, juga bebatuan yang berserakan. Bahkan, sebelah rumah pun tak luput dari jamahan Pak To. Nugi dan Ryanti sangat puas dengan hasil kerja Pak To.
Setelah memberikan ongkos kerja kepada Pak To, Nugi dan Ryanti bergegas pulang.
"Mas. Besok yang halaman belakang dijadikan dapur saja, ya," pinta Ryanti saat perjalanan pulang.
"Iya," jawab Nugi singkat.
"Yang halaman depan karena tanahnya lumayan lebar dijadikan ruang tamu saja gimana?" pinta Ryanti kembali.
"Gampang." Lagi-lagi Nugi menjawab hanya satu kata saja.
"Irit banget jawabnya." Ryanti mendengkus.
Keesokannya Nugi memberitahu orang tuanya untuk mencarikan tukang bangunan yang rapi kerjaannya.
Hari itu juga orang tua Nugi langsung mendapatkan tukang bangunan. Nugi meminta agar pekerjaan dimulai besok hari.
Benar saja, dalam waktu lima hari saja pekerjaan sudah hampir selesai meski dikerjakan oleh 2 orang saja. Benar-benar pekerja trengginas.
Halaman belakang sudah ditutup dengan dinding setinggi enam meter karena akan dibuat dua lantai. Nantinya lantai bawah akan digunakan untuk dapur, kemudian lantai atas digunakan untuk tempat jemuran.
Akan tetapi, pembuatan lantai atas tidak menggunakan cor semen, melainkan menggunakan lantai kayu saja. Biar hangat, pikir Nugi.
Sementara halaman depan dibuat teras biasa oleh Nugi. Padahal keinginan Ryanti agar halaman depan dibuat menjadi ruang tamu. Bisa gawat ini!
Selama sepuluh hari itu Riyanti tak pernah ikut serta sang suami pergi melihat perumahan yang sedang digarap oleh para tukang.
"Nanti kotor baju kamu, Dik. Lagian di sana enggak ada perempuan." Begitu kata Nugi.
Aslinya bukan karena itu, tetapi karena Nugi ingin halaman depan dijadikan ruang tamu saja. Menurut Nugi, jika halaman depan dijadikan tuang tamu, maka ruang tengah akan sangat gelap. Itu karena tak ada jendela di bagian ruang tengah nantinya.
Hari kesebelas, Nugi dan Ryanti memutuskan untuk mengadakan pengajian di perumahan baru. Namun, mereka belum ingin menempati, rencananya sehari atau dua hari setelah pengajian baru akan menempati rumah tersebut.
Hari untuk diadakan pengajian pun tiba. Orang tua Ryanti juga orang tua Nugi datang ke rumah kontrakan Ryanti, mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pengajian nanti.
Acara pengajian tersebut akan mengundang para tetangga yang sudah menempati di perumahan tersebut. Sudah Nugi cek saat memberi undangan pengajian, ternyata tetangga yang sudah menempati tak lebih dari sepuluh kepala keluarga. Sebelas termasuk dirinya.
Setelah semuanya siap baik dari konsumsi dan lainnya, mereka pun akhirnya berangkat menuju perumahan. Mereka menggunakan mobil milik saudara Ryanti. Kebetulan mobil saudaranya tersebut biasa disewa oleh para tetangga.
Tak butuh waktu lama, tepat pukul sepuluh mereka pun tiba di perumahan. Karena kebetulan hari ini adalah hari minggu, maka semua warga pun bisa datang ke acara pengajian.
Turun dari mobil, Ryanti dibuat terkejut karena halaman depan ternyata tidak dijadikan ruang tamu. Ada sedikit rasa kesal di hati Ryanti
Rasanya ingin marah sejadi-jadinya, tetapi Ryanti tahan karena saat ini ada mertua dan juga orang tua. Ia tak ingin membuat keributan di acara pengajian.
"Assalamualaikum," ucap Ryanti saat masuk ke rumah diikuti oleh ucapan salam dari anggota keluarga.
"Alhamdulillah. Di pojok juga yang penting rumah sendiri kalau dirawat nanti jadinya nyaman juga," kata Mak Oji–Ibu Nugi–sembari terus menyisir seluruh ruangan.
Sementara Wati dan Ahmad–orang tua Ryanti–hanya diam saja tanpa komentar, meski dalam hati mereka membatin, mengapa rumah di pojokan seperti ini dibeli.
"Ini mau dijadiin dua lantai, Mas?" tanya Ryanti saat melihat halaman belakang yang sudah ditutup dengan dinding setinggi enam meter.
Batin Ryanti berkata, Alhamdulillah akhirnya tidak bisa melihat makam karena sudah ditutup dengan dinding yang tinggi.
"Iya, Dik. Nanti yang atas dijadikan tempat buat jemur saja."
"Lah ini kok lantainya enggak dikasih sekalian, Mas?" Yanti menatap langit-langit.
"Iya, nantinya mau pakai kayu saja biar hangat."
"Terus ini ruangan buat apa?" Ryanti menunjuk ruangan kecil yang lebarnya tak lebih dari lima puluh sentimeter sebelah kamar mandi.
"Ya buat kamar mandi lagi, lah," tukas Nugi.
Karena penasaran, Ryanti pun masuk ke ruang tersebut. Rupanya ruangan bentuk huruf L dan di ujung belikan terapat bak mandi setinggi pinggang orang dewasa. Sungguh ruang yang aneh.
"Ruangan kok kayak gini, sih? Mas yang minta apa ide tukangnya?" Ryanti masih menyisir ruang kecil tersebut.
"Aku." Nugi garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Hati Ryanti sudah tak tahan ingin emosi karena ruangan yang aneh, juga tak sesuai dengan keinginannya. Tunggu saja nanti tiba di rumah, Nugi bakal didamprat habis-habisan.
"Yang sudah kalau gitu." Ryanti melengos penuh kekesalan.
Nugi keluar dari dapur menghampiri para lelaki. Sementara Ryanti, Wati, dan Mak Ijin menata makanan di piring yang sudah dibawa dari rumah.
Ahmad menata karpet di ruang tamu dibantu oleh Naro–bapaknya Nugi–dan Nugi.
Sesaat kemudian para tetangga pun berdatangan satu per satu. Nugi menyambutnya penuh antusias ditemani oleh Ahmad dan Naro.
Tepat pukul setengah sebelas, acara pengajian pun dimulai. Acara dipimpin oleh Ahmad yang notabene sudah terbiasa mengisi pengajian di berbagai acara kampung.

Book Comment (69)

  • avatar
    Alfryan Rifai

    bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik

    12/08/2022

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget kak

    09/04

      0
  • avatar
    2Anesabela

    kereeen

    20/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters