Ryanti terpaku beberapa detik dengan mata membulat terus menatap ke arah makam. Bagaimana bisa Nugi membeli rumah tepat di bawah makam seperti ini. "Iya, Dik." Lagi-lagi Nugi hanya bisa garuk-garuk kepala sembari cengengesan. Mata Ryanti berkaca-kaca tak menyangka jika rumah yang menurutnya tampak sangat seram jika dilihat dari depan ini, justru tepat berada di bawah makam. Kini bukan hanya seram, melainkan begitu mengerikan. Seketika tengkuk Ryanti bergidik. Buku kuduk meremang tak karuan. Ia membekap mulut sendiri, masih saja tak percaya apa yang dilihat. Bagai mimpi. Benarkah ini? Ryanti membatin. "Kalau saja ngomong dulu sama aku, enggak bakal mau aku beli rumah kayak gini, Mas! Enggak sudi! Dikasih murah juga aku enggak mau! Mending ngontrak!" tegas Ryanti dengan suara mulai bergetar. Tentu saja, istri mana yang tak kecewa. Alih-alih mempunyai sebuah rumah yang nyaman, justru rumah seram yang didapatkan. Pantas saja Ryanti murka. Kecewa, sedih, marah, semua bercampur jadi satu. Tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. "Mau gimana lagi, sudah Mas DP, kok." Nugi menjauh dari pintu belakang, sementara Ryanti masih terpaku menatap ke arah makam yang tanahnya lebih tinggi tiga meter dari rumah ini. Pikiran kembali melayang dan berandai-andai jika nanti menempati rumah ini. Apa yang akan terjadi nantinya, sementara Ryanti sendiri sangatlah penakut. Tak terasa, buliran air mata pun menganak sungai, hingga membuat pandangan mengabur. Segera diseka kedua mata menggunakan lengan bajunya. Napas Ryanti terdengar memburu penuh amarah dan kekecewaan yang mendalam. "Makanya punya istri sama diajak ngobrol, Mas! Tukar pikiran. Jangan adik Mas terus yang diajak ngomong. Memangnya yang hidup bareng Mas tuh siapa, hah!" cecar Ryanti. Matanya kembali berkaca-kaca, lalu menoleh ke arah Nugi yang sedang berdiri bersandar di dinding sebelah pintu menuju kamar. Ryanti begitu geram kepada Nugi. Sifat buruknya yang satu ini benar-benar tak bisa dimaafkan. Nugi hanya terdiam mematung, lalu menatap ke arah makam. Mungkin Nugi pun merasa jika ini adalah sebuah kesalahan besar. Buktinya, ia hanya bisa terdiam. Kini nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin lagi mengembalikan ke dalam bentuk beras. Pandangan Ryanti kembali tertuju ke arah makam menatap pohon beringin yang sangat rimbun, hingga seolah akan tumbang ke atas rumah karena posisinya tumbuhnya miring tepat di atas atap. Ryanti bergidik melihatnya. "Astaghfirullahal'adzim ...." Ryanti bergumam, lalu menghela napas dalam-dalam. Ia kembali menyeka sudut matanya. Jarak antara makam dengan pintu belakang tak sampai sepuluh meter. Bulu kuduk kembali meremang, tak bisa membayangkan lagi jika harus tetap tinggal di sini selamanya. Ditambah hidup dengan seorang suami yang bisa dikatakan jarang ada di rumah. Bisa dihitung dengan jari, berapa jam saja Nugi di rumah. Tak lebih dari tujuh jam tiap harinya. "Maafin Mas, Dik." Tiba-tiba saja keluar permintaan maaf dari mulut Nugi. Ryanti pun menoleh, menatap tajam ke arah Nugi beberapa detik. Geram yang amat sangat, bagaiman Nugi bisa setega ini. "Maaf?" Ryanti balik bertanya. Kedua ujung alis saling bertaut penuh kekesalan. "Iya. Maafin aku karena enggak dari awal kasih tahu kamu, Dik." Nugi tertunduk lesu. "Aku mau pulang," kata Ryanti, lalu berlalu meninggalkan Nugi. Ryanti sudah cukup malas untuk meladeni ucapan Nugi. Baginya permintaan maaf itu sudah basi. Percuma! "Jangan gitu, Dik." Nugi menarik tangan Ryanti saat melewatinya. "Nanti Mas bikin rumah ini senyaman mungkin, Dik. Mas janji. Nanti kita renovasi halaman belakang dan teras depan. Tapi Mas mohon, jangan marah lagi. Mas minta maaf. Tolong, maafin Mas, ya." Ryanti masih saja terdiam, buliran air mata kembali tumpah. Sejenak memikirkan perkataan Nugi yang baru saja didengar. Bibirnya masih terkunci. "Dik." Nugi memohon dengan wajah mengiba. Ryanti menoleh ke arah Nugi. "Mas tega ya, Mas. Benar-benar tega sama aku. Dan sekarang enak saja bilang maaf setelah nasi sudah jadi bubur? Percuma." Suara Ryanti masih terdengar bergetar. Nugi yang merasa bersalah, lantas menarik tubuh Ryanti ke pelukan. Didekapnya erat-erat. Ryanti hanya pasrah saja. Tak ada balasan dari tangan Ryanti untuk menyambut pelukan Nugi. Malas, iya. Rasa kecewanya membuat Ryanti tak mampu membalas pelukan Nugi. "Aku mohon ... maafin Mas, Dik." Ryanti hanya membisu. Air mata meleleh kembali hingga membasahi dada Nugi. Tercium aroma dunhill blue yang paling Ryanti sukai. Ryanti terpejam untuk sesaat dan menghirup aroma tubuh sang suami. Ia mulai dilema. Haruskah memaafkan Nugi? Atau harus bersikeras tak ingin tinggal di sini. Namun, ternyata pelukan Nugi mengalahkan segalanya. Ryanti luluh seketika. Tangisnya pecah seiring meluapnya emosi. Nugi mengecup pucuk kepala Ryanti penuh penyesalan. Ia tak menyangka jika Ryanti akan semarah ini. Dekapan Nugi makin erat, berharap agar Ryanti segera memaafkannya dan menyudahi tangisnya. "Dik. Mau, kan, maafin Mas?" Tangisnya perlahan mereda. Kali ini Ryanti mengangguk pelan. Seperti biasa, Ryanti selalu saja luluh dengan rayuan dan pelukan hangat Nugi. Entah terbuat dari apa hati Ryanti, begitu mudahnya memaafkan Nugi yang jelas-jelas telah membuat kesalahan besar. Mengetahui Ryanti telah memaafkannya, Nugi serta merta merenggangkan pelukan. Menarik dagu Ryanti hingga mendongak, lalu mencium bibir tipis wanita yang tingginya hanya sepundaknya saja. Untuk sesaat mereka menikmati sesuatu yang saling bertaut di dalam mulut. Sepersekian detik kemudian, mereka pun menyudahinya. "Mas janji, akan buat rumah ini menjadi rumah ternyaman buat kamu." Ryanti tak menjawab. Ia hanya mengangguk saja dengan senyum yang terlihat seperti dipaksakan. *** Keesokkan harinya, Nugi mengajak Ryanti untuk mulai benah-benah rumah. "Mas. Aku enggak mau benah-benah sendiri. Aku mau dibantu tukang bersih-bersih," pinta Ryanti usai sarapan. "Iya. Nanti aku suruh Pak To saja," sahut Nugi yang sudah sudah asik dengan laptopnya di ruang tengah. "Pak To siapa?" Ryanti menautkan kedua ujung alisnya, lalu menghampiri Nugi di ruang tengah. "Ya tukang bersih-bersih, lah. Kan, tadi minta dicarikan tukang bersih-bersih. Masa iya Mas carikan tukang cukur?" Bibir Ryanti monyong seketika. Nugi pun lantas melirik sesaat, lalu terkikik. Tepat pukul sembilan, Ryanti dan Nugi telah tiba di perumahan. Mereka sudah membawa peralatan kebersihan. Setelah turun dari motor dan melepas helm, mereka berjalan menuju halaman. Nugi merogoh saku celana untuk mengambil kunci rumah. "Assalamualaikum," ucap Nugi saat masuk, diikuti ucapan Ryanti. "Aku mau nyapu dulu, Mas," kata Ryanti, lalu membuka tiap pintu yang nantinya akan dijadikan kamar. "Iya," sahut Nugi sembari membuka pintu belakang, lalu membuka lebar-lebar. Tak berapa lama, Pak To pun datang, terdengar deru mesin motor yang berhenti tepat di depan rumah. "Itu kayaknya Pak To," kata Nugi, lantas menghampiri keluar. Benar saja, Pak To datang dengan membawa karung berisi beberapa peralatan kebersihan, seperti cangkul, sabut, dan lainnya. "Kirain nyasar, Pak." Nugi menghampirinya, lalu bersalaman. "Enggak, lah, Mas. Kemarin aku juga bersih-bersih rumah yang sebelah sana," kata Pak To sembari menunjukkan tangan ke arah belakangnya. "Oalaaah. Ya sudah. Mau mulai mana dulu?" tanya Nugi kemudian. Pak To celingukan menyisir seluruh halaman. "Kayaknya bersihin rumput halaman depan dulu, ya, Mas." "Oke, deh. Aku lanjutin beresin dalam dulu, ya, Pak." "Iya, Mas. Silakan."
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 24 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (69)
Alfryan Rifai
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
12/08/2022
0bagus banget kak
09/04
0kereeen
20/06/2025
0View All