logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 3 TERCENGANG

Sekitar pukul delapan, Ryanti dan Nugi berangkat menuju perumahan. Tak butuh waktu lama, akhirnya tiba juga di perumahan tersebut. Motor sudah melewati gapura yang lumayan besar, bertuliskan perumahan 'Pearl of Sky.'
Memasuki gapura, Ryanti melihat deretan perumahan yang lumayan mewah. Bisa dikatakan, perumahan elite. Masing-masing rumah, terdapat mobil yang terparkir di halaman depannya. Ryanti pikir, pasti rumah yang dibeli Nugi pun tak jauh berbeda dari perumahan yang dilewati ini. Pantas saja Nugi mengatakan kejutan. Tak terasa, seulas senyum pun tersungging di bibir tipis Ryanti.
"Masih jauh, Mas?" tanya Ryanti sembari mendekatkan bibir ke sebelah kanan helm.
Rupanya Ryanti sudah tak sabar ingin segera melihat rumah kejutan dari Nugi.
"Sebentar lagi sampai," sahut Nugi.
Motor berputar-putar melewati banyak blok, seakan tidak sampai-sampai. Kini Ryanti melewati perumahan yang lebih kecil dan padat. Tak terlihat satu pun mobil yang terparkir di halaman rumah karena memang tipe rumah yang kecil. Hanya terlihat motor saja di halaman rumah yang sempit, berdampingan dengan jemuran pakaian basah.
"Kok, semakin ke sini, rumahnya semakin kecil, sih?"
Ryanti mulai merasa ada yang aneh. Kenapa sedari tadi rasanya motor hanya berputar-putar saja? Nugi hanya diam tak menjawab.
"Kok, enggak sampai-sampai sih, Mas?" tanya Ryanti lagi.
Itu karena semakin ke sini, seperti bukan perumahan. Malah bisa dikatakan jika yang sedang dilewati adalah RSS atau Rumah Sangat Sederhana yang hanya ada dua ruang saja.
"Sebentar lagi sampai, Dik." Mas Nugi menoleh ke arah kanan.
"Sebentar-sebentar terus dari tadi," gerutu Ryanti.
Jangan-jangan Nugi bukan beli perumahan yang tadi sudah dilewati. Dasar tukang PHP, dengkus Ryanti.
Kini, motor melewati jalan menikung dan meninggalkan perumahan. Kanan kiri hanya ada tumbuhan ilalang setinggi pinggang orang dewasa. Ryanti semakin manyun bibirnya karena pikirnya tadi rumah yang dibeli Nugi tak jauh beda dengan rumah yang dekat dengan gapura perumahan. Nyatanya kini justru masuk area sawah.
Beberapa menit kemudian, mereka melewati pohon beringin yang sangat rimbun. Tingginya ada sekitar sepuluh meter. Tepat di bawah pohon beringin tersebut, terdapat air terjun yang lumayan deras.
Mata Ryanti seketika membulat saat melewati pohon beringin tersebut. Pandangan tak lepas dari menatapnya, seketika tengkuk pun bergidik.
Setelah melewati pohon beringin, motor memasuki perumahan lagi yang terpisah jauh dari perumahan yang sudah terlewati tadi. Ada sekitar lima ratus meter dari perumahan yang terlihat seperti RSS tadi. Ryanti makin tercengang dibuatnya, ternyata masih ada perumahan lagi.
Memasuki perumahan terpencil, pandangan Ryanti terus menyisir seluruh area. Rupanya di perumahan bagian sini ada empat blok yang saling berhadapan. Sepertinya ada beberapa rumah yang sudah dihuni, terlihat dari jemuran pakaian yang ada di halaman rumah.
Kanan kiri masih ditumbuhi ilalang setinggi orang dewasa. Bahkan, banyak sekali pohon besar di area sini. Ryanti makin bergidik melihatnya.
"Ini perumahan apa bukan, sih? Kok, makin ke sini makin serem, Mas?" tanya Ryanti mulai curiga.
Tiba-tiba saja ada sedikit rasa kecewa di hati Ryanti. Pasti Nugi membeli perumahan yang ada di blok ini. Lagi-lagi Ryanti memonyongkan bibirnya sembari mengumpat.
"Masih perumahan, Dik. Enggak serem lah. Asri kayak gini, kok," sahut Nugi dengan santainya.
Nugi memang pandai menggombal. Perumahan yang menurut Ryanti mirip dengan hutan pun dikatakan asri oleh Nugi. Iya memang asri, tetapi bukan yang seperti ini. Ini bisa dikatakan seperti api jauh dari panggangan.
"Asri? Kayak gini dibilang asri? Asri dari mana? Mana rumahnya juga kayak susah selonjor." Ryanti mendengus kesal.
Bisa-bisanya lingkungan terlihat seram seperti ini dibilang asri oleh Nugi. Apalagi model rumahnya yang kecil, Ryanti tak bisa membayangkan lagi jika harus tinggal di area sini.
Kira-kira seratus meter dari air terjun, sampailah di rumah mereka di depan rumah yang sudah dibeli Nugi.
"Ini rumahnya, Mas?" tanya Ryanti tak percaya.
Ryanti lantas turun dari motor. Pandangan tak lepas dari menatap bagian depan rumah yang ditumbuhi ilalang setinggi lutut orang dewasa. Mirip rumah yang tak pernah dihuni bertahun-tahun. Seketika buku kuduk Ryanti meremang.
"Iya, Dik," jawab Mas Nugi sembari melepas helm.
Nugi terlihat kikuk karena Ryanti telah mengetahui jika rumah yang dibeli memang terlihat sangat kumuh dan jauh dari kata asri. Akhirnya Nugi pun malu sendiri.
"Bisa-bisanya rumah di pojokkan perumahan kayak gini dibeli, Mas?" tanya Ryanti kecewa.
Allah, kenapa selera Nugi seperti ini, bahkan kemarin mengatakan jika rumah yang dibeli adalah sebuah kejutan. Iya benar. Memang kejutan, tetapi kejutan yang paling menyakitkan bagi Ryanti.
"Sudahlah, Dik. Nanti kalau sudah direnovasi kan jadi bagus," hibur Nugi, lalu berjalan mendekat ke pintu.
Ryanti tak menyahut ucapan Nugi. Rasa kecewa dan marah sudah terasa panas di ubun-ubun. Rumah yang akan ditempati ternyata terletak di ujung perumahan. Kanan kiri rumah ditumbuhi ilalang yang tinggi-tinggi. Sementara bagian depan rumah terdapat sungai yang sangat deras. Di sepanjang tepi sungai ditumbuhi pohon bambu yang sangat lebat.
Tak bisa dibayangkan lagi jika Ryanti harus tinggal di sini dan sendirian di rumah saat Mas Nugi pergi ke luar kota hingga beberapa hari.
"Jadi ini yang Mas maksud suasana asri dengan suara gemericik air? Ternyata suara air sungai dan tiupan angin yang mengenai daun bambu," kata Ryanti kesal.
Sebenarnya Ryanti ingin sekali meluapkan isi dengan menangis dan menjerit, tetapi Ryanti masih bisa mengendalikannya. Namun, matanya terlihat berkaca-kaca.
"He-he-he ... sudahlah. Sudah dibeli, kok. Yuk, lihat dalamnya," ajak Nugi seraya membuka kunci pintu.
Ryanti pun kemudian berjalan menuju depan rumah sembari menghentak-hentakkan kaki seperti anak kecil karena rasa dongkol dan kesal di hati yang belum pergi. Nugi membuka pintu rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Nugi.
Ryanti masih berdiri mematung di depan pintu dengan wajah murka. Malas sekali untuk ikut masuk ke rumah. Jantungnya berdebar-debar menahan emosi hingga napasnya memburu.
"Sini, Dik." Mas Nugi melambaikan tangan kepada Ryanti, tetapi Ryanti tak menjawabnya.
"Jangan cemberut kayak gitu, dong! Besok kalau sudah ditempati kan, jadi bagus, Dik."
Nugi berusaha menghibur, tetapi bibir Ryanti masih saja malas untuk membalas perkataannya. Kesal bercampur kecewa sudah memenuhi isi kepalanya.
Dengan terpaksa, Ryanti pun akhirnya masuk dan menyisir seluruh ruangan dengan perasan benar-benar kecewa. Rupanya rumah ini hanya ada tiga ruangan. Ruang tamu sekitar tiga kali lima meter, sedangkan dua ruang lainya masing-masing sekitar tiga kali dua setengah meter. Halaman rumah pun sangat sempit, hanya satu setengah meter dari pintu.
"Ini enggak ada kamar mandinya, Mas?" tanya Ryanti masih dengan wajah dilipat.
"Ada, Dik. Di luar." Lalu Nugi membuka kunci pintu menuju halaman belakang.
"Di luar?" tanya Ryanti kaget, matanya membulat mendengarnya.
Nugi kemudian membuka pintu lebar-lebar. Ryanti menghampiri ke pintu belakang. Sontak saja matanya terbelalak. Degupan jantung kian berpacu diiringi desiran di dada.
"Astaghfirullahal'adzim! Itu kuburan, Mas!" tukas Ryanti kaget dengan mata membulat menatap ke arah makam.

Book Comment (69)

  • avatar
    Alfryan Rifai

    bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik

    12/08/2022

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget kak

    09/04

      0
  • avatar
    2Anesabela

    kereeen

    20/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters