Menjelang magrib, Nugi baru saja datang ke kios Toto. Wajahnya tampak kusut seperti biasa. Melihat sang kakak datang, Toto segera menyampaikan pesan Ryanti. "Mas, disuruh cepat pulang. Mbak Ryanti sudah nunggu dari siang," kata Toto sembari menyuapkan makan malam ke dalam mulutnya. "Nanti, lah, gampang. Makan apa kamu?" Nugi meletakkan tas ranselnya ke meja kerja Toto. "Mie ayam, Mas. Mau?" "Enggak, sudah kenyang. Barusan makan sama teman." Selalu saja begitu, Nugi sudah terbiasa makan di luar bersama teman. Masakan Ryanti jarang terjamah oleh Nugi. Lebih banyak Ryanti masak untuk dimakan sendiri. Maka tak heran jika Ryanti sering marah-marah kepada Nugi. Toto tak menyahut perkataan Nugi lagi, ia masih menikmati santap malamnya. Usai makan, Toto kembali mengingatkan Nugi agar segera pulang karena kasihan Ryanti yang sudah menunggu lama. Namun, lagi-lagi Nugi hanya menjawabnya sepele. Ia justru asik main game Solitaire di komputer. Benar-benar membuat kesal, Toto hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah sang kakak. Menjelang isya, Nugi baru berpamitan pulang. Sekitar sepuluh menit Nugi pun tiba di rumah. Tak biasanya ia disambut hangat oleh Ryanti. Tentu saja, itu karena sedari siang Ryanti sudah menahan amarahnya. Inggin sekali ia melahap Nugi habis-habisan. Namun, Ryanti tahan hingga nanti Nugi selesai mandi saja. Setelah uluk salam dan menutup pintu, Nugi menghampiri Ryanti yang masih asik main ponsel di ranjang kamarnya. Nugi menatap heran, kenapa Ryanti tiba-tiba saja berubah menjadi dingin tanpa kecupan manja. Nugi lantas meletakkan tas ranselnya di atas kasur, melepas semua pakaian dan meraih handuk yang digantung di balik pintu. Sementara Ryanti masih terlihat tak peduli dengan kepulangan sang suami. "Napa, sih, Dik?" tanya Nugi sembari membalurkan handuk ke pinggangnya. "Enggak kenapa-kenapa," jawab Ryanti ketus. Tanpa menanggapinya lagi, Nugi gegas menuju kamar mandi. Sedangkan Ryanti melirik Nugi dari ekor mata yang sedang berlalu meninggalkan kamar. Bibirnya mulai komat-kamit geram. Tak berapa lama, Nugi pun selesai mandi. Belum juga ganti baju, Ryanti sudah menyerang dengan pertanyaan. "Mas! Kok, tadi Toto bilang, kalau Mas baru ambil perumahan di BTN? Benar enggak, sih?" tanya Ryanti kepada Nugi dengan kesal. "Iya, Dik," jawab Nugi seraya melepas handuk, lantas mulai memilih pakaian di lemari. Biasanya melihat adegan seperti ini, Ryanti langsung memeluk Nugi dari belakang. Namun, karena harinya sedang dipenuhi amarah maka adegan Nugi telanjang bulat tak membuat Ryanti goyah. "Kok, enggak kasih tahu aku dulu, Mas?" Ryanti menautkan ujung alis dengan pandangan tak suka. Jelas saja karena ia justru tahu dari Toto. Andai saja tadi siang ia tak berkunjung ke kios Toto, mana mungkin Ryanti tahu hal ini. "Dikasih tahu Toto sama saja, kan?" sahut Nugi enteng sembari memakai pakaian, lantas beranjak pergi dari kamar, Ryanti pun turun dari ranjang untuk mengekor di belakang Nugi. Nugi memang sangat kebiasaan tidak pernah mengajak Ryanti untuk musyawarah dalam hal apa pun. Selalu saja adik-adiknya orang yang pertama kali tahu. Kadang Ryanti merasa tak dianggap sebagai istri. "Lalu, apa gunanya punya istri, Mas? Selalu saja tahu kabar dari ipar. Apa susahnya sih, kasih tahu istri terlebih dulu, Mas." Ryanti mulai meninggikan intonasi suara, rasa kesal tak juga hilang sedari tadi siang. Bahkan kini sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak. "Sudah lah, Dik. Enggak usah dibahas lagi. Lagian perumahannya sudah Mas DP. Apa kamu mau selamanya ngontrak, Dik?" tanya Nugi seraya menghempaskan bokongnya di sofa ruang tengah. Wajah Nugi terlihat sangat tak suka dengan pertanyaan Ryanti. Ia merasa jika itu terserah diri dia sendiri karena Nugi yang cari uang. Itu sebagian dari prinsip Nugi. Entahlah, pria yang satu ini memang lain dari pria lain, selalu saja nyleneh. "Ya enggak, lah! Seenggaknya aku dikasih tahu dulu kalau mau ambil perumahan, Mas. Apa susahnya coba?" Ryanti mendengkus kesal. Nugi benar-benar tak pernah peka dengan perasaan Ryanti sebagai istri. Ryanti yang duduk di sebelahnya hanya bisa melirik tajam penuh amarah. Bisa-bisanya sikap Nugi seperti orang yang tak berdosa, pikir Ryanti. "Anggap saja itu kejutan, he-he-he," tukas Nugi, lalu meraih remote control untuk menyalakan TV. "Kejutan? Memangnya, perumahan itu di daerah mana, Mas?" Kenapa tiba-tiba hati Ryanti meleleh saat mendengar kata 'kejutan.' Ah, sial. Lagi-lagi Ryanti tak pernah konsisten jika sedang emosi. Selalu saja luluh dengan rayuan gombal Nugi. Padahal jika dipikir, Ryanti bisa saja menyerang bertubi-tubi hingga Nugi merasa terpojokkan, tetapi begitulah Ryanti. "Masih di daerah sini saja, kok. Dari sini cuma lima belas menit." Nugi menyenderkan punggung ke sandaran sofa. Netra Ryanti hanya mengikuti gerak Nugi. "Rumahnya bagus enggak, Mas?" Rupanya Ryanti makin penasaran dengan perumahan tersebut. Lemah sekali Ryanti, pikir Nugi. Selalu saja manjur dengan jurus ampuhnya, rayuan gombal. "Pokoknya dijamin kamu bakal senang, Dik. He-he-he." Nugi malah ngikik hingga terlihat kawat gigi palsunya. Iya, dulu Nugi pernah mengalami kecelakaan parah, hingga semua gigi depannya rontok. Maka untuk menunjang penampilannya agar tetap terlihat ganteng, maka Nugi memutuskan untuk menggunakan gigi palsu. "Iyakah?" Ryanti memicingkan mata ke wajah Nugi, sepertinya tawa Nugi menyimpan sesuatu yang janggal. Pasti benar ada yang beres, pikir Ryanti. "Iya, Dik." Terlihat jika Nugi memaksakan bibirnya agar tak lagi tersenyum. Ryanti semakin curiga, pasti ada yang tak beres. Jadi teringat, jika Toto pun tadi tertawa. Sama persis seperti Nugi, tertawa yang mengandung seribu pertanyaan. "Kok, dari cara bicaranya Toto tadi, kayaknya perumahannya enggak bagus, deh! Juga pas aku tanya malah ketawa, kayak Mas ini." Ryanti mulai menatap Nugi penuh selidik. "Bagus, kok. Toto saja yang enggak tahu selera," kilah Nugi. Mas Nugi lantas meraih remote kembali yang ia letakkan di sebelah pahanya, lalu mencari channel sinetron kesukaannya. Dasar laki-laki korban sinetron, dengkus Ryanti. Pantas saja pintar main drama. "Memangnya, kayak apa? Terus kenapa dari tadi Mas kayak nahan ketawa?" Mata Ryanti terus menatap tajam wajah Mas Nugi. Ryanti meski mudah luluh dengan gombalan, tetapi ia tak mudah untuk percaya begitu saja. Selalu saja jeli di tiap pertanyaan. Instingnya sebagai istri cerdas mulai beraksi. "Pokoknya masih asri banget, Dik. Depan rumah, ada aliran air yang suara gemericiknya sangat menenangkan." Nugi malah garuk-garuk kepala. "Jangan-jangan rumahnya deket sawah?" Ryanti mulai curiga, karena sudah mendapatkan clue, yaitu aliran air, juga suara gemericik. Tak salah lagi, pasti dugaan Ryanti benar. "Jauh, lah!" Nugi masih saja garuk-garuk kepala. "Lah! Kok, bisa ada suara gemericik air?" Sengaja Ryanti cecar dengan pertanyaan, agar Nugi jawab to the point karena sedari tadi rasanya jawabnnya selalu berbelit-belit. "Ya besok lihat sendiri saja. Besok kita ke sana sekitar jam delapan." Ryanti hanya mendengkus kesal. Kenapa susah sekali untuk menjawab pertanyaannya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 23 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (69)
Alfryan Rifai
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
12/08/2022
0bagus banget kak
09/04
0kereeen
20/06/2025
0View All