"Mbak Ryanti, sudah tahu belum? Kalau Mas Nugi beli perumahan di BTN?" tanya Toto–adik Nugi–saat Ryanti mampir ke kios tempat usahanya. Toto memiliki usaha rental komputer, ia juga sering menerima order servis komputer, printer, juga jasa pengetikan. Ryanti dan Toto meski hanya saudara ipar, teyapi mereka sangat akrab layaknya kakak beradik kandung. Itu karena sikap Ryanti yang sangat ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Hampir tiap hari Ryanti bertandang ke kios Toto, biasanya dari pukul sembilan hingga duhur, sembari menunggu pedagang sayur langganan lewat, sementara sayur tersebut untuk dimasak esok pagi. Kebetulan kios Toto berada di tepi jalan raya. Apalagi hingga usia pernikahan satu tahun, mereka belum juga dikaruniai seorang anak, membuat Ryanti kesepian jika di rumah sendiri. Apabila pekerjaan rumah sudah selesai, maka tak ada kerjaan lain lagi. Untuk itu Ryanti memutuskan untuk main ke kios Toto saja. Selain sekedar bermain, Ryanti kadang juga membantu Toto mengerjakan mengetik naskah anak-anak sekolah yang belum selesai diketik Toto. Kadang juga Ryanti membereskan barang-barang yang terlihat tak rapi atau berantakan. Daripada ngelamun saja, pikir Ryanti. Toh, usaha itu juga usaha kerjasama dengan sang suami. Jadi tak ada salahnya jika membantu sebisanya. Sedangkan Nugi sendiri pekerjaan utamanya adalah sebagai programmer software yang gajinya bisa selangit. Namun, entah kenapa, Ryanti belum pernah melihat suami mempunyai uang banyak hingga puluhan juta. Padahal teman-teman Ryanti sering mengatakan jika gaji seorang programmer itu bisa mencapai puluhan juta, bahkan ratusan juta. Sebenarnya ingin sekali mempercayai perkataan teman-temannya, tetapi yang Ryanti lihat, Nugi tak pernah memiliki uang sebanyak itu. Puluhan juta? Ratusan juta? Sangat tak mungkin bagi Ryanti. Entah temannya yang bohong atau Ryanti saja yang dibodohi Nugi? "Beli perumahan? Kok, aku enggak tahu, sih? Kapan?" tanya Ryanti kaget, matanya seketika membulat. Ia lantas menggeser duduknya. Ryanti tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Beli perumahan? Di mana? Kapan? Bagaimana bisa? Bahkan selama ini Nugi tak pernah berencana membeli rumah dan juga tak pernah bercerita tentang itu. "Masa, sih? Sudah bayar DP loh, Mbak. Kemarin lusa aku yang antar Mas Nugi. Bayar DP-nya sudah ada lima hari," ujar Toto sembari mengutak-atik printer yang sedang diservis. Tatapannya sama sekali tak lepas dari printer, tetapi masih terus mengobrol. Terlihat dengan jelas jika Toto tersenyum sebelah. Sepertinya ia sudah paham dengan dengan karakter Nugi yang tak pernah memberi tahu sang kakak ipar tentang semuanya. Bukan hanya masalah ini, tetapi hampir semua masalah tak pernah bercerita langsung kepada Ryanti. Toto kadang merasa kasihan dengan Ryanti. Seperti seorang istri yang tak dianggap. Iya, benar. Memang begitu kenyataanya. Itu juga yang sering dirasakan oleh Ryanti, istri yang tak dianggap. "Kok, Mas Nugi enggak pernah cerita sama aku, ya? Diem-diem saja." Lagi-lagi Ryanti mengubah posisi duduk. Sangat terlihat jelas jika rasa waswas dan tak tenang mulai melanda batin Ryanti. "Lupa mungkin, Mbak!" Toto berusaha menenangkan hati Ryanti, ia paham jika kakak iparnya kini mulai gusar. "Kamu sudah lihat perumahannya kayak apa, To?" Tiba-tiba saja muncul rasa geram di hati Ryanti, kenapa Nugi tak pernah bercerita tentang masalah sebesar ini. Iya, tentu saja Ryanti menganggap masalah besar karena Ryanti tahu selama ini Ryanti dan Nugi tak memiliki tabungan yang cukup untuk membeli sebuah rumah. Jangankan membeli sebuah rumah, membelikan motor Ryanti saja masih diangsur tiga tahun. Pikirannya pun mulai berkelana. Uang dari mana? Apakah selama ini Nugi membohongi Ryanti. Bahkan Nugi sering mengeluh jika sedang kehabisan uang. Semakin pusing memikirkan hal ini. "Sudah, Mbak," tukas Toto, lalu beranjak bangun dari duduk ingin mengambil obeng yang ia simpan di laci meja sebelah Ryanti duduk, "permisi, Mbak. Aku mau buka laci ini." Tanpa menjawab, Ryanti segera bergeser untuk memberi ruang kepada Toto. Toto segera menarik lagi, lalu mengambil satu set obeng. "Rumahnya kayak gimana, To? Bagus apa enggak?" tanya Ryanti penasaran dengan pandangan tak lepas dari menatap Toto. "Ya ... besok lihat sendiri saja, Mbak. Biar tahu sendiri, bukan katanya-katanya. Soalnya selera orang kan beda, he-he-he," ujar Toto. Melihat Toto tertawa, membuat kedua alis Ryanti saling bertaut. Kenapa Toto tertawa? Jangan-jangan. "Lah! Kok, malah tertawa, sih? Mesti ada yang enggak beres, nih! Ngaku!" sahut Ryanti sembari menatap lekat wajah Toto. Ryanti mulai curiga dengan tawa smirk Toto, seperti ada yang janggal dengan tertawanya. Sudah bisa dipastikan pasti ada yang tak beres. "Pokoknya lihat sendiri saja, Mbak. Biar enggak katanya-katanya. He-he-he." Lagi-lagi Toto tertawa, membuat Ryanti makin curiga. Kenapa Toto tertawa? Jangan-jangan Nugi berulah lagi, pikir Ryanti. "Kamu dari tadi tertawa terus, To. Pasti ada enggak beres." Ryanti menatap Toto dalam-dalam. "Mas Nugi ke sini jam berapa katanya?" Ryanti sangat geram dengan sang suami—Nugi—rasamya ingin cepat-cepat bertemu dan menyerbu dengan banyak pertanyaan. "Katanya sih, jam tiga. Tapi enggak tau juga, sih. Mas Nugi kan jam karet, Mbak. Ngomong jam tiga, tapi sampai sini bisa habis magrib. Malah kadang enggak datang sama sekali. Sekalinya datang malah langsung nongol saja kayak jelangkung. Makanya aku enggak begitu percaya, Mbak, sama Mas Nugi. Sudah hafal dengan kebiasaannya." Kali ini Toto bicara serius, tak ada lagi tawa yang menghiasi bibirnya. Iya, Nugi memang sifatnya seperti itu. Selain tak pernah bisa tepat waktu—bisa dikatakan jika Nugi hobi tebar janji—juga kebiasaannya yang selalu meremehkan orang lain. Itu salah satu sebabnya Toto sangat dekat dengan Ryanti. Ia kasihan kepada Ryanti, juga kadang sangat tak tega melihat kakak iparnya diperlakukan tak sebagaimana mestinya. Maka itu, jika Nugi bercerita tentang apa pun yang hal tersebut ada kaitannya dengan Ryanti, ia tak segan-segan untuk segera memberitahukan Ryanti. Bagaimanapun sikap Nugi adalah salah. Berkali-kali Toto menasehati Nugi agar jika mempunyai keinginan yang ada kaitannya dengan istri, agar bermusyawarah dengan istri terlebih dahulu karena bagaimanapun juga peran Ryanti sebagai istri adalah nomor satu. Apalagi Ryanti yang selama ini selalu menemani Nugi dari nol. Namun, tanggapan Nugi justru sangat sepele, "lah, biar apa." Itulah yang selalu keluar dari mulut Nugi jika diingatkan oleh Toto. Menjelang duhur, Ryanti pun berpamitan ingin pulang. Toto pun mengiakan saja. "Tolong nanti kalau Mas Nugi datang, suruh cepat pulang ya, To," pesan Ryanti kepada Toto sembari meraih barang belanjaan sayur yang tergeletak di kursi sebelah pintu. "Iya, Mbak. Nanti kalau ke sini aku sampaikan," sahut Toto.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (69)
Alfryan Rifai
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
bermotifasi dan memberi penyemangat untuk merai mimpi yang ingin kita capai kan dalam hidup ini sukses selalu bang buat novel nyah yang menarik
12/08/2022
0bagus banget kak
09/04
0kereeen
20/06/2025
0View All