logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Sebuah Rahasia

Seminggu berlalu sejak Kinan mulai mencoba mengungkapkan isi hatinya pada sang suami. Tak ada perubahan yang dirasakan Kinan atas diri Ardi. Belanja kebutuhan sehari-hari tetap Kinan lakukan walau kadang dengan perasaan dongkol. Tapi jika tak belanja, dirinya dan Rafif harus makan apa?
Percuma berharap kepada manusia yang hatinya bagaikan batu seperti Ardi. Hanya melelahkan saja untuk berbicara banyak hal terkait tanggung jawab padanya, tak ada gunanya. Yang ada ubun-ubun akan dipenuhi emosi saja nantinya.
Kinan memasuki rumah yang tampak sepi. Jam mungil di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore. Rasa lelah benar-benar mendera tubuhnya. Hari Minggu yang harusnya digunakan untuk beristirahat dihabiskan Kinan untuk manggung di hajatan nikah. Bernyanyi, menyalurkan bakat sekaligus menyalurkan emosi agar tak memicu stres. Dan yang paling penting juga, ada beberapa lembar helaian biru yang akan Kinan terima setelah itu. Lumayan untuk belanja satu minggu ke depan.
Kinan membuka pintu samping rumah dengan perlahan. Benar-benar sepi. Rafif dititipkannya pada Yuk Diana, seperti biasanya. Kinan akan menyelipkan sehelai lembaran biru yang ia terima saat menjemput Rafif nanti. Berbagi rezeki untuk Yuk Diana dan anaknya. Yang penting keberkahan dalam setiap helaian uang yang dia terima.
"Bang ... Bang...!" Lantang suara Kinan memanggil Ardi. Melongok ke dalam kamar untuk memastikan keberadaan sosok suaminya itu. Kosong. Tak ada siapa pun. Entah kemana suaminya itu. 
Kinan memilih langsung mandi dan membersihkan diri. Selanjutnya Kinan bergegas untuk menunaikan salat Asar dan bersiap untuk ke rumah Yuk Diana.
Rumah Yuk Diana tak jauh. Cukup dengan berjalan kaki tiga menit saja, Kinan telah berada di halaman rumah berdinding papan itu. Rumah yang tak besar, tapi cukup nyaman dengan keberadaan beberapa pohon mangga dan rambutan yang berjejer di samping rumah.
Wanita yang usianya belum menginjak empat puluh tahun itu terpaksa menjalani peran sebagai orang tua tunggal bagi kedua putranya. Suami Yuk Diana meninggal dua tahun yang lalu, tak lama berselang setelah Kinan melahirkan Rafif. Kecelakaan tunggal karena mengantuk di jalan sepertinya menjadi sebab kepergian Bang Iwan, suami Yuk Diana. Untunglah, Yuk Diana sudah terbiasa mencari nafkah dengan membuka warung camilan kecil-kecilan di rumah sejak suaminya masih ada.
Berbagai jajanan mulai dari pentol, gorengan, empek-empek sampai bakwan kuah dijajakan Yuk Diana di emperan depan rumahnya. Cukup laris. Apalagi kedua putranya, Zidan dan Zaidan sigap untuk membantu ibunya. Walaupun keduanya masih duduk di Sekolah Dasar, bakti pada ibunya jelas terlihat. Mulai dari melayani pembeli sampai mencuci mangkuk yang kotor.
Saat Kinan mencari pengasuh untuk Rafif saat masa cuti melahirkannya hampir selesai, Yuk Diana menawarkan diri. Didorong rasa kasihan, Kinan tak pikir panjang menerima tawaran wanita itu. Apalagi suami Yuk Diana masih terhitung kerabat dengan Ardi.
"Yuk, Kinan kesorean ya menjemput Rafif nya?"
Kinan bergegas melangkah ke arah Yuk Diana yang sedang memangku Rafif di kursi kayu panjang di bawah pohon mangga.
"Maaf ya Yuk! Tadi dapet panggilannya di daerah Ulin. Lumayan jauh jaraknya." Kinan langsung meraih Rafif ke dalam gendongannya. Menyelipkan sehelai lembaran biru ke tangan Yuk Diana.
"Buat jajan Zidan dan Zaidan, Yuk!" ujar Kinan lagi. Rafif terlepas dari gendongannya karena lebih memilih berjalan sendiri di tanah yang kebetulan banyak rumput gajahnya.
"Kamu ini, Nan. Kayak sama orang lain saja sama Ayuk. Ayuk sudah menganggap Rafif seperti putra Ayuk sendiri. Jangan sebanyak ini kalo ngasih Ayuk di hari Minggu! Ayuk tahu, kamu sendiri banyak keperluan. Banyak kebutuhan." Yuk Diana menyodorkan kembali helaian biru yang diselipkan Kinan. Dengan cepat, tangan Kinan menepisnya.
"Rezeki tak boleh ditolak, Yuk! Tidak setiap Minggu seperti ini," ujar Kinan sembari menyunggingkan senyumnya.
Berbagi, kata itu tak boleh dilupakan walau kita sendiri sedang kesusahan. Bisa jadi, pintu-pintu rezeki lain akan terbuka jika kita senantiasa ikhlas berbagi atas apa yang kita punya. Prinsip itu selalu ditanamkan Kinan dalam hatinya. Karena jika menunggu rezeki berlebih, hal itu tak akan pernah terjadi. Manusia tak akan pernah merasa lebih atas apa yang dimiliki.
Kedua wanita yang berbeda usia itu duduk berdampingan. Walaupun berbahan kayu, kursi yang mereka duduki cukup kuat untuk menahan beban tubuh mereka. Sambil mengawasi Rafif yang asyik bermain dengan bolanya, sepiring rujak menjadi camilan mereka.
"Nan, kamu tidak lelah dengan kehidupanmu saat ini?" Kinan tampak terkejut dan tak mengerti dengan pertanyaan Yuk Diana.
"Maksud Ayuk apa?" Kinan bersuara sembari menatap wajah Yuk Diana.
"Ayuk bukannya tak tahu, bagaimana Ardi memperlakukanmu selama ini. Ayuk mengenal Ardi sudah sejak lama."
Kinan mulai mengerti arah pembicaraan wanita yang ada di hadapannya. Tapi rasanya, tak elok membuka aib suami sendiri kepada orang lain. Sekecewa apa pun dirinya pada Ardi, Kinan harus tetap menghargai laki-laki yang bergelar suaminya itu.
"Ardi baik pada Kinan, Yuk. Mengapa Ayuk sampai berpikir Ardi memperlakukan Kinan dengan buruk?" Kinan mencoba berkelit. Aktivitas makan rujak tetap dilanjutkannya, seolah tak ada beban dalam rumah tangga yang dijalaninya.
"Ardi memang tak memperlakukan dirimu buruk dari segi fisik, Nan. Tapi hatimu. Ayuk tahu. Kamu mencoba menutupi semuanya di hadapan orang lain. Ardi mengobrak-abrik hatimu, jiwamu dengan pola pikirnya yang salah bagi kita orang normal."
Yuk Diana tampak menarik napas dalam-dalam. 
"Semua yang dilakukan Ardi, persis seperti bapaknya. Tak beda."
Kali ini Kinan yang membelalakkan matanya.
"Almarhumah mertuamu juga dulu bekerja menjadi pengasuh anak di rumah Bang Rasyid, sepupu almarhum Bang Iwan. Dari mulai anak Bang Rasyid, Sekar ... sampai anak bungsunya, si Firman," ujar Yuk Diana melanjutkan kalimatnya.
Kinan memang tak terlalu mengenal keluarga besar Ardi. Dia pun tak begitu tahu pekerjaan almarhum mertuanya. Yang dia dengar, almarhum bapak Ardi adalah seorang pengepul sayur. Karena itu, di bagian belakang rumah ada ruangan kecil yang katanya dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan sayur yang dibeli beliau dari para petani. Daerah mereka memang rata-rata masyarakatnya menyambung hidup dengan bercocok tanam. Iklim dan geografis daerah ini memang sepertinya cocok untuk aktivitas pertanian.
"Bang Ardi tak pernah cerita, Yuk. Hanya pernah cerita tentang pekerjaan almarhum Bapak saja." Kinan menyampaikan apa yang ada diketahuinya sampai saat ini.
"Tentu saja Ardi akan menutupi keburukan keluarganya, Nan. Ayuk juga awalnya tak mau menceritakan hal ini padamu. Tapi ... Ayuk lama-lama tak tega padamu. Ayuk tahu, kamu wanita yang hebat. Memilih menderita daripada membuka aib rumah tangga. Persis ibu mertuamu. Tapi kalian lupa ... memendam rasa sakit itu lama-lama akan membuat batin tersiksa. Hati merasa hampa, diri merasa tak berguna." Mata Yuk Diana menerawang saat merangkai kata tentang apa yang diketahuinya.
Kinan diam. Yuk Diana benar. Lima tahun memendam rasa sakit akibat semua yang harus ditanggungnya sendiri membuat emosi Kinan kadang tak stabil. Tekanan darahnya sering melebihi ambang batas normal. Belum lagi gangguan asam lambung yang sering menderanya. Kinan bukan tak paham penyebabnya. Beban pikiran karena menanggung luapan rasa yang tak mampu diungkapkan.
"Itulah yang terjadi pada ibu mertuamu, Nan! Bibirnya bisa jadi tertawa lebar, namun luka hatinya semakin menganga. Ayuk tak mau itu terjadi padamu, Nan. Ayuk menyayangimu seperti saudara sendiri."
Kinan memejamkan mata. Mencoba menahan buliran yang hendak membasahi netranya. Kinan gagal. Air mata itu meluncur perlahan namun pasti membentuk genangan sungai di pipinya.
Yuk Diana mengulurkan tangannya. Menggenggam erat tangan Kinan. Menguatkan hati wanita itu.
Kinan memeluk Yuk Diana. Untung saja, jalanan di depan rumah Yuk Diana cukup sepi sore itu. Jika tidak, tentu saja apa yang dilakukan mereka saat ini akan menarik perhatian orang-orang yang lewat.
"Kamu salah melabuhkan hati, Nan! Kamu cantik, berpendidikan. Mengapa harus memilih Ardi sebagai laki-laki untuk mengarungi bahtera kehidupan ini, Nan? Dilihat darimana pun, kualitasmu jauh di atas Ardi."
Kinan mengeratkan pelukannya pada janda beranak dua itu. Berusaha menahan tangis dengan menggigit bibirnya. Semua orang pasti berpikir pilihan Kinan sangatlah tak masuk akal. Memilih laki-laki yang dari segi ketampanan biasa-biasa saja. Pendidikan pun tak lebih tinggi darinya. Apa yang Kinan lihat dari sosok seorang Ardi?
"Atau jangan-jangan kamu sudah dipelet Ardi, Nan?" Pertanyaan Yuk Diana itu sontak membuat Kinan terperanjat. Mungkinkah Ardi telah melakukan guna-guna pada dirinya?

Book Comment (259)

  • avatar
    Lingga Bae

    bagus

    20/01

      0
  • avatar
    ZulfyFebryan

    sukses

    05/01

      0
  • avatar
    Raden Handi Prayoko

    bagus

    03/01

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters