logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

7. Kacau

Sekarang aku sudah sampai di rumah. Aku benar-benar kacau, lemas, dan tidak mempunyai tenaga sama sekali tenaga sama sekali.
"Na lo nggapapa? Muka pucet, badan lemes gitu kok. Gue anterin ke dokter ya?" Tanya Rendy.
"Ah lo lebay Ren, gue sehat gini. Buktinya masih bisa berdiri kan?" Aku meyakinkan pada Rendy bahwa aku baik-baik saja.
"Beneran nih, awas kalo lo bohong," celetuk Rendy.
"Yee bener lah. Udah pulang sono," perintahku.
Rendy pergi meninggalkan rumahku sesuai perintah. Aku juga masih melihatnya sebelum masuk ke rumah. Kulihat dia mamakirkan motornya di garasi dan masuk ke rumahnya. Setelah itu pun aku ikut masuk ke dalam juga.
Sampai di kamar aku langsung menangis. Aku belum bisa menerima Jean dan Mylla bersama. Hatiku berkata lain, aku tidak bisa melupakan Jean semudah itu.
Notifikasi pesan menyadarkanku. Ku sapu air mata yang mengalir membasahi wajah letihku. Aku mengambil handphone lalu mengeceknya.
Jeano
"Ina, maafin gue ya"
"Kenapa minta maaf?"
"Gue ngga bilang ke elo
kalo gue pacaran sama Mylla"
"Yah nggapapa Yan
Kan itu masalah pribadi lo"
"Yaa tapi kan tetep aja
gue minta maaf"
"Iyaiya"
"Kita masih tetep temenan kan?"
"Yaiyalah Yan"
"Jangan jauhin gue"
Jean mengirim pesan padaku. Pesan terakhirnya membuatku menjadi berharap lagi padanya, akhirnya aku tidak lagi membalasnya. Hal itu membuat hatiku semakin semakin sedih, hancur, remuk, bagai pecahan kaca yang tidak akan kembali seperti semula. Aku menangis, terus menangis, terisak menahan pedihnya rasa ini hingga aku tidak kuat lagi untuk menahannya. Sampai akhirnya aku pun tertidur.
---
"Yaampun sayang, kamu kenapa kok sembab banget matanya? Begadang semalem?" Tanya Mama kepadaku yang baru sampe di meja makan.
"Ng-nggapapa kok ma, iya ini tadi malem habis begadang belajar," kataku berbohong pada Mama.
"Yaudah cepet sarapan dulu," ucap mama.
Setelah aku selesai sarapan, Rendy datang. Aku langsung berpamitan pada Mama dan Papa untuk berangkat sekolah.
"Lah kenapa lo Na, sembab gitu matanya?" Tanya Rendy.
"Nggapapa kok."
"Jangan bohong, abis nangis kan lo? Nangisin apa?" Tanyanya lagi.
"Iihh apa si Ren, yuk berangkat dah telat ni." Akhirnya aku menarik Rendy untuk segera pergi ke sekolah.
---
Di sekolah
"Selamat pagi kawan-kawanku," teriak Haikal yang baru saja datang.
"Selamat pagi Semi," katanya sambil merangkul Semi.
"Yaelah masih pagi udah ngga semangat aja lo na." Haikal mengejekku.
"Apasi ganggu banget," teriakku kesal.
---
Sekarang adalah jam istirahat dan aku sedang berada di kantin bersama ketiga temanku.
"Hei habis ini kita ulangan biologi anjir sama Pak Broto," kata Reni kepada kita.
"Anjirr demi apa gue belum siap. Na lo udah belajar belum buat ulangan?" Tanya Semi.
"Hah? Apa?" Aku baru sadar lamunanku sedari tadi.
"Hari ini ada ulangan bio? Gue lupa njir belum belajar," kataku pada mereka.
"Yee lu mikirin apa sih sampe lupa gitu. Yaudah gue ke kelas dulu mau belajar," kata Semi.
"Gue masih pengen disini, lo duluan aja." Kataku pada Semi.
"Yaudah gue duluan ya, jangan nangis kalo gue tinggal." Goda Semi.
"Gue ikut," Reni menyahut.
"Eh jangan ninggalin gue dong." Lea juga turut pergi.
Akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkanku. Tidak tahu mengapa aku masih sedih, masih merasa tidak bertenaga, dan aku jadi terlalu malas untuk belajar.
Aku lebih memilih duduk diam di kantin sambil melamun. Sekarang sepertinya melamun sudah menjadi kebiasaanku.
Tanpa aku sadari, bel sudah bunyi sedari tadi , tandanya aku sudah terlambat masuk kelas. Aku langsung berlari dari kantin menuju kelas.
Sesampainya di kelas, semua sudah pada duduk rapi sambil mengerjakan ulangan.
"Maaf pak saya terlambat. Tadi saya habis dari kantin," kataku pada Pak Broto.
"Kamu ini kerjaannya terlambat terus. Sudah sekarang kamu duduk di samping Jean. Duduknya saya acak, cuma itu yang masih kosong," kata Pak Broto.
Aku hanya mengangguk. Aku terkejut harus duduk di sebelah Jean. Kenapa lagi-lagi harus Jean?
Aku mendatangi Jean lalu duduk di sebelahnya. Dia tersenyum padaku. Mengapa dia harus tersenyum? Aku jadi semakin tidak bisa melupakan dia.
Satu jam kemudian...
Ulangan tadi benar-benar tidak fokus. Aku menjawab seadanya saja, setahuku. Tidak perduli dengan nilai. Entah itu Remidi atau tidak.
"Na lo kenapa sih hari ini keliatan ngga semangat banget. Ada masalah apa cerita aja hm? Tanya Semi.
"Ahh ngga papa kok Sem, lagi ngga enak badan aja," ucapku berbohong pada Semi.
"Siapa yang sakit? Ina sakit?" Jean tiba-tiba ikut bicara.
"Gue ngga papa kok Yan," jawabku.
"Kalo lo sakit bilang aja, ntar gue anter UKS."
"Iya Yan."
"Jangan iya-iya doang, sekarang gue anter lo." Tangan Jean menggenggam tanganku. Dia berniat membawaku ke UKS. Namun aku menepisnya.
"Jean gue nggapapa. Kalaupun gue ngerasa ngga enak badan, gue minta tolong sama Semi kok," jelasku padanya.
Akhirnya Jean melepaskan tanganku. Bagaimana aku masih tidak berharap? Sikapnya saja membuatku salah paham dan menginginkan lebih.
---
Kringgg.....
Bel pulang berbunyi
"Na lo pulang sama gue. Kata Rendy dia ada urusan," kata Jevan padaku.
Hal apa lagi yang terjadi? Sungguh aku sudah tidak mau merepotkannya. Tubuhku sedang sangat butuh istirahat dari masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi nanti.
"Lah Van kita kan ngga searah, ntar gue malah ngrepotin lo," kataku.
"Gapapa," jawabnya lalu menarik tanganku menuju ke luar kelas.
Sekarang kita sudah berada di parkiran. Tiba-tiba Jevan memanggil namaku.
"Naa"
"Kenapa?" Tanyaku
"Gue mau ngomong sesuatu," kata Jevan.
"Ya ngomong aja," jawabku sedikit malas.
"Na gue suka sama lo," ucap Jevan
Ucapan Jevan demikian benar-benar membuat hati dan pikirianku semakin kacau. Otakku tidak dapat mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi. Setelah masalah dengan Jean, aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan siapapun lagi.

Book Comment (160)

  • avatar
    WaeSiti

    keren

    13/06/2025

      0
  • avatar
    Sihkepo_aja

    suka bgt sangat pemberani pengen jadi kk

    12/06/2025

      0
  • avatar
    AsihUmi

    keren ceritanya

    12/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters