logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

6. Merelakan

"Na gue suka sama Jean."
Uhukkk....
Aku sangat terkejut mendengar ucapan Mylla. Saking terkejutnya aku sampai tersedak makanan. Mylla memberikan air untuk meredakannya.
"Ya ampun pelan-pelan dong kalo makan. Jadi keselek gini kan?" Mylla menepuk-nepuk punggungku.
"Uhuk-uhuk. Ngga bukan gitu uhuk. Gue kaget aja Myll," ucapku masih sambil terbatuk.
"Kaget gimana maksudnya?" Tanya Mylla.
"Coba ulang lo tadi ngomong apa ke gue," kataku.
"Lo budeg apa gimana si? Gue bilang gue suka sama Jean, Inaa," jelasnya padaku.
"Terus hubungan gue sama hal itu apa?" Tanyaku kebingungan.
"Ya gue liat-liat lo deket sama Jean. Lo pasti temen deketnya kan? Bantu gue dong biar gue deket sama Jean. Ya, yaa?" Mylla memohon padaku.
"Emm sebenernya gue ngga begitu deket sama Jean si. Tapi ntar gue coba," jawabku dengan nada lesu.
"Yess makasih ya Na, lo emang sahabat terbaik gue." Katanya sambil memelukku erat.
Apa ini? Mylla sahabatku sendiri suka dengan orang yang aku suka juga? Kenapa harus Jean diantara semua banyaknya orang? Apa aku egois jika aku tidak mau membantu Mylla? Apa tidak boleh aku memiliki keinginan dari diriku sekali ini saja? Namun aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku, Mylla. Aku harus merelakan perasaan ini dan membuang jauh-jauh semua keinginanku untuk memiliki Jean dihidupku.
---
Semenjak Mylla mengungkapkan perasannya padaku tadi, aku menjadi diam seribu bahasa. Aku hanya mengiyakan pertanyaan dan ucapan Mylla padaku. Kami tadi pulang ke rumah menggunakan taxi online. Aku pulang selamat begitu pula Mylla. Bedanya aku pulang membawa kesediahan di hati.
Sekarang aku sudah berada di rumah. Rasa senang yang datang mendadak sirna, berganti dengan rasa sedih nan letih. Tubuh ini pun tidak mampu untuk melakukan apapun kecuali terbaring di atas kasur.
Aku terus kepikiran dengan ucapan Mylla kepadaku waktu berada di mall tadi. Aku menjadi sangat bingung, aku bimbang, tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya aku memberanikan diriku sendiri untuk mengirim pesan pada Jean.
Jeano
"Yan udah nyampe rumah?"
"Udah nih baru sampe
Tadi dari mana? Kok ngga pulang sama Rendy?"
"Emm tadi abis jalan sama Mylla
Lo tau Mylla ngga?"
"Mylla yang itu?
Tau lah kan sekelas"
"Katanya dia mau kenalan sama lo
Masa temen sekelas ngga saling kenal si"
"Hehe iyaa"
"Kenalan gih, dia sahabat gue juga"
"Iya iyaa besok dah"
"Dia orangnya cantik loh, baik rajin menabung pula"
"Eh lo kok malah muji dia bukan diri lo sendiri"
"Yah emang begitu Yan. Mylla orangnya cantik dan baik banget, percaya deh sama gue."
"Yee kalo masalah cantik dan baik hati mah ngga ada yang bisa ngalahin lo Na"
"Iihh Jean, gue lagi nggak becanda yaa"
"Ya gue juga serius, ngga becanda Na"
"Ya pokoknya harus kenalan lebih dalam sama Mylla"
"Iya deh"
---
Di sekolah
Sekarang masih jam istirahat. Aku tidak mempumyai mood untuk makan jadi aku tidak pergi ke kantin. Sekarang aku masih terduduk di bangku sambil melamun.
"Woii," teriak Jevan membangunkan lamunanku.
"Anjir Van, ngagetin gue aja lo," teriakku.
"Ya lagian lo, waktunya istirahat buat makan malah ngelamun mulu. Mikirin apa sih lo," ucap Jevan.
"Yeuu kepo banget si bambang," jawabku.
"Gue Jevan ya, JEVANO, bukan si bambang," ucapnya penuh penekanan, lalu dia pergi meninggalkanku.
Tiba-tiba Mylla datang menghampiriku. "Jangan belajar mulu ah. Yok ke kantin sama gue." Ajaknya.
Aku yang melihat keadaan ini akan menjadikan kesempatan untuknya bisa menjadi lebih dekat dengan Jean.
"Nggak bisa dong Myll. Apa gue nitip lo aja ya?" Tanyaku.
"Yah gue sendirian, nggak mau ah."
Aku berpura-pura melihat sekeliling kelas, padahal hanya tersisa aku , Mylla dan Jean di situ.
"Sama si Jean aja, ya Yan?" Jean yang sedang bermain handphone terkejut saat aku menyebutnya.
"Apa?"
"Temenin Mylla ke kantin, kasian lah masa sendirian. Oya gue sekalian nitip es jeruk," kataku pada Jean.
"Yaudah deh, mana sini duitnya." Jean mengulurkan tangan. Lalu ku serahkan kepadanya uang pecahan Rp10.000 padanya.
"Lama juga nggapapa. Sante aja jamnya masih banyak," ucapku dengan senyum palsu.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan kelas dan juga meninggalkanku sendirian dengan luka yang sudah kutorehkan sendiri.
Kringgg.....
Bel pulang berbunyi
Aku sekarang sedang bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Mylla menghampiriku.
"Na lo pulang bareng siapa? Gue ngga ada yang nganter ni huhu," kata Mylla padaku.
"Oh lo ngga ada yang ngater ya? Sama Jean aja kalian kan searah. Lo bisa nganter Mylla kan Yan?" Tanyaku pada Jean.
"Eeh bi-bisa kok." Jean kebingungan, namun dia mengiyakan permintaanku.
"Ya udah gue pulang dulu ya. Hati-hati kalian bedua. Yukk Ren," ucapku meninggalkan mereka berdua.
Akhirnya aku meninggalkan Mylla dan Jean. Lalu aku pulang bersama Rendy. Sebenarnya berat bagiku meninggalkan mereka berdua begitu saja. Namun Mylla sudah meminta tolong padaku waktu itu.
---
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Sekarang sudah satu bulan semenjak aku memutuskan untuk merelakan perasaanku demi sahabatku, Mylla. Nampaknya usahaku untuk mendekatkan mereka tidak akan sia-sia.
Kringgg.....
Bel pulang berbunyi
"Sayang pulang yuk," teriak Mylla.
"Iya tau yang udah jadian, tapi ngga usah sayang-sayangan di sini juga kali," teriak Jevan.
"Yeuu iri bilang lo," timpal Mylla.
"Udah-udah, yuk pulang sekarang," kata Jean pada Mylla.
Lalu Mylla menggandeng tangan Jean untuk keluar kelas.
Jean dan Mylla sudah berpacaran? Aku sangat terkejut. Aku masih melamun memikirkan hal itu. Ternyata memang usahaku sudah berbuah manis. Bukan bagiku, tapi bagi Mylla dan Jean.
Apa keputusanku untuk merelakan perasaanku sendiri sudah benar? Semoga semua itu benar. Semoga aku bisa melupakan Jean. Dan semoga mereka berdua bisa bahagia selamanya.

Book Comment (160)

  • avatar
    WaeSiti

    keren

    13/06/2025

      0
  • avatar
    Sihkepo_aja

    suka bgt sangat pemberani pengen jadi kk

    12/06/2025

      0
  • avatar
    AsihUmi

    keren ceritanya

    12/06/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters