logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Permintaan Maaf Andre

"Om, tunggu!” seru Andre. Dimas menghentikan langkahnya, dia lalu menoleh menatap Andre.
"Boleh Andre berbicara sebentar sama Om?" pinta Andre.
Dimas mencoba untuk mengesampingkan masalahnya dengan Andre, dia tidak ingin membuat tamunya merasa canggung di rumahnya. Dimas melangkahkan kakinya menghampiri Andre.
"Ada apa?” tanyanya lalu duduk di depan Andre.
"Om, Andre tau jika om masih marah sama Andre. Andre juga menyadari jika Andre selama ini sudah sangat mengecewakan om. Andre sudah melanggar janji yang sudah Andre ucapkan sama om. Andre minta maaf," ucap Andre sambil menundukkan kepalanya.
"Andre, kamu kan tau kenapa om mau menerima lamaran kamu saat itu? Om begitu percaya sama kamu, kamu tidak bisa memaafkan kesalahan yang Lyn lakukan. Om tau Lyn melakukan kesalahan, tapi itu semua bukan sepenuhnya salah Lyn. Adrian sudah menceritakan semuanya, om bahkan saat itu tidak bisa memaafkan Adrian, karena Adrian rumah tangga Lyn hancur. Tetapi Adrian selalu menunjukkan rasa bersalahnya, bahkan dia selalu ada di saat Lyn sedang terpuruk," ucapnya sambil melipat kedua lengan di dada. Dimas juga menyadari jika itu bukan sepenuhnya salah Andre, putrinya juga ikut andil dalam perpecahan rumah tangga mereka. Tapi yang membuat Dimas marah dan kecewa, tidak ada niat baik Andre untuk meminta maaf langsung kepadanya dan juga istrinya.
"Maafkan Andre, Om. Bukan maksud Andre untuk lepas dari tanggung jawab, tapi Andre merasa takut, takut jika om dan tante enggak mau memaafkan Andre," ucap Andre pelan.
"Mana mungkin om bersikap seperti itu, jika kamu memang benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus maka om dan tante tentu mau memaafkan kamu. Om juga tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya, karena Lyn juga salah dalam hal ini. Dia tidak seharusnya merahasiakan semua itu dari kamu, dia seharusnya jujur sama kamu tentang apa yang Adrian lakukan kepadanya."
"Andre tau kenapa Lyn melakukan itu, Om. Dia hanya ingin menjaga perasaan Andre, dia juga tidak ingin menghancurkan keluarga Andre karena sikap Adrian kepadanya. Selama ini Lyn memendam kesedihannya sendiri, dia pendam rasa sakitnya. Jika Andre bisa tau lebih awal sebelum Lyn dan Kenzo mengalami kecelakaan, jika Lyn mengatakan langsung kepada Andre dan mau terbuka dengan Andre maka semua ini tidak perlu terjadi. Hal yang membuat hati Andre sakit adalah Andre mengetahuinya hanya karena Kenzo bukan anak Andre, bukan darah daging Andre. Jika kecelakaan itu tidak terjadi dan Andre sudah mendapat penjelasan dari Adrian, maka sampai sekarang Andre dan Lyn masih tetap bersama." Andre menepiskan senyumannya, dia masih menyesali dengan sikapnya yang sangat gegabah dan langsung menemui Adrian tanpa memberi tahu Lyn terlebih dahulu.
"Semua sudah terjadi dan tidak mungkin bisa kembali lagi, meskipun kamu sangat menyesalinya, om merasa semua ini sudah takdir. Sejak awal Lyn dan Adrian sudah saling mencintai, tapi karena sikap egois om dan papa kamu, mereka harus menderita. Terpisah dengan orang yang kita cintai memang sangat menyakitkan. Om masih ingat saat itu om memaksa Lyn untuk mau menerima perjodohan itu, padahal saat itu Lyn menolaknya," ucap Dimas menyesal.
"Andre juga sudah menerima semuanya, Om. Mungkin ini semua sudah takdir Andre, Andre juga senang bisa melihat Lyn bisa kembali bersatu dengan cinta sejatinya. Selama ini Lyn sudah banyak menderita, tapi sekarang Andre bisa melihat senyuman di wajah Lyn. Adrian sudah berhasil mengembalikan senyuman Lyn yang sudah lama menghilang," ucap Andre dengan menepiskan senyuman.
"Andre, om berharap kamu bisa segera melupakan Lyn dan membuka lembaran baru," ucap Dimas dan mendapat anggukan dari Andre, meskipun anggukan itu terasa sangat berat.
"Maafkan Andre ya, Om." Andre berdiri lalu berjalan mendekati Dimas, dia lalu memeluk Dimas.
Dimas mengusap punggung Andre, "Om sudah memaafkan kamu, om juga meminta maaf atas nama Lyn. Om tau sikap Lyn selama ini sangat menyakiti hati kamu, apalagi ternyata Kenzo anaknya Adrian," ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
"Andre sudah memaafkan Lyn kok, Om. Bagi Andre, Kenzo tetaplah anak Andre, kasih sayang Andre tetap masih sama seperti dulu. Andre juga tidak membeda-bedakan antara Kenzo dan Rafael, bagi Andre mereka berdua anak-anak Andre."
Dimas tersenyum bahagia, dia tau jika Andre memang pria berhati baik. Tetapi sayang, nasibnya tidak sebaik dengan hatinya. Dia hanya bisa berharap Andre akan menemukan wanita pengganti Lyn.
***
"Sayang, maaf ya, hari ini aku enggak bisa menemani kamu. Aku ada meeting penting dengan klien." Adrian mengusap pipi gembul Axel.
"Tidak apa-apa lagi, Dri. Lagi pula di rumah ada bibi juga, ada kak Andre juga yang bisa membantu aku jagain Axel."
"Kamu yakin, tidak apa-apa di rumah sama kak Andre?” Lyn mengangguk. "Kira-kira nanti ayah, bunda, papa dan mama pulang jam berapa ya?” tanya Adrian kemudian.
"Adrian sayang, jangan khawatir berlebihan seperti itu dong. Kamu tidak percaya sama kakak kamu sendiri? Lagi pula di sini kan masih ada bibi, Kenzo dan juga Rafael," ucap Lyn sambil mengusap pipi suaminya.
Adrian hanya takut kakaknya akan melakukan hal seperti yang pernah dia lakukan dulu. Demi merebut Lyn, dirinya sanggup melakukan segala cara.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu. Aku takut kak Andre akan merebut kamu lagi dari sisiku." Adrian menggenggam tangan Lyn lalu mengecupnya. "Aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilanganmu lagi, cukup sekali aku kehilanganmu," imbuhnya.
Lyn menghela napas panjang, dia tau jika Adrian sebenarnya masih takut jika kakaknya belum bisa move on darinya. Tapi sepengetahuan Lyn, Andre sudah bisa melupakannya.
"Sudah, tidak usah berpikir macam-macam, kamu harus percaya sama istri dan juga kakakmu. Kak Andre tidak mungkin melakukan itu, percaya deh sama aku." Adrian menganggukkan kepalanya, setelah itu dia mengecup kening Axel.
"Aku berangkat dulu ya, aku janji tidak akan pulang malam." Adrian lalu mengecup kening Lyn.
"Sayang, tidak usah berpikir macam-macam, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah," ucap Lyn sambil menepiskan senyuman.
Adrian menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar. Adrian berpapasan dengan kakaknya saat ingin menuruni tangga.
"Kakak mau ke mana, kok sudah rapi?” tanyanya penasaran.
"Mau jalan-jalan keluar. Kenzo dan Rafael ingin jalan-jalan keluar," sahut Andre. Kenzo dan Rafael berjalan menghampiri Adrian dan Andre.
"Ayah mau ke mana?” tanya Kenzo.
"Ayah, mau meeting, Sayang. Kenzo nanti bantu bunda ya jagain adik Axel, ya?" ucap Adrian sambil mengusap puncak kepala Kenzo.
Kenzo mengangguk mengerti, "Baik, Ayah," ucapnya.
"Kakak, aku titip Lyn dan Axel ya, maaf aku sudah merepotkan kakak," ucap Adrian.

Book Comment (192)

  • avatar
    rambealisa

    orang pekanbaru kah author ini

    30/12

      0
  • avatar
    Tharisya Su

    bagus

    30/10

      0
  • avatar
    Hilda yantiNur

    bagus

    16/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters