"Sayang, bunda sangat merindukan Kenzo," ucap Lyn sambil mencium kedua pipi Kenzo. "Kenzo juga sangat merindukan bunda, maafkan Kenzo karena tidak langsung pulang setelah bunda suruh," ucap Kenzo sedih. Lyn memang menyuruh Kenzo untuk pulang dua hari sebelum dia melahirkan, karena dirinya sangat merindukan putra tampannya itu. "Bunda sudah memaafkan Kenzo. Sekarang Kenzo sudah mempunyai adik laki-laki, dia sangat mirip dengan Kenzo saat masih bayi," ucap Lyn. Saking senangnya Lyn bertemu dengan Kenzo, dia tidak menyadari akan kehadiran Andre dan keluarganya. Andre mencium tangan kedua orang tua Lyn. Dimas nampak cuek dengan kehadiran Andre, dia lebih memilih untuk mengobrol bersama sahabatnya Jericho. Andre tau jika selama ini sudah banyak kesalahan yang telah dia perbuat terhadap Lyn, tapi dia terus akan mencoba untuk meminta maaf kepada Dimas. Tetapi berbeda dengan Mikayla, dia menyambut hangat kedatangan Andre, dia bahkan menggendong Rafael. "Anak kamu sangat mirip denganmu," ucap Mikayla sambil menurunkan Rafael dari gendongannya. Andre hanya tersenyum, sesekali dia melirik ke arah Adrian, Lyn dan Kenzo yang tengah asyik dengan bayi mungil yang berada di gendongan Adrian. "Andre, bagaimana kabar kamu? Tante dengar dari Lyn, kamu dan Melanie sudah bercerai, kenapa itu sampai terjadi?” tanya Mikayla. "Andre hanya merasa tidak cocok dengan Melanie, Tante," ucap Andre sambil menepiskan senyumannya. "Tante hanya bisa berharap kamu akan segera menemukan pengganti Melanie, wanita yang benar-benar menjadi jodoh kamu," ucap Mikayla sambil mengusap lengan Andre. Andre hanya terus menepiskan senyumannya. Mikayla mendekati Lisa yang sedang menggendong Rafael, dia mengajak besannya itu untuk melihat cucu mereka. Andre mengikuti mereka dari belakang, dia juga ingin melihat keponakan barunya. Adrian dan Lyn mencium tangan Lisa, Lyn juga menjabat tangan Andre. "Siapa nama anak kamu ini, Sayang?” tanya Lisa sambil mengambil alih cucunya dari gendongan Adrian. "Axel, Ma," sahut Adrian. "Axel sangat mirip seperti kakaknya saat masih bayi, kedua matanya, hidung mancungnya dan juga lesung di kedua pipinya," ucap Andre sambil mengusap pipi gembul Axel. "Kakak tau banyak tentang Kenzo ya, tidak seperti aku, yang bahkan tidak tau apa-apa," ucap Adrian sambil menepiskan senyumannya. "Em, maaf, Dri. Aku tidak bermaksud untuk-” "Tidak apa-apa lagi, Kak. Lagi pula itu juga bukan salah kakak, Axel akan tumbuh seperti Kenzo, itu semua juga berkat didikan kakak, hingga Kenzo bisa menjadi seperti sekarang," ucap Adrian sambil mengusap puncak kepala Kenzo. Andre menatap Lyn yang kini tengah menatap Adrian, terlihat raut kesedihan di wajah Lyn. Andre mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin di hari yang bahagia ini menjadi hari yang menyedihkan dan itu semua karena sikap ketidaksengajaannya. "Ayah Andre akan menginap di sini, kan?” tanya Kenzo. "Tapi ayah tidak bisa, Sayang, besok ayah ada pekerjaan," tolak Andre sambil mengusap puncak kepala Kenzo. "Kak, menginap lah beberapa hari di sini, aku mohon. Apa kakak tidak kasihan kepada Kenzo, selain itu Rafael pasti juga sangat capek," pinta arka. "Tapi, ka, aku, ” "Kakak tenang saja, soal ayah nanti biar aku yang membujuknya, lagian Lyn juga enggak keberatan, ya kan sayang?” tanya Adrian sambil menggenggam tangan Lyn. Lyn menatap Andre lalu menganggukkan kepalanya. "Menginaplah beberapa hari, kak. Demi Kenzo, seperti Kenzo masih ingin bersama dengan kakak," ucap Lyn dengan menepiskan senyumannya. Lisa menatap Andre lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan tinggal beberapa hari di sini." Andre tidak bisa menolak di saat semuanya memintanya untuk tetap tinggal. Dia juga bisa mempunyai lebih banyak waktu untuk meminta maaf kepada ayah Lyn. "Ma, biar Andre yang menggendong Axel." Andre lalu mengambil alih Axel dari gendongan mamanya. "Halo jagoan kecil, Om. Selamat terlahir ke dunia, Sayang. cepatlah tumbuh besar dan bermain bersama dengan kak Kenzo dan juga kak Rafael ya, Sayang. Om juga ingin bermain dengan Axel," imbuhnya sambil mengecup kening bayi mungil itu. "Kakak cepetan menikah makanya, biar cepat menyusul nanti," goda Adrian. "Memangnya gampang mencari calon istri, sulit lagi, Dri. Lagi pula aku juga enggak ingin terburu-buru menikah, aku sedang menikmati masa lajangku," ucap Andre sambil terus menatap wajah bayi mungil yang berada di gendongannya. "Itu pasti sangat mudah, Kak. Kakak kan tampan, sukses lagi, Kak. Iya, kan, Sayang?” tanya Adrian dan langsung mendapat anggukkan dari Lyn. Andre hanya tersenyum menanggapi ucapan Adrian yang selalu menyinggung soal pernikahannya. Andre bahkan tidak pernah berpikir ke arah itu, tetapi Adrian dan kedua orang tuanya terus membujuknya untuk segera menikah, mereka ingin Andre kembali bahagia seperti dulu lagi. *** Lyn dan bayi mungilnya kini sudah diperbolehkan pulang, Andre beserta keluarganya ikut bersama dengan Adrian dan Lyn pulang ke rumah kedua orang tuanya. "Kakak dan Rafael bisa tidur di kamar sebelah kamar Kenzo, sedangkan papa dan mama bisa tidur di kamar tamu," ucap Lyn sambil menunjukkan letak kamar tamu. "Bunda, apa Kenzo boleh tidur sama ayah Andre?” tanya Kenzo sambil menatap Andre. Lyn menatap suaminya yang tengah menggendong bayi mungilnya, Adrian menganggukkan kepalanya. Lyn menghela napas berat lalu menganggukkan kepalanya. "Maaf ya, Lyn," ucap Andre merasa tidak enak hati karena Kenzo lebih memilih tidur bersamanya ketimbang bersama kedua orangtuanya. "Tidak apa-apa kok, Kak. Lagi pula biasanya Kenzo tidur sendirian, dia jarang mau tidur sama aku dan Adrian, katanya dia sudah besar dan ingin tidur sendiri," ucap Lyn menepiskan senyumannya. Adrian mengajak istrinya untuk menidurkan Axel. Lyn mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Sedangkan kedua orang tua Andre beristirahat di dalam kamar. Selama dua hari ini mereka menemani Lyn di rumah sakit, Sedangkan Andre dan Rafael selama dua hari itu lebih memilih untuk tinggal di hotel. Andre merasa tidak enak hati jika dia dan anaknya tinggal di rumah Lyn, sedangkan Lyn dan Adrian masih berada di rumah sakit. "Sekarang kalian istirahat dulu di kamar, ayah ingin duduk sebentar di sini," ucap Andre sambil mengusap puncak kepala kedua anaknya. Kenzo dan Rafael mengangguk, mereka lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar. Andre duduk di sofa ruang tamu, dia teringat akan pertama kali dia menginjakkan kakinya di rumah itu. Saat pertama kali dirinya datang untuk melamar Lyn bersama dengan kedua orang tuanya. Andre menghela napas panjang, dia sandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Kenapa sangat sulit sekali untuk melupakan kamu, Lyn?" Andre menatap langit-langit ruangan itu. Dimas berjalan keluar dari kamarnya, dia melihat Andre sedang duduk di sofa ruang tamu. Andre yang melihat Dimas ingin menghindarinya pun memanggilnya.
orang pekanbaru kah author ini
30/12
0bagus
30/10
0bagus
16/09
0View All