*** "Roy Alexander." Bisma menatap tajam ke arah sosok pria yang menggunakan baju musim panas. Baju berwarna putih dengan corak pantai berwarna-warni dipadukan dengan celana kain warna putih. Wajah lelaki itu menyeringai menatap Bisma dan terlihat menjengkelkan. Roy melangkah mendekati Bisma yang kini berdiri menantangnya. Lelaki itu diikuti oleh dua penjaga yang bertubuh besar dan berjaga di dua sisinya. "Apa kabar Bisma Wijaya? Pewaris W-Corporate yang hanya hobi berhura-hura?" ujar Roy seraya terkekeh mengejek. Bisma mengepalkan tangannya, ia sangat ingin memukul lelaki yang ada di depannya saat ini. Akan tetapi Indra menahannya sehingga ia urung melakukan hal itu. "Ah, ya. Bagi seorang Bisma itu tak mengapa. Saham papa tidak akan anjlok hanya dengan sebotol Wishkey sepanjang malam. Hahaha." Roy tertawa membahana sehingga beberapa pengunjung cafe menoleh ke arah mereka. Roy lalu berjalan melewati Bisma, dengan sengaja ia menyenggol tubuh Bisma untuk memberikan provokasi. Bisma tetap bergeming, ia hanya memandang penuh amarah pada Roy yang melangkah pergi disertai tawa mengejek dari mulutnya. "Lu ngapain nahan gue mulu?" hardik Bisma pada Indra. "Sabar, Bro. Lu jangan sampai berurusan sama orang macam dia. Kekayaan Lu emang banyak, tapi dia orang yang sangat licik. Bokap Lu bakalan susah ngadepinnya." Indra menepuk-nepuk bahu sahabatnya. "Lu kira gua akan takut?" ujar Bisma dengan kesal. I menepis tangan Indra karena masih tak terima dengan perlakuan Roy padanya. Indra hanya menggelengkan kepala dan meminum Moktailnya. Setelahnya mereka larut dalam lagi dalam obrolan seru, menghabiskan malam dan berakhir Bisma menginap di apartemen Indra karena mabuk berat. 🍁🍁🍁 Aira menatap wajah sembab dalam pantulan cermin dihadapannya. Setelah beberapa saat ia lalu merapihkan kudung berwarna biru muda sekali lagi di cermin sebelum melangkah keluar kamar. M Semalam ia telah memberikan keputusannya kepada orang tua Bisma. Aira menyetujui perjodohan itu dengan alasan membalas budi baik keluarga Wijaya, tentu saja alasan itu hanya ia simpan dalam hati. Sejujurnya ia tak yakin dengan sikap Bisma nantinya. Tetapi, semua hal itu dipatahkan oleh kebahagiaan orang tua Bisma yang mendengar persetujuan Aira. Menurut mereka Bisma akan setuju dan pernikahan akan segera dilangsungkan. Aira berjalan pelan menuju ruang tengah keluarga Wijaya. Suara orang berdebat terdengar dengan jelas, ia melihat Bisma berdiri dihadapan papanya terlihat marah. Urat di pelipisnya mencuat, di sisi lain Hendarto tidak kala murka, wajahnya merah padam dengan tangan yang menggantung di udara. Langkah kakinya kini berhenti di samping tangga, posisi yang sama saat pertamakali bertemu dengan Bisma. "Kenapa berhenti, Pah?! Ayo, tampar aku!" teriak Bisma, kedua tangannya terkepal dengan kuat. Entah sejak kapan lelaki itu berada di rumah, Aira bahkan tak pernah bertemu. Penampilan Bisma yang rapi dengan balutan jas kini terlihat berantakan karena perseteruannya dengan sang papa. "Jangan kurang ajar kamu, ya!" geram Hendarto. Ia kembali ingin melanjutkan tamparannya yang sempat berhenti. "Pah!" pekik Rukmini. Ia menahan tangan suaminya. "Pokoknya aku tidak pernah setuju dengan perjodohan ini, Ma! Aku berhak menentukan siapa istriku sendiri!" ujar Bisma pada ibunya. "Tak ada yang menanyakan persetujuanmu, Bisma! Kau hanya perlu melakukannya! Aku tak akan pernah membiarkanmu bersama wanita jalang itu!" ujar Hendarto tidak kalah sengit. "Dia bukan wanita jalang, Pa!" Wajah Bisma memerah. Ia tidak terima jika wanita yang dicintainya dihina. Aura permusuhan sangat terasa pada lelaki berbeda generasi itu. Aira hanya bisa terpaku memandang perdebatan kedua ayah dan anak di depannya. Tiba-tiba, Bisma melihat keberadaannya. Mata lelaki itu semakin melebar dan memancarkan kebencian. Bisma berjalan dengan cepat ke arah Aira. Wajah Aira mendadak pias melihat raut wajah Bisma yang mengeras. "Lu! Lu penyebab semua ini terjadi! Dasar perempuan sialan! Kenapa Lu tak mati saja waktu itu, hah?!" Bisma menunjuk Aira disertai dengan tatapan yang membunuh. "Bisma! Aku tak pernah mengajarkanmu tidak sopan sama perempuan, Nak!" sahut Rukmini. Ia merasa malu dengan kelakuan putranya. "Kalau kau tak menyetujui perjodohan ini, semua akses untukmu akan aku hilangkan, Bisma!" ujar Hendarto, geram. "See? Lu lihat apa yang lu lakuin? Ini yang lu inginkan, bukan?! Lu pasti wanita rendahan ingin merasakan kemewahan keluarga Wijaya! Dasar perempuan munafik!" hardik Bisma sembari menarik ujung jilbab Aira. "Bisma!" teriak Hendarto dan Rukmini bersamaan. Aira jatuh terduduk. Air mata bersimbah di pipinya, ucapan Bisma yang penuh cacian membuat dirinya merasa sangat hina. Plak! "Papa tak pernah mengajarkanmu menjadi lelaki yang tidak sopan pada perempuan!" bentak Hendarto menampar pipi Bisma. Hendarto menampar Bisma dengan keras hingga dari sudut bibirnya mengeluarkan darah. "Pah!" teriak Rukmini tak menyangka perbuatan suaminya. "Puas lu, kan?! Lu mau nikah sama gue?! Okay! Gue setuju! Kita nikah secepatnya! Lu akan tau gimana rasanya nikah sama gue!" sahut Bisma mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Bisma mendengus kesal pada Aira dan berbalik menuju mobilnya. Ia tak memedulikan panggilan ayah dan ibunya. Bunyi mesin meraung dan decitan rem yang keras mengiringi kepergian Bisma yang emosi. Hendarto jatuh terduduk ke sofa, Rukmini segera menenangkan suaminya. Aira menjadi serba salah, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia sebenarnya tak mau menjadi biang masalah di keluarga Wijaya. Ia mendekat ke arah orang tua Bisma dengan perlahan-lahan. Rukmini yang melihat kedatangan Aira hanya tersenyum sendu. "Maafkan saya, Bu. Mungkin seharusnya saya tidak menyetujui perjodohan itu dan tidak pernah datang ke rumah ini," lirih Aira. Suaranya nyaris tidak terdengar. "Tidak, Nak Aira. Tak perlu meminta maaf, ini murni keinginan kami. Bisma juga sudah setuju—ya, walaupun seperti itu. Kamu yang sabar menghadapi Bisma, ya, Nak. Dia sebenarnya pemuda yang baik," ucap Rukmini sendu. "Kau tak perlu khawatir, Aira. Semuanya akan berjalan dengan baik. Saya harap kamu kuat menghadapi sikap Bisma." Hendarto menekan-nekan dada sebelah kirinya. Aira hanya bisa mengangguk pasrah. Ia lalu meminta izin untuk segera berangkat ke kantor. Bagaimanapun ia memiliki kehidupan sendiri. Kali ini ia memilih untuk menaiki busway. Sepanjang perjalanan ke kantor ia memikirkan ucapan Bisma tentang mengapa ia tak mati saja? Apa mereka sebelum ini mereka saling mengenal? Sungguh banyak misteri yang tidak terpecahkan dalam keluarga Wijaya. Aira menghembuskan napas pelan, ia hanya bisa berharap untuk hidup tenang dan bahagiaan. Ia berjalan pelan menuju pintu gerbang perusahaan tempatnya bekerja. Aira lalu berhenti sejenak menatap gedung raksasa setinggi tiga belas lantai dihadapannya. Ia berpikir untuk kembali ke rumah peninggalan orang tuanya saja. Gadis berjilbab dan gamis warna senada itu lalu melanjutkan langkahnya ke arah pintu utama gedung, ikut bergabung dengan karyawan lain dan mengantri di lift. Setelah beberapa kali terdorong dan tak bisa masuk ke dalam lift. Ia merasakan tubuhnya terdesak masuk berdesakan bersama beberapa karyawan. Suatu kejadian yang lumrah bagi karyawan ditempatnya, jumlah karyawan yang banyak tidak sesuai dengan jumlah lift yang ada. Jumlah lift yang bisa diakses oleh karyawan hanya empat buah sedangkan lift lainnya diperuntukkan khusus untuk para direksi perusahaan. Ia menarik napas lega ketika akhirnya berhasil masuk ke dalam lift walau tempatnya berada tepat di belakang dan harus mepet ke dinding lift. Ia memeluk tas punggungnya di dada agar tak ada yang menyentuh bagian depan tubuhnya dengan tidak sengaja. Aira merasakan seseorang menarik-narik ujung jilbabnya di sisi sebelah kiri, ia menoleh dengan mata yang melotot ingin menghardik orang yang berlaku kurang ajar padanya. Saat menatap orang yang berada di sebelahnya, wajahnya menjadi berubah merah. Lelaki yang berada di sampingnya itu mengedipkan matanya sebelah dengan jenaka. "Hai, nona!" Bersambung
bgs😋
23/08/2024
0sangat tidak masuk akal
04/05/2023
0Sangat menyedihkan 🥹
28/12/2022
0View All