logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 4. Perjodohan

🍁🍁🍁
Aira baru saja masuk ke dalam rumah keluarga Wijaya saat terlihat sosok lelaki menuruni tangga dari lantai dua. Sontak kakinya terasa berat untuk melangkah, entah mengapa aura yang dipancarkan oleh sosok itu terasa menakutkan bagi Aira.
Sosok itu jauh lebih gagah dibanding tadi pagi saat Aira pertama kali bertemu dengannya. Kali ini Bisma menggunakan baju kaos lengan pendek, celana jeans, dan rambut pendek yang tersisir rapi. Sangat berbeda dengan tampilannya dengan lelaki yang bertemu dengan Aira beberapa jam yang lalu.
Aira segera mundur dan merapatkan tubuhnya ke dinding saat Bisma lewat. Bisma melihat sekilas pada Aira, sorot matanya terlihat keheranan tentang kehadiran Aira.
"Pembantu baru?" ujar Bisma, tanyanya dengan nada suara datar. Pertanyaan yang lebih tepatnya pernyataan.
"A-aku ...." Aira merasa gelisah, lelaki dihadapannya ini terasa mengintimidasi.
Tanpa menghiraukan ucapan Aira, Bisma segera berlalu sambil mengutak-atik ponselnya, ia memang tak benar-benar membutuhkan jawaban dan segera berlalu.
Aira menghembuskan napas lega, ia benar-benar merasa terancam saat berdekatan dengan Bisma. Entah mengapa ada aura permusuhan yang dipancarkan oleh lelaki itu.
"Sudah pulang, Nak Aira?" Sapaan lembut membuat Aira sedikit berjengit, kaget.
Saat membalikkan badan, ia melihat Rukmini tersenyum lembut padanya.
"Iya, Bu," ujar Aira.
"Pergilah, membersihkan dirimu. Kami menunggumu untuk makan malam bersama, ada yang ingin kami bicarakan," sahut Rukmini sembari berjalan menuju ruang tengah di mana meja makan berada.
Aira mengangguk dan bergegas menuju kamarnya. Pikirannya berkecamuk tentang hal apa yang ingin didiskusikan oleh orang tua Bisma. Setelah membersihkan diri, ia segera menemui Rukmini di meja makan.
Meja makan yang berbentuk segi panjang itu terasa legang. Hanya ada ketiga sosok manusia yang makan. Mereka makan dalam keadaan diam. Aira pun tak ingin menanyakan hal apa yang akan dibicarakan dengannya. Suasana yang sedikit menegangkan terasa olehnya.
Hendarto duduk di tengah meja sedang Aira dan Rukmini berada di sebelah kanan dan kiri sisi panjang meja. Hal itu membuat Aira bebas menatap ke arah pasangan paruh baya di depannya. Bisma? Ia teringat dengan lelaki arogan yang menyebutnya pembantu itu. Entah di mana dia sekarang, mungkin saja sedang berada di bar dan akan pulang saat mabuk.
Denting sendok yang beradu dihadapannya terhenti, menandakan bahwa pemakainya telah selesai makan. Aira pun menghabiskan makanannya dengan segera.
"Sudah makannya, Nak Aira?" tanya Rukmini pada Aira.
"Iya, sudah, Bu," jawab Aira sembari meletakkan gelas air putih yang beberapa saat lalu diteguknya.
Rukmini memandang Hendarto dan dibalas anggukan suaminya itu.
"Ikutlah bersama kami, ada hal yang perlu kami bicarakan padamu," ujar Hendarto misterius.
Aira lalu mengikuti Hendarto dan Rukmini ke sebuah kamar yang berada di sisi sebelah kanan rumah. Saat melangkahkan kaki ke dalam ruangan, Aira sadar jika kamar itu adalah kamar kerja merangkap ruang baca, terbukti dengan adanya laptop, berkas dan beberapa buku pada rak-rak yang bersusun tinggi menjulang.
Hendarto kemudian duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan itu. Rukmini memilih duduk di samping suaminya. Wanita itu terlihat gelisah, jemarinya terus-menerus meremas sapu tangan yang dipegangnya.
"Jadi begini, Nak Aira. Kami mohon maaf sebelumnya karena memanggilmu seperti ini. Ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan padamu." Hendarto menatap lekat paras Aira.
"Sebelum Bu Sutini meninggal, kami mengunjungi beliau dan meminta agar beliau sudi untuk menjodohkan kamu dengan anak kami, Bisma. Beliau menyambut baik permintaan kami, bahkan berwasiat agar kamu segera dinikahkan dengan Bisma," ucap Hendarto dengan pelan-pelan.
Aira yang mendengar ucapan Hendarto terlonjak kaget. Ia tak mengira jika ada wasiat dari neneknya. Hendarto menyodorkan sebuah kertas putih pada Aira. Dengan seksama Aira membaca isi kertas itu, ia menutup mulutnya tidak percaya, dalam surat itu terdapat cap jempol neneknya menyatakan bahwa ia bersedia jika Aira dinikahkan dengan Bisma.
"T-tapi, Pak. Bagaimana dengan Bisma? Apa dia akan setuju?"ujar Aira. Ia ragu jika melihat sikap Bisma terhadapnya.
"Dia akan setuju bagaimanapun caranya. Kami berharap agar dia bisa berubah dengan menikahi gadis seperti kamu, Nak Aira." Hendarto menatap lekat Aira sembari menghela napas berat.
"Selama ini dia selalu bertingkah semaunya tanpa memedulikan masa depannya seperti apa. Kematian itu tak pernah ada yang tau, aku takut jika suatu saat kematian menghampiriku, dia menjadi orang yang gagal dalam segala hal. Mungkin ini terdengar egois bagimu, tetapi saya yakin kamu bisa membuat Bisma berubah menjadi orang yang lebih baik," terang Hendarto. Raut wajahnya menunjukkan rasa lelah yang luar biasa terhadap sikap anaknya.
"Kami tidak memaksamu, Nak Aira. Semua pilihan tergantung padamu, hanya saja kami sangat berharap banyak padamu." Rukmini menimpali ucapan suaminya.
Aira yang cukup syok mendengar permintaan orang tua Bisma itu terdiam. Ia juga tidak menyangka jika ternyata nenek menjodohkan tanpa sepengetahuannya. Menikah bukan perkara kecil bagi Aira, apalagi jika tak ada cinta dalam pernikahan dan mengingat sikap Bisma yang semena-mena padanya.
"Saya minta waktu untuk berpikir, Bu ... Pak," lirih Aira berkata.
Kedua orang tua Bisma mengangguk, menyetujui permintaan Aira.
"Kami menghargai pilihan yang akan kamu ambil, Nak Aira. Namun, kami tetap berharap banyak jika kamu bersedia menikah dengan Bisma." Itu ucapan terakhir yang didengar Aira sebelum melangkah keluar ruang kerja Hendarto.
Aira berjalan menuju gazebo kecil yang berada di taman samping rumah keluarga Wijaya. Taman yang memiliki banyak jenis bunga mawar, kolam ikan dengan pancuran membuat Aira betah berlama-lama. Sebulir bening air menetes dari sudut matanya, ia tak mengerti akan takdir kehidupan yang seakan bergulir cepat menghampirinya. Mulai dari kematian orang tuanya hingga kini seakan kepedihan dan kesedihan selalu menyertainya, kematian neneknya tersayang, meninggalkan rumah tempatnya dibesarkan, hidup bersama keluarga Wijaya hingga kini ia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia dijodohkan dengan lelaki yang semena-mena padanya.
Rupanya suasana taman yang hening tak membuat Aira mendapatkan ketenangan jiwa. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Aira segera mensucikan diri dan menghamparkan sajadah. Ia memilih untuk mengadukan perihal hidupnya pada Sang Maha Kuasa pemilik jiwa dan raganya. Ia berdoa meminta pencerahan, baginya pernikahan bukan hal kecil yang bisa dipermainkan. Bagi Aira pernikahan baiknya seumur hidup dan sehidup semati seperti orang tuanya.
Saat terpekur dalam duduknya, Aira tiba-tiba teringat neneknya pernah berucap padanya.
"Keluarga Wijaya itu sangat berjasa pada keluarga kita, Nduk. Bahkan sebelum orang tuamu meninggal, mereka selalu membantu keluarga kita. Apapun yang terjadi ke depan, kamu harus selalu ikhlas dan memaafkan semua kesalahan yang mereka perbuat pada keluarga kita," ucap neneknya kala itu.
"Kesalahan seperti apa yang keluarga Wijaya lakukan pada keluarga kita, Nek?" tanya Aira keheranan.
"Suatu saat kamu akan tahu. Jika saat itu terjadi, Nenek harap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada," jawab nenek Aira dengan senyum misterius.
Aira menghela napas panjang. Pikirannya kalut, kesalahan apa yang telah dilakukan oleh keluarga Wijaya pada keluarganya? Tak ada kesalahan apapun yang mereka perbuat, bahkan ia bisa sarjana dan bekerja di perusahaan besar karena bantuan keluarga Wijaya.
Jika menghitung semua kebaikan keluarga Wijaya dengan dirinya, rasanya ia tak pantas untuk menolak perjodohan yang mereka tawarkan, bahkan jika ia menerima perjodohan ini, tak menghapus utang budinya pada keluarga Wijaya. Aira akhirnya mengetahui jalan mana yang harus dipilih, kali ini ia mantap dengan keputusannya. Ia hanya berharap semoga kedepannya bisa lebih baik untuk hidupnya.
🍁🍁🍁
Mobil Bentley berwarna silver metalik memasuki halaman parkir sebuah cafe merangkap bar di bilangan Jakarta Pusat, sebuah cafe yang diperuntukkan kalangan elit dan kaum high class.
Sosok lelaki berpostur tinggi dengan penampilan menawan turun dari mobil. Setelah memberikan kunci pada velet parking, lelaki itu segera masuk ke dalam cafe. Ia mengedarkan pandangan hingga berhenti pada sosok lelaki berkemeja putih dengan dua kancing atas terbuka sedang menikmati blue mooktail di meja bar.
"Itu minuman anak-anak, Indra," sapa sosok itu pada seorang lelaki dengan rambut lurus dengan wajah mulus layaknya artis Korea.
Lelaki yang disapanya menoleh dengan senyum lebar di wajah.
"Minuman beralkohol gak baik buat kesehatan, Bro!" ujar lelaki yang ternyata Indra Hendrawan. Ia menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Cih, bilang aja cemen. Sekali kali minum ginian," sahut lelaki itu sembari menunjukkan segelas wiskey yang baru saja dipesannya pada bartender.
"Ck, Lu beneran gak sayang sama diri sendiri,"
Mereka larut dalam pembicaraan seru hingga sebuah suara membuat mereka menoleh.
"Wah, tidak ku sangka bisa bertemu dengan Bisma Wijaya, seorang pimpinan W-Corporate ada di sini."
Bisma menatap tajam ke arah sosok lelaki yang baru saja menegurnya. Raut wajahnya menampakkan sikap permusuhan yang nyata.
"Roy Alexander," gumam Bisma.
Bersambung.

Book Comment (18)

  • avatar
    ZaskiaKia

    bgs😋

    23/08/2024

      0
  • avatar
    MulyaniNeng

    sangat tidak masuk akal

    04/05/2023

      0
  • avatar
    AlfhiaNabila

    Sangat menyedihkan 🥹

    28/12/2022

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters