logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 7

Melelahkan, Lintang menatap Jeje lesu. Setelah selesai praktik tadi, mereka dikejar oleh pelajaran matematika. Dan sekarang, akhirnya mereka bisa pulang.
Lintang masih mabuk oleh pelajaran itu, rasanya ia akan pingsan kalau tidak minum air dingin.
"Ayo." Ajak Jeje, sudah siap untuk segera pergi les.
Sebenarnya, jalan untuk menuju ke tempat les mereka berbeda. Jadi, mereka akan berpisah ketika keluar dari gerbang depan sekolah.
"Yuk!" Sahut Lintang semangat, sebentar lagi ia akan healing.
Melakukan hal yang membuat kita senang, rasanya seperti sedang jatuh cinta. Berbunga-bunga dan gugup diwaktu yang bersamaan. Apalagi, dalam pengalamannya ia baru pertama kali mencoba les.
Apakah teman-teman ditempat les akan sebaik teman disekolah? Semoga saja, ia akan merasa nyaman disana.
"Bye-bye!" Ucap Lintang
"Bye!" Sahut Jeje
Kini, mereka sudah berjalan dijalan masing-masing. Entah kenapa Lintang merasa tidak rela, bagaimana jika nanti mereka berbeda universitas? Akankah mereka akan masih sedekat sekarang.
Setelah lulus dari sekolah nanti, Lintang berencana untuk kuliah dan masuk jurusan seni. Ia pikir itu lebih baik daripada harus melirik jurusan lain.
Jeje mungkin akan masuk jurusan teknik industri? Haha, mereka belum membicarakan tentang ini. Lintang belum tahu apa yang akan Jeje pelajari.
"Halo semuanya." Lintang menyapa teman lesnya, ia sudah sampai disana lalu segera duduk ditempat yang sudah disediakan.
Baru saja duduk, ia sudah dikelilingi oleh semua orang yang ada disana. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ia pikir, akan ada banyak orang yang les disini.
Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangguk saat teman lesnya bertanya. Entah mengapa ia merasa gugup, jelas saja ini kan hari pertamanya.
"Nama Lo Lintang?" Tanya salah satu teman lesnya
"Iya kak." Jawab Lintang
"Santai ae kali, nama gue pritey."
"Pritey?"
"Iya, panggil gue prit!" Serunya tersenyum, tangannya asik mengupil.
What the.. ini orang jorok banget sih, batin Lintang.
"Oke prit!" Lintang berseru kencang seperti menirukan suara peluit, ia terkekeh geli.
Prit juga, dia ikut cengengesan.
Tangannya sudah terlepas dari hidungnya.
Setelah itu, Lintang kembali ditanya.
"Oh ya, dari SMA mana?"
Pertanyaan ini muncul dari perempuan yang terlihat berada jauh dari umurnya. Lintang juga menjawab dengan sopan.
"Dari SMA tengara."
"Oh gitu."
Lintang mengangguk,
"Iya kak." Sahutnya sopan dan malu-malu, padahal kalau sama Jeje atau yang lain ia tidak perlu jaim begini.
"Kak? Aku baru umur 16 tahun." Ucapnya "Namaku Selena kak, biasa dipanggil selen." Sambungnya lagi
Hah?! Apa sih, Lintang kira Selena ini lebih tua darinya.
"Ah, Maaf gue kira lo lebih tua ups! Maksudnya bukan gitu, maksud gue karena lo keliatan lebih dewasa dan bijaksana." Ujar Lintang menjelaskan, ia hanya tidak mau menyakiti hati orang lain karena perkataannya.
Selena hanya tertawa, ia akhirnya duduk didekat Lintang.
"Aku udah biasa kok, kata orang-orang dandanan aku kayak tante-tante. Tapi, aku gak merasa begitu karena style aku memang gini." Selena tersenyum hangat, saat Lintang mengangguk canggung
padanya.
"Eh anak baru ya?" Tanya seseorang lagi, ia baru tiba disini entah siapa Lintang tidak tahu.
"Iya kak, dia seumuran sama kamu tuh." Sahut Selena
Orang itu menatap Lintang dari atas sampai bawah, membuat Lintang merasa sangat risih. Kenapa? Ada apa?
Lintang balas dengan tatapan tajamnya juga.
"Wow! Fantastis! Lo udah masuk ke deretan orang cocok seni." Ujar orang itu lagi, Lintang merasa aneh rambut perempuan yang sedang berdiri tidak jauh darinya ini sebenarnya warna apa? Astaga, apakah disini tempatnya orang-orang aneh?
"Kenalin gue Axalia patrecialius early." Ucapnya sembari menyodorkan tangannya pada Lintang.
"Gue Lintang, salam kenal asalia pater-" Ucapan Lintang terhenti karena dia susah untuk menyebut namanya.
"Ha-ha-ha, nama lo emang susah disebut sih." Suara tawa berat ini terdengar dari belakang, dia adalah satu-satunya cowok yang ada disini. Lintang sempat berkenalan dengannya. Kalau tidak salah namanya Jeck? Umurnya lebih tua, sekitar 25 tahun.
"Ape, lo bisa panggil gue ape hehehe." Ucap Ape memberitahu Lintang
"A-a pe?" Sebut Lintang, ia benar-benar bingung sekarang.
"Ape itu singkatan dari namanya kak, huruf A diambil dari awal huruf nama pertama kalau P diambil dari huruf awal nama kedua lalu E diambil dari huruf pertama nama ketiga." Jelas Selena, ia dengan senang hati menjelaskan tentang hal itu.
Lintang mengangguk, dalam hati ia terus terkejut. Ada lagi orang yang lebih aneh darinya?
"Okay, gue mau duduk bye!" Ucap Ape meninggalkan Lintang, Selena, lalu si tukang ngupil.
Setelah Ape tidak terlihat lagi, Selena berbisik pada Lintang.
"Warna rambut kak Ape itu sebenarnya warna ungu, tapi rambutnya kena cipratan cat yang susah buat dibersihin."  bisik Selena.
Lintang menatap Selena tak percaya.
Mereka tertawa kecil. Sedangkan Prit ia bengong sembari terus mengupil.
🥀🥀🥀
Panas, siang ini cukup untuk membuat tubuh Biru berkeringat banyak. Apalagi ia memakai setelan jasnya.
Tadi malam, ia dipanggil untuk wawancara kerja disebuah perusahaan. Wawancara memang sudah berakhir, tetapi pengumuman hasil seleksi masih belum diberi tahu. Katanya, mereka akan menghubungi Biru kembali.
Biru melihat pergelangan tangannya, mengecek jam yang ternyata sudah pukul 14.56.
Ia berjalan menuju halte bus, sepertinya ia harus segera mencari pekerjaan paruh waktu lagi.
"Biru!" Sapa seseorang.
"Lintang?" Ucapnya bertanya-tanya, bukankah gadis itu harusnya sudah pulang dari jam 12 lalu?
"Iya gue Lintang masa dedemit!" Seru Lintang, ia ikut duduk dekat dengan Biru
Biru mengangguk setuju, benar juga untuk apa dedemit menyerupai Lintang.
"Darimana?" Tanya Biru
Bukannya menjawab, Lintang malah asik dengan ponselnya. Tersenyum lebar seperti mendapat hadiah saja.
Biru beralih melihat ke arah kanan, ia berdiri karena bus akan segera sampai disini. Lagipula, biarkan saja si Lintang dengan ponselnya ia tidak bisa dekat dengan orang yang mengabaikan ucapannya.
Biru segera naik saat bus benar-benar ada didepan matanya, berjalan meninggalkan Lintang yang mulai menyadari keberadaan bus itu.
"Tungguin!" Teriakan Lintang membuat supir bus geleng kepala, untung saja tidak salah geleng bisa-bisa pak supir itu mendapat sakit yang luar biasa.
Mereka duduk berpisah, karena Biru mengabaikan Lintang yang akan ikut duduk dengannya.
Gadis itu melirik sesekali pada Biru, ponselnya ia taruh dengan benar ke dalam tasnya. Tadi itu, ia sedang chat grup dengan anak les. Ia sangat senang, dan tidak sabar untuk kembali les besok.
Ternyata, keahlian mereka sangat baik. Lintang merasa bersemangat dan ia tidak menyangka si Pritey yang ia kira tidak pandai melukis ternyata dia memiliki bakat yang sangat sempurna. Gambarnya begitu nyata tidak terlihat seperti lukisan. Sedangkan Selena, Lintang tidak mengerti mengapa gadis yang umurnya lebih muda darinya itu selalu melukis abstrak dan tidak beraturan namun, bisa terlihat sangat cantik dalam bersamaan berkat perpaduan warna yang alami dari cat.
Jeck? Ah, dia sepertinya belum terlihat mahir. Apalagi tangan kirinya selalu digunakan ketika melukis membuat gambar yang Jeck buat seperti kertas yang di sobek-sobek alias hancur.
Kalau menurut Lintang, Ape juga mahir katanya dia sangat menyukai cacing, lintah, belut semacam itu. Jadi, dia melukis banyak sekali gambar hewan-hewan licin itu.
"Biru." Bisik Lintang memanggil Biru yang wajahnya sedang menghadap jendela.
Pria itu mengabaikannya.
"Ish, awas aja." Gumam Lintang, ia segera menyenderkan kepalanya di jendela bus.

Book Comment (274)

  • avatar
    123uum

    siap

    16d

      0
  • avatar
    PratiniRehan

    bagus banget bikin baper kata gua teh

    08/05

      0
  • avatar
    FaizRahmat

    bagus

    21/11

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters