Akhirnya, Lintang kembali pulang ke rumahnya ia merasa tidak enak untuk terus tinggal dirumah Jeje. Ia mengurung diri di kamar, merebahkan diri di kasur empuk miliknya. "Akhirnya, besok gue udah bisa les melukis lagi." Ucap Lintang Menepuk-nepuk kasurnya dengan pelan, ia merasa bosan kemudian ia bangun dari tidurnya. Memanfaatkan waktu yang masih belum terlalu malam, ia segera mengambil alat tulisnya yang berada ditempat khusus. Setelah merapihkan alat-alat itu, ia membuka gorden kamarnya. Terasa angin sepoi-sepoi masuk ke dalam kamarnya. Sebelum ia kembali, matanya melirik keluar jendela melihat gelapnya malam hari. "Wah, bulannya bagus banget gue lukis ah." Ucap Lintang, ia terpana dengan bulan malam ini. Cukup membuatnya merasa senang sesaat. Ia mendekatkan alat tulis dekat dengan jendela, memutar lagu kesukaannya sesekali tersenyum tipis. Kuasnya menari kesana-kemari memberi warna pada kanvas putih yang sebelumnya mulus. Benar, waktu seperti inilah yang ia inginkan. Melukis, dengan suasana tenang dan nyaman setidaknya walaupun ia merasa kosong, tetapi dengan cara ini ia merasa lebih baik. Belum selesai memberi cat warna putih, ia sudah kehabisan saja. "Loh, bukannya gue udah beli ya." Ucap Lintang bingung Lukisannya akan segera selesai, baru ia mengisi setengah warna dari bulannya. "Hmm, bulan sabit oke juga." Gumam Lintang, ia sepertinya mengubah alur melukisnya sebenarnya bulan malam ini adalah bulan purnama bukan bulan sabit. Ia tersenyum senang, hasil karyanya memang bagus. Walaupun ia tidak tahu pendapat orang lain tentang ini, menurutnya ini cukup bagus untuk dijadikan sebagai hiasan dinding kamarnya. Ia berdiri dari duduknya, merapikan kembali alat melukisnya dengan benar. Menyimpan di lemari khususnya. Lukisan tadi, ia biarkan saja agar besok bisa kering. Setelah itu, ia kembali melihat keluar jendela. Lagunya membuat suasana malam ini meriah, walaupun Lintang hanya sendiri disini. "Ck, Biru lagi ngapain ya?" Gumamnya penasaran. Lapar. Ia lapar, haruskah keluar kamar? Males banget, batin Lintang. Akhirnya, ia menutup jendela dengan cepat tanpa perlu mematikan lagu yang berputar. Ia melangkah untuk keluar dari kamarnya. "Aha, ada yogurt." Pekiknya senang, ia berdiri didepan kulkas mencari makanan yang lain Tangannya penuh dengan snack dan roti, sebelum ia membuat kesalahan tangannya mengambil keranjang kecil sebagai wadah makanannya. Kebiasaan ini, sering ia alami. Lapar di malam hari, walaupun sudah makan sebelumnya. Atau ini disebut rakus ya? "Cari makanan?" Tanya suara seseorang, ia berbalik melihat mamanya yang sedang menuang air pada gelas favoritnya. Lintang hanya menjawab dengan anggukan, kemudian berjalan kembali ke kamarnya dengan tangan yang penuh makanan. Melewati mamanya yang sedang minum, tanpa perlu berbicara lagi. "Huft." Lintang menghela napas lega, tadi itu benar-benar suasana yang tidak nyaman. Apalagi, mamanya bertanya padanya. Kejadian yang lalu, memang sudah berlalu. Ya, Lintang akui ia tidak bisa membenci Mamanya untuk waktu yang lama. Hanya saja, ia masih mengingat hal itu jadi akan sangat tidak nyaman bila ia bertemu dengan mamanya dalam waktu dekat. Mungkin, besok pagi ia akan bangun awal. Menghindar dari mamanya bukanlah pilihan yang buruk. Lintang menaruh keranjang berisi makanan tadi di nakas dekat tempat tidurnya. Mulutnya sudah penuh dengan potongan roti coklat, ia duduk di meja belajarnya mencoba membuka buku pelajaran sekolahnya. Namun, hanya sesaat setelah ia rasa matanya mengantuk. Ia minum dengan cepat, menuntaskan acara ngemil malamnya. Ia kembali beranjak pada kasur untuk tidur. Lagu masih terus berputar, menemani malam Lintang. 🥀🥀🥀 "Jeje tungguin gue!" Teriak Lintang, kakinya masih belum memakai sepatu dengan cepat ia memakainya. Pagi ini, ia bangun seperti biasa. Tidak mungkin gadis ini bisa bangun lebih awal dari ayam? Impossible. "Cepetaaaan." Teriak Jeje malas Mereka akhirnya sampai di halte bus, menunggu bus yang biasa mereka naik. "Je, tebak kemarin gue ngapain?" Ucap Lintang, berusaha untuk mencari topik pembicaraan Jeje menoleh, "Pup?" Tanyanya serius. Lintang cemberut, "Bukan ih." Jeje kembali pada buku komiknya, tidak menghiraukan Lintang yang sudah kesal Bus sudah sampai, mereka akhirnya sudah duduk di dalam bus dengan aman. Jeje masih asik dengan buku komiknya, dan Lintang juga tidak ada niat untuk menceritakan hal kemarin. Sepertinya, bagus jika Jeje tidak mengetahui hubungannya dengan Biru. Bus melaju dengan cukup cepat, jalanan hari ini lumayan lenggang. Lintang yang bosan akhirnya melihat ke luar jendela Bus. Ia melihat orang-orang yang sedang beraktivitas juga. Kadang, Lintang pikir hari ini semuanya sibuk dan sibuk. Seperti tidak ada waktu untuk istirahat saja. Matanya menyipit menyadari sesuatu, apakah ia kenal orang itu? Bukankah itu Biru? "Biru." Panggil Lintang, yang tidak mungkin Biru bisa mendengarnya. Bus berjalan sesuai arah, ia kehilangan Biru. Lintang penasaran apa yang dilakukan Biru dijalan dekat gedung tinggi, pakaiannya juga tapi memakai jas. "Hah? Masa?" Belum sempat ia berpikir hal lain, Jeje menyadarkan dirinya untuk segera turun dari Bus karena sudah sampai didepan pelataran sekolah. Ketika turun, mereka sudah disambut pak satpam dengan senyuman. Lintang membalas senyuman itu, ia seketika lupa apa yang ia pikirkan tadi. Jeje berjalan di depan, seperti menuntun Lintang untuk sampai dikelasnya. "Good morning." Sapa Lintang saat sampai dikelasnya. Teman-temannya juga membalas kata yang sama, Lintang memang orang yang humble ia selalu bisa mencairkan suasana, teman-temannya yang lain saja pernah bilang padanya kalau Lintang anak yang ceria terlampau ceria. "Hari ini mapel apa Je?" Tanya Lintang Mereka duduk dimeja yang sama, tadinya mereka berpisah sementara karena pemilihan acak tempat duduk yang diajukan beberapa temannya, namun akhirnya, mereka kembali seperti semula. "IPA." Sahutnya singkat, Jeje memang anak yang pintar namun ia tidak pandai bersosialisasi, berteman dengan Lintang pun karena gadis itu yang mengajaknya untuk berteman. Tapi, ketika bersama Jeje bisa banyak bicara ataupun sedikit bicara. Lintang juga tidak tahu apa yang dipikirkan temannya itu. Mereka tidak pernah mengobrol terlalu dalam tentang perasaan mereka masing-masing. Guru IPA mereka sudah datang, seketika kelas menjadi sangat sepi. Setelah berdoa tiba-tiba saja, Lintang kaget setengah mati karena Bu Sesil dengan lantangnya bilang kalau hari ini praktik di laboratorium. "Dadakan banget njir," Ucap salah satu teman dikelasnya setelah Bu Sesil meninggalkan kelas Lintang sudah lesu, harus banget gitu loh sekarang?! Batin Lintang. Jeje menepuk punggung Lintang, "Sabar boss." Ucapnya seperti meledek Lintang cemberut lagi, sudah berapa kali ia bermuka masam di pagi hari ini? Teman-temannya sudah ada yang keluar dari kelas, Lintang dengan malas mengambil Jas lab didalam tasnya. Untung saja, ia sengaja menaruh jas nya didalam tas setiap hari. Ia takut kejadian dadakan ini terjadi. Dan terjadi lah. Jeje dan Lintang mengikuti temannya yang lain, melangkahkan kaki mereka menuju lab khusus IPA. Bukan seperti dugaan mereka, nyatanya praktik kali ini lebih ringan dan santai. Bu Sesil menerangkan materi dengan tegas dan ramah, apalagi saat mempraktikkannya. Tetap saja, Lintang tidak begitu mengerti. Andai saja, ia memiliki otak secerdas Albert Einstein Jeje pasti kalah. Ia jadi geli sendiri dengan pemikirannya, mana mungkin kan dirinya mampu mengalahkan Jeje? Jika dipikir lagi, bisa saja ia menjadi anak rajin yang selalu pergi ke perpustakaan untuk membaca banyak hal. Dengan hal itu apakah ia mampu meraih juara 1?
siap
19d
0bagus banget bikin baper kata gua teh
08/05
0bagus
21/11
0View All