"Kamu ini gimana sih?! Bisa kerja gak? Tolong keluar dari toko ini sekarang, kamu dipecat!" Teriakan itu menggema di dalam toko yang dipenuhi buku, setelahnya hening tak tersisa. Biru, hanya terdiam ia hanya menunduk takut padahal ini bukan kesalahannya. Tanpa senyum ia membuka topi yang terpasang di kepalanya pasrah. Saat hendak pergi dari sana, ia terdiam beberapa detik saat mengetahui ada sosok dua orang yang tadi malam bertemu dengannya. Malu sekali, pikirnya. Tanpa ragu lagi, ia melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar. Sementara Lintang, ia melambaikan tangannya semangat. "Biru." Ucapnya berbisik, namun pria itu mengabaikannya. Biru terus berjalan, meninggalkan Lintang dan Jeje. "Pulang yuk!" Ajak Jeje, ia pikir situasi saat ini tidak baik jika diteruskan. Lintang cemberut, "Iya sih, Je Lo pulang duluan aja ya gue mau nyusul Biru." Ucapnya, Lintang berlari kencang menghiraukan Jeje yang marah karena ditinggalkan. "Kayaknya, Lintang udah mulai bucin." Ucap Jeje, kemudian ia berbalik menuju arah pulang. Tidak mau ambil pusing, lebih baik ia makan dirumah lalu tidur. Sementara Lintang, ia sudah berjalan berdampingan dengan Biru. Gadis itu tersenyum senang, "Lo tau gak, gue punya tempat buat Lo supaya gak sedih lagi." Ujar Lintang Biru yang mendengar itu, terhuyung hampir jatuh. Ia pikir, Lintang tidak mengikutinya. Melihat itu, Lintang tertawa "hahahaha." Biru memalingkan wajahnya, dia menatap Lintang sedikit kesal tapi akhirnya dia bertanya juga. "Dimana?" Mendengar itu, Lintang dengan semangat menarik tangan Biru ia menuntun arah agar Biru mengikutinya. "Kenapa kesini?" Tanya Biru setelah mereka sampai ditujuan Lintang yang sebenarnya. Apakah kalian tahu? Lintang membawa Biru untuk masuk ke taman sekolah SMA gadis itu. Ia bingung, menatap Lintang yang malah cengengesan seperti anak kecil. Melihat itu, Biru seperti tersadar dengan dirinya sendiri. Karena, tawa Lintang membuatnya merasa ia harus tertawa juga. Kini, Biru berdiri berjauhan dengan Lintang. "Lo liat gak, pohon itu." Tunjuk Lintang pada pohon yang ada didekat bangku taman, pohon itu cukup tinggi. Lintang berlari ke arah pohon itu, disusul Biru yang mengikutinya bak anak ayam. Tiba-tiba saja, bunga-bunga kecil berjatuhan ke bawah akibat tangan jahil Lintang yang sengaja menggoyangkan pohon itu dengan keras. "Hahahaha, seru kan?" Ucap Lintang, dia tertawa melihat rambut biru yang penuh dengan serpihan bunga. Biru yang berada dibawah pohon terkena beberapa bunga yang berjatuhan tadi, ia sedikit terhibur dengan tindakan Lintang. Tanpa Lintang duga, Biru menarik tangannya untuk berada dibawah pohon seperti posisi sebelumnya. Kemudian, ia berjalan dan menggoyangkan kembali dahan pohon dengan cepat. "Yeay! Seru banget hahaha." Tawa Lintang kegirangan, ia berputar senang. Biru ikut tersenyum, dia kembali mendekati Lintang. "Gimana?" Tanya Lintang pada Biru, ia merebahkan tubuhnya diatas rumput tidak peduli kalau bajunya akan kotor. Biru mengikuti Lintang, ia juga ikut berbaring disebelah gadis itu. "Lumayan." Sahut Biru "Setiap gue sedih, gue selalu kesini tapi kalo bunganya gak ada ya gue gak kesini dong." Ucap Lintang menerangkan Biru tertawa kecil, mendengar ucapan Lintang. "Kayaknya lo selalu ke laut deh." Ucap Biru. Lintang melorot tak percaya, apakah Biru selalu melihatnya? "Bener sih, hampir setiap hari juga." Sahut Lintang membenarkan. Biru rasa, ia tidak perlu lagi untuk merasa asing pada Lintang. "Gue kira, kita gak akan ketemu lagi setelah di laut itu." Ujar Biru "Sekarang Lo tau, kita ketemu lagi kan?" "Gue tau ini aneh, tapi Lo mau gak ketemu gue setiap Lo ngerasa sedih atau pun cape." Sambung Lintang "Kayaknya, gue bakal selalu ketemu Lo." Sahut Biru "Hah?!" Lintang menyahut tak mengerti "Karena setiap hari, gue selalu ngerasa sedih sama cape." Ucap Biru "Terserah Lo deh, tapi inget ya Lo belum ganti es lemon yang waktu itu." Biru memalingkan wajahnya, menatap Lintang. "Sekarang gue lagi gak ada uang, Lo tau kan gue baru dipecat." Lintang sedikit merasa canggung ketika Biru membahas apa yang ingin Lintang lupakan. "Lo bisa cari kerjaan lain kan." Ucap Lintang, ia juga ikut menatap Biru yang kemudian hanya bertahan 2 detik. Lintang bangun dan berdiri, "Nah, kalo gitu ayo kita main perang lempar bunga!" Serunya semangat "Yang kalah harus traktir." Ucap Biru, namun ia kembali teringat bahwa dirinya tidak punya cukup uang. Lintang tertawa, "Lo kan gak punya duit, gimana kalo Lo kalah?" Tanya Lintang "Kalo gitu, yang menang yang traktir." Sahut Biru Lintang terdiam, "Gak jadi deh, gue haus banget." Ucap Lintang Biru menurut, matanya menengadah melihat langit yang mulai gelap. Ia baru menyadari betapa lamanya ia bersama Lintang. Mereka berdua pergi meninggalkan tumpukan bunga tadi, melewati gerbang keluar tanpa ada yang tahu. Adalah hal aneh, karena pagar sekolah ini tidak terkunci dengan baik. Namun, Lintang bersyukur pagar ini tidak dikunci. Selama perjalanan, mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. "Lo mau rasa apa?" Tanya Lintang saat mereka sudah sampai di kedai yang khusus menyediakan minuman. "Lemon." Jawab Biru, ia menatap Lintang yang sedang memesan pada pemilik kedai. Rasanya sangat tidak nyaman, ketika seseorang yang baru ia kenal mentraktirnya seperti ini. "Nih." Biru kembali pada kenyataan, ia mengambil botol minum rasa lemon itu dengan cepat. Lintang ikut duduk disebelah Biru, mereka meminum minuman mereka dengan tenang setelah beberapa menit, suara Lintang memecah keheningan. "Akhirnya, seger." Ucap Lintang yang sudah menghabiskan minumannya. "Biru, kalau boleh gue kasih saran lebih baik Lo buat cerita novel deh." Sambung Lintang, ia menatap Biru yang juga menatapnya. Alis Biru terangkat, "Caranya?" Lintang menghela napas panjang, "Sekarang kan, kita bisa nulis dimana aja atau Lo juga bisa nulis artikel di blog." Biru perlahan mengangguk mengerti, "Blog itu dimana?" Tanyanya Astaga, Lintang kira anggukan dari Biru berarti ia paham. Nyatanya, pria ini gaptek alias gagap teknologi. "Masa Lo gak tau?" Tanya Lintang, Biru menggelengkan kepalanya polos. "Lo ada laptop?" Tanya Lintang lagi. "Punya, tapi udah lama banget." Jawab Biru jujur. "Oke, tapi masih bisa digunain kan?" "Masih." Gadis itu tersenyum lebar, kemudian ia menjelaskan tentang apa itu blog dan cara menulis kata-kata dengan benar. Sebenarnya, Lintang sedikit punya kemampuan untuk menulis cerita, namun ia meninggalkan hobinya kemudian beralih untuk melukis. Mereka sibuk berbincang, sampai malam disana. Lintang yang sudah menjelaskan cara-cara menjadi penulis pada Biru menghela napas lega, pria ini cukup baik memahami sesuatu. "Tapi, gue gak punya ide cerita." Ujar Biru, dia merenung kembali. Tanpa dirasa, tangan Biru menepuk punggungnya cukup kuat. "Lo bikin cerita plus plus aja." Ucap Lintang, Biru yang mengerti apa yang dikatakan gadis itu terkesiap kaget. "Dirty mind." Ucap Biru kesal Lintang yang melihat reaksi dari pria yang ada dihadapannya hanya terkekeh geli. "Lo suka baca buku?" Ucap Lintang setelah tawanya mereda "Suka." "Buku apa?" Tanya Lintang, tanpa menunggu jawaban Biru ia pergi untuk membuang sampah bekasnya tadi. Biru menatap punggung Lintang dengan cepat ia menjawab. "Kamus, buku tentang geografi, buku cara cepat menghapal vocabolary." Mendengar itu, Lintang melotot tak percaya. Yang benar saja! "Astaga, maksud gue cerita novel gitu." Ucap Lintang frustasi, ia duduk kembali. Biru menggeleng kaku, tanpa perlu merasa bersalah Lintang mencubit pria itu dengan kencang. "Aw!"
siap
19d
0bagus banget bikin baper kata gua teh
08/05
0bagus
21/11
0View All