logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 4

Malam ini, Lintang sedang berada dirumah Jeje. Dia sangat senang karena berhasil membujuk Jeje untuk menginap dirumahnya.
Setelah bercerita panjang mengenai masalah Lintang, Jeje kemudian mengajak Lintang untuk ke rumahnya. Katanya, ini bukan karena Jeje mengasihani dirinya. Tetapi, ini adalah jalan terbaik karena Jeje tidak mau Lintang berada di jalanan. Siapa lagi kan yang ribet nantinya?
"Eh Je, Mama lo ada dirumah?" Tanya Lintang
Jeje mengangguk, "Iya, kenapa?"
"Ya nggak sih, cuma nanya aja." Sahutnya
Jeje tidak memedulikan hal itu, ia langsung membuka pintu rumahnya dan terlihat Mamanya sedang berada diruang TV.
"Halo Ma, Lintang ada disini." Ucap Lintang tersenyum lebar pada Mama Jeje
"Hai Lintang, apa kabar? Kamu udah makan?" Tanya Syeril, Mama Jeje.
"Aku baik, belum hehehe." Jawab Lintang cengengesan
Jeje dan Lintang akhirnya masuk ke kamar mereka masing-masing, sebenarnya Lintang inginnya berdua dengan Jeje tetapi kasur Jeje sekarang sudah tidak dipakai 2 orang lagi. Jadi, Lintang berada dikamar yang lainnya.
"Kalau sudah ganti baju, cepet ke ruang makan ya!" Teriak Syeril
"Iya Ma." Sahut Jeje
Kemudian disambut suara Lintang yang lebih keras dari Jeje "Iya Ma!"
Syeril menggelengkan kepalanya, kupingnya bisa saja berdarah sekarang. Bercanda guys!
"Wah! Ada ayam serundeng." Seru Lintang, ia cepat sekali berganti baju sementara Jeje masih berjalan menghampiri ruang makan
"Iya, makan yang banyak ya." Ucap Syeril senang
"Mama mau ke kamar dulu, jadi kalian duluan aja makannya ya." Perintah Syeril
"Oke!" Jawab Lintang setuju
Jeje hanya fokus pada makanannya, rahasia Jeje yang tidak diketahui orang lain adalah makannya yang banyak kalau dirumah.
"Buset, banyak banget tuh nasi." Ujar Lintang kaget melihat porsi makan Jeje yang dua kali lipat lebih besar daripadanya.
"Ini tuh sehat tau! Udah ah, Lo makan aja jangan banyak omong." Ucap Jeje dengan wajah marahnya
Lintang hanya tertawa dalam hati, Temannya ini unik banget sih.
Mereka sudah fokus pada makanannya masing-masing, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tenang.
Beberapa menit setelah mereka selesai makan. Ada bel berbunyi, dan Lintang dengan sigap keluar untuk mencari tahu siapa yang malam-malam begini membunyikan bel.
"Iya, tunggu bentar." Ucapnya
"Ada ap-" Ucapan Lintang berhenti begitu saja saat melihat sosok yang ia kenal berada diluar pintu rumah Jeje
"Biru." Gumam Lintang, sepertinya ia agak terkejut karena bertemu lagi dengan pria ini.
"Ini pesanan untuk ibu Syeril." Ucap Biru, ia mengabaikan ucapan Lintang yang memanggil namanya tadi
Tangannya menyodorkan seikat bunga besar, kali ini bunga asli.
"Gimana Enak gak lemon yang gue kasih?" Tanya Lintang tanpa memedulikan tangan Biru yang sedang menyodorkan bunga
"Mohon maaf, ini bunganya mau ditaruh dimana ya?"
Jeje yang mendengar suara itu segera menghampiri mereka berdua.
"Sini, biar saya aja kak yang ambil." Ucap Jeje dengan senyumnya.
Lintang terkejut kembali, ini ada apa sebenarnya?!
"Je, Lo kenal Biru?" Tanya Lintang, ia mengikuti Jeje dengan tergesa
"Iya, kak Biru kan alumni dari sekolah kita kebetulan dia itu mantan anggota English club juga."
"Oh, kalo gitu lo udah makan belum?" Tanya Lintang pada Biru yang merasa kikuk dengan situasi ini
Biru tidak menyangka, ia bertemu kembali dengan
Lintang.
"Oh ya, nanti gue ganti es lemon nya." Ucap Biru
"Saya permisi dulu, karena masih banyak yang harus saya antar pesanannya." Sambungnya lagi, berusaha profesional ia menolak ajakan Lintang.
Gadis itu cemberut entah kenapa, "kalau gitu, lo harus bayar lemon itu dengan makan disini." Ucap Lintang, Jeje hanya mengawasi mereka dari meja makan.
Langkah Biru terhenti, ia menghela napas "Tapi saya harus antar pesanan sebelum terlambat jadi, kamu silahkan ke toko mawar aja biar saya bayar pakai uang."
Biru kembali melangkah, meninggalkan Lintang yang merasa ditolak habis-habisan.
"Hahahhaha, ngapain lagi lo ngajakin kak biru." Ucap Jeje
"Dia itu emang terkenal dingin sih," Lanjut Jeje menambahi
Lintang duduk kembali, ia kemudian tanpa henti bertanya tentang Biru pada Jeje. Ia tidak peduli bagaimana kepribadian, yang ia lihat hanya matanya yang seperti mengajaknya untuk berbicara.
Sepertinya malam ini, mereka akan begadang.
🥀🥀🥀
Biru yang sudah selesai mengantar pesanan, menghela napas lelah.
Aneh.
Kenapa gue selalu bertemu dengan gadis itu akhir-akhir ini.
Ah, mungkin memang kebetulan aja.
Biru segera bangkit dari rebahan nya, ia membuka laptop pemberian ayahnya yang sudah usang itu.
Mengecek email, siapa tahu sudah ada panggilan kerja.
"Padahal gue udah berusaha biar lamarannya diterima." Gumam Biru.
Terlihat jelas dalam CV-nya, kalau pria ini berusia 22 tahun. Biru, memang anak yang pintar namun sayang ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tentu saja karena terhalang biaya, dan dia hanya bisa mengharapkan pekerjaan paruh waktunya untuk bertahan hidup.
Mengingat, betapa mahalnya segala kebutuhan zaman sekarang. Biru sempat ingin menyerah saja, ia gagal berulang kali dalam tes wawancaranya.
Meskipun Biru pandai dalam bahasa Inggris, tetapi ia tidak punya sertifikat yang membuktikan itu.
Jauh dalam lubuk hatinya, dia tidak nyaman kalau harus tinggal lebih lama dengan Bibinya. Ada hal, yang membuatnya merasa sungkan padahal mereka sangat baik padanya.
Ia bertekad untuk pindah segera mungkin, apalagi setelah melihat dirinya yang tidak berkembang. Ia rasa, percaya dirinya kali ini banyak merosot dan semangat yang ia olah perlahan mulai mengurang.
Namun, ada satu hal yang membuatnya sedikit lebih senang. Berkat pertemuan pertamanya dengan Lintang ia sering tersenyum tipis.
Bukan, bukan karena ia suka pada Lintang. Tetapi, gadis itu mengingatkannya pada dirinya sendiri saat seusia Lintang.
Masa itu, ia sangat merindukannya. Ada banyak hal yang ia senangi saat itu.
Salah satunya, ketika ia tidak memikirkan hal yang memberatkan seperti sekarang.
Ia rindu saat memikirkan tugas sekolah, bermain di warnet, atau jajan di kantin sekolah yang menunya itu-itu saja.
Kini, dia mengerti mengapa dulu ayahnya berkata kalau kehidupan orang dewasa itu memusingkan.
Jika saja, perusahaan ayahnya tidak bangkrut.
Seandainya saja, ayahnya tidak meninggalkannya.
Mungkin ia dan ibunya, masih hidup dengan tenang. Tidak harus memikirkan bagaimana besok akan makan.
Hah...
Biru menggelengkan kepalanya, ia menepis pikiran itu dengan cepat. Tidak mungkin, orang yang sudah mati bisa hidup kembali?
🥀🥀🥀
"Kamu hanya perlu mengisi formulir ini, silahkan."
Lintang dan Jeje siang ini sedang berada ditempat les melukis. Selepas mereka bubar sekolah, Lintang langsung mengajak Jeje ke tempat ini.
Katanya, khusus hari ini ada diskon. Dasar, Lintang si pemburu diskon!
"Kak, hari ini bener gak ya ada diskonnya?" Tanya Lintang dengan serius
Seseorang yang dipanggil 'kak' tersebut tersenyum simpul, ia kemudian memberitahu Lintang bahwa benar hari ini ada diskon.
"Yeay!" Seru Lintang dengan semangat, ia sangat senang. Kalian tahu sendiri butuh biaya yang banyak untuk mengikuti les ini. Apalagi, alat-alat yang harganya tidaklah murah.
"Udah ini kita ke toko bunga mawar ya!" Sambungnya lagi pada Jeje
Yap, Jeje dengar Lintang akan bertemu kembali dengan Kak Biru. Entah apa yang membuatnya ingin dekat dengan Biru. Apakah Lintang menyukai pria itu?
Dengan malas, Jeje membuka buku komik yang waktu itu ia sewa. Jeje sih inginnya besok, agar sesuai dengan tanggal pengembalian komiknya. Tapi, Lintang terus memaksanya ikut.
"Traktir gue ICE CREAM." Sahut Jeje dengan tekanan pada kata 'ice cream'
Lintang mendengus sebal, tapi demi kenyamanan bersama ia akan menuruti apa yang Jeje mau.
"Jangan yang mahal." Ucap Lintang cengengesan, enak saja Jeje mau menghabiskan uangnya
Lintang sih, bodo amat kalau masih punya uangnya. Tapi, kalau sekarang, sepertinya ia harus berhemat mengingat ia kabur dari rumah.
"Okay, let's go!" Ucap Lintang semangat, ia sangat senang hari ini sebentar lagi akan bertemu dengan Biru.
Lintang pikir, Biru itu sangat kesepian ia hanya melihatnya dari mata pria itu. Ia tahu, tidak mungkin bukan untuk menyukai seseorang dalam waktu sesingkat ini. Lagipula, Lintang hanya ingin berteman dengan pria itu.
Dan ia rasa, Biru sama sepertinya.

Book Comment (274)

  • avatar
    123uum

    siap

    22d

      0
  • avatar
    PratiniRehan

    bagus banget bikin baper kata gua teh

    08/05

      0
  • avatar
    FaizRahmat

    bagus

    21/11

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters