logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

JADI TETANGGA MANTAN

JADI TETANGGA MANTAN

mommy alkai


1. PINDAH RUMAH

"Ma, bulan depan, kita harus pindah rumah ke Bogor. Papa dipindahin tugas ke minimarket cabang disana Ma!" beritahu Mas Pras, suamiku, saat kami sedang menikmati makan malam.
Ini adalah kali kedua kami harus pindah rumah, karena suamiku dipindahtugaskan, selama enam tahun pernikahan kami.
Aku hanya mengangguk. Sebagai istri, aku bisa apa, selain mendukung dan mengikuti kemana suami pergi. Padahal dalam hati kesal juga, membayangkan kami akan mengulang kerepotan dan beradaptasi lagi dengan lingkungan baru.
💙💙💙
Hari kepindahan kami pun tiba. Suamiku sudah jauh-jauh hari survey dan membersihkan rumah kontrakan yang akan kami tempati.
Jarak yang jauh ditambah dua buah hati yang masih kecil-kecil, membuatku tidak bisa ikut bersamanya.
Beruntung, karena seringnya pindah, aku dan suami sepakat agar tak memiliki banyak perabotan rumah tangga.
Tetapi walau perabot kami tak banyak, nyatanya kami harus menggunakan truk juga agar bisa sekali jalan.
Paling banyak itu, ya perabot kedua anakku, seperti mainan dan baju mereka.
Nindy usianya tiga tahun, sedangkan Hamdi baru berusia satu tahun.
Hidup berumah tangga berdua dengan suami dengan anak yang masih kecil-kecil, juga jauh dari orangtua sudah terbiasa kujalani.
Padahal dulu itu aku bisa dibilang sangat manja. Tapi sekarang, mana bisa?
Sesampainya di Bogor, ini adalah kedua kalinya kupijakan kaki disini. Beberapa tahun yang lalu, ada kenangan indah bersama mantan terburuk di kota ini. Ya, dulu aku pernah punya mantan yang berkerja disini. Beberapa kali dia pernah mengajakku untuk sekedar melihat kantornya yang besar.
💙💙💙
Tiba di rumah berukuran sedang itu, aku hanya menggendong Hamdi dan satu tanganku menggandeng Nindy.
Mas Pras-lah yang bolak-balik memindahkan barang bersama supir truk.
Entah karena komplek perumahan ini terbilang sepi atau karena jam tidur siang, tak ada satupun tetangga yang keluar rumah.
Aku pun memilih duduk di pos kecil yang terletak pas di depan rumahku.
Klonteng!
Tiba-tiba, terdengar suara slot pagar yang berasal dari rumah yang tepat berada di samping rumah yang akan aku tempati.
"Eh, jadi pindah hari ini Neng?" sapa seorang wanita, yang kuperkirakan usianya lebih dari empat puluh tahun itu.
"Iya Bu."
"Namanya siapa?" katanya sambil menyodorkan tangannya. Kesan pertama sih, wajahnya terlihat ramah.
"Anjani, Bu. Panggil aja Jani ...," sahutku tak kalah ramah.
Terlihat di pergelangan tangannya, gelang emas yang berjejer rapi seperti orang yang sedang antri sembako.
Sedangkan tanganku, polos melompong. Akh, jadi minder 'kan aku!
"Saya Lina, jangan panggil Ibu atuh, teteh aja ya!"
"Iya Teh."
"Oh ya, ini anaknya dua, masih kecil-kecil, jaraknya deketan yah? Duh, pantes Mamanya sampai enggak bisa merawat diri!"
Glekkk
Sambutan macam apa ini, Mak?
Aku mengingat kembali penampilanku yang memakai setelan tunik dan jilbab seadanya begini. Ini adalah penampilan ternyaman untuk ibu dua orang anak yang masih kecil, pikirku.
Tapi 'kan, kami baru ketemu sekali, masa sudah berani dia bikin kesel. Mau marah enggak mungkin, secara dia tetangga satu-satunya yang baru kutemui, bersebelahan pula!
"Hehe, iya Bu. Lagi aktif-aktifnya, buat saya mah yang penting anak keurus!"
Ingin rasanya aku cepat masuk ke dalam meninggalkan tetangga baru yang menyebalkan ini. Tapi kalau di dalam, kasihan Hamdi, banyak debu karena masih bolak-balik mengangkut barang.
"Walau begitu, ya tetap harus merawat diri lho Neng. Kamu itu masih muda, kasihan kalau nanti suami kamu berpaling!" tambahnya lagi.
Duh, ternyata dia belum berhenti juga. Apa bisa ya, aku tetanggaan sama dia kedepannya?
Tinnnnnn
Tinnnnnn
Suara dari mobil berwarna merah berkilau, terdengar nyaring sekali, mengagetkanku yang masih tercengang mendengar ucapan Teh Lina.
"Nah tuh, suami saya pulang. Saya kenalin ya!"
Kulihat dengan seksama dari luar kaca mobil. Lelaki dengan tampilan rapi sedang menatapku dari dalam sana. Lelaki yang seharusnya sangat ku kenal.
Ya, benar lelaki itu memang sangat kukenal. Bukankah itu Aa Hadi, mantan pacarku dua belas tahun yang lalu???
💙💙💙
Lelaki yang terlihat tak berubah saat terakhir kali bertemu itu pun turun, tanpa memasukan mobilnya ke dalam garasi lebih dulu. Dia malah berbalik dan menghampiri kami, membuat perasaanku gugup tidak karuan. Benarkah dia mantan pacarku, dua belas tahun yang lalu?
Jantungku berdebar tidak karuan, apalagi kala bayangan terakhir kali kami bertemu berputar-putar di kepala.
Semakin langkah kakinya mendekat, semakin gugup. Aku sangat yakin, dia adalah Aa Hadi mantan pacarku dulu. Kututupi wajah sebisa mungkin dengan tubuh Hamdi, agar dia tidak mengenaliku. Tapi dia semakin dekat, persis di hadapanku, disamping Teh Lina.
Sejak keluar dari mobil, bisa kurasakan kalau matanya tak lepas sedikitpun menatap, sampai dia tiba di hadapanku. Ah ... apa ini hanya perasaanku saja?
"Papi, ini istrinya tetangga baru kita lho Pi, yang kemarin suaminya bersih-bersih!" kata Teh Lina menjelaskan.
Aku sesekali berusaha mencuri pandang kearahnya. Ternyata dia menatapku tanpa berpaling sedikitpun. Benar, dia benar-benar Aa Hadi, aku sangat yakin sekarang!
"Oh iya? Saya harap, semoga kalian berdua bisa akrab ya!" cetusnya.
Dengan lancarnya dia berkata begitu. Aku tahu kalimatnya itu mengandung sindiran untukku. Atau hanya aku yang kegeeran?
Tapi suara itu ... suara khas Aa Hadi yang sering kudengar dulu, membuat jantungku semakin berdegup sangat kencang. Akh, perasaan macam apa ini?
Inget Jani, inget kamu sudah punya anak dan suami!
"Saya masuk dulu ya. Enggak kuat saya disini," katanya sambil melirikku dengan tatapan jahilnya. Tatapan yang dulu sangat kurindukan, saat baru-baru kuakhiri hubungan dengannya.
Semprul juga dia!
Dulu dia juga selalu begitu, selalu bercanda. Tapi ini kan di depan istrinya. Seharusnya dia bisa lebih menjaga sikap. Bagaimana kalau Teh Lina sampai tahu, kalau aku pernah pacaran sama suaminya itu?
"Enggak kuat kenapa Pi?" tanya Teh Lina penasaran. Terlihat dia mengernyitkan dahinya.
Duh! Apa yang sedang dia pikirkan? batinku khawatir.
"Papi kebelet pipis!"
Glekkk
Fiuh! Aku kira dia mau bicara macam-macam!
"Ya ampun si Papi, kebelet kencing aja di dramatisir! Sudah sana, masukin mobil nanti aja. Nahan kencing itu enggak baik Pi, apalagi nahan perasaan!"
Aku tersenyum mendengar celoteh Teh Lina. Ternyata, dia tidak sekaku yang kubayangkan.
Mendengarnya bicara begitu, aku mau ketawa. Tapi disisi lain, kesal melihat wajah Aa Hadi yang sok polos didepan istrinya itu.
Dasar cowok! Dulu waktu putus, bilangnya enggak bisa hidup tanpa aku. Nyatanya sekarang, masih sehat segar bugar, tuh!
Aku kembali terhenyak, saat menyadari kenyataan, kalau kini aku harus bertetangga dengan mantan pacar yang semprul itu.
Apa bisa aku menjalin hubungan yang baik dengan istrinya?
Mantan pacar yang terang-terangan telah menipuku sekeluarga, selama dua tahun, dua belas tahun yang lalu.
Saat itu, aku tak sengaja mengenalnya lewat telepon nyasar. Aku yang baru mengenal lelaki, merasa nyaman menjalin hubungan dengannya meski perbedaan usia kami terpaut jauh, lebih dari sebelas tahun. Saat itu, usiaku dua puluh tahun, sedangkan Mas Hadi tiga puluh satu tahun lebih.
Seiring berjalannya waktu, aku baru tahu kalau dia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak.
Aku yang kecewa dan marah besar, memutuskan hubungan kami.
Berkali-kali dia memberikan penjelasan hingga mengatakan akan menceraikan istrinya.
Dia bilang, dia menikah tanpa cinta dan dijodohkan.
Tapi aku dan keluargaku, tak menerima alasannya begitu saja. Apapun yang terjadi diantara dia dan istrinya, aku tidak ingin menjadi penyebab hancurnya rumah tangga mereka.
Dan kini, takdir mempertemukan kami kembali disini.
Melihat rumahnya yang besar dan mewah disamping kontrakanku yang kecil dan sederhana, semakin mengucilkan hatiku. Apa yang sekarang ada di pikirannya?
Apakah aku terlihat menyedihkan dimatanya?
Ya Tuhan, berat sekali ujian ku kali ini ....

Book Comment (113)

  • avatar
    Fitri Ajeng

    terimakasih atas karyanya 🤗

    22/05/2022

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus banget cerita dan alurnya...

    30/03

      0
  • avatar
    Nrhlz Liza

    keren

    24/03

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters