Hari ini dokter Flora menemuiku. Maksudku ... Mama? Astaga, rasanya aku belum bisa memanggilnya Mama. Padahal dokter Flora sendiri yang memintanya. Aku merasa tidak pantas dan merasa sedikit malu. Hingga sekarang aku masih memanggilnya dokter. Aku bersyukur dokter Flora tak pernah menuntut ataupun memaksakan permintaannya itu padaku. Tapi aku juga merasa sedikit bersalah. Kuharap suatu saat nanti aku bisa memangilnya Mama tanpa merasa malu dan kaku sedikit pun. Bagaimana pun kurasa kenyataan ini terlalu cepat untuk diterima Dokter Flora menyampaikan banyak kabar baik padaku. Salah satunya kepulanganku setelah kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit pack ini. Sebelumnya Alena bilang tiga hari aku tak sadarkan diri setelah Dave membawaku ke rumah sakit pack. Aku hampir tak mempercayainya, karena bagiku aku hanya tertidur beberapa jam dengan mimpi buruk itu. Sudahlah, yang jelas aku merasa senang saat Dokter Flora sudah mengijinkanku keluar dari rumah sakit pack ini. Tapi, sebelum itu ada hal yang lebih membuatku senang lagi. Selain kepulanganku, dokter Flora juga mengatakan sesuatu tentang mataku. Hari ini perban yang menutup mataku bisa dibuka. Dokter Flora sudah berada di ruanganku sekarang. Aku juga bisa mencium banyak aroma lainnya di ruangan ini. Salah satunya aroma lavender milik Dave yang menyenangkan. Membuatku merasa sedikit tenang saat tangan dokter Flora dengan terampil membuka perban yang menutup mataku. Apa setelah ini aku bisa melihat lagi? Pertanyaan itu muncul ke permukaan begitu saja. Awalnya aku pikir aku akan buta setelah jatuh dari jurang. Tapi, dokter Flora mengatakan jika mataku hanya mengalami cedera ringan. Rasa lega melingkupiku seketika. Nyatanya Dewi masih berbaik hati karena aku masih diberi kesempatan untuk bisa melihat bagaimana wajah mateku dan juga orang-orang yang sudah menyelamatkanku. “Kau bisa buka matamu perlahan sayang,” suara dokter Flora berkata dengan lembut. Rasa gugup dan cemas mendadak melingkupiku. Rasanya sudah lama sekali aku hidup dalam kegelapan. Mungkin karena itulah aku merasa sedikit takut saat benar-benar bisa melihat mereka semua. Apa mereka akan menatapku marah? Atau mereka akan segera mengusirku? Berusaha menenangkan diri, mengesampingkan pikiran-pikiran negatif dari kepalaku. Aku menuruti perkataan dokter Flora. Kubuka mataku perlahan. Terasa sedikit berat, mungkin karena mataku cukup lama terpejam. Cahaya yang sangat terang membuat mataku kembali terpejam. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan itensitas cahaya di ruangan ini. Dan yang pertama kali ditangkap oleh mataku adalah sepasang mata berwarna abu-abu gelap yang kini tengah menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Aku menatapnya cukup lama, entah bagaimana saat pertama kali melihatnya aku sudah yakin jika dia adalah mateku. Aku juga bisa dengar Lucy yang terus berteriak memanggil mateku di dalam pikiranku. Aku langsung menunduk saat menyadari banyak pasang mata yang tengah menatap lurus ke arahku. Rasa gugup dan takut segera menyelimutiku. Kegenggam erat selimutku, merasa tak nyaman ditatap oleh banyak orang di sekitarku. “Tolong tinggalkan kami sendiri,” minta laki-laki bermata abu-abu gelap itu pada semua orang di ruangan ini. Seperti mengetahui rasa tidak nyamanku di situasi ini. Tanpa suara, satu persatu dari mereka mulai keluar dari ruangan ini. Akhirnya menyisakan kami berdua di dalam. Sedikit memberanikan diri, aku mengangkat kepalaku perlahan agar bisa melihatnya. Dari suaranya aku tahu bahwa itu adalah dia. Dia tersenyum kepadaku dan senyuman itu sungguh senyum yang paling indah yang pernah aku lihat. Kurasakan wajahku mulai memerah. Aku kembali menunduk, tak berani terlalu lama menatap matanya. Mungkin jantungku akan meledak jika aku terus menatapnya. Aku kembali mendongakkan kepalaku saat tangannya jatuh di kepalaku dan mengusapnya dengan lembut seperti yang biasa dilakukannya. Ya, aku yakin dia benar-benar Daveku. “Sia ...” panggilnya membuatku mau tak mau kembali menatap matanya. Dia tengah menatapku lama. Tangannya yang hangat menangkup kedua pipiku. Dewi, dia sungguh sangat sempurna. Dia memiliki rambut hitam legam, kedua alis yang sedikit lebih tebal, mata abu-abu gelap yang tajam tapi menenangkan, rahang yang kokoh, dan bibir yang ... emm ... seksi. Kurasa dia adalah makhluk yang paling sempurna yang pernah aku lihat. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mengikis jarak diantara kami. Tubuhku menegang saat sadar jarak diantara kami kian menipis. Kututup mataku rapat-rapat dan menunggu apa yang akan dilakukannya. Namun tak terjadi apapun. Kemudian, saat kubuka mataku aku sudah berada dalam pelukannya. *** Aku hanya diam saat seorang gadis berambut coklat membantuku mengganti pakaianku dan membantuku bersiap karena ini hari terakhirku berada di rumah sakit ini. Aku terus memperhatikannya yang terus bicara. Hanya dari suara aku sudah bisa mengenalnya. Dia adalah Alena, kakak Dave yang selalu menemaniku selama dirawat di sini. Dia adalah gadis yang ramah. Aku sudah tahu itu sejak aku belum bisa melihat wajahnya. Tapi sekarang tak hanya itu. Alena, selain baik dia juga cantik. Dia memiliki mata hazel yang indah, bulu mata yang panjang, dan bentuk bibir yang terlihat pas dengan wajahnya. Tubuhnya pun juga bagus. Tidak terlalu kurus ataupun gemuk. Dia adalah gadis yang paling sempurna yang pernah aku lihat. Sangat berlawanan dengan kondisiku sekarang. Berada di dekat Alena membuatku merasa seperti sebutir debu jika dibandingkan dengan dirinya. Aku hanya menghabiskan waktuku untuk tidur saat di perjalanan pulang. Awalnya aku kebingungan karena aku tak tahu harus pergi kemana saat aku sudah benar-benar keluar. Tapi Alena mengatakan padaku tentang rumah dan tinggal bersama. Membuatku merasa sedikit lega. Setidaknya aku bisa memiliki tempat berteduh malam ini, dan kuharap untuk malam-malam seterusnya juga. Sore ini Dave menjemput kami dengan kereta kuda. Aku duduk di samping Dave dengan kepalaku yang besandar di bahunya. Dave memintaku untuk istirahat dan tak butuh waktu lama aku bisa terlelap di sampingnya. *** Aku terbangun saat merasakan tubuhku yang diangkat. Aku langsung memekik setelah sadar Dave tengah menggendongku ke kamarnya dengan gaya seperti menggendong tuan putri. Dia menoleh ke arahku dan senyum mengembang di bibirnya. Pipiku sedikit memanas. Kami terlalu dekat! “Tu ... turunkan aku” mintaku dengan takut bercampur malu. Dan dia dengan cepat menolaknya. “Tidak, kita sudah hampir sampai ke kamar kita,” jawabnya kemudian menatap lurus ke depan. Aku hanya diam, tak berani membantah. Memilih mengalungkan tanganku ke lehernya. Bisa kurasakan percikan-percikan aneh itu muncul saat kulit kami bersentuhan. Rasanya sedikit menggelikan, tapi juga nyaman. Aku menatap wajahnya, dia terlihat begitu senang dan senyumannya belum hilang dari bibirnya. Dave membuka pintu kamar dan meletakanku pelan-pelan ke atas kasurnya. Dia mengusap kepalaku dengan lembut kan menatapku dengan penuh kasih sayang. “Tidurlah, aku akan menjagamu di sini. Tidak akan yang bisa melukaimu lagi, Sia” bisik Dave lembut sebelum akhirnya kututup mataku dan kembali terlelap dalam tidurku. Kurasa sekarang aku sudah mempercayai Dave karena mulai terbiasa dengannya. Rasanya tak ada yang perlu ku khawatiran selama aku bersamanya. *** Di tengah malam aku terbangun dan pertama kali yang kulakukan adalah mencari sosok Dave di sekitar kamarku, maksudku kamar kami. Dan aku menemukannya, dia tengah tidur di sofa yang tak jauh dari tempat dimana aku tidur. Kutatap wajahnya yang begitu tenang saat tertidur. Aku jadi merasa bersalah membuatnya tidur di sofa. Tapi aku juga bersyukur karena dia tak memintaku tidur satu ranjang dengannya. Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku masih belum siap untuk itu. Kuperhatikan seluruh penjuru kamar. Kamar ini begitu luas dengan tempat tidur king size yang kutempati saat ini. Terasa sangat hangat dan nyaman mengingat dulu aku tidur di gudang tanpa alas atau pun selimut apapun. Terlebih lagi kamar ini dipenuhi oleh aroma Dave yang sangat kuat. Dan aroma ini adalah aroma yang membuatku sangat kecanduan, aroma paling wangi dan juga membuatku merasa tenang. ***
bagus sekali
15/02
0bagis
30/01
0love story ada yang
24/12
0View All