Malam yang terasa sunyi. Berbeda dengan hari biasanya. Seseorang baru saja keluar dari bar. Tidak lama setelah itu orang tersebut secara tidak sengaja berpapasan dengan salah satu pria muda. Namun, tidak ada keributan yang terjadi. Disaat yang sama juga banyak hal yang terjadi. Beberapa orang dikejutkan akan sebuah tragedi tepat didepan matanya. Seorang pria yang sedang mabuk baru saja terlihat menyerang orang yang lewat. Saat itulah orang-orang menjadi ketakutan. Ada banyak saksi mata di tempat kejadian. Hanya saja mereka sama sekali tidak berani memanggil pihak keamanan. Keributan ini akhirnya menimbulkan masalah yang sangat serius. Korban pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai, pihak rumah sakit tentu saja menangani dengan cukup baik. Pada akhirnya pihak kepolisian pun mengamankan pelaku sehingga keributan ini bisa selesai. Sementara itu, Ferrell yang baru saja melewati tempat kejadian, saat itu juga dirinya merasa heran dengan apa yang terjadi. Dirinya seolah mempertanyakan namun tidak kunjung menemukan jawaban. Ini seperti roda yang terus berputar tanpa henti. Disaat yang sama juga ada begitu banyak hal yang memang terasa sedikit mencekam. Beberapa hal lainnya hanya pemandangan yang biasa di malam begini. Setelah itu, Ferrell pun memasuki sebuah tempat yang tidak lain adalah toko klasik. Dia berusaha mencari barang antik untuk hiasan. Meski sudah menemukan barang itu, Ferrell masih terus mencari yang lain. Penjaga toko pun menawarkan beberapa barang yang mungkin saja diperlukan oleh Ferrell. Tidak disangka apa yang dicarinya itu akhirnya berhasil ditemukan. Ferrell pun membeli sebuah kamera analog. Ini bukan pertama kalinya dirinya membeli barang seperti ini. Walau pasti cuman dipakai beberapa kali saja dalam hidupnya. Terkadang semua hal memang perlu adanya pengalihan apapun itu seharusnya memang selalu bisa dilakukan. Tidak ada yang cukup berbeda dengan biasanya, hanya menemukan semua makna yang akan tersimpan sampai kapanpun. Ferrell pun pergi sekarang menuju ke asrama. Tapi dalam perjalanan dia harus berpapasan dengan salah satu rekan kerjanya. "Oh, Ferrell." "Wah, tidak kusangka akan bertemu ditempat ini," ucap Ferrell dengan santai. "Kau barusan dari mana?" "Hanya ke toko barang antik. Kau sendiri bagaimana?" "Ah, kebetulan saja mau mencari restoran. Ngomong-ngomong kau sudah mendengar kabar itu?" "Kabar yang mana? Apa yang sedang kau bicarakan?" "Soal rencana selanjutnya dari proyek yang saat ini dikerjakan. Bagaimana menurutmu apa mereka sungguh masuk akal?" "Entahlah. Kurasa mungkin itu akan semakin membuat sibuk saja. Kita lihat saja nanti." "Wow. Ternyata seorang dirimu saja malah pasrah. Kupikir kau akan mencegah hal itu." "Untuk apa harus sampai melakukan itu? Lagi pula bukankah itu pekerjaan kita?" "Kau benar. Hanya saja. Akhir-akhir ini ada sedikit keributan." "Soal apa?" "Masih belum jelas. Kupikir perkara murid pelatihan yang sulit mendapatkan pelajaran ternyata lebih kompleks dari itu." "Kau yakin? Jangan asal berasumsi. Bisa saja itu sangat keliru." "Mana ada asal berasumsi. Ini berdasarkan cerita para direktur." "Apa kau bilang?" "Kau sendiri tahu mereka seperti apa. Jadi mustahil mempertanyakan semua ini. Ya, memang awalnya kupikir hanya sebatas omong kosong doang. Ternyata itu salah." "Sudahlah. Itu sama sekali tidak akan menguntungkan. Oh ya, kurasa aku harus pergi. Sampai nanti." "Baiklah. Sampai nanti," ucap orang itu kepada Ferrell. Dari sekian banyak keributan tidak tahu kenapa selalu saja berakhir tragedi. Ferrell pun baru saja sampai tepat di asrama. Kali ini dirinya melihat beberapa barang yang berantakan. Hal itu pun membuat dirinya harus merapikannya. Tidak hanya sampai disitu saja, dirinya juga merasa kalau seandainya apa yang dikatakan oleh rekan kerjanya tadi menjadi kenyataan, itu pasti menimbulkan banyak sekali hal-hal yang tidak seharusnya. Selama ini suasana terasa damai dan tenang namun kalau harus tiba-tiba menjadi tidak karuan itu sungguh merepotkan. Tidak hanya sampai disitu saja, Ferrell juga kerap kali menanyakan hal yang sama kepada Antoni yang mana orang itu sama sekali tidak tahu. "Apa? Orang itu beneran bilang begitu?" Ucap Antoni yang dengan terkejutnya. "Ya. Tadi tidak sengaja berpapasan." "Astaga. Yang benar saja? Kenapa selalu ada keributan? Apa orang-orang tidak suka hidup damai? Padahal itu melegakan." "Entahlah. Semoga saja itu hanya omong kosong. Mana ada konflik mendadak begitu." "Tapi kalau orang direktor yang mengatakannya sendiri, kurasa mungkin ada benarnya." "Bagaimana kau bisa berpikir begitu?" "Logika saja. Tidak mungkin kalau itu rumor belaka." "Siapa tahu itu sebatas rumor tidak jelas yang bertujuan untuk memancing keributan? Jangan terlalu menilai baik manusia." "Wah, kau sudah seperti filsuf saja kawan." "Terserah kau saja." "Tunggu, kurasa ada sedikit masalah kali ini." "Apa maksudmu?" "Bukankah ada yang aneh dengan mereka?" "Aneh apanya?" "Kalau misal sengaja menyebarkan rumor semacam itu pasti mereka tidak suka bukan? Ya. Bagaimana tidak pasti ada yang merasa iri dengan karir orang lain dan menggunakan semacam trik murahan ini untuk menghancurkannya." "Bukankah tadi sudah kukatakan? Kau mendengarkan atau tidak sih." "Ya. Maksudnya begitulah. Tapi aneh juga. Kenapa harus sampai segitunya? Astaga ini cukup menarik untuk diulik." "Kau sudah gila? Untuk apa mencari tahu lebih dalam soal hal-hal tidak berguna seperti itu. Seharusnya kau fokus dengan pekerjaanmu itu. Sebentar lagi mereka akan menambahkan projek nya." "Apa kau bilang? Ditambah lagi? Terus kita kapan akan libur?" "Mana kutahu. Yang jelas orang itu memberitahuku begitu." "Wah, ini gila. Mereka pikir kita ini robot?" "Kurasa lebih tepatnya alat penghasil uang." "Sialan. Seharusnya aku tidak bekerja di industri ini." "Mau kau menyesal atau tidak, itu tidak akan mengubah apapun. Jadi siapkan saja dirimu dan jangan terlalu banyak bersantai. Ngomong-ngomong ini juga sangat berantakan. Kenapa kau tidak mau membersihkannya?" "Ah, itu tadi masih nanggung jadi kupikir nanti saja membersihkannya. Kalau kau sudah turun tangan begitu apa boleh buat." "Ayolah. Kau bukan lagi anak-anak." "Maaf sobat. Akan ku bereskan sekarang juga." Meski ada sedikit perdebatan di antara mereka berdua, rupanya mereka memang teman sejati. Disaat keributan yang semakin lama semakin tidak ada habisnya, beberapa staf yang saat ini berada di gedung agensi mereka terlihat frustasi menghadapi masalah yang ada. Tidak hanya itu saja, salah satu selebriti juga merasakan tekanan yang luar biasa begitu dirinya diperintahkan untuk menghadiri acara tahunan. Memang tidak ada jalan keluar sama sekali dan harapan pun seakan sudah binasa. Tidak lama kemudian Mark masuk ke ruangan produser dan bertemu dengan seseorang. Orang itu seperti sudah menantikan kedatangannya dari tadi. Raut wajahnya juga tampak gembira. "Wah, akhirnya kau datang juga Mark," ucapnya dengan gembira. Melihat Mark yang saat ini tepat berada dihadapannya itu, ketika orang tersebut langsung berbincang dengannya. Tidak dipungkiri kalau memang orang itu benar-benar ingin bekerja sama dengan Mark. Tidak hanya itu saja, satu jam sebelumnya Mark mendapat pesan dari staff kalau ada produser yang ingin bertemu dengannya. Alih-alih dirinya percaya, Mark sempat mengabaikan pesan tersebut karena memang terkadang tidak sesuai. Namun, begitu dirinya mendapatkan pesan lebih banyak lagi, saat itu juga Mark langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang dimaksud. Begitu sampai, ternyata staf tersebut tidaklah berbohong. Kali ini mereka menjalankan pekerjaan dengan baik rupanya. "Sudah lama sekali ya tidak bertemu," ucap orang itu kepada Mark. "Ya. Itu benar. Baru kali ini saya mendapat pesan dan harus bertemu dengan anda." "Wah, begitu rupanya. Memang benar banyak hal yang aku urus jadi tidak bisa lebih banyak menyita waktu. Ngomong-ngomong kau sudah tahu kenapa kupanggil?" "Tidak. Masih belum tahu kenapa anda memanggil saya kemari." "Ah, benar juga. Itu karena ada beberapa hal yang harus kita diskusikan. Kurasa proyek selanjutnya kita harus berkolaborasi." "Apa? Untuk proyek selanjutnya? Berkolaborasi?" Ucap Mark yang merasa tidak percaya. "Ya. Tentu saja. Bagaimana apa kau keberatan?" "Tidak. Mana mungkin saya keberatan. Dengan senang hati saya menerima tawaran itu." "Baiklah kalau begitu terimakasih Mark." Tanpa diduga orang yang ada dihadapannya itu menawarkan kerjasama untuk proyek selanjutnya. Mark dengan senang menerima tawaran itu. Namun, setelah dipikir lagi ini sedikit aneh. Kenapa orang itu malah ingin bekerjasama dengan dirinya dan bukan dengan orang yang lebih bagus. Gejolak batin itu semakin menghantui Mark hingga sekarang ini. Ketika sudah berniat untuk melakukannya, hanya dalam hitungan detik pikiran aneh itu kembali muncul dan terus menghambat dirinya. Tidak lama setelahnya, Mark melihat ponselnya dan kemudian berniat mencari tahu alasan yang sebenarnya. Dirinya masih tidak yakin dengan ucapan orang itu meski sudah melihat tepat didepan matanya. "Astaga. Kenapa rasanya ragu?" Gumam Mark. Saat ini tepat di asrama. Antoni bersama dengan Ferrell yang terlihat sedang bersantai itu tiba-tiba saja mendapatkan pesan dari Mark. Bisa ditebak kalau isi pesan tersebut adalah informasi dirinya yang mendapatkan tawaran bekerja sama untuk proyek yang akan datang. Sontak hal itu membuat mereka berdua sangat terkejut. Bagaimana tidak ini pertama kalinya seumur hidup ada kabar yang sangat menguntungkan dan ternyata itu datang begitu saja. Ferrell sempat berpikir ini adalah langkah yang bagus untuk perjalanan mereka kedepannya. Tidak hanya itu saja, Antoni juga terlihat begitu antusias mendengar kabar tersebut dan sekarang bersorak kegirangan. "Wah, ini sulit dipercaya. Dewi keberuntungan berpihak pada kita," teriak Antoni. "Wah, ini bagus. Tapi kenapa reaksi Mark seakan mengatakan sebaliknya." "Apa? Jangan bilang dia tidak senang? Terus kalau tidak senang kenapa menerima tawaran itu?" "Sepertinya dia terjebak dengan kegembiraan ajakan kolaborasi itu tanpa berpikir jernih dan langsung menerima. Namun begitu sudah mengatakan iya dia malah kepikiran lagi." "Hah? Kenapa begitu? Padahal sudah jelas ini kesempatan yang bagus." "Mungkin dia mengetahui sesuatu. Kurasa pasti ada sedikit tekanan yang membuatnya kepikiran." "Ya. Cukup masuk akal. Tapi itu sebaiknya pikirkan nanti saja yang penting semuanya sudah jelas dan tentunya keuntungan itu didepan mata."
aplikasi yang menghibur
25/12
0bagus seru nyaa
22/12
0very good, i really like it😍
22/12
0View All