logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Setelah Kejadian Di Malam Itu

“UHUK-UHUK!! A-aduh, kepala gue sakit banget …,” ucap Bey tatkala baru siuman. Telapak tangannya mulai meraba-raba benda yang berada di sekitarnya. Dan, ia juga merasakan hawa sejuk. Perlahan tapi pasti, ia mulai membuka kedua matanya. “Gu-gue … ada di mana?” lirihnya pelan. Ia berusaha untuk mengangkat tubuhnya, namun ia masih lemah. Kepalanya juga masih terasa pusing.
“Awww!” jeritnya. Ia memegangi kepalanya. “Ini gue di mana sih, anjir?” tanyanya. “Apa gue udah di surga?” terkanya.
“Surga, katamu!” suara seorang lelaki, yang tidak lain adalah Frans, sukses membuat Bey terkaget-kaget. “Oh, syukur lah, kalau Anda sudah siuman.”
“Eh, lo siapa anjir? Dan, gue ada di mana anjir?” tanya Bey mulai cemas. Ia bersiap-siap melakukan perlawanan. Berusaha untuk mengangkat bantal di sebelahnya. “Lo-lo, ngapain bawa ke sini, anjir?” Bey mulai panik setengah mati, ketika Frans mulai melangkah mendekatinya.
Frans memutar kedua bola matanya, malas. “Kamu bisa nggak, nggak usah pake bilang anjir-anjir, tiap kali ngomong? Bisa?”
“Bukan urusan lo, anjir! Sekarang, lo itu siapa? Oh, lo nyulik gue? Iya? L-lo, pasti m-mau, nyulik cewek-cewek muda dan cakep kayak gue, kan? Iy-iya, kan?” tuduh Bey dengan terbata-bata.
Frans mengusap wajahnya kasar. “Astagaaa … dosa apa saya, Tuhann?!”
“Saya jelaskan, ya. Pertama, saya bukan orang seperti apa yang kamu tuduhkan. Dan, yang kedua, tolong jangan pake kata-kata anjir, kalau ngomong. Nggak sopan,” jelas Frans.
“Bodo amat! Gue nggak peduli! Mau gue bilang anjir, kek. Anjrit, kek. Itu bukan urusan lo! Sekarang, gue mau tanya, kenapa lo bawa ke sini?!” bentak Bey dengan perasaan takut. Ia berusaha untuk berlagak galak, supaya tidak kelihatan penakut.
“Astagaaa … kamu nggak ingat, apa yang sudah kamu lakukan semalam?” tanya Frans mulai kesal.
“Mana gue inget!” bentak Bey.
“Coba kamu inget-inget! Kenapa kamu bisa sampai ke sini?!” tanya Frans dengan nada tinggi. “Kalau kamu tahu, saya juga terpaksa bawa kamu ke sini.” Sambungnya.
Bey terdiam. Ia memejamkan kedua matanya, berusaha untuk mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan semalam, dan kenapa ia bisa sampai ke sini. Ke sebuah kamar di apartemen. Tak berapa lama kemudian, kedua matanya langsung terbuka lebar, bersamaan dengan mulutnya. Bayangan-bayangan kejadian semalam, mulai dia ingat kembali.
“Hah?! Nggak! Nggak mungkin!!” jeritnya, tatkala mengingat kalau semalam ia telah mencium bibir laki-laki di depannya. “Gue nggak mungkin ngelakuin hal itu!” serunya sambil menatap Frans dengan panik.
“Semua sudah terjadi, dan itu semua karena kamu,” terang Frans santai. “Ah, semuanya hancur,” lanjut Frans sambil memijat-mijat keningnya.
“Gue mau pulang!” teriak Bey.
“Nggak usah pake teriak-teriak kayak orang kesurupan bisa, kan?” tanya Frans.
“Bodo amat!” sahut Bey tidak mau kalah. Ia berusaha untuk bangun dari tempat tidur, tapi nahasnya malah terguling ke lantai. “ADUH!”
Frans diam saja. Hanya memperhatikan Bey sambil melipat kedua tangannya di depan. “Heh, udah tahu masih sempoyongan. Makanya, jangan minum-minum, kalau nggak kuat,”
“Nggak usah ngeledek! Bantuin, kek!” rengek Bey.
Frans memutar kedua bola matanya, dan mendengus kasar. “Heemmmm,” ia mulai menarik tangan Bey dengan kasar.
“AWWW! Kasar banget sih!” gerutu Bey.
“Satu lagi. Kalau ada orang yang nolongin kamu, hal pertama yang kamu lakukan itu, bilang terima kasih. Ngerti?” pesan Frans. Ia sama sekali tidak menghiraukan Bey yang sudah kesal dengan nasihat yang ia berikan. Frans mencoba untuk membantu Bey duduk di kasur. “Silakan pulang. Saya nggak akan ngurung kamu di sini. Saya juga mau pulang!” tegas Frans, dan meninggalkan Bey. Ia pulang lebih dulu.
Bey hanya menatap punggung Frans yang menjauh, dan akhirnya sudah melewati pintu. “Ish! Dia siapa sih?! Marah-marah mulu, kayak aki-aki!” gerutunya. “Eh, tapi …,” Bey mulai mengingat sesuatu. “Ah, anjir! Dia cowok yang waktu itu ngasih gue duit cepe!”
“Ceklek!” suara pintu terbuka. Membuat Bey terkejut bukan main.
“Saya antar pulang,” ucap Frans tiba-tiba. Ia langsung menarik tangan Bey.
“Kaget anjir! Bisa nggak sih, nggak usah bikin jantung orang olahraga?! Lo tuh, yah, selalu aja bikin orang kag__”
“Bisa diem, nggak? Kuping saya sakit kalau denger ocehan kamu itu,” potong Frans, dan langsung membuat Bey mengunci mulut rapat-rapat. Tatapan Frans yang tajam, berhasil menaklukan Bey. Setelah berhasil menaklukan Bey, Frans langsung menarik tangan Bey. Mengajaknya jalan bersama. Tapi, beberapa detik kemudian, Frans menghentikan langkahnya, dan langsung melepaskan genggamannya.
“Jalan sendiri aja. Kamu bukan anak kecil,” jelasnya. Bey terdiam, dan tidak melakukan perlawanan. Ia membuntuti langkah kaki Frans. Mengikutinya sampai ke parkiran mobil.
“Saya bisa pulang sendiri, Pak,” ucap Bey, dan langsung memesan ojek online.
“Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mengantar kamu pulang,” jelas Frans. “Kamu baru sadar dari mabuk, nanti kalau kamu kenapa-napa, say__”
“Lo, siapa sih anjir?!” bentak Bey, menyela ucapan Frans. Membuat Frans terkejut dan menyadari ucapannya barusan. Ia terdiam seribu bahasa.
“Saya cuman mau tolongin kamu,” ucap Frans setelah terdiam beberapa saat.
Bey memutar kedua bola matanya. Kesal. “Oke, gue mau ngucapin terima kasih banget, karena lo udah nolongin gue, dan sorry kalau gue udah nyusahin lo. Tapi, gue mau pulang sendiri. Lo, lihat, kan? Gue udah bisa jalan sendiri? Bahkan, lo yang nyuruh gue buat jalan sendiri.” Jelas Bey panjang lebar.
Seketika, Frans mati kutu. Ia diam, dan langsung membuang muka, sambil berjalan dan masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Bey begitu saja, tanpa sepatah kata.
“Nama lo siapa?!” teriak Bey.
“Frans Adikara. Perlu kamu ingat, belajar untuk lebih sopan kepada yang tua itu penting,” jelas Frans, dan langsung menutup pintu mobilnya.
“Panggil aja Bey,” ucap Bey memperkenalkan diri. Tapi, terlambat. Frans sudah keburu menyalakan mesin mobil, dan mulai bergerak meninggalkanya. Entah Frans mendengar apa yang diucapkan Bey, tapi sikapnya sudah membuat Bey kesal.
“Ish! Sombong banget jadi aki-aki!” gerutunya kesal.
***
“Selamat siang-siang semuanya,” sapa Frans tatkala tiba di ruang mengajarnya. Seperti biasa, Frans selalu menyapa para mahasiswanya terlebih dahulu, sebelum memulai kelasnya. Meski tanpa sebuah senyuman. Ia memang dikenal sebagai dosen yang super tegas, meski masih dosen muda dan baru di universitas tempat ia mengajar. Itulah mengapa, ia mendapatkan banyak julukan dengan kata ‘Kang.’ Ada Kang Jagal Nilai, Kang Ngatur, Kang Marah-Marah, tapi tidak ada yang menyebutnya Kang Haneul.
“Siang, Pak,” sapa balik semua mahasiswanya.
“Hari ini, saya ada tugas untuk Anda,” ucap Frans, dan mengambil sebuah spidol hitam. Ia mulai menyalakan laptopnya, dan menyambungkan kabel laptop dengan alat in focus. “Jangan lupa, letakkan semua HP kalian di meja saya!” titah Frans selanjutnya. Tanpa menunggu waktu lama, semua mahasiswa langsung mengumpulkan HP mereka di atas meja Frans. Seperti itulah cara mengajar Frans. Ia dikenal dengan kejujurannya dalam mengajar. Itulah sebabnya ia juga ingin semua mahasiswanya bersikap jujur. Karena menurutnya, jujur itu lebih berharga daripada hasilnya. Akan tetapi, sikapnya itu justru membuat sebagian besar mahasiswa kesal, dan ingin segera lulus, agar tidak bertemu lagi dengan dosen seperti Frans.
“Ceklek.” Pintu kelas terbuka.
“Maaf, Pak, saya telat. Tadi saya ad__”
“Silakan keluar dari kelas saya,” potong Frans, yang sedang memeriksa buku modul. Ia enggan menatap seorang mahasiswi yang telat masuk ke kelasnya.
“Tapi Pak, saya tadi ad___”
“Sudah berapa kali saya bilang?” tanya Frans sambil menatap tajam mahasiswinya. “Keluar!” bentaknya, dan langsung membuat nyali mahasiswi itu ciut. Ia akhirnya keluar dengan wajah lesu. Kelas kembali hening. Semua mahasiswa mulai sibuk menjawab dua buah soal yang jawabanhya pasti membutuhkan berlembar-lembar kertas. Itulah mata kuliah ilmu filsafat.
Entah mengapa, Frans seketika memikirkan kejadian tadi malam. Ia masih ingat betul, bagaimana gadis SMA itu mencium bibirnya, dan membuat tunangannya marah, lalu memutuskan hubungan dengannya. Frans semakin frustasi, dan gelisah. Kini, bayangan wajah Leona, mamanya, ketika sedang marah, tampak jelas di kedua pelupuk matanya.
***
“Yah, Pak!” seru Bey yang baru saja tiba di depan gerbang sekolahnya. “Bukain, pak! Saya mau ke kelas!”
Seorang lelaki tua dengan kepala botak dan kumis tebalnya, tengah berjalan menghampiri Bey yang sedang berdiri di luar gerbang sekolah. “Kenapa kamu datang terlambat?”
“Tadi macet!” dusta Bey. “Udah bukain aja, Pak, pagarnya. Saya mau belajar! Bapak mau, anak bangsa jadi pada bodoh, karena Bapak udah menghalang-halangi anak orang buat belajar?” tutur Bey mencari alasan.
“Alasan! Salah sendiri, kenapa terlambat? Dek, ini sudah peraturan. Kan, kamu tahu, melanggar peraturan itu nggak boleh, jadi__”
“Tapi, Pak, kan saya udah kasih alasannya kenapa saya terlambaaaaat.” Bey masih berusaha untuk meluluhkan hati Pak Satpam sekolahnya.
“Kamu minum, ya?” tebak Pak Satpam tiba-tiba.
Bey langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia menggeleng kuat. “Ng-nggak, kok,” bantah Bey dengan gugup.
“Mampus, gue! Padahal, gue udah sikat gigi tiga kali,” rutuknya dalam hati.
“Kamu minum, ya? Iya, kan? Ya Allah, Dek, jangan kayak gitu. Nanti or__”
“Nggak! Saya nggak minum, Pak!” bantah Bey sekali lagi, dan langsung lari meninggalkan gerbang sekolah. Akhirnya, ia memilih untuk membolos, daripada ketahuan dengan para guru dan teman-teman yang lain. Setelah dirasa sudah jauh dari sekolahnya, ia mulai berjalan pelan. Nafasnya sudah tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Bey membungkuk, dan memegangi kedua lututnya. Ia berhenti di depan sebuah coffe shop. Memilih untuk singgah di tempa itu, sekaligus sebagai pelariannya.
“Satu Ice Moccachino,” pesannya kepada seorang barista. Tak lupa, ia selalu menutup mulutnya, ketika berbicara. Khawatir jika kejadian dirinya dengan satpam sekolahnya, terulang kembali. Barista itu menatapnya heran. Mungkin karena cara bicara Bey yang terlihat aneh. Namun, Bey tidak ambil pusing. Ia langsung mencari tempat duduk untuk melepas penatnya.
Ia menyandarkan punggungnya di sofa. Menikmati empuknya sofa coffee shop, dan dinginnya udara di coffee shop karena AC. Ia mulai mencoba untuk menenangkan pikirannya, dan tiba-tiba ia mengingat kembali kejadian semalam. Rasa resah dan gelisah kembali menjalar di dadanya.
“Ah! Sial! Kenapa gue jadi inget kejadian itu, sih?!” gusarnya bernada pelan. “Akhh!! Bodoh banget gue! Kenapa gue bisa cium aki-aki resek kayak dia, sih? Kenapa nggak Mario aja yang gue cium?” sesalnya.
***

Book Comment (660)

  • avatar
    Okti rayes

    jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi

    19d

      0
  • avatar
    Ahmad Sentosa

    mantap

    23/04

      0
  • avatar
    Sivaji Boss

    Keren kaka

    29/03

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters