logo
logo-text

Download this book within the app

Part 3

Part 3
Menantu Kesayangan
“Rania! Kamu kenapa lama amat sampainya?” tegur Mami. Padahal aku sampai tepat jam delapan.
“Iya, Mi. Tadi nunggu taksi onlinenya agak lama.”
“Kamu, sih. Enakan tinggal di rumah Mami!”
“Biar kami belajar mandiri, ya, Mi!”
“Iya, deh! Mami percaya kalau kamu yang urus keperluannya Zaki.”
“Nah, gitu, dong!”
“Ayo lekas masuk! Kita harus pesan baju yang terbaik untuk acara di Pekanbaru. Kamu pasti cantik kalau pakai baju rancangan desainer dari butik ini. Mau yang model apa? belahan dada rendah, atau yang punggung terbuka?”
“Mami … Rania mau pakai gamis saja.”
“Apa? gamis? Gak salah? Acara pesta pembukaan cabang lho ini?”
“Iya, Mi. Rania gak suka pakai baju terbuka. Apa Mami rela kalau body Rania jadi santapan banyak mata di acara itu? Pastinya Mas Zaki juga gak akan mau Rania dilihat orang karena pakaian terbuka.”
“Hmmm … jadi gimana, dong? Mami tuh pengen lihat kamu tampil sexy!”
“Gak boleh, Mi. Rania mau pakai gamis aja, ya,” mohonku.
“Ya udah, deh! Berhubung mantu kesayangan, Mami nurut aja.”
“Makasih, ya, Mi. Mami mau model baju yang kayak gimana?”
“Ya udah, deh! Samaan aja, kita buat gamis.”
“Waah … beneran, Mih? Rania seneng banget kalau Mami juga mau pakai gamis. Pasti bakalan tambah semakin cantik.”
“Kamu bisa aja bikin Mami tersanjung.”
“Kayak judul sinetron, ya, Mi? Hihihi ….”
“Udah, yuk, cuuus kita langsung bilang aja sama yang punya butik, mau bikin gamis model terkece!”
“Iya, Mi!”
***
Seharian diajak jalan-jalan sama Mami, dijajanin banyak cemilan. Mami takut aku kurus katanya. Pulang pun diantar Mami. Mami singgah sebentar, memastikan semuanya aman, barulah Mami pulang. Kebetulan Mbak yang bantu-bantu di rumah baru akan datang esok hari sebab sedang cuti untuk menjenguk ibunya.
“Rania, itu siapa? Majikan kamu, ya?” Tiba-tiba saja sudah ada Mbak Maria di depan rumahnya. Bicara sambil memegang sebuah bungkusan.
“Emm … bukan, Mbak. Itu ….”
“Alaaah … gak usah malu, pasti dia yang bantu kamu biar tetep bisa bayar sewa rumah ini, kan? Gayanya aja kelihatan, kok, kalau ibu-ibu tadi itu orang kaya. Mobilnya aja mewah.”
“Hehehe … iya, Mbak. Mobilnya mewah banget.”
“Kamu kapan bisa beli mobil begitu? Si Hendi, lho, mobilnya aja tiga berjajar di garasinya. Ada yang Alphord, ada yang BEEMWE, sama satu lagi yang paling murah innovi.”
“Iya, lah. Orang kerjanya di pertambangan, wajar kalau banyak uang bisa beli banyak mobil,” jawabku selow.
“Nih, aku lagi baik. Aku beli sphageti, tapi ternyata sampai rumah selera mendadak hilang. Daripada gak kemakan, mending buat kamu aja. Kamu tau sphageti, gak?” ujarnya sambil menyodorkan bungkusan itu padaku.
“Hmm … tau,” jawabku.
“Alaah … gak udah sok-sokan kalau gak tau. Itu aku beli di restoran Italia paling terkenal, lho. Mahal! Kamu gak akan sanggup beli, deh.”
“Iya, lah, Mbak. Terima kasih, ya!”
“Betewe, aku lagi butuh tukang cuci, nih. Kamu mau, gak, kerja di rumah aku? Beberes rumah sekalian.”
“Waduh? Emang Mbak gak punya ART di rumah?”
“Enggak, lagi baru aja aku pecat kemarin. Abisnya kerjanya gak beres, sih.”
“Mmmpphh ….” Hampir saja aku tersedak mendengar kata-kata Mbak Maria. Tiba-tiba saja di depan pintu rumahnya ada seorang gadis bule yang berteriak memanggilnya.
“Mariaaa … what are you doing? Disuruh buang sampah lama banget!” ujar gadis itu. Pasti dia yang bernama Hailey. Rambutnya blonde, kulitnya putih pucat, khas banget.
“Eh, aduh, bocah. Ditinggal bentaran doank udah teriak-teriak,” gerutu Mbak Maria.
“Wah, ada bule di rumah Mbak Maria,” ujarku pura-pura kaget.
“Ooh … itu adik suami aku,” jawab Mbak Maria setengah berbisik.
“Loh, suaminya Mbak Maria bule, ya? Aku baru tau,” balasku.
“Ah, kamu mah kudet. Coba aja kamu jadi nikah sama Hendi, pasti kamu tau kalau aku nikah sama bule! Ya udah, aku masuk dulu! Pasti dia laper, dan cuma mau makan makanan Amerika buatan aku! Bye ….”
“Iya, deh, Mbak. Makasih sphagetinya.” Mbak Maria tergopoh kembali masuk ke dalam rumah besar itu. Hailey berkacak pinggang dan melotot pada Mbak Maria.
Aku pun masuk ke dalam rumah. Kuletakkan bungkusan dari Mbak Maria di atas meja makan. Kuambil piring dan sendok, lalu membuka sphageti yang katanya dari restoran mahal itu.
Baru saja bungkusan plastik dibuka, tiba-tiba menyebar aroma asam yang membuat aku merasa mual. Ya ampun … makanan basi! Mentang-mentang kamu pikir aku orang miskin, aku gak tau mana sphageti yang bagus mana yang sudah basi? Keterlaluan banget kamu wahai si pembokat bule sebelah rumah!

Book Comment (119)

  • avatar
    GoodAdi

    ooooo

    9d

      0
  • avatar
    SamsunAndi

    bagus

    24d

      0
  • avatar
    mufaddholalfath

    nice

    22/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters